
Suasana malam yang diiringi rintik hujan, Dinda tampak menatap luar dan memikirkan pernikahan dirinya, ternyata ini menjadi sebuah awal bagi dirinya, yang bergelar sebagai istri.
"Apa Erick tidak akan pulang?" Tanyanya dalam hati, dan kembali melihat Chilla yang sudah tertidur lelap, setelah tadi bermain boneka tangan bersama Dinda. Akhirnya, Chilla tertidur dalam pangkuan Dinda.
Sore tadi, Erick berangkat ke kantor. Besok akan ada event CFF dan sebagai tuan rumah. Perusahaan Tech Media harus menyiapkan segala sesuatunya.
Di hari pernikahannya, Erick masih tampak sibuk dalam mengembangkan perusahaan yang dirintis sang Kakak.
"Tadi bilang akan pulang. Tapi ini sudah malam." Gumam Dinda.
Dinda mendekati Chilla, lalu menyelimuti Chilla. Dinda mulai keluar dari kamar Chilla dan Bibi menuju ke kamar Chilla.
"Bu Dinda, silakan anda istirahat. Seharian anda sudah terlalu lelah menemani Chilla."
"Iya Bi, Bibi nggak perlu cemas." Lalu, Dinda bertanya. "Bi, apa Erick selalu pulang malam?"
"Iya Bu Dinda, bahkan pernah sampai tengah malam." Jawabnya.
"Ya sudah kalau gitu, Dinda mau ke kamar. Bibi juga harus istirahat."
"Iya Bu Dinda, saya juga mau menemani Chilla." Ucap Bibi dan Dinda berjalan ke kamar Erick.
Dinda sudah di kamar Erick. Tampaknya memang cukup lelah, dari pagi sudah harus bersiap ke catatan sipil, sampai rumah perayaan pernikahan bersama keluarga, dan setelah di rumah Erick, dia berusaha untuk menjadi teman Chilla.
Dinda mulai berganti baju, sudah malam dan memakai piyama ungu muda dengan motif bunga. "Aku sudah mengantuk."
Tidak lama, Dinda mulai berbaring di ranjang dan rasanya tampak santai. Dinda cukup menempatkan statusnya, yang sudah menjadi istri Erick Fernando.
Dinda yang memeluk guling dan tidur menyamping. Suasana tampak hening. Walaupun mengantuk, tapi dia masih belum bisa tidur.
"Kenapa tidak seperti di kasurku?" Keluhnya yang merasa tiba-tiba kurang nyaman. Biasanya, setiap berada di kasurnya, Dinda cepat sekali tertidur.
Dinda terjaga, dan susah sekali memejamkan matanya.
"Sudah jam 10 malam." Batinnya, saat melihat jam yang ada di meja samping tempat tidurnya.
Dinda menatap langit-langit kamar itu, dia mengingat akan semua rencana yang akan dilakukannya, setelah dia menikah.
"Pesta di Hotel ala Eropa."
"Honeymoon, di dekat pantai."
"Tinggal di rumah yang ada halamannya, seperti rumah Oma."
Dinda mengingat rumah yang akan dia beli setelah menikah. Waktu itu, dia memberitahu Gery, kalau dia sudah mendapat rumah yang cocok untuk mereka berdua. Tapi, itu sudah berakhir. Sekarang dia memang menikah, tapi bukan dengan Gery, melainkan seseorang yang baru dikenalnya.
"Mungkin ini awal dari hidupku."
"Menjadi seorang istri, dan memiliki anak." Sekarang, itulah harapan Dinda. Bukan lagi seperti harapannya bersama Gery.
Setelah dekat dengan Chilla. Dinda tampak keibuan. Merasakan hal berbeda dan itu membuat dia melupakan masa lalunya bersama Gery.
Dinda mulai memejamkan matanya dengan senyuman manis dibibir imutnya.
Akhirnya Dinda bisa terlelap dan mulai bermimpi. Entah, apa yang Dinda mimpikan malam ini. Sepertinya itu bunga tidur kebahagiaan. Terlihat dari senyuman Dinda yang merekah, meski sudah satu jam dalam tidurnya.
Erick yang sudah tiba di apartemen dan saat di kamar, melihat Dinda yang tidur sambil tersenyum.
"Apa yang dia mimpikan? Sampai-sampai dia tersenyum begitu." Batin Erick, lalu dia mengelus rambut Dinda dengan senyuman manis.
"Dinda, aku mau mandi dulu. Aku akan menemani kamu." Ucap Erick, lalu dia bergegas untuk membersihkan badannya dan berganti pakaian tidur.
Setelah beberapa saat, Erick sudah mendekat ke tempat tidur, lalu duduk di samping Dinda dan mengelus rambut Dinda.
"Selamat malam, selamat tidur istriku." Ucapnya dan mencium kening Dinda.
__ADS_1
Erick, mulai mematikan lampu kamar itu dan hanya menyalakan lampu tidur di samping ranjangnya.
Erick yang sudah naik ke atas ranjang, masih menatap Dinda. Perlahan dia tidur dan menghadap ke arah Dinda.
"Aku juga ingin bermimpi indah." Gumamnya dan mulai memejamkan matanya.
Perlahan Dinda juga tampak beralih menyamping dan keduanya sudah saling berhadapan.
Pernikahan yang terkesan kilat, tapi mereka sudah lebih dewasa. Mereka saling berusaha untuk lebih mengenal satu sama lain.
Setelah malam ini, masih ada malam-malam selanjutnya, setiap harinya akan menjadi sebuah cerita untuk Dinda dan Erick. Entah, itu manis atau akan ada air mata. Tidak ada yang tahu. Saat ini, yang ada kebahagiaan pengantin baru dan ini baru awal kehidupan mereka berdua.
Oma sempat memberikan beberapa nasehat untuk keduanya, dan mereka tampak menerima nasehat itu. Mereka berdua memang baru mengenal, dan suatu saat nanti pasti akan muncul perasaan cinta dan menjadikan mereka lebih dekat sebagai sepasang suami istri. Bahkan kelak, akan menjadi Papa dan Mama.
Sepajang malam bermimpi manis, dan pagi yang cerah, tampak membuka tirai.
"Selamat pagi sayang." Ucap Dinda yang tampak bersemangat, setelah dia membuka gorden dan Erick menjadi terbangun.
"Pagi, kamu sudah bangun lebih dulu."
"Emz, aku sudah bangun dari tadi." Dinda duduk di sebelah sang suami dan Erick memegang tangan Dinda, lalu mencium punggung tangan itu.
"Terima kasih, sudah membangunkan aku."
"Aku istrimu, aku harus peduli sama jadwal kamu." Dinda dan Erick tampak tersenyum.
"Ini jam berapa?" Tanya Erick.
"Sayang, ini sudah jam 7, dan jam 8 kamu harus ke kantor." Jawab Dinda.
Yang tadinya sudah tampak bersandar dan Erick kembali berbaring.
"Sayang, kamu tidur lagi?"
"Iya, ini hari sabtu. Event masih nanti siang. Biarkan aku bermalas-malasan."
"Biarkan saja dia menunggu. Ayo, temani aku tidur." Erick menarik tangan Dinda dan paras langsing Dinda begitu ringan bagi seorang Erick yang bertubuh kekar.
"Emh, kamu nakal." Dinda menyentuh hidung Erick.
"Aku nakal?" Tanya Erick.
"Iya, kamu nakal. Aku harus keluar, ini waktunya Chilla sarapan. Kasian dia nggak ada temannya." Jawab Dinda.
"Kamu benar, tapi kamu juga harus ngertiin aku." Ucap Erick yang belum melepaskan Dinda.
Dinda mengerti, lalu dengan malu-malu Dinda mengecup pipi kanan Erick, dan berusaha untuk melepaskan diri. Erick perlahan melepasnya, dan tampak senyuman nakal dari Erick. Dinda lalu berlari, dan keluar dari kamar itu.
Erick mulai beranjak dari tempat tidur dan melihat ponselnya. Jony, ternyata cukup menganggunya.
"Jony, kamu bilang aku harus bermanja dengan istriku. Kamu malah jadi penganggu." Keluhnya dan mulai mengirim pesan kepada asistennya itu.
Benar, Jony yang memberikan beberapa trik mendekati wanita, dan cara belajar menyenangkan hati wanita. Intinya, bagaimana cara meraih hati wanita.
Erick lalu menuju kamar mandi, setelah dia melampiaskan kekesalannya kepada Jony.
"Dinda, mempersiapkan semua ini?" Erick tampak melihat di kamar mandi, ada yang berbeda. Ada handuk couple, ada kimono couple, bahkan alat mandi juga couple.
"Jadi begini sifat wanita, yang selalu ingin bersama pasangannya. Oke, aku mengerti."
Erick, tadi melihat kalau sang istri telah memakai kaos warna putih dan dia berusaha untuk mencari kaos warna yang sama.
Berapa saat, setelah selesai mandi dan berganti baju. Erick keluar dari kamar. Tampak bingung, harus bersikap gimana lagi untuk Dinda.
"Pagi Chilla."
__ADS_1
"Pagi Om Erick. Itu sarapan buat Om Erick. Kak Dinda yang siapin buat Om."
"Lalu Kak Dinda kemana?" Erick hanya melihat Chilla yang tampak mewarnai gambar di meja makan itu.
"Kak Dinda baru pulang ke rumahnya, mau ambil apa tadi, Chilla lupa." Bibi mendekat dan sudah membawa tasnya Chilla.
"Tugas Chilla selesai Bi, ayo berangkat." Bibi lalu memasukan gambar itu ke dalam tas dan Chilla bergegas untuk berangkat ke sekolah.
"Chilla mau ke sekolah?"
"Iya, sama Kak Dinda juga." Jawabnya dan Erick mengambil kopinya.
"Apa aku ikut mereka aja." Batinnya dan berjalan mendekati Chilla lalu berkata "Bibi di rumah saja, biar saya dan Dinda yang mengantar Chilla ke sekolah."
"Baik Pak Erick."
Erick lalu membawa tasnya Chilla dan menggandeng tangan kanan Chilla.
Dinda yang sudah kembali, mereka bertemu di depan pintu.
"Emh, kamu yang mengantar Chilla?" Dinda tampak melihat kalau Erick hanya pakai kaos dan warnanya putih.
"Sayang, aku ke kamar dulu. Kamu tunggu aku di mobil."
Erick hanya mengangguk.
Tidak lama, Dinda datang dan membawa jaket untuk Erick.
"Sayang pakai ini."
"Kenapa?"
"Kaos kamu terlalu tipis, aku nggak suka wanita lain melihat dada kamu." Bisiknya, saat Dinda duduk di sebelah dan langsung memakai sabuk pengaman.
"Dinda ternyata peduli sama tubuhku." Batin Erick dan tersenyum.
"Om Erick, ayo berangkat."
"Oke, kita berangkat ke sekolah Chilla."
Dinda tersenyum, lalu berkata "Ayo berangkat."
Setelah mengantar Chilla, Dinda jadi tersenyum gemas.
"Sayang, kamu bener-bener ya."
"Ya aku lihat semua couple gitu."
"Kemarin itu Olivia yang siapin, ya udah aku pakai aja. Jadinya, kamu salah mengira, aku yang begitu."
"Iya, pantas saja seperti pasangan muda yang serba couple."
"Sudahlah, nggak apa-apa. Kita suami istri. Misal aku ingin sesuatu atau aku ingin nonton dan sebagainya, pasti aku akan cerita sama kamu. Lagian, kita sudah menikah, buat apa bikin seolah kita pasangan."
"Ya mana aku tahu, Jony juga bilang begitu."
Selama mereka berdua di mobil, dan saling bercerita. Mulai mengenal satu sama lain, bahkan Erick bisa merasa lega dengan apa kekurangannya, dan Dinda tidak memaksa Erick untuk berlaku romantis dan lain sebagainya.
"Biarkan hubungan kita apa adanya." Dinda menatap Erick.
"Iya, kamu benar." Erick tersenyum.
Mereka berdua, begitu tampak bahagia.
__ADS_1