
Semangat pagi membawa Olivia tampil dengan percaya diri. Begitu ceria dan sangat senang, ini hari pertama dirinya menjadi seorang mahasiswi.
Olivia yang sudah tampak berpakaian casual, tapi tetap modis dengan atasan kaos merah muda dipadukan dengan rok levis warna hitam.
"Pagi Zen-zen...."
"Pagi tuan putri,... " Balas Zenno, yang sedang sarapan pagi dan tatapannya hanya fokus pada ponselnya.
"Kamu nyiapin ini buat aku?" Tanya Olivia, yang melihat piringnya penuh makanan. Bukan hanya Omelet, tapi juga ada sandwich dan sosis goreng.
"Iya, soalnya kamu kurus. Aku dikomplen sama Mama." Dia masih sibuk dengan layar pintarnya, entah apa yang dia lihat, tapi memang masih fokus ke layar itu.
"Zen-zen, tapi aku nggak bisa makan sebanyak ini." Keluhnya dan Zenno mulai menatap Olivia.
"Kalau nggak habis, ya udah." Balasnya dan begitu ketus.
"Zen-zen gitu."
"Apalagi? Kamu jadi kebiasaan panggil aku Zen-zen."
"Memangnya kenapa? Akun kamu Zen-zen, apa salahnya?!"
"Ya nggak suka aja, kamu panggil gitu. Udah kayak biasanya aja. Zenno." Pungkasnya dan beranjak pergi, setelah menyambar tas ranselnya.
"Dia marah? Kenapa lagi? Padahal aku bilangnya juga baik-baik." Keluh Olivia dan kembali meletakan sandwichnya. Mulai merasa tidak berselera makan karena Zenno.
Olivia menoleh ke pintu, mendengar suara mobil yang berjalan "Dia udah berangkat. Uuf!"
Olivia melihat ke ponselnya, lalu berkata "Udah jam 8 lebih, aku juga harus segera berangkat." Dia merapikan piring Zenno dan meletakan makanan dia ke dalam kotak makanan, lalu membawanya. Hanya segelas jus yang dia habisnya.
"Aku tidak boleh terlambat." Jadwal hari pertama memang lebih pagi, jam 9.15 sudah siap untuk perkuliahan.
Dalam mobil, Zenno berfikir yang lain. Dia menganggap, kalau Olivia susah dimengerti.
"Buat apa harus begini? Bilang ke Mama mau ngertiin aku. Mau kenal dekat. Terus sekarang buktinya. Ke kampus aja sendiri-sendiri." Gumamnya dan merasa kalau Olivia tidak mengerti dirinya.
"Di kampus, pura-pura harus nggak kenalah, harus jaga jaraklah. Nanti kalau dia kenapa-kenapa, aku lagi yang kena marah sama Papa. Kemarin aja di rumah, apa-apa yang dibelain Olivia. Mana yang anak, mana yang calon menantu, Papa selalu begitu." Keluhnya yang ngomel sendiri, dan memang begitu adanya. Papa Benny selalu memihak Olivia, bahkan saat Mama Virda bercerita tentang Bella yang datang ke rumah. Papa Benny dan Deffo lebih mendukung Olivia. Zenno tidak bisa lagi berkutik.
"Kalau aku didekatin Bella, ini sama aja salahnya Olivia, bukan salahku. Tapi Papa, malah marahnya sama aku." Tampak begitu kesal, Zenno yang tidak berhenti mengoceh sendiri dan dengan cepat menginjak rem.
".... Ahhh.. Apa barusan? Kucing?" Zenno lantas turun dari mobilnya dan melihat, apakah dia menabrak seekor kucing atau tidak.
"Meoow..."
"Meeoow..."
Suara Zenno yang memanggil kucing, tapi tidak ada kucing di bawah mobilnya. Dia mulai mencarinya di sekitar situ dan tidak melihat adanya seekor kucing di tempat itu.
"Nggak ada jejak kaki, atau darah. Berarti cuma perasaan aku aja." Batin Zenno dan mencoba untuk tenang.
Zenno kembali masuk ke mobil, dan akan melanjutkan perjalanannya ke kampus.
Olivia tampak melihat mobil Zenno yang masih berhenti di pinggir jalan dan berkata "Itu mobil Zen-zen. Ada apa?"
Mobil Zenno kembali melaju dengan santai dan Olivia masih melihat ke arah mobil Zenno, saat taxi yang Olivia tumpangi tampak menyalip mobil sedan putih itu.
"Zen-zen, Sepertinya memang marah sama aku. Apa salahku?" Olivia yang tampak membulatkan bibir imutnya dan menganggap kalau Zenno memang sedang marah kepadanya.
"Apa gara-gara menu sarapan tadi. Tapi ini sudah aku bawa, nanti aku akan memakannya." Olivia berusaha untuk tidak membuang makanan, yang sudah disiapkan Zenno untuknya.
"Mbak, kita lewat jalan lain saja ya. Kelihatannya, jalan ini macet." Ucap sopir taxi online.
Olivia melihat ke pemantau jalan di layar ponselnya, ternyata memang tampak macet.
__ADS_1
"Baik Pak, silakan ambil jalan yang lain. Agar saya tidak terlambat ke kampus."
"Siap Mbak. Saya usahakan." Kata sopir taxi online itu, yang terlihat begitu ramah.
Memandangi jalanan ibukota, tampak ramai dengan kendaraan yang berlalu lalang. Banyak orang yang sudah melakukan aktivitasnya, ada juga yang tampak membaca koran, sambil menunggu kendaraan umum yang datang. Pedagang asongan, penjual makanan pagi di pinggir jalan, tukang kebersihan jalan, begitu tampak sibuk.
"Semua orang punya kesibukan sendiri-sendiri. Aku akan berusaha, agar tidak menyusahkan Zenno." Batinnya, dan Olivia berfikir kalau beberapa hari tinggal bersama Zenno, dia sudah banyak membuat Zenno terlalu sibuk.
Sekitar 25 menit perjalanan, Olivia tiba di kampus dan berjalan menuju ke kelasnya. Tidak sangka, Kevin ada di belakangnya.
"Olivia,..." Suara Kevin terdengar kencang dan Olivia menoleh ke belakang.
"Hai,..." Sapa Olivia dan Kevin tersenyum.
"Loe, mau ke kelas?"
"Iya. Pagi ini, kelas gue di gedung 3 M-4."
"Berarti dekat kelas gue. Kita bisa bareng."
"Owh, ya udah." Balas Olivia dengan senyuman manis.
Mereka berdua jalan beriringan dan tidak lama bertemu Sherryl.
"Olivia...." Teriak Sherryl dan langsung merangkul bahu Olivia begitu saja.
"Hemms." Olivia tersenyum gemas.
"Dia siapa?" Bisik Sherryl ke telinga kanan Olivia.
"Senior kita." Balasnya.
"Owh... Kirain pacar loe." Bisiknya lagi.
Sherryl berusaha untuk melihat ke arah Kevin, lalu menyapa dia "Hai, nama loe siapa?"
"Gue, Kevin." Mereka berdua tampak saling berjabat tangan.
"Emh, gue Sherryl. Teman sekelas Olivia."
"Owh iya. Berarti kelas kita dekat."
"Memangnya loe di kelas mana?"
"Gue di gedung 3 M-5." Jawabnya dengan santai.
"Berarti loe senior kita dong." Sherryl yang selalu tidak basa basi dan mudah mengenal orang lain.
"Iya gue senior loe." Ucap Kevin dengan tersenyum dan mereka bertiga sambil berjalan menuju gedung 3, lantai 2.
Setibanya di kelas, Olivia tampak tersenyum dan melihat sekeliling ruangan itu. Beberapa mahasiswa sudah tampak duduk dan mengobrol dengan temannya, ada pula yang sibuk sendiri bermain ponsel.
"Olivia, duduk sini aja."
"Iya." Olivia mulai meletakan tasnya di atas meja. Lalu menoleh ke samping kanan, ke arah Sherryl.
"Sherryl, loe bawa pemb@lut ga?" Dengan suara pelan.
"Hah?"
"Pemb@lut." Bisiknya.
__ADS_1
"Owh, iya gue bawa."
"Gue minta dong, tadi lupa bawa."
Tidak lama Sherryl mengeluarkannya dari dalam tas dan memberikan kepada Olivia.
"Kalau gitu, gue ke toilet dulu. Tolong awasi tas gue."
"Oke, siap!"
Olivia berlari ke toilet yang tidak jauh dari kelasnya, dari tadi sudah ingin meminta itu kepada Sherryl, tapi dia tidak enak dengan adanya Kevin yang ada di sebelahnya.
Di toilet ternyata sudah ada Bella dan dayang-dayang, tapi Olivia melewati mereka yang masih berada di depan wastafel.
"Beneran loe ke rumah Zenno?"
"Iya, gue ketemu sama Mamanya."
"Wah, ketemu calon mertua."
Olivia yang sibuk memakai pemb@lut, tapi dia tetap bisa mendengar obrolan Bella dan para temannya itu.
"Iya, rumahnya jauh dari kampus. Rumahnya mewah, Mamanya juga sangat berkelas, seperti kalangan sosialita. Orangnya cantik, kulitnya putih, badannya sedikit gemuk, tapi menerima gue."
"Sumpah demi apa loe diterima?!" Seorang teman histeris.
"Iya, pokoknya gue kesana, udah bawa kue. Terus ngobrol-ngobrol. Kayaknya suka sama gue. Intinya, gue akan datang lagi kesana."
"Eh, loe bukannya sibuk pemotretan?"
"Iya, tapi masih bisa di atur." Bella begitu manis cara bicaranya dan tampak memoles bibirnya dengan lipgloss.
Olivia yang sudah selesai dan mendekati wastafel. Lalu menyalakan kran air. Mereka masih berada disana, dan tampak senang.
"Terus, Zenno gimana?"
"Dia tidur, gue udah lihat kamarnya."
"Serius loe?"
"Beneran!"
Olivia mengatakan "Sorry, nggak sengaja."
Olivia yang mencuci tangan, ternyata mencipratkan air ke arah Bella.
"Em, karena gue lagi senang. Nggak masalah."
Tapi dayang-dayangnya menatap judes, dan Olivia pura-pura tidak berani melawan mereka semua.
"Sekali lagi, sorry."
"Sana, pergi. Dasar anak baru." Ucap temannya.
Olivia beranjak pergi meninggalkan toilet perempuan. Tapi dia tampak tersenyum gemas.
"Apa??! Kamar Zenno?" Batin Olivia dan seolah dia sedang menertawakan Bella.
"Seandainya, Zenno dengar sendiri." Gumamnya. "Ah, sudahlah. Nggak mau ikut campur."
Perkuliahan pertama dimulai, Olivia tampak fokus dengan mata kuliah pertamanya.
__ADS_1