COUPLE UNIK

COUPLE UNIK
Olivia Tidur Di Kamar Zenno


__ADS_3

Malam ini hujan telah mengguyur kota, Olivia yang tidur begitu lelap. Zenno yang mengendarai mobil, sesekali melihat ke arah Olivia. Padahal tadi sudah cepat, tapi mobil itu masih saja ada di belakang mobil Zenno.


"Olivia, malam ini kita tidak pulang ke rumah." Ucapnya dan mulai menekan klakson mobilnya, agar seseorang membuka pintu gerbang rumah.


Seorang pria paruh baya membuka gerbangnya, masih hujan tapi tidak terlalu deras.


Mobil yang mengikutinya sempat berhenti, saat mobil Zenno masuk ke sebuah rumah mewah dan itu terlihat dari pagar rumah yang tinggi.


"Jadi ini rumah Zenno? Baguslah." Dia lantas pergi setelah melihat mobil Zenno yang masuk ke halaman rumah itu.



"Olivia, kita sudah sampai." Ucap Zenno dan Olivia yang lelap.


"Olivia, bangun. Kita sudah sampai rumah." Ucapnya sekali.


"Emh, aku ngantuk." Lirihnya yang enggan sekali untuk bangun.


Seseorang mengetuk kaca mobil Zenno dan tampak membawa payung.


"Den Zenno, ini saya ambilkan payung."


"Tapi Olivia belum bangun Pak Deden."


"Nona Olivia di gendong saja Den." Balasnya dan membuka payung yang besar.


Zenno masih bingung gimana cara mengangkat Olivia, sudah hampir tengah malam. Dirinya juga lelah, seharian ada aja yang membuat dia capek.


"Olivia, aku harus angkat kamu." Ucapnya dan sudah melepas sabuk pengaman Olivia.


Zenno keluar mobil lebih dulu, sambil dipayungin Pak Deden. Lalu ke sebelah pintu samping dan perlahan mengangkat Olivia.


"Emz, kamu kurus tapi berat juga." Batin Zenno dan Pak Deden memayungi mereka berdua.


Tidak lama, Zenno sudah masuk ke rumah dan ada sang Mama. "Sayang, tumben kamu pulang? Itu Olivia kenapa?"


Mama Virda tampak sudah memakai gaun tidur, terlihat dari kimono hitam yang dikenakannya.


"Olivia tidur. Capek kayaknya."


Sang Mama mengikuti Zenno sampai kamarnya, yang ada di lantai dua. Dengan perlahan Zenno menidurkan Olivia di atas tempat tidurnya, lalu melepas topi dan sepatu Olivia.


"Kalian dari mana? Ini udah malam."


"Pesta kampus Ma, tadi mau pulang ke rumah kejauhan. Mana hujan deras, ya udah pulang kesini aja."


"Anak Mama memang pintar. Uh, sayang." Mama Virda yang tampak gemas dan Zenno memang anak kesayangan Mama.


"Sayang, apa kamu tidak kasih makan Olivia?" Tanya sang Mama dan Zenno masih melepas sepatu Olivia.


"Memangnya kenapa Ma?" Zenno yang tampak santai dan sang Mama mulai mendekati Olivia.


"Iya, Olivia kurusan. Kamu harus jagain anak orang. Ini kalau Dion tahu, kamu bisa kena marah nanti." Ucap Mama Virda.


"Mama, Zenno udah jagain Olivia. Ini buktinya."


"Apa kamu nggak perhatian? Nggak kasih makan?" Mama Virda masih belum puas.


Zenno mulai mengambil kaos dalam lemarinya dan melepas sepatunya, lalu berkata "Olivia diet, jadinya begitu."


"Diet? Sayang, jangan dibiarkan calon istri kamu diet-diet. Nggak bagus buat kesehatannya."


"Mama aja yang nasehatin dia."


Zenno beranjak ke kamar mandi untuk berganti pakaian dan Mama Virda mengelus rambut Olivia.


"Apa kamu rindu sama Mama kamu, lalu jadi seperti ini?" Mama Virda juga begitu peduli dan sayang Olivia. Bahkan dari kecil memang lebih memilih Olivia untuk menjadikan putrinya.


"Emmh, Mama." Lirih Olivia yang merasa ada yang mengusap rambutnya, bahkan tangan Olivia memegangi tangan kanan Mama Virda.

__ADS_1


Zenno melihat itu dan berkata "Dia sering nginggau, manggil Mamanya."


"Sstthh... Biarkan saja. Kalau gitu, Mama mau tidur disini. Kamu tidur di kamar tamu."


"Iya Ma, ini juga mau ke kamar tamu. Zenno capek. O iya, Papa dimana?"


"Papa keluar kota sudah dua hari. Besok baru pulang."


Zenno tampak membulatkan bibirnya dan menggangguk, akhirnya dia pergi ke kamar tamu yang ada di lantai bawah. Sedangkan Olivia, tidur dalam dekapan Mama Virda.


Mama Virda memang menginginkan seorang putri, tapi anaknya tiga cowok semua. Yang paling kecil, baru masuk SMP, padahal sangat berharap perempuan, tidak tahunya laki-laki lagi.


Nama Adiknya Zenno, Vicco Brata Perwira dan dia lebih menggemaskan dari Zenno.


Keesokan paginya, Olivia masih terlihat pulas tidurnya dan Mama Virda sudah mulai beranjak pergi dari kamar Zenno.


"Sayang, kamu sudah bangun?" Tanya sang Mama kepada Zenno.


"Zenno baru mau tidur,..." Sambil tersenyum dan kembali ke kamar tamu.


Zenno semalaman main PS di kamar Vicco, jadinya jam 5 pagi baru mau tidur.


"Anak ini, kebiasaan." Ucap Mama Virda dan kembali ke kamarnya.


Sinar mentari tampak cantik dan berseri, seorang Mama membuka tirai, Olivia mulai merasakan, ada cahaya yang menembus kedalam ruangan dan membuat dia bangun dari tidurnya.


"Sayang, kamu bangun." Mama Virda tampak mendekat dan Olivia cukup terkaget. Ternyata ada Mamanya Zenno.


"Tante Virda." Ucapnya dan perlahan dia melihat sekeliling ruangan kamar itu. Dia mulai bingung, bukan seperti di rumah Zenno.


"Kamu kenapa?"


"Tante, ini Olivia dimana?" Tampak bersandar dan Mama Virda duduk disebelahnya.


"Ini kamar Zenno, ini rumah Tante." Jawabnya.


"Ayo minum susu dulu."


"Iya Tante Virda." Olivia memang sudah merasa haus, dia semalam tidur sangat nyenyak, mengingat kemarin di rumah sakit dia tidak bisa tidur.


"Sayang, kamu kenapa diet?"


"Emh, diet? Nggak kok tante."


Olivia meletakan gelasnya di meja dan Mama Virda mengambil piring yang sudah berisi sandwich.


"Kamu harus makan. Jangan sampai kurus." Ucap Mama Virda dan Olivia tersenyum.


"Iya Tante, Olivia akan makan. Memang sih, minggu lalu Olivia diet. Tapi sekarang lagi nggak diet." Ucapnya yang apa adanya.


"Udah, jangan diet lagi. Kamu harus makan yang banyak."


"Siap Tante." Olivia mulai makan roti itu dan Mama Virda masih menemani Olivia. Duduk bersandar di tempat tidur dan begitu bangun langsung sarapan. Rasanya seperti waktu masih ada sang Mama.


"Sayang, kamu rindu Mama kamu?"


Olivia hanya mengangguk, karena mulutnya penuh sandwich dan masih terus mengunyah.


"Kalau kangen Mama, main kesini aja. Minta Zenno anterin ke rumah."


"Iya Tante."


"Ya sudah, habiskan dulu sarapannya. Nanti Tante siapin pakaian kamu."


Olivia tersenyum dan Mama Virda pergi meninggalkan Olivia. Sepertinya Olivia merasakan ketulusan Mama Virda, dan sudah seperti Mamanya, kerinduannya terhadap sang Mama, cukup terobati berkat Mama Virda.



"Semalam Zenno kenapa ajak aku kesini?"

__ADS_1


"Makanya aku disuruh tidur."


"Ah, sudahlah. Lagian udah lama nggak ketemu Tante Virda."


Olivia yang sudah selesai sarapan, lalu bergegas untuk cuci muka dan segera ingin keluar kamar.


"Emz, ini kamar mandi Zenno." Ucapnya dan menyalakan air di wastafel.


Selesai cuci muka, Olivia keluar dari kamar itu, dan melihat ke arah tangga. Ini pertama kalinya, dia datang ke rumah orang tua Zenno. Dulu mungkin pernah, tapi dia sudah lupa. Bahkan rumah ini, sudah tampak di renovasi.


Olivia di jodohnya waktu kecil, tapi dia tidak ingat akan hal itu. Lalu saat sang Mama meninggal dunia, kedua orang tua Zenno memastikan perjodohan itu. Karena Mama Virda sudah berjanji kepada Mamanya Olivia, akan menjaga dan menyayangi Olivia seperti putrinya sendiri dan itu tepat seminggu sebelum kepergiannya.


"Olivia..." Suara Pria dan Olivia mulai membalikan badannya.


"Kak Deffo." Balasnya.


Keduanya saling menatap dan Olivia tersenyum. Nah, karena Deffo ini, Olivia berfikir kalau Zenno itu modis dan rapi. Ternyata awal bertemu tidak seperti yang diharapkannya. Kalau Deffo, malah sudah pernah beberapa kali bertemu, karena sering menemani sang Mama bertemu kerluarga Amarta.


"Kak Deffo udah rapi aja, mau ke kemana?"


"Ada pertemuan sama teman."


Olivia lantas tersenyum manis, saat melihat penampilan Deffo ini.


"Olivia, apa Kakak kamu sakit?"


"Kakak tahu dari mana?"


"Kemarin, Kak Deffo hubungi nggak bisa."


"Iya sakit, gara-gara mak lampir."


"Siapa? Ibu tiri kamu?"


"Bukan, tapi Adiknya."


Olivia memang lebih tampak akrab dengan Deffo dan dia memang ramah, apalagi Olivia dan Dinda akan menjadi saudaranya.


"Tadinya mau aku ajak pergi ke Bali. Ah.. sudahlah."


"Bali?"


"Iya, Kakak ada pertemuan sama teman dari L.A. Malah Dinda sakit."


"Kapan perginya?"


"Minggu pagi."


"Ini masih hari Jum'at, nanti bisa diatur. Kalau perlu, kenalin aja sama teman Kak Deffo. Biar bisa move on dari Kak Gery."


"Memangnya dia?"


"Penjahat wanita."


"Owh, oke. Kamu tenang aja. Nanti aku akan mampir ke apartemannya."


"He'em."


Deffo tersenyum dan lantas dia pergi.


"Ternyata masih ada pria baik dan perfect. Andai Kakak dulu sama Kak Deffo." Batin Olivia.



Deffo


Setelah beberapa jam, Olivia bergegas untuk mandi. Mama Virda sudah menyiapkan semua keperluan Olivia.


Ternyata di lantai bawah ada tamu, dan Olivia seperti mengenalnya.

__ADS_1


__ADS_2