COUPLE UNIK

COUPLE UNIK
Penyambutan Mahasiswa Baru


__ADS_3

Setelah beberapa hari tinggal di rumah Zenno, dan mulai menyesuaikan diri dengan baik. Pagi ini, Olivia akan segera bergegas ke kampus dan sampai saat ini, dia belum tahu tentang keadaan sang Kakak.


Zenno juga sama halnya, dia tampak cuek dan Olivia juga biasa aja. Meski terkadang Olivia bingung harus bersikap bagaimana di depan Zenno. Tapi Olivia tetap menampilkan apa adanya dirinya dan tanpa dibuat-buat.


"Pagi..." sapa Olivia dan ikut duduk di ruang makan.


"Emh, pagi. Kamu mau sarapan?"


"Emz, tadi sudah minum susu." Yang dimaksud Olivia, minuman untuk progam dietnya dan satu gelas susu itu sudah membuatnya dirinya merasa kenyang.


"Lalu, kenapa duduk disini?"


"Zenno, sampai kapan kita begini?"


Zenno menjadi diam dan memandangi gadis yang ada di hadapannya. Zenno mulai menyeka mulutnya dan menatap Olivia dengan serius. Ruang makan pagi ini, tampak begitu hening dalam hitungan menit.


Olivia menjadi canggung atas sikap Zenno yang hanya memandangi dirinya.


"Zenno, sudahlah. Aku mau berangkat ke kampus."


"Ya udah, sana berangkat."


Olivia beranjak dari tempat duduk dan merasa kalau Zenno masih saja cuek terhadap dirinya.


"Benar-benar tidak peka. Apa aku harus naik taxi?" Olivia yang sudah berjalan menuju pintu depan, tapi dirinya menjadi was-was. Dia sama sekali belum pernah naik taxi sendirian. Kalau tidak Pak Roni, masih ada sopir Oma yang mengantar dirinya pergi. Kenapa kali ini, dia dibiarkan begitu saja.


"Zenno keterlaluan." Lirihnya dan tetap melangkah ke arah pintu rumah.


"Aku bisa sendiri. Aku Olivia Sada Amarta, apa yang harus aku takutkan." Lugasnya dengan percaya diri dan siap melangkah untuk hari pertamanya ke kampus.


Zenno dari tadi menatap Olivia yang berjalan keluar dan dia merasa senang. "Olivia, disini bukan rumahmu. Kamu harus terbiasa."


Zenno melanjutkan sarapan paginya dan Olivia sudah berjalan keluar dari pintu pagar. Tak ada taxi yang akan lewat. Dia mencoba untuk mengunduh sebuah aplikasi dan sambil berjalan kaki.


"Ternyata disini sejuk juga." Mengingat akan rumah Zenno yang berada di kota metropolitan dan tidak seperti rumah Omanya dengan udara yang dingin dan sejuk.


Olivia sudah memesan taxi online dan dia memilih menunggu di kursi taman, tempat itu juga cukup dekat dengan rumah Zenno.


Pagi ini, banyak yang menatap dirinya, terutama sebagian ibu-ibu yang sedang berbelanja di tukang sayur keliling. Entah itu seorang pembantu, atau seorang Nyonya. Tapi mereka tampak akrab dan sesekali melihat ke arah Olivia yang duduk sendirian di taman itu.


"Apa mereka menatap ke arahku?" Perasaan Olivia cukup tidak nyaman atas apa yang terjadi kali ini. Memang beberapa orang itu sedang menatap dirinya.


Tidak lama taxi sudah tiba dan dia memastikan nomor kendaraan itu, sama dengan yang ada di data aplikasinya.


"Benar, ini taxinya." Olivia segera bergegas untuk menaiki mobil itu dan dia cukup tenang.


"Neng, tujuannya ke kampus Brecce?"


"Iya Pak, saya mau ke Brecce University."


"Baik, kita lewat tol saja ya neng. Pagi ini jalanan macet."

__ADS_1


"Baik Pak."


Olivia sudah membayangkan, kalau nanti dirinya bisa bertemu Dinda. Sudah sebulan dirinya tidak bertemu sang Kakak. Padahal jarak mereka hanya butuh waktu 2 sampai 3 jam saja. Tapi Dinda memang tidak ada waktu untuk pulang ke rumah. Sedangkan Olivia, dirinya tidak nyaman bila berada di kota ini, dia tidak senang dekat dengan sang Papa dan ibu tirinya. Walaupun Dinda tinggal sendiri, tetap saja Olivia jarang sekali menginap di apartemen Dinda. Dia memilih untuk tetap tinggal bersama sang Oma dan Tante, meskipun dihari libur dia tidak akan pergi kemana-mana.


Tiba di kampus swasta dengan label internasional dan sangat terkenal. Jarak rumah Zenno dan kampus cukup jauh, tapi pagi ini, Olivia berusaha untuk tidak terlambat. Baru pukul 08.20 WIB, Olivia mulai mencari auditorium, di kampus ini tidak ada kegiatan perkenalan seperti ospek, yang ada hanya sebuah acara penyambutan untuk mahasiswa baru yang di selenggarakan oleh pihak kampus, itupun seperti acara seminar.


Di depan aula acara sudah mulai ramai mahasiswa baru, dan Olivia berada di antara mereka. Hari ini semua wajib mengenakan atasan kemeja putih, entah pakai rok atau celana untuk wanita. Yang jelas, semua harus mengenakan kemeja putih.


"Sorry, gue nggak sengaja." Suara yang manis dan sepertinya mahasiswa senior di kampusnya. Terlihat dari kaos yang dipakai, seperti tim panitia. Pemuda itu tadi membawa gelas kopi dan dia menyenggol Olivia, saat Olivia berbaris untuk tanda tangan kehadiran.


"Iya, nggak apa-apa." Namun nada suara itu sedikit kesal dan pemuda itu tampak tidak enak terhadap Olivia.


"Sekali lagi, gue minta maaf. Gue nggak bermaksud kotori baju loe."


"No problems." Balasnya dan menatap dengan menghembuskan nafasnya dengan pelan.


"Kevin, ayo buruan." Seorang mahasiswa cantik menarik lengannya dan dia masih saja menatap Olivia.


"Ada-ada saja." Olivia berusaha mengambil tisue basah yang ada dalam tasnya dan mengusap bekas noda kopi itu. Tampak gelisah, karena noda kopi itu, cukup susah dihilangkan.


"Hai, loe kenapa?" Seorang mahasiswa baru dan sangat manis. Berambut pendek dan senyumnya tampak menggemaskan.


"Ini kena kopi." Balasnya dan masih untuk menghapus noda itu.


"Gue bawa kemeja baru, sepertinya pas buat loe."


"Ini nggak apa-apa kok."


Olivia tampak gelisah, dan tidak nyaman dengan pakaian seperti ini. Apalagi, ini kali pertama dia masuk kuliah. Malah ada yang salah dengan dirinya, walaupun itu masalah kecil. Tetap saja memalukan bagi Olivia, yang selalu tampil menawan.


"Ya udah, gue mau pakai."


"Ayo, gue temani ke toilet."


Setelah beberapa saat di dalam toilet untuk berganti baju, Olivia tampak tidak nyaman dan gadis itu mendekat.


"Kenapa? Kebesaran ya?" Dan Olivia hanya tersenyum kecil.


"Iya, agak longgar."


"Loe memang langsing. Gue pikir pas di badan loe. Ternyata, malah kebesaran."


"Gue Olivia."


"Emh..."


Olivia menjulurkan tangan kanannya "Kenalin, nama gue Olivia."


"Owh, gue Sherryl."


Mereka berdua saling tersenyum dan mulai berjalan ke aula acara. Saat ini, mereka cukup berbincang, ternyata mereka berdua juga satu jurusan dan mereka berharap bisa satu kelas nantinya.

__ADS_1


"Gue juga punya saudara di Bogor. Nama SMAnya juga sama."


"Benarkah?"


"Iya, tapi dia masih junior kamu. Dia baru kelas XI."


"Emh, tapi gue nggak begitu banyak yang kenal. Hanya beberapa teman aja yang gue kenal."


"Nanti gue tanya sepupu, apa dia kenal loe atau tidak."


"Gue nggak terkenal, pasti saudara loe nggak kenal sama gue."


Sherryl akhirnya hanya tersenyum manis dan Olivia tampak merasakan ada teman baru yang menggemaskan.


Setelah 30 menit berlalu, acara penyambutan dimulai dan ada yang menarik dihadapan Olivia. Sang calon suami, juga tampil untuk menyambut mahasiswa baru.



"Dia ternyata..." Olivia cukup terpana saat melihat Zenno saat ini.


"Emh, loe kenal master Zen-Zen, dia yang membawa grupnya menjadi juara CFF."


"Tidak."


Sherryl tampak berbisik dan cukup menceritakan tentang Zenno kepada Olivia.


"Dia memang master yang cukup disegani. Bahkan di kampus ini, dia juga mahasiswa teladan."


"Ternyata dia begitu. Emmh, Zenno sering berada di ruangan bawah, dan mengunci ruangan itu."


CFF Sebuah permainan dalam aplikasi online yang Zenno geluti saat ini. Olivia ternyata juga baru tahu, kalau Zenno salah satu mahasiswa IT yang cukup teladan.


Senyuman tipis Olivia dan Sherryl merasa kalau Olivia tampak akan mendekati sang senior itu.


"Oliv, apa loe akan mendekati dia?"


"Emh, tidak."


"Jangan sampai nantinya loe diserang oleh para fansnya."


"Fans?"


"Iya. Dia punya banyak fans wanita."


"Termasuk loe?"


"Emh, gue nggak suka Master. Tapi gue fans Loudy."


Olivia masih tersenyum gemas karena Sherryl dan tidak menyangka akan hal ini. Ternyata si kucing nakalnya punya banyak fans wanita dan dia tidak tahu sebelumnya.


"Fans,...." Batinnya tersenyum.

__ADS_1



__ADS_2