COUPLE UNIK

COUPLE UNIK
Mertua Olivia Ada-ada Saja


__ADS_3

"Mama, Deffo tidak berbuat itu." Deffo tampak geram dan meremas foto aib dirinya bersama seorang gadis, di sebuah kamar Hotel Mewah yang ada di Bandung.


"Deffo, ini kamu sayang." Ucap Mama Virda dan gadis itu masih berdiri di depan Deffo.


Seorang gadis datang ke rumah. Lalu Deffo serta Papa Benny buru-buru pulang ke rumah. Mama Virda yang melihat foto itu, dirinya jadi membawa perasaannya sebagai perempuan


"Tante, saya harus gimana?" Bak artis papan atas, tetapi lebay saat menangis.


Mama Virda mendekatinya dan berkata "Tenang saja, Deffo akan tanggung jawab."


Senyuman manis terhias dibibir ranumnya dan Mama Virda mengajaknya duduk. Papa Benny memakai kacamata baca agar melihat jelas, kalau yang difoto itu putranya.


"Iya Def, ini kamu. Kamu harus bertanggung jawab."


Deffo melotot dan ternyata bukan hanya satu foto, tapi ada beberapa foto. "Ini, kamu menjembak aku?"


Gadis itu seolah telah menjadi korban pelecehan dan tidur bersama pria yang tidak sadarkan diri.


"Siapa yang menjebak kamu, tapi kamu yang datang ke kamarku." Jawabnya dan menangis lagi.


Dia memang gadis yang cantik dan tampak dari keluarga kaya. Terlihat dari penampilannya yang begitu modis.


"Tante, Om. Saya perempuan, tapi putra kalian tega menghancurkan saya."


Deffo berkata "Ini nggak mungkin terjadi. Ini sama sekali tidak mungkin." Deffo kembali menghancurkan foto itu dengan kesalnya.


Papa Benny berkata "Ya sudah, nanti kita urus pernikahan kamu."


"Papa, Deffo nggak ngelakuin itu. Papa jangan main-main."


"Kamu yang main-main. Ini aib keluarga, kalau kamu tidak bertanggung jawab, pasti orang tua dia menuntut kamu."


Mama Virda lalu berkata "Papa, tenang. Biarkan Deffo mengingat dulu kejadiannya."


"Mama, mana mungkin Deffo ingat. Ini foto kapan, dimana. Deffo kenal dia aja nggak, mana mungkin Deffo tahu kejadiannya."


Deffo lalu memangamati satu persatu foto itu dan tampak tertunduk di dekat sofa. Mama Virda dan gadis itu menatap Deffo yang sudah lemas.


"Tante, saya harus gimana?" Dia mulai menangis lagi, dan Mama Virda berusaha untuk menenangkannya.


Olivia yang dari Bogor, tiba di rumah Mama Virda. Pak Roni juga hanya mengantar sampai depan halaman rumah itu dan dia langsung menuju ke MC Global karena masih ada pekerjaan.


Olivia yang masuk ke rumah, tampak terdiam melihat Kak Deffo yang duduk di karpet dan bersandar sofa, bahkan hanya mengamati sebuah foto.


Lalu, ada gadis yang menangis lebay di sofa dan Mama Virda berusaha untuk menenangkannya.


"Mama, Papa, Kak Deffo. Ada apa ini?" Masalah sendiri belum selesai, tapi ada masalah baru di keluarganya.


"Lihat ini. Kakak kamu berbuat seperti ini pada gadis." Ucap Papa Benny yang menyodorkan foto itu, dan Olivia mulai duduk di sofa, dia melihat satu persatu foto yang seolah Deffo meniduri gadis itu.


"Kak Deffo, kenapa Kakak begini?" Olivia yang masih melihat foto itu dan Papa Benny melepas kacamatanya, tampak duduk bersandar di samping Olivia.


Deffo berkata "Kakak tidak berbuat itu. Olivia, kamu harus percaya sama Kakak. Kakak berani bersumpah."


"Tapi ini foto Kakak dan dia." Olivia yang menoleh ke gadis yang menangis itu.


Olivia perlahan mengamati dengan jelas foto itu dan ada pantulan cermin, seolah ada yang memotret mereka.


"Kak Deffo, foto ini sepertinya sudah direncanakan." Ucap Olivia dan semua menatap Olivia.


"Apa maksud kamu?" Gadis itu tampak tidak senang dengan Olivia.


Olivia mulai berdiri dan menatap gadis itu "Kamu siapa?"


"Aku Tessa, putri dari Direktur Wen."


"Owh, putri pemilik tabloid gadis. Tapi, kamu berbuat ini."


"Kamu!!" Dia menatap Olivia dengan tidak senang.


Mama Virda mendekati Olivia dan berkata "Olivia, sudahlah. Itu Kakak kamu bersalah, biarkan saja dia tanggung jawab."


Semua tampak terdiam, Olivia kembali mengamati foto itu baik-baik.


"Mama, tapi ini jebakan. Olivia sangat tahu, ini tidak seperti Gery dan Marcella. Coba lihat ini, ada cermin dan ini terlihat tangan yang membawa tas wanita. Berarti, di kamar itu ada orang lain."

__ADS_1


Mama Virda tampak melihat foto yang ditunjuk Olivia dan Deffo mulai berdiri mendekati Olivia.


Deffo kembali memperhatikan fotonya dengan jelas dan Papa Benny tampak menggeleng.


"Mama??" Deffo menatap Mama Virda.


"Kamu kenapa melototin Mama?"


"Ini tasnya Mama. Ini tas pemberian Deffo waktu ulang tahun Mama yang ke-50."


Mama Virda kembali duduk di sofa dan Olivia masih bingung.


"Kamu tidak mengerti perasaan Mama."


"Jadi, Mama yang mengatur ini, waktu Mama arisan di Bandung. Owh, pantas saja Deffo waktu itu merasa ngantuk dan tahu-tahu sudah sampai di rumah."


Olivia bertanya "Mama, Papa, apa maksudnya ini? Olivia nggak ngerti."


"Itu rencana Papa kamu, agar Deffo menikah."


"Papa??" Olivia dan Deffo terkejut.


Tessa jadi gelisah saat menatap Deffo. Dia memang putri dari keluarga kaya, tapi ikut andil dalam permainan ini, karena dia dijodohkan dengan Deffo.


Deffo berkata "Owh, jadi foto ini, kalian yang mengaturnya, agar Deffo segera menikahi gadis ini?"


"Deffo, bukan begitu maksud Papa."


Deffo dengan kesal melempar foto itu, lalu pergi ke kamarnya.


"Mama, Papa. Apa tidak ada ide lain? Ini mengenai perasaan Kak Deffo."


Papa Benny dan Mama Virda hanya diam, lalu Tessa merasa cemas dan berkata "Tante, Om, Tessa pulang dulu."


"Tunggu! Kamu mau pulang begitu saja setelah berbuat onar?"


"Gue cuma disuruh datang kesini. Gue juga takut sama nyokap bokap gue. Makanya gue setuju mengikuti ide ini."


"Oke, ya udah sana pergi."


"Ya udah terserah Mama sama Papa. Olivia juga lagi malas." Olivia lalu beranjak pergi begitu saja.


Mama Virda dan Papa Benny, melihat ada yang aneh dari Olivia "Olivia kenapa?"


"Mama juga nggak tahu." Orang tua itu saling berbisik.


Tessa yang duduk di depan kedua orang tua Deffo lalu bertanya "Tante, Om, Tessa harus gimana? Tessa juga hanya menuruti kemauan Mama."


"Tessa, maafkan Tante sama Om, dan juga putra Tante. Kamu tidak perlu sedih. Biar nanti Om dan Tante yang akan bicara sama Mama kamu."


"Bener ya Tante. Bilangin Mama, kalau Tessa hanya ingin jadi model dan belum siap menikah."


"Baik, Tante akan coba bicara sama Mama kamu soal itu. Terima kasih sudah membantu Tante."


"Kalau begitu, Tessa permisi dulu Tante, Om."


Mama Virda dan Papa Benny kemudian mengantar Tessa ke depan. Olivia yang masuk ke kamar, melempar tasnya.


"Kenapa semua jadi begini??" Olivia yang tampak kesal dan langsung tengkurap diatas ranjangnya.


"Mama, coba kamu lihat Deffo."


"Papa saja, Mama mau melihat putri Mama. Sepertinya dia juga marah."


Papa Benny menggeleng dan ini semua juga karena idenya, yang ingin sang putra agar segera menikah.


"Deffo, maafin Papa."


"Sudahlah, lagian Deffo bukan anak-anak lagi."


"Ya, Papa tahu. Papa dan Mama bersalah. Kami hanya ingin, kamu tidak hidup sendirian. Nantinya, Papa dan Mama akan tua dan tiada, siapa yang akan menemani kamu."


"Apasih Pa. Nggak usah ngomong begitu."


"Papa hanya ingin melihat kamu bahagia dan tidak hidup sendirian."

__ADS_1


"Iya, Deffo tahu."


"Ya sudah, Papa mau kembali ke kantor."


Deffo memikirkan perkataan sang Papa.


Mama Virda yang ada di kamar Zenno, mulai berbicara dengan Olivia "Maafin Mama."


"Mama harusnya minta maaf sama Kak Deffo, bukan Olivia."


"Iya, Mama tahu sayang. Terus kamu kenapa bete begitu?"


"Nggak apa-apa. Olivia cuma capek Ma." Olivia yang masih tengkurap dan memeluk gulingnya.


"Kamu nggak mau cerita sama Mama?"


Olivia mulai bangkit, duduk di sebelah Mama Virda, memegang tangan Mama Virda.


"Mama, kenapa semua orang tua hanya bisa menyuruh dan mengharuskan anak mereka untuk menurut? Padahal mereka punya perasaan dan pilihan hidup mereka sendiri."


"Kamu masih marah soal tadi?"


"Bukan hanya Kak Deffo, tapi banyak yang lainnya. Misalnya Olivia."


"Sayang, orang tua berbuat itu demi anak-anaknya. Mama dan Papa berbuat ini, agar bisa melihat Deffo bahagia dan tidak hidup sendirian. Karena kelak, Mama dan Papa akan tua, bahkan tiada. Siapa yang akan menamani Deffo?"


Olivia masih memegang tangan Mama Virda, berkata "Mama, Kak Deffo punya perasaan, dia juga punya cinta. Hanya saja...."


"Apa maksud kamu? Apa dia punya kekasih dan tidak mau memberitahu Mama sama Papa?"


Olivia mengangguk, lalu berkata "Kak Deffo masih menyimpan cinta pertamanya. Dulu Kak Deffo punya pacar. Setelah lulus SMA mereka akhirnya harus berpisah. Untuk kuliah di luar negeri, Kak Deffo yang di Jerman dan gadis itu tinggal di LA."


"Kenapa Mama nggak tahu? Apa saja yang kamu tahu sayang? Ayo cerita sama Mama."


"Olivia juga hanya mendengar cerita dari Kak Dinda waktu mereka ke Bali. Kak Dinda juga bertemu cinta pertama Kak Deffo. Dia cantik, dewasa, dan begitu anggun."


"Terus apa lagi?"


"Tapi mereka tidak bisa bersatu lagi. Ardilla sudah punya anak, dan tanpa suami. Kehidupannya, jauh berbeda dari sebelumnya dan dia tidak bisa kembali bersama Kak Deffo. Malah menyuruh Kak Deffo agar segera menikah. Tapi, kata Kak Dinda. Sepertinya Kak Deffo susah melupakan cinta pertamanya."


"Ardilla?"


"Iya, dulu satu SMA sama Kak Deffo. Olivia hanya tahu soal itu. Ya mungkin, banyak alasan kenapa Ardilla tidak bisa kembali dengan Kak Deffo, padahal dia tidak bersuami." Kata Olivia.


"Olivia, terima kasih sayang, sudah kasih tahu Mama. Mama akan mencari tahu soal Ardilla." Mama Virda tampak begitu bersemangat dan dia akan mencari tahu soal Ardilla demi Deffo.


Mama Virda keluar dari kamar itu dan Olivia tersenyum.


"Papa, jangan balik ke kantor."


"Ada apa lagi Ma?" Tanya Papa Benny, mengingat ini baru jam 3 dan dia masih banyak perkerjaan.


"Kita harus cari Ardilla."


"Siapa lagi dia? Mama tidak kapok soal yang barusan?" Papa Benny yang mengancingkan kerah tangan kemejanya.


"Dia cinta pertama Deffo."


"Lalu, buat apa?"


Mama Virda berkata "Deffo masih menyimpan perasaannya untuk Ardilla dan sampai sekarang tidak bisa melupakannya."


"Ya sudah, Mama tanya dulu sama Deffo. Kita jangan sampai gegabah lagi."


"Iya Papa. Mama akan cari tahu dulu."


Mama Virda merasa lega, ternyata putranya menyukai perempuan. Tidak seperti dalam pikirannya selama ini, yang dikiranya kalau Deffo tidak bisa menyukai perempuan.


Olivia mulai berbaring dan memejamkan matanya. Hari ini begitu melelahkan, ada ada saja masalah yang menghampiri dirinya.



Mama Virda


__ADS_1


Papa Benny


__ADS_2