COUPLE UNIK

COUPLE UNIK
Saat Cinta Itu Ada Dan Sakit Itu Pasti


__ADS_3

Pagi datang bersama sinar mentari dari ufuk timur. Olivia yang membuka tirai, menatap kencantikan sinar mentari itu. Embun yang basah akan menghilang, dan suara burung kenari berkicau merdu.


"Selamat pagi." Ucapnya dengan senyuman manis tersirat di wajahnya.


Olivia segera bergegas ke kamar mandi lebih dulu. Karena dia lebih suka kamar mandi yang ada di luar. Lebih luas dan bisa rileksasi dengan berendam dalam bath-up.


"Zenno, buruan dong." Teriaknya dan hari ini Olivia, ada kelas pagi.


Zenno yang berambut basah dan hanya tampak lilitan handuk yang melingkari pinggangnya.


Masih berdiri dipintu, dan tangannya menghadang Olivia, yang hendak masuk ke kamar mandi.


"Kamu, pagi-pagi sudah rewel."


Olivia tampak diam, dan hanya merasa berdebar lebih cepat.


Olivia lalu berubah manis "Bee, ayolah. Aku ada kelas pagi."


"Kalau begitu, mandilah di kamarmu, tidak perlu berendam." Ucap Zenno yang tampak nakal.


Wajah Zenno semakin mendekati wajah Olivia, dan Olivia memalingkan wajahnya.


Olivia memejamkan matanya rapat-rapat. Perlahan Zenno semakin mendekat, dan mengecup manis kening Olivia.


"Baiklah, kali ini aku biarkan. Mandilah." Zenno lantas pergi dan Olivia mulai membuka matanya.


"Zenno, kamu bikin aku deg-degan." Tampak mengelus dadanya dan masih menatap Zenno yang masuk ke kamar. Saat menutup pintu, Zenno terlihat nakal dan mengedipkan mata kanannya.


"Huft,... Sepertinya aku harus balik lagi ke rumah Mama. Kalau disini bisa-bisa aku jadi Mommy muda." Olivia dengan cepat masuk ke kamar mandi dan masih mengatur nafasnya.


Setelah satu jam berlalu, Olivia mulai turun ke lantai bawah dan langsung ke ruang makan. Zenno sedang menata menu pagi untuk Olivia dan dirinya.


Olivia yang mulai duduk, dan terlihat berwajah muram. Perlahan Zenno duduk di depan Olivia.


"Ayo makan, nanti kita berangkat bareng."


Olivia hanya mengangguk dan mulai sarapan. Zenno hanya membuat sandwich dan coklat hangat.


"Olivia, kamu kenapa?" Zenno yang begitu santai.


Olivia menggeleng saja.


"Ada masalah?"


Olivia hanya menggeleng lagi.


Zenno lalu melanjutkan sarapannya. Sudah hampir jam 8 pagi, mereka berdua berangkat ke kampus.


Zenno yang telah menyetir mobil, lalu menoleh ke arah Olivia, dan bertanya "Baby, kamu kenapa? Dari tadi diam saja. Jangan buat aku cemas."


"Emh, aku tidak apa-apa." Lirihnya.


Tangan kiri Zenno, berusaha membelai rambutnya. Tapi Olivia tampak menjauh dan menghindar.


"Baby, ada apa ini?" Zenno berusaha ingin tahu. Perlahan dia meminggirkan mobilnya di depan mini market.


"Kenapa berhenti? Apa kamu mau beli sesuatu?"


"Iya, aku mau beli minum." Ucapnya dan keluar begitu saja.


Olivia hanya bingung dan kesal kepada dirinya sendiri. Olivia hanya takut tidak bisa mengendalikan dirinya, bila dia berada di dekat Zenno.


Zenno kembali ke mobil. Tampak membawa satu kantong yang berisi minuman dan snack, lalu memberikan yougurt kepada Olivia.


Zenno menarik Olivia dan membuat Olivia memandang dirinya. Keduanya saling menatap dan wajah itu begitu dekat.


"Baby, kamu kenapa? Jangan buat aku bingung."


"Emh, aku cuma gelisah. Aku cemas."


"Ada apa? Kamu punya masalah?"


"Iya, sepertinya begitu." Terdengar suara yang begitu lembut.


"Kamu cerita sama aku. Biar aku nggak menerka-nerka."


"Aku takut jadi Mommy muda." Cara bicara Olivia tampak menggemaskan dan Zenno tersenyum.


"Apa maksud kamu?" Zenno masih menatapnya.


"Bee, aku cuma cemas. Aku masih kuliah. Kalau tiba-tiba kita lupa diri, terus aku hamil gimana?" Olivia yang tampak polos dan bibirnya begitu unyu.


Zenno tersenyum dan memeluknya "Baby, aku mengerti perasaan kamu. Ya sudah, kita jalani biasa aja. Seperti awal kita tinggal bareng."


Zenno melepaskan pelukannya dan Olivia berkata "Aku nggak tahu, kenapa aku deg-degan kalau kita cuma berdua."


"Emh.. Olivia."


"Jangan menggoda lagi."


"Aku tidak menggoda."


"Tadi, waktu di kamar mandi."


"Iya, iya. Ya udah, kamu jangan mikir macem-macem. Kita jalani apa adanya aja. Lagian, aku juga sibuk. Jarang ada waktu buat berduan."


"Iya."


"Senyum dulu." Zenno yang mencomel kedua pipi Olivia.


"Emh..." Akhirnya Olivia kembali tersenyum dan Zenno mengecup kening Olivia.


"Aku akan menjaga kamu."

__ADS_1


Olivia merasakan kasih sayang Zenno. "Iya, kamu harus menjaga aku. Jangan biarkan aku jadi Mommy muda."


Zenno tertawa dan berkata "Kalau itu, aku juga bisa hilang akal."


Olivia mencubit lengan tangannya dan Zenno seolah merasa kesakitan.


"Ampun Baby... Ampun..."


"Nakal."


Zenno lalu kembali menyetir mobilnya dan Olivia mulai tenang.


"Baby, nanti mau turun dimana?"


"Di parkiran aja."


Zenno lalu bertanya "Sudah siap diserbu para fans aku?"


"Kamu nyebelin."


Zenno tersenyum dan berkata "Olivia tetaplah Olivia. Tidak ada yang bisa mengaturnya."


"Kamu ngatur aku."


"Kapan aku ngatur kamu?"


"Buktinya waktu ada Kevin."


"Owh itu, ya aku nggak suka."


"Kenapa nggak suka?"


Zenno yang meraih tangan Olivia, lalu berkata "Aku juga bisa cemburu." Zenno mencium punggung tangan itu dan Olivia semakin merasakan cinta.


Sesampainya di kampus. Olivia turun mobil lebih dulu, dan sedikit jauh dari kampus. Ternyata dia masih ingin seperti biasanya.


Olivia berjalan lebih dulu, dan Zenno masih memperhatikan Olivia dari kejauhan.


Di kampus, Bella dan para dayangnya, tampak menunggu Zenno di tempat parkir. Itu sudah jadi kebiasaan mereka.


Olivia yang berjalan dan menuju ke gedung 3 M-4. Sherryl mengagetkan dia dari belakang.


"Loe selalu deh."


"Habisnya loe sendirian aja."


"Emang mau sama siapa?"


"Kevin...?" Sherryl yang terlalu melihat hal lain dari Olivia dan Kevin.


"Apaan sih Sherryl. Loe terlalu banyak nonton drakor ya."


"Emang gitu yang gue lihatnya."


Sherryl menatapnya dan Olivia berkata "Gue, udah merried."


"Loe? Merried?" Ekspresi Sherryl begitu kaget.


"Loe nggak lihat cicin gue."


Sherryl lalu mengangkat tangan Olivia dan dia amat tidak percaya.


"Serius ini cincin kawin?"


Olivia menghentikan langkahnya dan mengangguk dengan senyuman manis. Sherryl merasa sangat aneh.


"Gue nggak percaya."


"Terserah loe." Olivia lalu berlari dan Sherryl mengejarnya.


Zenno melihat Olivia yang ceria, dia tampak tersenyum. Zenno lalu menuju ke parkiran tempat biasa dia memarkirkan mobilnya.


"Olivia menikah? Apa dia serius? Anak jaman sekarang juga suka ngaku-ngaku udah merried. Bisa aja beli cicin sendiri."


Sherryl masih belum bisa percaya akan hal itu. Mereka sampai di depan gedung 3, lalu Olivia duduk di teras gedung.


"Ini buat loe." Olivia memberikan minuman kaleng kepada Sherryl.


"Thank you."


Sherryl yang masih merasa aneh dan ingin tahu.


"Olivia, loe beneran udah merried?"


"Iya."


"Siapa suami loe?"


"Ada deh, mau tahu aja."


"Gue serius, Olivia. Dia kerja dimana?"


"Ya, gitulah."


"Olivia, loe cerita muter-muter. Gue penasaran."


Olivia menatap Sherryl dan berkata


"Dia masih kuliah. Terus dia juga punya pekerjaan."


"Kuliah? Seriusan? Loe nggak tekdung kan?!"


"Iihh... Sherryl.. Loe gila apa. Masak iya, Olivia tekdung. Ngaco loe. Gue aja minta pemb@lut sama loe."

__ADS_1


"Iya juga sih, ya gue bingung aja. Loe masih muda. Tahu-tahu merried gitu aja."


"Gue dijodohin, dan itu waktu gue masih kecil. Terus, sebelum Mama gue meninggal, gue dilamar dan tunangan."


"Emh, gue ngerti sekarang. Pantes loe pernah pakai cicin emas kayak ibu-ibu."


"Iya, cincin itu dari Mama mertua gue."


"Terus suami loe, gimana? Ganteng nggak?"


"Emh, suami gue tampan, serba bisa dan sayang sama gue."


"Gue makin penasaran."


"Nanti, kapan-kapan gue kenalin sama dia."


Kedua perempuan itu tampak manis saat mengobrol, kemudian beranjak ke kelas. Tidak disangka, obrolan mereka ada yang mendengarnya.


"Jadi, Olivia sudah menikah." Gumam Kevin dan ada rasa yang tidak nyaman.


Di tempat parkiran mobil, Bella tampak mendekati Zenno yang baru keluar dari mobil sedan putih.


"Pagi Zenno."


Zenno tampak cuek dan Bella mengikuti langkah kaki Zenno.


"Sabtu malam di pesta, gue ketemu sama nyokap loe."


Zenno menghentikan langkahnya dan menoleh ke Bella "Loe ke pesta?"


Bella tersenyum manis, lalu berkata "Iya, di pestanya Madam Monica."


"Emh, iya. Keluarga gue semua datang, kecuali gue."


"Iya, kata nyokap loe. Terus katanya, Direktur Dion besan nyokap loe."


Zenno tersenyum manis, "Benar."


Bella masih berbunga-bunga, saat Zenno mau diajak mengobrol berdua.


"Iya gue seneng aja ketemu semua keluarga loe."


Zenno berjalan lagi dan Bella masih mengikutinya.


"Iya, gue ngerasa aja sering ketemu nyokap loe. Mungkin kita berjodoh."


"Apa? Berjodoh?"


Bella dengan senyuman manis "Iya, kita bisa menjalin hubungan. Sepertinya, nyokap loe juga setuju."


Zenno menghentikan langkahnya, dia juga tampak menahan tawa dalam hatinya, lalu berkata "Nyokap gue emang baik sama semuanya. Bukan cuma sama loe. Jadi, nggak usah merasa kalau loe bakal berjodoh sama gue. Karena gue, sudah menikah."


Bella bagai tersengat listrik, dan masih bertanya dengan perasaan runtuh "Loe udah menikah?"


Zenno hanya menunjukkan cicin di jarinya dan tersenyum. Lalu pergi begitu saja.


Bella mulai meremas sisi dress yang dia kenakan. Perlahan matanya memerah dan semua temannya datang.


"Bella, akhirnya Zenno mau dekat sama loe."


"Yes, kita berhasil."


Setelah melihat dekat dan menatap Bella, lalu ada temannya bertanya "Bella, loe kenapa nangis?"


Seketika, Bella berlari ke mobilnya dan temannya bingung.


Saat di dalam mobil, Bella menangis tersedu-sedu dan temannya ingin tahu apa yang terjadi, tapi Bella mengunci pintu mobilnya.


"Apa dia ditolak lagi?"


"Entah, gue nggak tahu."


"Dia beneran nangis. Pasti patah hati lagi."


"Zenno, memang sulit didekati. Mungkin lain kali bisa."


"Udahlah, kalian diam dulu. Kita cari tahu dulu apa yang terjadi."


Semua temannya bingung dan Bella masih terus menangis.


"Siapa dia? Siapa istrinya Zenno?" Bella masih berfikir kalau putrinya Direktur Dion adalahnya istri Kakaknya Zenno. Bella belum berfikir kalau Olivia adalah istrinya Zenno.


"Aku harus cari tahu tentang dia."


Karena saat pesta malam itu, Deffo tampak merangkul bahu Olivia dan mengobrol bersama. Bella mengamati dari kejauhan. Jadi, dia hanya berfikir kalau mereka seperti pasangan.


Setelah beberapa saat, Bella membuka pintu mobilnya dan para temannya masuk ke dalam mobil.


Bella menceritakan hal itu, lalu berkata "Kalian harus cari tahu tentang dia."


"Bella, gue udah tahu."


"Maksud loe?"


"Bukan itu, tapi di forum waktu itu si Nona X. Terus, kapan itu ada foto mereka ciuman."


"Loe kenapa baru kasih tahu gue."


"Ya, itu langsung dihapus sama admin. Gue cuma sekilas aja lihatnya."


Bella yang geram, berkata "Kalian harus cari dia."


Mereka mulai mencari tahu tentang Nona X, dan Bella kembali menangis.

__ADS_1


__ADS_2