
Pantai yang begitu menawan dengan deburan ombak yang menyapu pasir. Saat senja akan pergi dan kembali di esok hari, dengan nuansa yang berbeda. Ini hari terakhir bulan madu Dinda dan Erick. Belum ada tanda-tanda persatuan dalam asmara, tetapi mereka berusaha untuk lebih dekat sama lain.
Mereka tidak hanya berdua saja, tapi ada Chilla dan juga Bibi. Orang bisa menganggap ini bukan bulan madu, tetapi ini begitu bermakma bagi Dinda, yang pernah merasakan sakitnya dihiati sang kekasih. Walaupun Erick masih kaku, tapi dia juga sosok yang perhatian.
"Sore yang romantis." Ucap Dinda dan saat ini berbaring dikursi santai begitu menikmati suasana senja cantik.
"Romantis?" Erick yang menoleh ke arah Dinda.
"Benar, ini begitu romantis." Ucapnya dan mulai berdiri.
Erick juga beranjak untuk berdiri, lalu berkata "Ayo kita selfie."
"Boleh juga."
"Sayang, lebih dekat." Erick yang bersiap dengan ponselnya, menarik pinggang Dinda.
Dinda yang tersenyum, dan menolehkan wajahnya tiba-tiba "Ciuman manis diantara keduanya terjadi."
Kedua bibir yang menempel, begitu uwu. Layaknya pasangan biasa, yang telah memanfaat moment berdua mereka.
Chilla bersama Bibi telah berbelanja di pusat perbelanjaan, jadi mereka ada waktu untuk berduaan.
Dinda yang menyandarkan tubuhnya di dada Erick, dan mereka masih menikmati sunset yang begitu cantik.
"Suamiku, aku cinta kamu." Ucapnya dan memegang tangan Erick yang melingkari perutnya.
"Aku cinta istriku. Aku mencintaimu." Ucapnya dan mencium pipi kanan Dinda dengan penuh perasaan yang ada.
Keduanya baru memulai, dan rasanya ingin berlama-lama di pantai ini. Tapi, Dinda dan Erick, juga harus menjemput Chilla dan Bibi.
Kedua tangan yang menggenggam, dan dua sejoli yang tampak saling menatap dengan cinta. Berjalan di atas pasir dan jejak kaki itu perlahan tersapu ombak. Mereka terus berjalan bersama dengan mesranya.
Dinda tersenyum, lalu berkata "Sayang, apa aku boleh tanya kamu."
"Iya, kamu tanya apa?"
"Emh, gimana ya, aku malu."
"Tanyakan saja."
"Apa itu ciuman pertama kamu?"
Erick tersenyum dan merasa aneh. "Sudahlah, jangan menggoda aku."
"Walaupun aku pernah pancaran, tapi."
"Tapi? Tapi apa?"
"Ini ciuman pertamaku." Dinda lalu melepaskan tangan Erick dan berlari, dirinya merasa malu.
Erick menggeleng dan mengejarnya.
Mungkin karena itu Gery berpaling dari Dinda. Dinda memang bisa menjaga dirinya. Menurut Dinda, pacaran dengan Gery hanya sekedar berkencan di taman, bioskop, dinner dan ke pesta. Itu juga ada banyak orang, dan tidak akan bisa berbuat romantika cinta. Tapi Dinda cukup puas, dia mendapatkan Erick yang juga perjaka ting-ting. Bahkan Erick hanya belajar dari buku dan trik cinta dari Jony.
Sudah beberapa hari tinggal satu kamar, tapi Dinda dan Erick masih belajar menyesuaikan diri mereka.
Chilla ternyata kelehan selama bermain di wahana anak dan berbelanja. Bibi sudah menggendongnya. Dinda dan Erick merasa mereka seperti kedua orang tua Chilla. Walaupun baru mengenal Chilla, Dinda begitu menyayangi Chilla.
__ADS_1
"Bibi, apa tadi Chilla menanyakan Dinda?"
"Iya Bu Dinda, dia sempat merengek waktu melihat boneka. Katanya ingin membelinya sama Bu Dinda nggak mau sama Bibi."
"Boneka?" Dinda yang menoleh ke kursi belakang, mereka masih berada dalam mobil.
"Iya Bu Dinda. Waktu di pasaraya."
Erick yang duduk di sebelah Dinda, menyela obrolan itu. "Besok kita berangkat siang. Nanti masih ada waktu buat beli boneka Chilla."
"Baik Pak Erick."
Erick menoleh ke Dinda "Sayang, kamu kenapa?"
"Aku juga rindu Mama." Jawab Dinda yang merasakan hal yang sama seperti Chilla.
"Iya, minggu besok kita bisa ke Bogor."
"Makam Mama bukan di Bogor. Tapi di Jakarta."
"Kita nanti kesana."
"Iya, ada makam keluarga Mama di Jakarta. Walaupun Mama dari Surakarta, tapi dulu seluruh keluarga Mama tinggal di Jakarta."
"Saudara Mama?"
"Masih ada Om. Tapi di Jerman. Jarang pulang, aku juga pernah kesana."
Erick lalu memegang tangan kanan Dinda dan mencium tangan itu, "Mulai sekarang, kamu harus cerita sama aku. Apapun yang kamu mau dan apa saja masalah kamu. Ada aku tempat kamu untuk bersandar."
"Emh, sayang. Aku makin cinta." Ucap Dinda yang begitu manis.
Bibi yang duduk dibelakang juga merasa senang melihat kemesraan mereka berdua. Bibi yang dari dulu ikut Kakaknya Erick, begitu mengenal sosok Erick yang begitu dingin dan tampak kaku. Tapi setelah memiliki istri, ternyata semakin perhatian, bukan hanya ke sang istri, perubahan itu juga bisa dirasakan Chilla. Itulah yang membuat Bibi senang melihatnya.
Bibi sebelum menjadi pengasuh Chilla juga sempat menikah, tapi bercerai dan anaknya ikut mantan suaminya. Tapi sampai sekarang masih akur demi anaknya, walaupun dulu juga sempat hilang kontak. Demi anak, Bibi Rini harus bekerja keras.
Setelah tiba di Resort, Bibi tampak menggendong Chilla ke kamar.
Dinda dan Erick juga berjalan ke kamar yang tidak jauh dari kamar Chilla.
"Sayang, badanku lengket aku mau mandi dulu." Ucap Dinda setelah meletakan tasnya di atas meja.
Sudah lebih dari jam 7 malam dan Dinda merasa hari ini begitu bermakna.
Dinda yang masih berdiri dan Erick mendekat, memeluknya dari belakang, lalu berbisik "Mau aku mandiin?"
Bisikan itu begitu membuat Dinda berdebar, dan masih merasa malu.
"Emh, aku bisa mandi sendiri." Jawabnya dan wajahnya jadi merona.
Erick dengan spontan mengangkat Dinda. Lalu berkata "Sudah saatnya."
Dinda menutup wajah dengan kedua tangannya. Erick membawa istrinya ke kamar mandi dan senyuman itu begitu nakal.
"Sayang, buka wajahmu." Erick yang sudah meletakan dinda agar duduk di sisi bath-up.
Dinda menggeleng dan Erick perlahan melepas kaos yang dipakai, dia masih menutup rapat wajahnya. Saat sudah terlepas kaos itu. Dada bidang dan tampak kekar, begitu menggairahkan, tapi Dinda hanya mengintip dari celah jari-jari lentiknya.
Perlahan Dinda membuka wajahnya, dan menggigit sedikit bibir bawahnya, lalu dia berkata "Sayang, jangan menggoda aku."
__ADS_1
"Siapa yang menggoda." Erick yang berkacak pinggang dan tatapannya mulai garang.
"Sayang, aku gadis polos dan belum pengalaman. Jadi, kasih aku waktu." Dinda yang sok imut dan Erick semakin ingin menggigitnya.
"Kasih kamu waktu?" Erick yang berpura-pura dan Dinda tampak malu-malu.
Erick menggeleng dan berkata "Aku tidak akan memakan kamu. Aku hanya..."
"Hanya apa?" Dinda menatapnya dan Erick mulai menyambar kaosnya, lalu berjalan pergi.
Baru dua langkah kakinya berjalan ke arah pintu kamar mandi itu, Dinda mengejar Erick dan memeluknya dari belakang.
"Jangan marah, bukan maksud aku begitu."
Erick tersenyum, dan berkata "Aku tidak marah." Tetapi suara itu terdengar datar.
"Emh, kasih aku waktu."
"Sayang, hal seperti itu tidak memandang waktu atau pengalaman."
"Kamu katanya belum pernah pacaran
Tapi, kenapa kamu tampak seperti pengalaman?"
Erick semakin gemas, perlahan dia membalikan badannya, menatap Dinda dan mengelus rambut indahnya.
Erick berkata "Sayang, hasrat cinta bukan kita pernah atau tidak, aku memang suka menggoda kamu. Tapi aku juga bingung, aku juga takut akan membuat kamu jenuh. Karena aku bukan pria pengalaman."
Dinda tampak tersenyum dan berbisik "Aku suka caramu memperlakukan aku dengan manis."
Erick tersenyum, dan tatapan keduanya memang penuh candu asmara. Dinda perlahan memeluknya dan merasakan getaran itu, dia begitu jelas mendengar detak jantung suaminya.
Erick merasakan begitu gugup dirinya dan rasanya memang sulit untuk dikatakan. Yang ada hanya perasaan aneh dan mulai menyerang raganya. Dinda melepas pelukan itu dan jari-jari lentik itu mulai menelusuri dada berotot itu, Dinda tampak tersenyum dan Erick mulai merasakan sentuhan demi sentuhan itu.
Walaupun Dinda masih gadis polos, tapi dia suka menonton film barat yang dibumbui adegan dewasa di dalamnya. Jadi, seperti ciuman dan sebagainya, pernah dilihat Dinda dalam sebuah film.
Jari lentik itu seperti berjalan menuju ke atas dan sampai di leher Erick, Dinda berusaha mendekat dan mengecup leher itu dengan manisnya, setiap kecupan akan menjadi sebuah tanda.
Erick hanya merasakan jantungnya yang semakin cepat memacu, dan hawa panas menyelimuti sekujur tubuhnya. Keringat mulai mengalir dan Dinda semakin hilang kendali, saat jarinya sampai di bibir Erick.
Bibir Dinda yang berjelajah dan sudah meninggalkan beberapa jejak. Lalu berjalan ke sisi telinga, dan dengan spontan dia menggigit gemas daun telinga Erick, sekita membuat Erick seperti harimau kepanasan yang hendak menerkam mangsanya hidup-hidup.
Erick membuat Dinda terjatuh dalam lengan tangannya dan Erick mencium bibir merah merona itu. Begitu liar ciuman yang membasahi bibir dan membuat keduanya terlela dalam buaian satu sama lainnya.
Dalam bath-up memadu kasih dan adegan dewasa yang membuat candu mereka berdua, bercumbu mesra dan keduanya menikmati malam pertama itu.
"Sayang," Rintihan Dinda yang bergetar dan tangan Dinda memegang bahu Erick dengan kencangnya.
Emmh, desahan itu tidak bisa dihindarkan, membuat wajahnya semakin menggoda dan terlihat sexy. Dinda tampak malu setelahnya, tetapi Erick semakin liar dan mengangkatnya berpindah ke tempat shower.
Pembaca hebat dimanapun anda berada. Ini hanya sebagian adegan dewasa yang hanya boleh dilakukan oleh suami istri 😂🤫
Maaf para pembaca, othor nggak bisa bikin tulisan yang beraroma ++ 😝
Setelah uwu-uwuan bobok sampai pagi.
__ADS_1