
Hampir satu minggu berlalu, Dinda dan Olivia akan makan malam bersama sang Papa dan juga Monica sang ibu tiri.
Restaurant Hotel Deluxe adalah tempat makan malam itu. Olivia yang lebih dulu ke apartemen Dinda, sudah dari pagi Zenno mengantarnya kesana. Bahkan malam ini, Olivia akan menginap di apartemen sang Kakak.
"Jadi, Kakak bertemu sama mantan Kak Deffo?" Dinda yang masih berhias dan Olivia masih saja mengulik apa saja yang dilakukan Kakaknya selama berada di Bali.
"Dia cantik?" Tanya lagi.
Dinda memutar badannya dan menatap Olivia, Dinda tampak mengangguk dan berkata "Dia sosok yang dewasa, elegan dan begitu menarik. Tapi, dia udah punya anak dan kehidupannya sudah berbeda, tidak seperti dulu lagi. Karena itu, dia tidak bisa kembali dekat dengan Kak Deffo."
"Jadi itu alasannya. Aku juga berfikir, Kak Deffo memang sosok yang setia. Tapi, cinta sudah membutakannya."
"Ya begitulah cinta. Makanya, kita harus berhati-hati, karena cinta bisa memakan kita." Dinda menggoda Olivia.
"Iih, Kakak." Olivia merasa sang Kakak terlalu berlebihan.
"Olivia, disana Kakak banyak berfikir tentang cinta dan pernikahan Kakak. Tapi, ada tragedi memalukan." Dinda tersenyum mengingat kejadian saat di Hotel.
"Tragedi apa?" Olivia begitu penasaran.
"Kakak bertemu pria tampan."
"Itu namanya bukan tragedi."
"Tapi itu sangat memalukan." Keluhnya dan membalikan badannya lagi, dan Dinda mengambil lipstik merah maroon. Dia tidak ingin kalah dari Monica.
"Lipstiknya terlalu tua dibibir Kakak." Ucap Olivia.
"Kakak tidak peduli. Malam ini Monica harus sadar. Siapa dirinya, dan siapa kita berdua."
"Oke Kakak. Olivia paham."
Tidak lama mereka berhias dan akhirnya berangkat menuju Hotel Deluxe. Malam yang gemerlap, begitu cerah dan tampak bintang yang menghiasi langit kota malam ini.
Dinda yang menyetir mobil dan Olivia tampak membalas pesan dari Sherryl, dia mengatakan kalau besok pagi akan ada pertandingan perkenalan, antar jurusan.
"Emh, aku tahu. Di info kampus, juga ada." Gumamnya.
"Ada apa?"
"Pertandingan perkenalan."
"Owh itu. Itu cuma kegiatan untuk menarik mahasiswa baru. Agar ikut bergabung dalam club. Seperti acara pesta waktu itu. Tapi kali ini, dibidang olahraga."
"Iya, tapi aku malas nontonnya."
"Sama Kakak aja."
"Emh, Kakak mau bongkar identitasku?"
"Bukan begitu, kapan lagi kita ada moment berdua di kampus. Kakak sebentar lagi udah lulus, dan pasti jarang banget ke kampus."
"Iya juga sih, kita bisa pura-pura baru kenal disana."
"Nah, gitu dong."
Olivia terlihat bahagia, dia yang mengenakan dress warna biru muda terlihat anggun di usianya yang masih belia. Begitu dengan Dinda yang tampil glamour dan begitu sensual, tampak berani dengan gaun merah maroon.
"Kita sudah sampai, dan siap berjumpa Mak Lampir." Ucap Dinda dan Olivia tersenyum.
Olivia menatap pintu Hotel mewah itu, lalu bergumam "Mama tidak perlu cemaskan Olivia dan Kakak."
Olivia yang keluar dari mobil sport merah itu, dan Dinda tampak memberikan kuncinya kepada layanan parkir.
Dinda menggandeng tangan Olivia, dan tampak senyuman manis dari kedua gadis itu. Mereka langsung berjalan menuju restaurant yang sudah dipesan oleh sang Papa.
"Kenapa tidak di ruang pribadi?" Tanya Olivia.
"Mungkin Monica ingin tampil di tempat yang terbuka." Jawab Dinda dan Olivia telah memasang hatinya untuk tetap kuat.
__ADS_1
Hotel yang mewah dengan interior lux, beberapa lukisan berkelas terpampang di sisi kanan dan kiri dinding. Olivia yang berjalan begitu menawan, Dinda melihat kalau Adiknya sudah tumbuh jadi gadis dewasa.
"Olivia, Kakak sayang kamu." Batin Dinda dengan tersenyum.
Tiba di pintu masuk restaurant. Teramat terkejutnya Dinda. Ternyata bukan hanya sang Papa dan Monica, tetapi makan malam ini, ada keluarga Gery dan juga Marcella.
"Kakak," Suara Olivia pelan, sesaat mereka yang berhenti untuk melangkah.
"Kamu tenang saja." Ucap Dinda.
Monica yang berdiri dan menghampiri kedua tuan putri itu. Ini bukan tempat pribadi, melainkan restaurant umum dan banyak tamu lainnya. Olivia tampak melihat ke sekeliling dan memang malam ini, tampak semua meja sudah penuh tamu.
"Kalian, kenapa masih berdiri saja?" Monica dengan suara manis dan Olivia menarik tangan sang Kakak.
Mereka tampak melewati Monica begitu saja, dan Olivia tampak tegarl. Yang tadinya masih menata perasaannya, dan setelah melihat situasi ini, dirinya harus bisa membantu sang Kakak.
"Selamat malam Papa." Olivia yang memeluk sang Papa dan Dion memang dari tadi sudah berdiri untuk menyambut kedua putrinya.
"Selamat malam sayang, malam ini kamu cantik sekali."
"Ini berkat Kak Dinda." Olivia yang masih tersenyum. Lalu bergantian Dinda yang memeluk Papanya.
Marcella tampak menatap ke arah Dinda, sedangkan Gery hanya tersenyum dan kedua orang tua Gery tampak bahagia melihat kedekatan Dion dan putrinya.
"Selamat malam Om Baskara dan Tante Laura."
"Kamu cantik. Terlihat dewasa." Ucap Mamanya Gery saat memegang dagu Dinda.
Kedua orang tua Gery tampak bahagia melihat Dinda yang tampil begitu cantik dan terlihat lebih dewasa, tampak berbeda dengan sebelumnya.
Marcella tampak berubah geram. Olivia juga sempat melirik ke arah Marcella, yang duduk di sebelah Monica.
Makan malam telah dimulai, Dinda dan Gery duduk bersebelahan dan Olivia diantara sang Papa dan Dinda. Ternyata begitu cara pengaturan Monica, dan dia benar-benar menyiapkan semua ini dihadapan keluarga Gery.
"Honey, kamu kenapa? Kamu dari tadi diam saja." Suara Gery begitu pelan dan Dinda enggan berbicara dengannya. Dia berharap bisa melupakan cintanya. Tetapi, malam ini Gery ada di sampingnya.
Monica tampak memandang ada hal yang berbeda, Dion tampak berbincang dengan kedua orang tua Gery, mengenai acara pernikahan nanti.
"Permisi semuanya, Dinda mau ke toilet dulu."
Dinda beranjak pergi, dan Gery masih menatapnya. Saat itu, ada sosok yang baru masuk ke restaurant dan tampak melihat Dinda yang berjalan ke arah toilet, lalu dia mengikutinya.
Tidak lama, Marcella juga pamit untuk ke toilet. Olivia sangat tidak senang akan hal ini, dan tidak akan tinggal diam.
"Kak Gery, lama tidak bertemu."
"Iya, gimana kuliah kamu?"
"Emh, baik Kak." Senyuman manis.
"Oh, iya.. Waktu Kak Dinda sakit, kenapa Kak Gery tidak datang?"
Suara Olivia begitu kencang, sampai kedua orang tua Gery mendengarnya.
"Gery, apa Dinda sakit?" Tanya sang Mama.
"Iya Ma, minggu lalu Dinda sakit." Jawab Gery.
"Kenapa tidak kasih tahu Mama?"
Dion berkata "Jeng Laura, Dinda sekarang sudah sehat. Hanya terlalu capek saja. Mungkin, sibuk mengurus untuk acara nanti."
"Kenapa harus sibuk sendiri, ada kita semua. Harusnya Dinda lebih menjaga dirinya." Sahut Monica.
"Bukan karena acara pernikahan itu. Tapi, karena sakit hati." Olivia yang begitu ketus dan semua orang menatapnya.
Gery hanya tampak terdiam.
"Kenapa kalian menatap Olivia?!"
__ADS_1
"Bukannya begitu, Kak Gery?!" Olivia menatap Gery dengan tajam.
"Kak Gery calon suaminya, pasti tahu apa yang Kak Dinda alami."
Dion menatap Olivia dan menegurnya "Oliva, jangan ganggu calon Kakak ipar kamu."
Olivia berubah diam dan melanjutkan makannya. Mamanya Gery tampak menyenggol Gery dan berbisik akan sesuatu.
Di dalam toilet, Dinda yang merapikan lipstiknya dan Marcella di sampingnya.
"Apa tidak lelah bersandiwara di depan keluarga kamu?" Pancingan yang begitu manis.
"Aku tidak bersandiwara. Kita akan lihat, apa yang akan terjadi."
"Kamu berani?"
"Marcella, kamu memang bermain manis. Tapi, aku Dinda. Tidak akan seperti kamu." Lalu Dinda pergi.
Marcella bersedekap dan berkata "Dinda, Dinda, kamu harus melepaskan Gery."
Begitu keluar dari toilet itu, Dinda tidak sadar kalau sudah ada yang telah memperhatikannya.
Paras Dinda yang begitu menawan, cara berjalannya juga terlihat tegas dan tidak akan menunduk lagi dihadapan Gery.
Setelah tiba di meja makan, Dinda tampak tersenyum manis, lalu berkata "Gery, ini cicin pertunangan kita. Aku kembalikan sama kamu."
Gery berdiri dan menatapnya "Honey, apa maksud kamu?"
Semua keluarga tampak tercengang. Lalu, Mama Gery beranjak mendekati Dinda.
"Dinda, ada apa dengan kalian?"
"Maaf, Tante Laura." Lalu Dinda pergi meninggalkan restaurant itu.
Gery mulai mengerti apa yang terjadi saat ini, dan ini memang salahnya.
"Gery kenapa kamu diam saja? Ada apa dengan kalian berdua?" Mamanya Gery begitu tidak suka dengan kejadian ini.
Olivia mulai berdiri saat Marcella datang, lalu dia berkata "Tante Laura, kalau Tante mau tahu apa yang terjadi. Tanyakan saja sama dia." Olivia menunjuk Marcella yang masih berdiri.
Dion berdiri, dan berkata "Olivia, jaga sikap kamu!"
"Untuk apa harus jaga sikap? Apa Olivia harus berdiam saja, saat Kakak Olivia disakiti oleh mereka berdua." Olivia yang begitu marah.
"Kalian mau tahu apa yang telah terjadi?"
"Kak Gery, bicaralah! Atau bukti ini aku tampilkan dihadapan semua orang yang ada disini." Suara Olivia begitu kencang sampai tamu lain menatap dirinya.
Marcella cukup bergetar, walaupun ini tujuannya. Ternyata Olivia begitu berani. Bahkan di depan umum. "Gadis sialan!"
Olivia melempar beberapa foto, dan berkata "Ada bukti videonya. Apa kalian juga mau menontonnya?"
"Mereka sangat menjijikan!!" Ucapan Olivia begitu kesal.
"Olivia hentikan!" Tegur Dion, lalu mengambil fotonya.
"Papa masih akan diam??!"
"Owh, apa karena Monica?"
Dion jadi gemetar akan gambar itu, dan Monica menatap Marcella dengan tajam. Kedua orang tua Gery tampak malu dan Mamanya mulai menangis.
"Kak Dinda sudah membatalkan dokumen pernikahannya." Olivia yang masih emosional.
Olivia mengambil tasnya, lalu berkata "Silakan lanjutkan makan malam kalian."
"Marcella, jangan anggap ini sudah berakhir." Olivia lalu pergi dan mulai merasa lega.
__ADS_1