
Setelah acara penyambutan mahasiswa baru selesai, Sherryl mengajak Olivia untuk ke kantin dan melihat suasana disana. Tapi, Olivia sepertinya enggan dan dia juga masih diet, jadi sepertinya tidak harus ke kantin kampus.
"Kenapa? Apa loe nggak mau makan siang?"
Olivia hanya tersenyum manis dan dia tidak mengatakan kalau dirinya sedang diet.
"Ayolah, biar kita bisa lebih mengenal kampus kita."
"Gue nggak lapar, lagian acara juga sudah selesai. Lebih baik gue pulang."
"Baru jam segini, buru-buru pulang. Lihat itu, yang lain aja masih seru-seruan di kampus, loe mau balik aja."
"Hems, gue nggak terbiasa. Biasanya gue sekolah selesai, ya pulang."
"Hai, loe bukan anak SMA lagi. Ayolah..." Ajakan itu tidak dapat dihindarkan, setidaknya dia bisa beli air mineral dan menemani Sherryl. Karena Sherryl tidak pantang menyerah dan menarik tangan Olivia begitu saja.
"Udah chat Kak Dinda, tapi kenapa dari kemarin belum dibalas. Ada apa dengan kak Dinda?" Walaupun sudah bersama teman, tapi dia tetap memikirkan sang Kakak yang dari beberapa hari lalu susah dihubungi.
Suasana kampus begitu nyaman. Olivia tampak senang, berjalan menuju kantin timur dan ternyata ada seseorang yang telah menatap Olivia dari kejauhan.
Tiba di kantin dan berusaha untuk memesan minum, tapi Sherryl menarik Olivia untuk duduk terlebih dulu.
"Bukannya loe mau makan? Kenapa malah duduk?"
"Gue mau perhatiin para senior dulu."
Olivia menoleh ke sisi belakang dan melihat ada Zenno serta teman-temannya yang sedang asyik mengobrol sambil menikmati minuman kaleng.
"Zenno punya banyak teman." Dia hanya menoleh dan kembali menatap Sherryl yang berusaha untuk memotret rekan Zenno. Dia adalah Loudy, dan dia juga sangat terkenal.
"Sherryl, buruan sana makan."
"Sstthh... Ini sangat langka."
"Apanya yang langka? Mereka juga manusia biasa."
"Olivia, loe nggak akan ngerti. Mereka itu udah jadi bintang."
"Mereka bukan aktor atau orang ternama, apa gunanya?!" Olivia tampak cuek dan masih tidak mengerti tentang ucapan Sherryl.
"Coba deh loe cek CFF. Loe akan paham."
"Gue lebih suka nonton film daripada nonton begituan."
Olivia beranjak pergi untuk membeli minuman. Zenno ternyata melihat Olivia yang berjalan, dia berusaha untuk mendekat.
Suasana di meja itu cukup menarik dan beberapa rekan Zenno mengamati para mahasiswa baru yang cantik dan manis. Itu menurut mereka dan tidak untuk Zenno.
"Kalian semua salah, Zenno sudah ada yang punya."
"Serius loe?"
"Iya, Quuen di kampus kita. Bella."
"Nggak mungkin, itu cuma gosip."
"Zen, serius loe sama Bella?"
Zenno tidak menjawab pertanyaan rekannya dan kembali menatap ke arah Olivia, sambil meneguk minuman kalengnya.
"Hems, Zenno itu cuma pura-pura. Suer deh, gue dengar dari temannya Bella."
__ADS_1
"Jangan bikin gaduh kalau nggak bener."
"Zen, klarifikasi dong."
Zenno tampak menoleh ke rekannya itu dan berkata "Emh, gue udah punya calon bini."
Zenno beranjak dari tempat duduknya dan rekan-rekannya itu masih terpana dengan apa yang mereka dengar barusan.
Loudy ikut beranjak berdiri dan berkata "Kalian jangan bikin gosip, atau kalian yang kena." Senyuman Loudy begitu mematikan lawan.
3 orang rekan yang masih melongo dan Loudy mengikuti Zenno yang sudah berjalan pergi dan dia tampak melewati Olivia begitu saja.
Olivia hanya bisa berdiam diri dan menghela nafasnya dengan pelan, saat Zenno berjalan di depannya.
"Kenapa aku jadi begini?" Batin Olivia yang tidak nyaman saat melihat Zenno melewati dirinya.
Olivia mulai meletakan satu kotak makanan dan minuman untuk Sherryl.
"Eh, loe kasih gue ini?"
"Makan siang buat Sherryl."
"Terus loe sendiri?"
Olivia hanya menggeleng dan mengangkat botol air mineral.
"Pantas saja loe super langsing."
"Udah makan aja, gue temenin."
Zenno yang tadi melihat Olivia membawa kotak makanan dan dia mengirim sebuah pesan.
[Tuan putri gagal diet? 😂]
"Loe diet?" Sherryl mendengar perkataan itu dan Olivia hanya tersenyum tipis.
"Seriusan loe diet? Padahal loe udah kurus begitu."
Sherryl masih penasaran dan Olivia hanya tersenyum nyengir sambil mengelus ponselnya.
Tidak lama dan belum sempat berkata, ada Queen kampus beserta dayang-dayangnya. Olivia dan Sherryl tampak menatap mereka. Bahkan, seluruh orang yang ada di kantin itu, tatapannya tertuju pada Bella dan rekannya.
Mereka berjalan dan menuju ke arah meja teman Zenno.
"Zenno kemana?" Seorang teman dari Bella bertanya kepada teman Zenno.
Olivia juga mendengar hal itu, sepertinya memang ada sesuatu yang Olivia belum tahu.
"Dia udah pergi." Jawabnya dengan menatap santai.
"Pergi kemana?" Tanyanya lagi.
"Mana gue tahu, gue bukan asistennya."
Bella dengan tersenyum dan menatap dia, lalu berkata "Baiklah, kalau tidak mau memberi tahu."
"Memang kita semua nggak tahu. Yang jelas, barusan dia pergi sama Loudy."
"Loudy?" Bella cukup tersenyum dan mereka hanya mengangguk.
"Thank you." Ucap Bella dan membalikan badan dengan gayanya yang memang super model. Dia model iklan dan sempat bermain film. Walau bukan pemeran utama, tapi dia terkenal di kampusnya sebagai seorang bintang dan dianggap kecantikan kampus.
__ADS_1
Setelah sang ratu kampus itu melewati meja Olivia, Sherryl tampak masih menatap mereka.
"Olivia, mereka tadi juga terkenal di kampus ini. Panggilannya saja Queen."
"Queen?"
"Iya, dia tadi yang tengah namanya Bella, dia ratu kencantikan kampus kita."
"Loe tahu banyak ya, soal kampus kita."
"Gue udah ngorek dulu dari senior kita, dia dulu juga sekolah di SMA yang sama. Jadi gue udah banyak info, kita harus hati-hati sama mereka."
"Kenapa begitu?"
"Mereka para teman Bella, terkenal sadis dan menganggap bahwa Bella satu-satunya mahasiswa bergelar kecantikan kampus."
Olivia hanya mengangguk dan dia tidak peduli dengan hal itu. Walaupun dia juga sempat mendengar, kalau para gadis itu tadi sedang mencari Zenno.
Olivia berkesempatan untuk membalas chat dari Zenno dan dia berkata kalau ada ratu kecantikan kampus yang mencari dia.
"Apa yang akan dia katakan nantinya?" Senyuman bak racun yang mematikan, tapi saat ini Zenno tidak melihatnya. Karena mereka berdua sama-sama tahu, kalau mereka nantinya harus menikah dan tidak boleh ada yang berpacaran.
Sherryl sudah menyelesaikan makan siangnya dan dia tiba-tiba bertanya "Olivia, loe tinggal dimana?"
Olivia yang mendengar itu, padahal dia sedang minum dan sampai tersedak.
"Emh, kenapa?"
"Ya gue tanya aja. Siapa tahu, nanti gue bisa main ke rumah loe."
"Rumah gue ya di Bogor."
"Jauh amat, maksud gue selama di Jakarta. Loe tinggal dimana?"
"Gue tinggal sama saudara."
"Di daerah mana?"
"Di daerah_..... Emz gue tinggal di apartemen Golden City."
"Owh, di apartemen. Kapan-kapan gue boleh main kesana?"
"Emh, iya. Kalau gue nggak sibuk."
Olivia bingung harus mencari alasan apa, tapi Sherryl gadis yang serba tahu. Lama-lama dia juga akan tahu, siapa Olivia sebenarnya.
"Loe sibuk apa?"
"Sibuk kerja." Balasnya dan sejujurnya Olivia tidak ingin berbohong. Apalagi sang Papa adalah pemilik perusahaan iklan terkenal di kota ini dan juga salah satu bagian dari perusahaan sponsor untuk kampus ini. Bahkan, tadi nama perusahaan itu juga di cantumkan dalam acara penyambutan dan perwakilan dari perusahaan sempat datang dalam pemberian beasiswa untuk beberapa mahasiswa yang berprestasi.
"Loe kerja?"
"Iya, gue kerja sama saudara." Dalam hatinya, "Aku kerja di rumah Zenno dan disana apa-apa serba sendiri. Bahkan aku nyuci piring sendiri tanpa pembantu."
"Oke, gue ngerti. Kadang gue juga kerja." Balas Sherryl dengan menggemaskan. Bahkan saat tadi mengobrol, Olivia juga sempat berbohong soal nama SMAnya.
Olivia membaca pesan dari seseorang dan dia berubah cemas.
"Sherryl, gue balik duluan ya."
Olivia tidak sempat bicara lagi, dan berjalan dengan cepat. Sherryl yang masih duduk dan hanya menatap Olivia yang pergi begitu saja.
__ADS_1