COUPLE UNIK

COUPLE UNIK
Sebelum Menghadiri Pesta Pernikahan


__ADS_3

Hari sabtu telah tiba dengan rasa syukur yang ada. Setidaknya, melihat sang Kakak bahagia sudah membuat Olivia gembira.


"Kalian romantis, jadi ikutan baper. Tapi Zenno lagi sibuk." Olivia yang melihat foto sang Kakak dan suaminya saat sunset kemarin sore.


Dinda memang sengaja mengirim foto sunset itu, agar Olivia juga segera berbulan madu dengan Zenno.


"Aku ini masih kuliah. Kakak malah ngledekin aku." Gemesnya, tapi dia tidak bisa marah dengan sang Kakak.


Olivia lalu melirik ke meja riasnya, ada undangan dari sang Papa. Rasanya begitu malas kalau harus bertemu Monica dan Marcella.


"Apa aku harus datang?" Keluhnya dan tampak melihat ke arah luar. Karena siang ini hujan, bisa saja malam nanti hujan semakin lebat dan dia membuat alasan kalau malas datang karena hujan lebat.


"Tapi, Mama Virda dan yang lain akan datang. Mereka semua nggak enak sama Papa."


Olivia masih menggerutu sendiri setelah dia berhias. Wajahnya yang semakin flawless dan tampak segar. Pipinya terlihat merona, tapi masih terkesan natural. Dia juga tidak suka make-up tebal yang menutupi semua wajah aslinya.


Membuka undangan itu "Emh, harusnya ini jadi undangan pernikahan Kak Dinda. Tapi malah wanita itu."


"Tapi Kakakku sudah bahagia, aku nggak perlu repot untuk membalaskan itu. Aku akan datang dan membawakan sebuah karangan bunga yang cantik, dan tertulis selamat anda hamil." Olivia tertawa saat dia membayangkan hal itu.


Olivia yang tadinya ingin sedikit berbuat onar di pernikahan Gery dan Marcella, dia mengurungkan niatnya. Karena, tuan rumah acara nanti adalah sang Papa.


"Lagian, Kakakku sudah berbahagia. Untuk saat ini, aku tidak perlu capek." Ucapnya dan kembali menutup surat undangan itu.


Olivia yang sudah cantik dengan dress warna dusty pink. Lalu berjalan keluar dari kamarnya dan ingin mencari Mama Virda.


Setelah Olivia menuruni tangga, ternyata Pak Roni terlihat datang dan menunggu Olivia.


"Pak Roni." Ucapnya dan Mama Virda memegang tangannya.


"Sayang, Pak Roni mau menjemput kamu."


Olivia lalu bertanya kepada Pak Roni "Pak Roni, kita mau kemana?"


Pak Roni tersenyum, lalu berkata "Saya diminta menjemput Nona Olivia. Untuk ke Hotel Baverlly. Pak Dion sudah menunggu."


"Bukannya pestanya masih nanti malam, ini masih siang."


"Memang benar, tapi saya hanya diminta untuk menjemput Nona Olivia."


"Ya sudah, Olivia mau ambil tas dulu." Olivia kembali ke lantai atas dan Mama Virda masih menemani Pak Roni.


Mama Virda lalu berkata "Pak Roni, selama nanti disana, tolong jaga menantu saya."


Pak Roni lalu menjawab "Bu Virda tidak perlu khawatir. Saya akan menjaga Nona Olivia."


Mama Virda merasa tidak nyaman, bila Olivia bertemu Monica dan Marcella. Apalagi setelah dia mendengar cerita, Olivia yang begitu berani dihadapan Monica dan Marcella.


"Kalau ada apa-apa sama Olivia, tolong kabari saya."


"Pasti Bu Virda."


Tidak lama Olivia sudah mendekati mereka, dan Mama Virda tampak memeluknya.


"Olivia, baik-baik disana. Kalau ada apa-apa telepon Mama."


"Iya Mama, Olivia berangkat dulu."

__ADS_1


"Iya sayang, sampai bertemu di pesta."


"Oke Mama."


Pak Roni tersenyum melihat kedekatan mertua dan menantunya ini, lalu dia berpamitan "Bu Virda, saya permisi dulu. Saya akan menjaga Nona Olivia."


"Baik Pak Roni, silakan. Hati-hati."


Olivia memberitahu Zenno, kalau dia pergi ke Hotel Baverlly lebih dulu dan sudah di jemput Pak Roni.


Zenno yang tidak bisa datang karena pekerjaannya di Hi Tech. Tetapi, seluruh keluarganya akan hadir ke pesta pernikahan Gery dan Marcella.


Zenno hanya mengingatkan agar Olivia berhati-hati dan tidak membuat ulah. Mengingat akan Olivia yang selalu ingin mengerjai Marcella.


Sekitar 25 menit perjalanan mereka melalui jalan tol.


Hotel Baverlly, sangat mewah dan itu juga pilihan Dinda. Olivia masih menggeleng setelah sampai Hotel.


"Nona Olivia, kita sudah sampai."


"Iya Pak Roni." Olivia memasukan ponsel ke dalam tas dan bergegas untuk keluar dari mobil.


Pak Roni membuka pintu untuknya dan akan mengawal Olivia.


"Mari silakan." Ucap Pak Roni dan Olivia tampak tersenyum.


Olivia yang berjalan bak model ternama, dan Pak Roni menemani di belakangnya.


Tatapan ke depan dengan penuh percaya diri, highheels merah maroon yang akan membawa Olivia ke sebuah ruangan khusus.


Olivia yang masih berjalan dan tiba-tiba.


"Nona Olivia." Pak Roni membuatnya berdiri.


Bella yang merasa malu dan asistennya mengangkatnya "Dia, kejam."


Olivia mendekat ke arah Bella, lalu berkata "Kalau mau bikin ulah, jangan sama gue. Sama yang lain aja."


"Loe,." Tapi Bella tampak malu, banyak orang yang menatap dirinya.


"Ada CCTV, loe nggak takut?" Olivia yang bersedekap dan menatapnya dengan santai.


Bella melihat sekitarnya dan merasa tampak tidak nyaman "Lain kali gue akan buat perhitungan sama loe." Ucapnya lantas pergi.


Olivia tersenyum "Loe duluan yang bikin ulah. Ada-ada saja."


Pak Roni mendekat dan tadi juga melihat Olivia yang hendak terjatuh, tapi ternyata malah gadis lain yang tersungkur.


"Nona, apa ada masalah?"


"Tidak." Olivia lalu berjalan lagi dan masuk ke dalam lift.


Pak Roni hanya menggeleng saja, dan dia melihat ke arah Bella yang berjalan dengan asistennya.


"Dia memang resek." Bella yang merasa kesal. Lalu dia membalikan badannya, dan melihat pintu lift yang hampir tertutup.


Olivia bahkan seolah mengejeknya, lalu Bella berfikir "Kenapa dia bisa ada disini?"

__ADS_1


Bella lalu mengingat Pak Roni yang menyebutnya Nona. "Sepertinya gue pernah lihat orang itu. Apa dia berhasil jadi model di MC? Iiihhh.... Nyebelin!"


Bella merasa kalau Olivia waktu itu kembali datang ke Perusahaan MC dan berhasil audisi untuk proyek iklan. "Dia yang merebut posisi gue. Gue Bella, gue tidak akan mengalah."


Bella lantas pergi bersama asistennya dengan perasaan yang begitu kesal.


Setelah beberapa saat, Olivia sudah tiba di ruangan khusus. Tidak ada siapapun di ruangan itu.


"Pak Roni, Papa dimana?"


"Pak Dion di ruangan lain."


"Lalu buat apa, Olivia datang kesini?"


Ruangan itu seperti ruang ganti.


Pak Roni lalu menghubungi seseorang, tidak lama seorang desainer ternama datang membawa beberapa desainnya. Dua asisten mengangkat beberapa manekin dan gaun itu sudah melekat pada patung bergaya itu. Ada pula barisan gaun berderet di gatungan baju.


"Nona Olivia, silakan memilih gaun yang ingin anda pakai." Ucap desainer itu dan Pak Roni hanya duduk di sofa, sambil mengamati Olivia yang mulai mendekati dan melihat-lihat gaun yang cantik-cantik itu.



"Aku tidak suka gaun yang begini." Ucapnya dan kembali duduk.


Pak Roni meminta yang lainnya. Lalu desainer itu menyuruh asistennya mengambil yang lainnya.


Olivia kembali melihat beberapa gaun berikutnya.



"Aku tidak mau pakai gaun." Ucapnya dan membuat Pak Roni tersenyum.


Desainer itu cukup bersabar, lalu dia meminta para asistennya, untuk menjauhkan gaun-gaun itu dari hadapan Olivia.


"Nona Olivia, anda ingin seperti apa? Saya akan segera membuatnya." Tampak senyuman diwajahnya, dan ini memang pekerjaan yang penting. Apalagi Direktur Dion sudah memberikan jumlah nomimal yang besar dan apapun yang putrinya inginkan, dia yang harus membuatkan gaunnya.


"Aku ingin tampil elegan, menawan dan tampak seperti wanita dewasa. Emh, aku ingin tampil seperti CEO." Ucapnya dan Pak Roni menggeleng.


"CEO?" Desainer itu tampak heran, tapi dia mulai mengambil beberapa desain gambar yang pernah dibuatnya.


"Benar! CEO muda yang tampak seperti wanita berkuasa." Ucapnya dan dia kembali duduk di sofa.


"Baik, saya mengerti."


Pak Roni hanya tersenyum dan tadi juga sempat merekam saat Olivia melihat gaun-gaun itu, bahkan saat Olivia menolak, ada dalam rekaman itu. Lalu mengirim video itu kepada Direktur Dion.


"Emz... Satu lagi, aku minta gaun dewasa dengan warna yang sama."


"Baik Nona Olivia."


Setelah mengukur badan Olivia. Desainer itu dengan cepat pergi meninggalkan Hotel Baverlly dan akan membuat pakaian khusus untuk Olivia. Dia semalam sempat membuat blazer dan warnanya begitu menawan, dia akan melanjutkan jahitannya itu.


Dua asisten menyiapkan kain untuk gaunnya, bahannya begitu halus dan sangat mewah.


Baru jam 1 siang, tidak masalah untuk desainer satu ini. Olivia lalu meminta sebuah kamar untuk dirinya, dengan nuansa gothic. Lalu Pak Roni menurutinya saja.


"Aku mau tidur dulu." Gumamnya setelah berbaring di tempat tidur.

__ADS_1


Olivia yang berada di ruangan gelap tampak tertidur pulas, bahkan tirainya juga tidak dibuka. Suasana kamar itu jadi terkesan seram.


__ADS_2