
Lembaran putih bersih dan tanpa coretan, seperti itulah perasaan Olivia saat ini. Akankah, lembaran putih itu bisa terisi sebuah coretan, dengan makna cinta yang penuh kasih, atau dengan air mata.
Sherryl menyenggol lengan Olivia. "Olivia, loe kenapa melamun?"
"Apaan sih?! Gue nggak melamun."
"Habisnya loe diam aja." Ujarnya dan Olivia mulai merapikan buku serta alat tulisnya. Lalu mematikan laptop yang masih menyala.
"Ayo kita ke kantin. Gue udah laper." Ajak Sherryl dengan begitu manja dan Olivia mengerti, sudah hampir jam 1 siang, dan Sherryl susah menahan perutnya yang dari tadi sudah berdendang.
"Emh, ayo jalan." Olivia yang sudah menggendong tas ranselnya.
Sherryl memegang lengan kanan Olivia dengan kedua tangannya, bak saudara perempuan yang begitu dekat.
Setibanya di kantin, Olivia hanya memesan jus jeruk dan Sherryl sudah membawa nampan ke sebuah meja yang paling ujung.
"Loe cuma beli jus?" Sherryl yang melihat dan menganggap kalau Olivia kuat menahan lapar.
"Gue udah bawa bekal." Jawabnya, lalu mengeluarkan kotak makan dari dalam tasnya.
Sherryl tampak menggeleng melihat Olivia yang masih membawa bekal.
"Loe emang beda. Pasti loe anak Mama."
Olivia tersenyum mendengar pujian itu. Padahal, Sherryl sedang meledek dia.
"Apa loe mau?" Olivia yang berusaha menawari Sherryl.
"Nggak, loe nggak lihat makanan gue yang banyak begini." Jawabnya.
Olivia tampak tersenyum dan mulai menikmati Omelet buatan Zenno. Tidak lama, Zenno dan teman-temannya tampak masuk ke kantin itu dan Olivia melihat ke arah mereka.
Zenno dan temannya memilih meja depan meja Olivia, mereka juga mulai mengambil makanan, kecuali Zenno. Biasanya, Vino yang mengambilkan makanan untuknya.
Zenno menatap Olivia dan berkata tanpa suara "Selamat makan."
Olivia hanya mengangguk dan tersenyum manis. Tidak lama ponsel Olivia berbunyi dan itu dari sang Papa.
"Hallo, Papa." Suara Olivia begitu manis dan Sherryl cukup menatap Olivia.
"Iya Papa, kuliah pertama asyik." Mengingat akan dosennya yang humoris.
"Emh, Olivia sekarang di kantin. Ini baru makan."
"Iya, dia ada. Iya, dia juga lagi makan."
"Papa nggak perlu cemas. Pastilah Pa. Iya, dia jagain Olivia."
"Oke, Pa."
"Bye.. Bye.."
Setelah panggilan itu selesai, bergantian Zenno yang ponselnya sudah 2 kali bergetar. Dia jadi tidak fokus bermain game.
"Ahh.. Papa."
"Ini makan." Ucap Vino saat meletakan makanan Zenno, lalu dia duduk di sebelahnya.
Yang lain juga tampak duduk di depan dan sebelah kanan Zenno. Ponselnya bergetar lagi untuk yang ke 3 kalinya.
"Hallo Pa."
__ADS_1
"Iya, ini lagi makan."
"Iya, ada di dekat Zenno."
"Papa nggak perlu cemas. Lagian dia juga udah dewasa, bukan anak kecil lagi."
"Iya, beneran ada di dekat Zenno."
"Ngapain ngomong sama dia. Dia lagi makan."
"Hems, apa harus di videoin?"
"Iya Papa. Beneran Pa."
"Siap Pa. Pasti dijagain terus."
"Iya, Papa harus percaya sama Zenno."
"Oke, Pa."
Akhirnya panggilan dimatikan, dan Zenno mulai makan. Semua temannya menatap tajam dan sangat penasaran.
"Kenapa pada lihatin gue? Ada yang salah?" Zenno merasa risih, semua temannya menatap dengan serius.
"Siapa yang harus dijagain?" Ken yang sudah kepo.
"Calon bini gue." Jawabnya dengan santai dan menikmati makan siangnya.
"Loe bilang dia disini? Dimana? Siapa? Yang Mana?" Vino kepo maksimal, dan mulai melihat ke sekelilingnya.
"Ya nggak gitu juga. Kalian kayak nggak tahu bokap gue aja." Jawabnya dengan santai.
"Tapi, loe bilang di dekat loe. Disini? Berarti anak kampus sini dong?" Joy yang tidak mau mengalah dan Loudy tampak cuek saja.
"Bella kan?!" Bisik Joy di depan Zenno.
Zenno tidak menjawabnya dan sibuk dengan makanannya. Loudy lalu berkata, "Udah kalian makan, nggak usah ngurusin masalah orang lain."
Wajah mereka berubah masam, dan akhirnya mereka tidak lagi bertanya, atau terlalu kepo dengan masalah Zenno.
Di sisi meja lain, Bella mengamati Zenno dan tidak henti memandanginya. Olivia yang telah selesai makan, menuju wastafel untuk mencuci tangan.
Zenno tampak menatapnya dan Olivia tidak mau menoleh ke arahnya. Entah apa yang ada dalam benak Olivia dan Zenno saat ini.
Di sebuah restoran, ternyata para Papa itu sudah bekerjasama. Mereka hanya mengobrolkan Olivia dan Zenno.
"Gimana Kak Benny, apa Olivia merepotkan Zenno?"
"Tidak Dion, mereka malah sudah saling mengerti. Waktu di rumah juga, Olivia begitu manis dan mau dekat dengan Zenno. Bahkan saat makan bersama, Olivia juga mengambilkan makanan untuk Zenno."
"Kalau begitu saya lega. Saya kira, Olivia hanya akan bermanja dan akan menyusahkan Zenno."
"Biarkan saja, ini juga buat latihan Zenno. Kamu tahu sendiri, dia minta pisah rumah, dan mau menerima perjodohan ini. Ya, ini harus jadi tanggung jawab Zenno."
"Iya Kak Benny, tapi jaman kita dulu dan anak sekarang itu sangat berbeda. Apalagi Olivia, dia terbiasa serba pembantu."
"Sudah, tidak usah dipikirkan."
"Tetap saja, saya memikirkan dua putri saya itu. Anak perempuan sangat berbeda dengan anak laki-laki."
"Anak laki-laki juga susah di atur, ya sama saja. Seperti Deffo sampai sekarang belum mau mengenal perempuan. Setiap mau dikenalin nggak mau, suruh nyari sendiri juga tidak mau. Saya juga kepikiran, tapi kita sebagai orang tua, juga harus santai."
__ADS_1
"Benar juga apa kata Kak Benny."
Obrolan para Papa setelah makan siang dan memang benar, satu tahun lalu setelah keluarga Brata Perwira memastikan perjodohan itu. Zenno menginginkan pindah rumah, dan tidak ingin diatur oleh orang tuanya. Apalagi dia memiliki hobby bermain game dan kesehariannya hanya tentang IT juga aplikasi. Jadi dia ingin tinggal sendirian, tapi sekarang malah di suruh menjaga calon istrinya.
Dion Jody Amarya, dia juga tidak bisa membiarkan putrinya tinggal sendiri. Karena Dinda mau menikah, jadi tidak menitipkan kepada Dinda. Sedangkan kalau di rumahnya, pasti tidak akan akur dengan istri mudanya. Jadi, itu juga ide Papanya Zenno, agar Olivia tinggal dengan Zenno saja. Apalagi setelah Dinda menikah, Olivia dan Zenno juga harus segera menikah. Tapi, para orang tua itu belum tahu apa yang terjadi dengan Dinda.
Setelah bercuci tangan, Olivia kembali ke mejanya. Sherryl tadi melihat kalau ponsel Olivia berbunyi.
"Olivia, tadi kayaknya ada chat masuk."
Olivia langsung melihat chatnya dan ternyata dari Zenno.
[Kamu nanti pulang hati-hati. Aku ada latihan di base camp. Aku akan pulang malam.]
Olivia, hanya membaca pesan itu dan tidak berniat membalasnya.
"Olivia, loe kenapa?"
"Nggak apa-apa."
"Ya udah, ayo kita ke taman dulu."
"Iya."
Sambil menunggu kelas selanjutnya, Sherryl ingin menghirup udara di bawah pohon. Ada taman yang tidak jauh dari gedung kelasnya.
Olivia dan Sherryl duduk di bawah pohon yang rindang, ternyata Kevin melihat mereka berdua. Akhirnya, Kevin ikut bergabung dengan mereka berdua.
"Buat kalian." Kevin memberikan minuman kaleng untuk Olivia dan Sherryl.
"Terima kasih." Ucap Olivia dan Sherryl "Thanks ya Kevin."
"Kalian, masih ada kelas?"
"Iya, masih. Nanti jam 2." Jawab Sherryl dengan santai.
Olivia menatap ponselnya lagi, dan melihat sekitar. Ternyata Zenno menanyakan, siapa cowok yang duduk disebelah.
"Dia kenapa?" Batin Olivia dan masih melihat ke arah Zenno.
[Dia senior di kelas Management. Kenapa? Apa ada yang salah?]
Tanpa lama, Zenno membalas pesan itu.
[Aku nggak suka.]
"Emh, Zen-zen."
[Iya.. Iya.. Aku tahu itu.] Balasnya dengan wajah cemberut.
Zenno yang dari kejauhan hanya menggeleng.
Olivia mulai berdiri, menarik tangan Sherryl, lalu berbisik "Sherryl, temenin gue ke toilet."
"Hemm," Masih belum mendengar
"Temenin ke toilet."
"Kevin kita pergi duluan ya, thanks minumannya." Ucap Olivia.
Kevin hanya mengangguk dengan tersenyum.
__ADS_1
"Menurut juga si tikus kecilku." Tampangnya terlihat senang, Zenno lalu pergi.
Terima kasih para pembaca setia 🤗