
Tampak menatap ibukota diminggu pagi ini, dari balik kaca jendela apartemen. Olivia memandang jauh dan tak terlihat ujungnya. Dinda yang masih berselimut, dan Olivia sudah terbangun satu jam yang lalu.
Mentari yang bersinar cerah sudah mulai menyilaukan mata, Dinda yang merasa ada cahaya masuk ke ruang kamarnya, menjadikan dia terbangun.
Olivia yang melihat sang Kakak sudah bangun, dan dia mulai mendekat.
"Kak, gimana keadaan Kakak? Masih lemas? Atau masih pusing?"
"Nggak apa-apa. Kakak cuma lapar." Sambil mengelus perutnya dan Olivia mulai tersenyum.
"Ya udah, Kakak mau makan apa? Biar aku yang pesan makanan."
"Bubur ayam."
"Oke."
Olivia langsung bergegas menghubungi layanan apartemen. Di lantai satu, ada minimarket dan restaurant 24 jam, jadi dia tinggal pesan, lalu akan diantar oleh pelayannya.
Olivia membuatkan minuman hangat untuk Dinda. Ada dispenser, jadi dia tidak bingung soal memasak air.
Tidak lama, pesanan makanan juga sudah diantar. Olivia dengan cepat menyiapkan untuk Kakaknya.
"Kakak, mau makan disini apa di meja makan?"
"Bawa kesini aja. Kakak mager."
"Siap."
Dinda tampak tersenyum, ternyata Adiknya jadi suster terbaik untuknya.
"Olivia begitu rajin." Dinda yang apa-apa serba pelayan, dan jarang melakukan pekerjaan rumah. Karena, di apartemen ini semua ada layanan 24 jam, dari keamanan, kebersihan dan fasilitas lainnya. Jadi, tidak seperti Olivia, yang tinggal di rumah Zenno, berusaha untuk mandiri.
Olivia yang membawa nampan ke kamar dan Dinda masih duduk bersandar di tempat tidur.
"Oliv, apa kamu juga begini, saat di rumah Zenno?"
"Ya kadang aja Kak, kalau soal makanan kadang beli, kadang Zenno yang masak. Aku mana bisa masak. Kalau cuma bikin minum ya bisa."
Dinda tampak tersenyum, lalu dia mulai makan. "Ya udah, kamu juga makan gih."
"Aku tadi udah minum susu sama makan sereal."
"Emh, ya udah kalau gitu. Buruan sana mandi, siap-siap."
"Emang kita mau kemana?"
"Ini udah jam 8 lewat. Nanti ada pertandingan di kampus."
"Nggak ah, Kakak masih sakit ini, malah mau nonton pertandingan."
"Ayolah, biar Kakak lebih fresh. Lihat cowok-cowok main basket, apalagi berenang. Duh, pasti bisa lupain mantan."
"Cowok berenang?"
"He'em. Sana buruan mandi. Nanti ada teman Kakak yang berenang. Jadi kita harus nonton."
"Oke deh, Olivia mau bersiap."
"Dandan yang cantik!" Teriak Dinda.
Suasana di kampus sudah tampak ramai, apalagi di gedung olahraga. Acara pertandingan akan dimulai pukul 9 pagi, dan beberapa pertandingan sudah mulai persiapan.
Dinda masih santai menikmati makan paginya, sedangkan Olivia masih mandi. Olivia kalau urusan mandi memang paling lama, setiap di rumah Zenno, mandinya lebih dari 30 menit, jadinya Zenno selalu mandi lebih awal, agar tidak keduluan Olivia.
__ADS_1
"Olivia pasti masih mandi. Kamu harus pakai kaos ini. Biar kita samaan." Ucap Dinda yang menukar baju atasan Adiknya, lalu pergi dari kamar itu.
"Aku umpetin dimana ini bajunya."
Dinda bingung, lalu terpaksa dia simpan di lemari dapur. "Olivia nggak akan ke dapur, jadi ini aman."
"Kapan lagi kita bisa kembaran." Ucap Dinda dengan gemas, lalu ke kamar dan mengunci pintu kamarnya.
Selesai mandi, Olivia hendak berganti baju, dan melihat ada kaos berkerah yang bertuliskan nama seseorang dan warnanya juga lebih terang.
"Pasti ulah Kak Dinda." Olivia berusaha untuk ke kamar Dinda, tapi pintunya di kunci.
"Ngeselin. Ngapain juga, pakai kaos suporter."
"Mana aku nggak kenal dia siapa?"
"Dia pasti teman Kakak"
"Ya udah Kakak aja, ngapain aku dibawa-bawa."
"Apalagi kalau Zenno lihat, ntar dia marah lagi."
Olivia mengetuk pintu kamar Dinda dan Dinda tidak membuka pintunya.
"Kak, balikin baju aku."
"Ayolah. Nanti Zenno marah."
"KAKAK!!" Teriaknya dan amat kesal.
Olivia kembali ke kamarnya, terpaksa dia memakai kaos itu. Apalagi sudah hampir jam 9. Walaupun apartemen Dinda dekat kampus, tetap saja masih menempuh perjalanan.
"Olivia, ayo berangkat. Sudah jam 9, pertandingan udah dimulai."
"Iya,..." Olivia tampak mengenakan topi dan masker.
"Em, biar nggak ada yang ngenalin aku."
"Ya udah, terserah kamu. Ini, kamu yang bawa mobilnya."
"Oke."
Mereka memakai kaos yang sama, dan tampak seperti gadis kembar. Mereka juga hampir mirip dan rambutnya sama panjangnya.
Sekitar 10 menit, mereka berdua sudah tiba di gedung olah raga. Mereka akan menonton pertandingan renang.
"Ayo jalan, kenapa diam?" Dinda yang melihat Olivia tampak mematung.
"Kalau Zenno tahu, Kakak harus klarifikasi."
"Apa dia cemburuan?"
"Entah, yang jelas dia nggak suka aku dekat sama cowok."
"Soal Zenno, itu urusan gampang."
Olivia masih clingak-clinguk, cemas juga kalau ada yang ngenalin dia. Soalnya dia bilang ke Sherryl kalau nggak akan datang, karena Kakaknya sakit. Tapi, dua gadis ini juga datang ke kampus untuk menyaksikan para pria tampan yang akan bertanding.
Arena tempat berenang sudah begitu ramai. Dinda sudah meminta dua kursi, jadi mereka tidak akan berdiri.
"Kakak udah dari kemarin, minta dua kursi." Bisiknya dan Olivia hanya mengangguk.
Dinda tampak senang, akan melihat para pria tampan menampakan otot dadanya.
"Olivia, ini kesempatan kita melihat dada macho." Bisiknya dan Dinda tampak senang.
__ADS_1
"Buat apa melihat itu, jorok." Balasnya.
Dinda kembali berbisik "Kamu nggak akan paham. Makanya buruan dewasa. Apa jangan-jangan kamu udah lihat dadanya Zenno."
"Sssthhh.. Kakak jangan bawa-bawa nama dia. Aku bisa di kroyok para fansnya." Tapi Olivia mulai mengingat awal pertemuan di pagi itu, Zenno yang melilitkan handuk dan dia melihat jelas dada Zenno.
"Lupakan!" Batinnya yang merasa itu jorok.
"Gimana, udah lihat punya dia?" Dinda masih penasaran.
"Udahlah. Itu udah pada keluar."
Dinda mulai berdiri menyemangati temannya dan dia melambaikan tangannya ke arah Dinda.
"Hah, itu kan Kevin."
Olivia mulai melihat ke arah punggung kaos yang pakai oleh Dinda, lalu dia bergumam "Astaga, gue harus gimana nanti."
Para penonton begitu riuh dan Olivia menarik Dinda, lalu berbisik. "Katanya teman kelas Kakak, bukannya Kevin baru masuk semester 5."
"Iya, teman kelas waktu bahasa asing. Dia teman sekelas. Dia suka bantuin Kakak ngerjain tugas."
"Tapi gara-gara ada dia, Zenno marah."
Dinda yang tadinya berdiri langsung duduk, lalu bertanya "Apa? Serius kamu?"
Olivia mengangguk, lalu berkata "Kevin juga, jangan sampai tahu tentang Olivia. Dia senior Olivia, dan kita kenal baik."
Dinda memegang tangan Olivia, lalu berkata "Kamu tenang aja. Nanti Kakak yang jelasin sama Zenno. Soal Kevin, dia nggak masalah. Anaknya baik, kamu santai aja."
Dinda masih menatap ke arah Kevin, dan begitu cepat dia berenang. Olivia juga masih menatap dia. Tampak senyuman manis dari wajahnya. Semua bersorak saat Kevin yang menempati posisi pertama.
"Yeye... Kevin!" Dinda tampak berdiri dan begitu bersemangat.
"Kevin ternyata jago berenang." Olivia yang tersenyum dan bertepuk tangan.
Suara ponsel berbunyi dan itu dari Zenno, di tempat itu terlalu ramai. Olivia mulai pergi dan Dinda melihat kalau Olivia mengambil ponsel dari dalam tasnya.
"Zenno benar-benar possesif. Tapi, baguslah. Berarti dia sayang sama Olivia." Dinda melambaikan tangan ke arah Kevin.
Kevin demikian melambaikan tangannya kepada Dinda dan mereka memang berteman. Kevin juga sangat tahu, soal pernikahan Dinda. Tapi dia belum tahu, kalau Dinda sudah membatalkannya. Kevin juga menganggap kalau Dinda senior yang tidak pilih-pilih teman, bahkan banyak kenalan Dinda yang berbeda jurusan dan angkatan.
"Hallo,.."
"Kamu dimana?"
"Aku di kampus."
"Kampus?"
"Iya, sama Kak Dinda di arena renang."
"Apa? Arena Renang? Kamu nonton pertandingan renang?"
"Iya, Kak Dinda yang ajakin. Mana bisa aku tolak."
"Ya udah, aku di gedung basket. Kamu kesini."
"Iya, aku bilang Kak Dinda dulu."
"Buruan."
"Iya iya. Bawel."
__ADS_1
Olivia bergumam "Kalau bukan karena permintaan terakhir Mama, aku juga malas dekat sama Zenno. Demi Mama, aku harus bisa bertahan."
"Olivia." Suara yang memanggilnya begitu khas dan saat ini maskernya terlepas, jadi ada yang mengenalinya.