COUPLE UNIK

COUPLE UNIK
Olivia Menyetujui Lamaran Tak Terduga


__ADS_3

Semilir angin di siang hari, Olivia yang berjalan di bawah pepohonan. Hanya menatap ke arah ponselnya.


Senin siang, tampaknya dia kesepian. Mengingat siang ini tidak ada dosen, dan Sherryl sudah pergi lebih dulu dengan seseorang. Lalu, Dinda juga sudah ada janji dengan seorang teman tentang sebuah pekerjaan.


"Zenno juga masih ada kuliah." Desisnya dan tiba-tiba sang Papa menghubungi Olivia.


"Hallo Papa."


"Oliv, kamu di kampus?"


"Iya Papa. Olivia masih di kampus, tapi ini udah mau pulang."


"Pulang? Bukannya ini jam makan siang?"


"Iya, ini jam setengah 1, tapi siang ini nggak ada kuliah. Jadi, mending pulang aja."


"Kalau gitu, kamu nyusul kesini aja. Papa di restaurant La Rose."


"Emh, oke."


Menempuh perjalanan sekitar 20 menit untuk menuju ke restoran itu. Taxi yang di tumpangi, tampak cepat saat tadi melewati jalan ke arah restoran itu.


"Papa..." Ucapnya saat bertemu sang Papa.


"Ayo duduk."


"Papa sendirian?"


"Tidak. Papa bersama seseorang." Dion dengan senyumannya.


Olivia mulai meletakan tas di kursi dan mulai duduk, lalu bertanya "Siapa?" Olivia tampak begitu penasaran.


Dion hanya tersenyum, malah menyuruh Olivia untuk segera memesan menu makanan.


"Papa, mana orang yang bersama Papa?"


"Nah itu dia." Dion tampak tersenyum dan seseorang itu baru kembali dari toilet.


"Kak Erick."


Erick tampak tersenyum, lalu duduk di sebelah Olivia. Senyuman Olivia juga begitu manis, saat mengingat kalau Erick sudah menolong Dinda malam itu.


Tidak lama pelayan perempuan menyajikan makanan untuk Olivia.


Olivia yang masih tersenyum, tampak menikmati makanannya.


"Oliv, kenapa kamu nggak bilang kalau Dinda sakit lagi?"


Olivia yang masih menyedot minuman dan tampak ekspresi wajah santai.


Olivia tersenyum dan berkata "Soal waktu itu, Olivia panik. Jadi, lupa buat kasih kabar sama Papa."


"Erick sudah bercerita tentang Dinda."


"Ya udah, Papa nggak usah tanya Olivia lagi."

__ADS_1


Erick tampak diam dan Dion lalu berkata "Ada satu hal yang mau Papa tanya sama kamu."


Olivia yang menggoyangkan sedotan dan tangan kirinya masih memegang gelas, tampak tersenyum saja.


"Soal apa Pa? Apa soal Kak Dinda?"


Dion tersenyum dan mengangguk.


"Ya mending, Papa tanya sendiri sama Kak Dinda. Kenapa harus tanya ke Oliv."


"Karena kamu yang lebih dekat sama Kakak kamu. Makanya Papa mau tahu tentang perasaan Kakak kamu. Apa dia masih memikirkan Gery?"


Erick mengambil cangkir kopi yang ada di depannya, dan Olivia tampak menatap ke wajah Erick. Olivia masih bingung, dan sedikit tidak nyaman kalau bercerita tentang Dinda dan Gery di depan orang lain.


"Ah... Papa, tanya sendiri aja sama Kak Dinda."


Olivia melanjutkan minum jusnya, dan tampak enggan untuk bercerita.


"Olivia, Papa tanya begini. Soalnya, ada laki-laki baik yang melamar Kakak kamu."


Olivia jadi tersedak dan secepatnya mengambil tisue yang ada di depannya.


"Papa bilang barusan??! Ada yang melamar Kak Dinda? Siapa orangnya??" Olivia begitu gemas dan ingin tahu tentang orang itu, mengingat akan rasa sakit hati Dinda. Jadi, Olivia harus ikut menilai pria itu.


Dion tersenyum dan menatap Erick, lalu berkata "Laki-laki itu ada disini, di samping kamu. Bagaimana menurut kamu?"


Olivia menatap Erick lebih dekat dan mengamati Erick dari bawah ke atas, lalu bertanya "Kak Erick, yang melamar Kak Dinda?"


Erick tersenyum, lalu berkata "Iya, saya yang melamar Kakak kamu, sebelum tadi kamu datang kesini. Saya, berniat untuk segera menikahi Dinda."


"Iya saya tahu. Bahkan sebelum saya bertemu kemarin, saya pernah bertemu Dinda di Bali bersama Pak Deffo."


"Owh, jadi pria tampan itu Kak Erick dan akhirnya Kak Dinda jadi malu."


"Kak Erick pernah punya pacar?"


"Tidak, saya belum pernah berpacaran."


"Serius?" Olivia yang tampak ingin tahu tentang masa lalu Erick, karena ini demi sang Kakak.


"Iya, saya belum pernah berpacaran. Karena dulu saya hobby traveling dan suka memotret. Jadi, tidak ada waktu untuk mengenal dekat sosok gadis."


"Emh, tapi Kak Dinda punya masa lalu. Apa Kak Erick mau menerima Kak Dinda apa adanya??"


"Soal itu, saya tidak masalah." Jawabnya.


"Satu hal yang harus Kak Erick tahu. Kak Dinda punya hati yang rentan. Dia bukan sosok yang mudah memaafkan. Apalagi bila ada yang menyakiti hatinya. Apa Kak Erick bisa mencintai Kak Dinda dan tidak akan melukai perasaannya??"


Erick tersenyum dan Dion cukup melihat Olivia yang sudah berubah lebih dewasa.


"Saya memang belum mengerti apa itu cinta dan perasaan. Yang jelas, saya tidak punya waktu untuk mengenal perempuan. Yang saat ini saya inginkan, hanya ingin buat gadis kecil saya bahagia."


"Apa maksud Kak Erick?" Tanya Olivia yang tampak penasaran.


"Saya saat ini, telah merawat putri kecil. Satu tahun yang lalu, Kakak saya meninggal karena kecelakaan, dan putri kecil itu sendirian. Saya yang harus menjaganya. Tapi, saya tidak bisa dekat dengan dia, malah Dinda yang bisa dekat dengan dia."

__ADS_1


"Kak Dinda??"


"Iya, saya semalam bertemu Dinda. Dia yang menemukan keponakan saya di taman. Saya terlalu sibuk mengurus perusahaan Kakak saya, jadi saya lalai."


"Jadi Kakak menikahi Kak Dinda cuma karena itu??" Olivia tampak tidak nyaman akan hal ini.


"Bukan begitu maksud saya. Saya tidak ada waktu untuk mengenal gadis, saya hanya ingin menikahi gadis yang baik dan keponakan saya menyukainya. Kalau saya memilih gadis lain, belum tentu keponakan saya mau dengan gadis itu nantinya." Erick yang tampak jujur.


"Apa? Olivia masih nggak habis pikir."


Dion mengerti Olivia yang tampak kecewa dan dia berkata "Olivia, Erick pemuda yang baik. Dia sangat bertanggung jawab. Tidak ada salahnya Erick mengenal dekat Kakak kamu."


"Papa tapi ini pernikahan Kak Dinda. Sama Gery aja begitu."


Erick mengerti akan perasaan Olivia yang tidak ingin Kakaknya terluka lagi.


"Olivia, saya tidak bermaksud untuk merendahkan Dinda. Saya menikah bukan untuk sekedar punya istri dan mau menerima keponakan saya, bukan begitu. Tapi, saya melihat kalau Dinda memang perempuan yang baik, dan saya janji akan bertanggung jawab atas diri Dinda."


Olivia mulai berfikir tenang dan bertanya "Kak Erick, misalkan ada perempuan lain yang berniat merusak hubungan kalian, bagaimana?"


"Olivia, suatu hubungan pasti akan diuji, dari kesetiaan dan perasaannya. Saya janji, tidak akan membuat Kakak kamu terluka."


Dion mengerti kekecewaan Olivia. Dia sendiri juga merasa, kalau ini akibat dari masa lalunya yang menyakiti perasaan istrinya dan akhirnya putrinya sendiri mendapat perlakuan yang sama.


Dion menatap Olivia dan berkata "Olivia, tidak semua laki-laki itu, seperti Gery. Jadi, kamu jangan menyimpulkan begitu."


"Iya, termasuk Papa." Olivia yang tampak ketus.


"Maafin Papa." Ucapnya dan Erick cukup bingung dengan sikap Olivia.


Olivia memesan lagi minuman dan yang lebih dingin, kedua laki-laki itu tampak diam menatap Olivia yang masih kesal.


Olivia berusaha untuk berfikir lebih tenang, lalu berkata "Kak Erick, kalau Kak Dinda setuju. Olivia juga akan merestui pernikahan kalian. Tapi, kalau Kak Dinda tidak setuju. Jangan paksa dia."


"Papa juga, jangan paksa Kak Dinda." Olivia yang masih sewot dan mulai menggigit sedotan.


"Baik, saya tidak akan memaksa Kakak kamu." Ucapnya dengan tersenyum.


"Papa tahu kamu begitu peduli sama Dinda. Tapi, ini juga demi Dinda. Karena Papa cukup mengenal Erick dengan baik."


Olivia masih menatap Erick, lalu berkata "Kalau kalian menikah, Kak Erick harus berjanji sama Olivia."


"Janji?" Erick yang menatap santai Olivia.


"Iya Kak Erick harus janji, jangan pernah sakiti perasaan Kak Dinda. Kalau Kak Dinda sampai sakit hati karena Kak Erick. Olivia yang akan buat perhitungan sama Kak Erick."


Dion dan Erick tersenyum, lalu Erick berkata "Iya, Kak Erick janji sama kamu dan juga, Kak Erick janji demi diri Kak Erick sendiri."


"Baiklah, kalau begitu. Anterin Olivia pulang. Olivia juga harus tahu tentang Kak Erick, dari perusahaan dan semua tentang Kak Erick."


"Baik, kalau itu mau kamu."


Dion cukup lega, terkadang Olivia bersikap kekanakan. Tapi, Olivia memang sangat menyayangi Dinda.


__ADS_1


__ADS_2