COUPLE UNIK

COUPLE UNIK
Ada Pria Tampan Yang Menolong


__ADS_3

Masih kelanjutan makan malam di Hotel Deluxe. Dion tampak bingung, dan Gery mencoba menjelaskan kesalahannya.


"Gery, ayo kita pulang." Ajak sang Mama."


"Ma,.. " Gery seolah masih ingin menjelaskan kepada Dion soal gambar aib itu.


"Sudah tidak ada yang perlu dijelaskan lagi." Ucap Mamanya dan menarik lengan kanan Gery.


"Tante Laura, Marcella bisa jelasin sama Tante."


"Diam kamu!!"


"Tante, ini hanya_" Belum sampai Marcella bicara lagi, Mamanya Gery lalu berkata "Siapapun kamu, aku tidak sudi memiliki menantu seperti kamu."


"Pak Dion, saya minta maaf atas nama Gery. Kita permisi dulu." Papanya Gery begitu malu, beliau juga dari golongan atas dan punya jabatan tinggi di daerahnya. Tetapi, karena aib ini, nama baik keluarganya dan jabatannya pasti akan tercoreng, apalagi kalau video itu sampai tersebar.


Setelah keluarga Gery pergi, Dion berdiri dan menatap istri mudanya "Monica, aku ingin sendiri." Ucapnya, lantas pergi.


"Marcella, apa yang kamu perbuat?!" Monica juga tidak suka atas tindakan Adiknya, bagaimanapun ini akan menyulitkan dirinya dihadapan Dion.


"Kakak, ini tidak seperti yang Kakak pikirkan? Mereka aja yang terlalu berlebihan."


"Sudahlah, kamu pergi dulu ke tempat yang jauh. Jangan sampai Dion melihat wajahmu di depannya."


"Kakak harusnya belain Marcella, bukan mereka."


"Tapi mereka anaknya Dion, aku susah mengambil hati Dion, kamu malah merusak semuanya."


Monica kesal dan pergi dari resturant itu.


"Kalian semua menyalahkan aku?"


"Olivia, kamu sudah mengacaukan semuanya."


"Aku akan membalasmu."


Marcella kesal dan melempar sebuah botol kaca, lalu dia pergi saat semua tamu yang ada di restaurant itu telah menatapnya.


Satu jam telah berlalu seusai kejadian di restaurant tadi. Di tempat lain, Zenno mencemaskan keadaan Olivia. Saat menghubungi Olivia, tidak diterima dan itu sudah yang ke empat kalinya.


"Kenapa tidak diangkat telfonnya?"


"Apa dia dimarahi Ibu tirinya?"


"Apa dia bikin ulah lagi?"


Walaupun ada Papanya, tetap saja ini juga jadi tanggung jawab Zenno untuk selalu menjaga Olivia.


"Zenn, loe kenapa? Dari tadi nggak fokus mainnya." Tanya Loudy


"Nggak apa-apa. Kalian istirahat dulu, gue mau keluar bentar."


"Zenno kenapa?" Tanya yang lain kepada Loudy dan dia hanya menggeleng.


Olivia masih menemani Dinda di sebuah cafe dan cukup jauh dari Hotel Deluxe.


"Kakak jangan diam saja. Lupakan semuanya."


"Olivia, Kakak tidak apa-apa."


"Ya udah, ini dimakan. Jangan bengong aja."


Dinda tersenyum, lalu berkata "Itu ponsel kamu dari tadi bunyi."


"Habisnya Kakak dari tadi diam aja, Olivia jadi cemas."


"Ya udah, angkat dulu itu telfonnya."


Olivia lalu mengambil ponsel dari tasnya dan pergi meninggalkan Dinda duduk sendirian.


"Hallo.."


"Kenapa baru di angkat? Gimana makan malamnya? Apa yang terjadi? Apa Ibu tiri kamu marahin kamu?"


"Kamu interogasi aku?"


"Bukan gitu, aku juga cemas. Habisnya ini udah lewat jam makan malam, kamu nggak telfon aku."


"Iya, ada masalah."


"Masalah apa? Kamu baik-baik saja? Apa yang terjadi?"


"Tenang dong, kamu banyak tanya."


"Ya gimana, kalau ada apa-apa sama kamu. Nanti aku dimarahin lagi sama Papa. Ntar dikira nggak bisa jagain kamu."

__ADS_1


"Soal Kak Dinda."


"Kak Dinda?"


"Iya, ternyata makan malam tadi, ada keluarga Kak Gery, terus ada Marcella juga. Ya udah, semua udah tahu."


"Emz.. Tapi kamu baik-baik aja kan?!"


"Ya tadi aku marah-marah. Udah dulu ya. Aku lagi nemenin Kak Dinda."


"Oke. Hati-hati."


"Iya. Bye bye."


"Bye bye."


Olivia kembali ke meja tadi, tapi tidak melihat Dinda.


"Kak Dinda kemana?"


Olivia lalu mencari ke toilet dan ternyata benar, Dinda pingsan di toilet.


Olivia berusaha untuk meminta tolong, lalu ada pria tampan yang masuk ke toilet wanita itu.


"Kak Dinda, ayo bangun."


"Kita harus segera bawa ke rumah sakit."


Olivia hanya mengangguk dan beberapa pelayan cafe itu juga melihatnya, lalu Olivia membayar tagihannya dan mengikuti pria yang mengangkat Dinda.


"Ini mobil kamu?" Tanyanya.


Olivia berfikir "Kenapa cowok ini bisa tahu?" Tapi Olivia hanya mengangguk, melihat akan kondisi Dinda yang tidak sadarkan diri.


Tangan Olivia tampak gemetar, dan pria itu melihatnya, lalu berkata "Kamu di mobil itu sama sopirku, biar aku saja yang bawa mobilnya."


"Iya."


Olivia lalu menuruti perkataan pria itu, karena ini demi Kakaknya. Olivia tidak ingin berfikir buruk dengan pria itu.


Setelah tiba di rumah sakit terdekat, pria itu mengangkat Dinda yang masih belum sadarkan diri.


"Kak Dinda ayo bangun." Olivia yang tampak menangis dan pria itu menoleh ke Olivia.


Dinda langsung di IGD dan Olivia menunggu di ruangan tunggu dekat IGD. Tampak kecemasan dalam raut wajah Olivia dan dia tidak henti menangis.


"Dia siapanya kamu?" Tanya pria itu yang duduk disebelah Olivia.


"Kakak." Jawab Olivia yang begitu singkat dan hanya memikirkan kondisi sang Kakak.


Pria itu tampak bersedekap dan Olivia mencoba untuk menghubungi sang Papa. Tapi, tidak jadi, karena Olivia kembali mengingat akan kejadian tadi.


Setelah sekitar 15 menit perawat rumah sakit keluar dari IGD dan mendekati pria tadi, serta Olivia mulai berdiri.


"Apa anda keluarga Nona Dinda?" Tanyanya.


Olivia menyahut dan berkata "Saya Adiknya Kak Dinda. Suster, gimana keadaan Kakak saya?"


"Nona Dinda baik-baik saja. Dia sudah sadar, tapi biarkan dia istirahat sejenak. Karena dia tidak mau di rawat, tapi setelah satu jam, nanti boleh pulang dan kami akan berikan obat untuknya."


"Owh begitu."


"Ini surat administrasi dan juga resep obatnya, silakan ke apotek samping untuk mengambilnya."


"Iya suster. Terima kasih."


Olivia bergegas untuk ke apotek dan administrasi. Pria itu hanya menatap Olivia dan tidak mengatakan apapun.


Setelah beberapa saat, Olivia kembali ke ruang tunggu. Pria itu tidak ada dan Olivia tidak lagi mencarinya, hanya duduk di ruang tunggu.


Dinda yang terbaring sakit, tadi sempat menginggau dan menangis. Lalu suster memanggil keluarganya, jadinya pria tampan tadi yang menemani Dinda.


"Kenapa dia terus saja menangis?" Batin pria tampan itu.


"Gery,..." Panggil Dinda dan memegang tangan pria itu. Dia hanya memandangi Dinda dan membiarkan tangannya digenggam erat oleh Dinda.


Perawat datang "Permisi, saya mau menyuntikan obat."


"Silakan suster."


Pria itu melepas kedua tangan Dinda, karena punggung tangan Dinda hendak diberi suntikan obat.


"Sudah selesai. Apa anda suaminya?" Perawat itu bertanya kepada pria itu.


"Bukan suster, saya hanya menolongnya."

__ADS_1


"Tunggu 30 menit, pasti dia akan terbangun."


"Baik suster."


Lalu perawat itu menarik tirainya kembali, Dinda masih terbaring di IGD. Olivia hanya menantikan Kakaknya dan dia tampak diam.


Olivia ingin menghubungi Zenno, tapi dia sangat tahu kalau setiap malam minggu Zenno ada di club FGFC, untuk bermain CFF. Jadi, Olivia tidak ingin menganggu Zenno.


Sudah hampir jam 11 malam, Olivia hanya diam saja, dan sesekali melihat ke arah pintu IGD, apalagi setiap ada perawat yang lewat, keluar masuk IGD, dia begitu cemas.


"Olivia..." Dinda sudah sadar, dan memanggil Olivia, dia sangat ingat kalau tadi berada di cafe bersama Adiknya.


"Kamu cari Adik kamu?"


Dinda merasa ada yang salah, kalau dari tadi tangannya memegang tangan orang lain.


"Maaf." Dinda langsung terbangun dari tidurnya dan merasa tidak nyaman.


"Minumlah, suster sudah menyiapkan ini."


Pria itu memberikan teh hangat yang baru saja disiapkan oleh perawat untuk Dinda.


"Iya, saya bisa sendiri." Ucapnya saat pria itu memberikan gelas teh itu.


Dinda sudah menghabiskan setengah gelas teh hangat dan pria itu masih menatapnya.


"Kita bertemu lagi."


"Apa maksud anda?" Dinda yang pura-pura tidak mengingatnya.


"Di Bali, terpeleset, menangis."


"Maaf, saya tidak ingat." Dinda yang menunduk dan malu menoleh ke arahnya.


"Perkenalkan, saya Erick. Erick Fernando."


"Saya Dinda."


"Iya, saya tahu. Anda putri Pak Dion."


Dinda tampak terdiam dan tidak mengerti maksud dia.


"Nona Dinda, saya tadi tidak sengaja melihat anda di Hotel, dan saya mengikuti anda. Dari sana, saya jadi tahu kalau anda putrinya Pak Dion."


"Anda kenal Papa saya?"


"Iya, saya mengenal secara pekerjaan saja. Tidak lebih."


"Tolong panggilkan suster, saya ingin ini dilepas saja." Dinda merasa tidak nyaman karena infus itu.


"Baik."


Setelah memanggil perawat, Ercik keluar dari ruang IGD dan Olivia menatapnya.


"Ternyata dia masih ada disini." Batin Olivia dan mulai mendekat, "Kak, terima kasih atas bantuannya."


"Kamu Adiknya Dinda?"


"Kakak kenal Kak Dinda?"


"Tidak, tapi saya mengenal Papa kamu."


"Papa?"


"Iya, saya kenal karena urusan pekerjaan."


Olivia tersenyum, lalu bertanya "Apa Kak Dinda baik-baik saja?"


"Iya, dia sudah ingin pulang. Suster baru melepas infusnya."


"Sekali lagi terima kasih."


"Iya, sama-sama."


"Saya Olivia."


"Saya Erick."


Olivia tersenyum.


Erick mulai pamit "Kalau begitu, saya pulang dulu."


"Iya, silakan."


Terima kasih untuk jempolnya 🤗

__ADS_1


__ADS_2