
"Jadi, ini ruang kerja Kak Erick?" Olivia yang melihat-lihat sekeliling ruangan itu.
"Kamu mau minum apa? Teh, kopi, atau minuman soda?"
"Emh, aku suka minum jus. Kalau ada, jus strawberry." Jawabnya.
Erick tampak menggeleng karena ini bukan lagi di restaurant tadi, tapi demi pernikahanan itu, dia harus berjuang meraih hati Olivia, yang masih belum merelakan Kakaknya.
"Oke, kamu tunggu disini."
Erick memanggil asistennya dan memintanya untuk membelikan jus strawberry.
"Jadi ini keluarga Kak Erick? Kakak dan keponakannya." Olivia yang memandangi sebuah bingkai foto yang ada di meja kerja Erick.
"Anak sekecil ini. Aku juga ikut sedih."
"Berarti Kak Erick memang orang yang baik. Kalau tidak, mana mungkin mau mengurus anak kecil dan dia juga masih bujang, waktunya dia bersenang-senang dengan gadis."
Olivia mulai berfikir, karena itu Erick melamar Dinda dan ingin segera menikahi Dinda.
"Emh, tapi aku masih harus banyak tahu tentang dia."
Erick yang kembali ke ruangan, lalu Olivia bertanya "Kak Erick, orang tua Kakak?"
Erick kemudian duduk di kursi kerjanya dan berkata "Orang tua sudah tidak ada, saya dari SMA hanya tinggal berdua dengan Kak Albert."
"Iya, Olivia mengerti." Ucapnya dan dia juga merasakan itu semenjak sang Mamanya tiada. Walaupun Papanya masih ada, tetap saja rasanya berbeda. Dirinya dan Erick ternyata merasakan kesedihan yang sama.
Tidak lama seorang staff wanita masuk dan memberikan minuman untuk Olivia.
Olivia memandangi staff wanita itu, yang tampak berpakaian minim.
"Kak Erick, apa disini semua staff memakai rok ketat seperti itu?"
Erick belum mengerti maksud Olivia, lalu bertanya "Rok ketat?"
"Iya, yang barusan kesini tadi. Roknya terlalu ketat."
"Saya tidak pernah memperhatikan itu. Baiklah, nanti akan saya briefing staff saya, agar pakaiannya lebih sopan."
"Nah gitu, biar matanya Kak Erick terjaga." Olivia yang apa adanya dan Erick tampak tersenyum.
"Apalagi yang harus diperbaiki?" Tanya Erick.
"Emh, kalau asisten cowok. Olivia tidak masalah. Yang penting, Kakak kalau keluar kota soal pekerjaan, jangan sama asisten perempuan."
"Saya selalu sendiri."
Olivia, lalu berfikir kalau sendiri nanti seperti di film-film yang bisa dijebak perempuan.
"Kalau bisa jangan sendiri, ajak asisten laki-laki. Biar kalau ada apa-apa, Kak Dinda bisa tanya sama asisten Kak Erick."
"Baik, kalau begitu."
"Soalnya Papa dulu begitu, sering sendiri, eh..di pepet sama Mak Lampir."
Erick menahan tawanya dan hanya menganggap kalau Olivia terlalu banyak berfikir yang bukan-bukan.
Olivia yang sedang minum dan tampak sekretarisnya masuk.
"Pak Erick, Tim FGFC sudah tiba."
"Ajak mereka ke ruang rapat."
__ADS_1
"Baik Pak Erick. Saya akan mengajak mereka ke ruang rapat."
Olivia mendengar nama FGFC, dan itu Timnya Zenno. Tidak lama, Erick mulai beranjak dari kursinya.
"Kak Erick, ada apa?"
"Ada pertemuan penting."
"Olivia boleh ikut?"
Erick berfikir, tidak ada salahnya dan ini hanya pertemuan biasa. Bahkan, Olivia juga berusaha mencari tahu semua tentang dirinya dan perkerjaannya.
"Boleh, ayo." Erick menyambar jasnya dan memakai saat berjalan.
"Emh, aku bisa ketemu Zenno dan teman-temannya." Batin Olivia yang merasa senang.
Sekretaris Erick tampak dewasa dan memang usianya diatas Erick, bahkan dia juga sudah menikah. Tapi, Olivia tidak mengkritik penampilannya, karena memakai celana bahan dan blazer.
Asistennya disamping dan sekretaris itu berbisik, "Dia siapanya Pak Erick?"
"Dia calon adik iparnya." Karena asisten sekaligus sopirnya itu, sudah bertemu Olivia, waktu Dinda pingsan malam itu dan hanya kepada asistennya ini, Erick banyak meminta pendapat tentang Dinda.
"Owh, begitu." Balas sekretarisnya dan mereka berjalan ke ruang rapat.
Senin sore di Tech Media. Erick tampak santai dan Olivia berjalan di sebelah kanannya. Sekretaris dan asisten Erick ada di belakang mereka.
Setibanya di ruang rapat, semua anggota Tim FGFC berdiri, dan Zenno menjadi berdebar kencang. Saat melihat ada Olivia yang berjalan di samping Erick.
"Kalian sudah lama menunggu?" Tanya Erick dengan senyuman.
Zenno menjawabnya, "Kita juga baru tiba."
"Mari silakan duduk." Ucap Erick dan semua Tim FGFC kembali duduk. Olivia masih tampak berdiri dan menatap Zenno dengan santai.
"Emh, iya. Olivia mau duduk." Akhirnya Olivia duduk berhadapan dengan Zenno.
"Maaf, Adik saya mau melihat saya bekerja."
"Kak Erick bisa saja." Ucapnya dan Zenno berfikir dalam hatinya "Adik?? Kapan Olivia punya Kakak laki-laki? Bukannya Kakak sepupu masih di Belanda."
Olivia yang tersenyum dan tatapan Erick begitu lekat. Membuat Zenno begitu tidak nyaman.
"Gimana demo permainan kalian, apa sudah diperbaiki?"
Loudy sudah menyiapkan laptopnya dan sekretaris Erick langsung menampilkan ke layar proyektor.
"Pak Erick bisa melihatnya." Ucap Zenno.
"Baik, kita akan melihat, sejauh mana FGFC bekerja keras." Balasnya.
Erick dan Olivia menatap layar proyektor yang menampilkan demo permainan CFF yang begitu keren. Tapi, Olivia masih belum mengerti apa hebatnya permainan online itu.
Setelah selesai melihat kerja keras FGFC, Erick tampak puas.
"Zenno, yang ini lebih bagus dari yang kemarin. Strategi permainan juga lebih terlihat epik." Ucap Erick.
"Terima kasih Pak Erick, ini semua juga atas penilaian Pak Erick kemarin." Ucap Zenno dan anggota Tim hanya memperhatikan Zenno.
"Ya, sebenarnya saya ingin langsung mengontrak Tim kalian, tapi beberapa petinggi lain menginginkan sebuah event, untuk mengetahui Tim yang terbaik."
"Iya Pak Erick, kita semua mengerti."
__ADS_1
Erick menatap Olivia yang sedang melihat ke arah ponsel, lalu Erick bertanya "Olivia, kamu suka CFF?"
Olivia berkata "Emh, nggak. Olivia nggak tertarik."
Erick tersenyum dan Zenno melihat ada hal berbeda, kenapa Erick tampak dekat dengan Olivia.
Zenno lalu bertanya "Pak Erick, untuk pertandingan nanti. Apa, 4 Tim itu yang akan menjadi lawan kita?"
Erick menggeleng lalu berkata "Tidak, tapi hanya 2 seleksi kami."
"Bukannya 5 Tim kemarin yang terdaftar?"
Erick berkata "Saya hanya mengambil Tim yang unggul dalam permainan. Bukan untuk pertandingan biasa, seperti di event media lain. Karena saya mencari orang yang hebat untuk mengembangkan Tech Media."
"Baik, saya mengerti." Zenno dengan wajahnya yang tampak santai.
"Kak Erick, Olivia pulang duluan ya."
Erick berkata "Bukannya tadi minta di antar?"
"Nggak jadi, Olivia sudah di jemput sama Kak Dinda."
Erick tersenyum lalu berkata "Baiklah, hati-hati. Salam buat Dinda."
"Oke."
"Mari semuanya, saya pergi dulu."
Olivia lantas pergi, mereka yang masih di ruangan itu hanya tampak tersenyum saat Olivia berpamitan.
Erick kembali membahas tentang pertandingan nanti dan Tim FGFC tampak mencermatinya.
Setelah satu jam pertemuan itu dan Tim FGFC mulai pamit. Mereka juga akan membuktikan kerja keras mereka, nanti dipertandingan yang sudah ditentukan tanggalnya.
"Pak Erick, terima kasih." Ucap Zenno dan menjabat tangan Erick. Yang lain tampak mengikuti hal tersebut.
"Iya, selamat bertemu di event nanti.".
Zenno tampak bersemangat, begitu pula Loudy dan lainnya.
Erick lalu kembali ke ruangannya dan Zenno masih memikirkan tentang Olivia yang tidak mengatakan soal Erick.
"Loudy, bukannya gadis tadi yang ada di pesta perkenalan kampus?" Tanya Vino.
"Sepertinya begitu."
"Berarti gadis itu satu kampus sama kita dan dia Adiknya Pak Erick." Ucap Ken.
"Wah, berarti kita harus mengawasi Adiknya Pak Erick." Ucap Joy.
"Apa yang kalian bicarakan? Yang harus kita persiapkan itu permainan kita. Bukan mengawasi orang lain." Ucap Zenno dan mereka menuju lobby Tech Media.
Semua tampak diam dan keluar dari kantor Tech Media.
Zenno menatap nama Tech Media, dan tampak percaya diri. Sudah senja dan Zenno kembali memikirkan Olivia.
"Kalian bertiga, gue carikan taxi."
"Loe mau kemana? Katanya mau latihan." Tanya Vino.
"Gue masih ada urusan. Latihannya besok aja."
Mereka cukup mengerti, Zenno sudah tampak bekerja keras untuk Timnya. Jadi, mereka akan memberikan waktu untuk Zenno sendiri dan tidak terus menerus memikirkan Tim FGFC.
__ADS_1
Gimana pembaca, masih mau lanjut? ðŸ¤ðŸ¤—