COUPLE UNIK

COUPLE UNIK
Sedikit Berbuat Nakal


__ADS_3

Siang hari yang tadinya cetar membahana, tidak disangka ternyata hujan datang dengan derasnya.


"Baju aku." Olivia yang tadi tidur siang, dia masih teringat kalau masih menjemur baju.


Seketika Olivia bangkit dari ranjang dan berlari ke lantai bawah, untuk mengambil baju yang masih di jemuran. Belakang dapur ada tempat laundry terbuka, jadi tetap basah kalau hujan tiba, apalagi hujannya begitu deras.


"Ini baju kamu." Ucap Zenno dan Olivia langsung menyambarnya, karena dia tetap malu karena ada pakaian dalam berwarna merah muda.


Olivia cemberut dan dia merasa ada yang salah, lalu Zenno tersenyum dan berkata "Aku tidak menyentuhnya, hanger yang aku pegang."


Olivia tetap berlari ke kamar, dan perasaannya menjadi tidak karuan.


Ekspresi wajah yang merengek dan berkata "Kenapa dia pegang pakaian dalamku? Aku masih ini gadis dan aku masih ting-ting."


Rengekan itu begitu manis dan Zenno memang sengaja untuk ke kamar Olivia, saat tiba di kamar Olivia. Zenno begitu ingin tertawa, tapi dia masih bisa menahannya.


"Sumpah, aku nggak nyentuh itu."


"Ngapain kesini?"


"Ini, info soal Marcella. Semuanya, dan nanti kamu akan bertemu dia."


"Nanti?"


Zenno mengangguk, lalu berkata "Nanti malam di pesta penyambutan. Dia juga datang ke hotel dan jadi MC."


"MC pesta penyambutan?"


"Iya, dia pembawa acaranya."


"Tapi itu acara kampus, mana bisa aku ngerjain dia."


"Ngerjain?"


Olivia berjalan mendekati Zenno dan mengambil data Marcella dari tangan Zenno, lalu dia berkata "Aku ingin membuat perhitungan sama dia." Tatapan mata nakal dan senyuman Olivia begitu menakutkan.


Zenno berkata "Buat apa ngerjain orang, nggak baik."


"Kamu nggak akan tahu rasanya, kalau cinta kamu direbut orang lain."


"Apa dia merebut cinta dari kamu?"


"Bukan aku, tapi Kak Dinda." Jawabnya dan Zenno mulai mengerti alasan Olivia menginginkan informasi tentang Marcella dan mungkin karena masalah ini, calon Kakak iparnya jadi jatuh sakit.


"Apa yang akan kamu perbuat?" Zenno khawatir kalau Olivia akan berbuat ulah dan menimbulkan masalah.


"Kamu tenang saja, aku tidak akan berlaku kejam. Ya, hanya sedikit ulah yang akan aku buat."


"Olivia..."


"Zenno, aku bukan orang jahat. Kamu nanti temani aku ke butik ya."


"Untuk apa?"


"Nyari gaun buat ke pesta."


Zenno hanya menggangguk dan pergi meninggalkan Olivia.


"Marcella, kamu duluan yang membuat aku berlaku buruk padamu." Olivia yang kesal dan meremas kertas yang berisi info soal Marcella.


Sudah pukul 4 sore, dan hujan sudah reda. Olivia sudah mulai bersiap untuk pergi ke butik sebelum acara nanti malam. Dia harus tampil menawan, bukan hanya itu, ia harus mulai membereskan wanita itu.


"Zenno ayo buruan." Olivia yang sangat tidak sabar dan segera ingin pergi ke butik.


"Iya iya... Ini juga baru jam 4. Acara masih jam 7, buat apa buru-buru."


"Aku perempuan, aku juga harus ke salon. Kalau terlalu sore nanti macet, aku nggak mau terlambat."


Zenno hanya diam dan mulai keluar dari kamarnya, tidak lupa dia memakai jaket.


"Kamu nanti akan begini?"


"Memangnya kenapa?"


"Kamu tidak ke pesta?"

__ADS_1


"Udah, nanti aku jadi sopir kamu aja. Aku malas ke pesta."


Olivia tidak peduli soal Zenno, yang jelas dia ingin segera bertemu Marcella.


Marcella juga seperti Monica, dia juga model iklan dan ada beberapa kontrak dengan brand ternama.


Cukup memakan waktu yang lama dalam perjalan, menuju ke butik terkenal.


Olivia begitu tidak sabaran, dia turun dari mobil dan berjalan sendiri. Zenno tidak habis pikir tentang dia, apa yang Olivia inginkan, apa hanya karena sebuah gaun. Dia jadi buru-buru seperti itu.


"Dasar, Tuan putri." Zenno mulai ikut masuk ke dalam butik.


Eliza Butik, yang begitu terkenal di kalangan super model. Dari desain, dan jahitannya begitu khas. Gaya dan pilihan selalu update setiap waktunya, tidak salah bila Marcella juga suka berkunjung ke butik ini.


Tidak berselang lama, hal yang di tunggu akhirnya tiba. Olivia memang sengaja memilih dan mencoba gaun pesanan Marcella.


"Mbak, kemana gaun pilihan saya?"


"Maaf Nona Marcella, gaunnya sudah dibeli pelanggan lain."


"Apa maksudnya? Saya sudah pilih duluan. Bahkan sudah dari kemarin."


"Tapi pelanggan baru ini langsung membayarnya, dan sekarang sudah di coba."


"Mana Owner kalian? Saya mau bicara."


"Madam Eliza tidak ada di tempat, tadi beliau sendiri yang memberikan gaun itu kepada pelanggan baru."


"Siapa dia? Berani-beraninya mengambil gaunku." Batinnya yang mulai kesal dan tampak kecewa. Padahal ini untuk acara penting dirinya, setelah sekian lama tidak mendapat job. Akhirnya, ada yang menginginkan dia menjadi MC sebuah acara pesta.


"Sialan, nggak bisa di hubungi." Keluhnya, saat dia mencoba untuk menghubungi pemilik butik langganannya itu.


Siapa yang akan menolak Olivia, bila dia sudah berakting, dan ternyata Madam Eliza juga mengenal Mamanya Olivia. Jadi, air mata pencitraan Olivia kali ini berhasil dan tanpa halangan.


Zenno yang membaca sebuah majalah dan menunggu Olivia yang mencoba gaun itu, sudah mulai melihat kekesalan Marcella.


"Jadi ini rencana Olivia?" Ada sedikit rasa yang unik dalam hati Zenno. Zenno masih memakai kacamata warnanya, dan Marcella tidak tahu menahu soal gaun itu.


Ada juga beberapa pelanggan di tempat itu, ada yang keluar dari ruang ganti seketika Marcella menoleh ke arah itu, ternyata bukan gaunnya.



"Anaknya Kak Dion." Batinnya semakin hareudang dan tak tahan, tapi dia hanya bisa mematung dengan amarahnya.


Zenno mulai membuka kacamatanya, dan dengan segera dia menghampiri Olivia "Emms lumayan."


Marcella menoleh ke pelayan dan bertanya "Dia yang membeli gaun saya?"


"Iya Nona Marcella, Nona itu pelanggan barunya." Marcella semakin kesal dan dia menghubungi Gery.


Olivia memasang wajah manisnya dan Zenno berkata "Emms, kenapa pilih gaun ini? Kamu nggak cocok warna merah. Ini terlalu tua."


"Benar kah? Padahal ini bagus."


Suara itu begitu kencang, agar Marcella mendengar obrolan mereka. "Sekarang kamu coba gaun pilihanku."


"Tapi aku sudah membayarnya."


"Itu sudah jadi pilihan orang, tidak baik merampasnya. Lagian, ini bukan style kamu." Marcella hanya mendengarkan perkataan itu.


"Iya, kamu benar. Aku juga tidak suka. Model ini terlalu tua buat aku."


Olivia kembali masuk ke ruang ganti dan Marcella semakin menjadi, saat Gery tidak bisa dia hubungi.


"Apa perkataan mereka barusan? Hah, terlalu tua?" Batin Marcella yang tidak senang.


Marcella masih saja berdiri di tempat itu, dan Olivia keluar dari ruang ganti.


"Gimana kalau yang ini?" Tanya Olivia kepada Zenno.


"Pilihanku sesuai." Jawabnya.


Olivia mendekat dan memberikan gaun itu kepada pelayan, di depan Marcella.


"Mbak, yang ini bisa di jual saja."

__ADS_1


"Baik Nona."


Tapi tatapan mata tajam itu tertuju pada Marcella, dengan sangat menggoda Olivia membuat Marcella begitu kesal.


"Nona Marcella jadi mau yang ini, saya akan berikan diskon."


"Tidak perlu." Jawabnya dan pergi mencari gaun yang lain. Dia berencana untuk mencari gaun yang lebih keren dan lebih mahal. Olivia hanya tersenyum manis kepadanya.


Zenno hanya menggeleng melihat sikap Olivia terhadap Marcella, lalu Olivia akan berganti baju dan meminta pelayan untuk mengganti gaun pilihannya.


Selang beberapa waktu, dan Olivia sudah berada di ruang tunggu.


"Terima kasih mbak." Ucapnya, lalu melihat ke arah Marcella yang sudah berganti gaun dan tampak sexy.


"Dia mau ngisi acara apa mau kencan?" Batin Olivia, tapi dia enggan melihat ke arah Marcella.


Zenno yang tadi kembali duduk di sofa, lalu menghampiri Olivia. "Gimana, sudah selesai."


"Belum, gaunnya baru di bungkus."


Akhirnya mereka bertemu di ruang tunggu. Marcella memilih gaun hitam dan Olivia tidak berniat menyapa dia, tapi Marcella berusaha mendekat.


"Putri Direktur Dion, apa kabar?"


"Emh, Zen-zen. Tolong ambilkan gaunnya."


"Oke." Zenno juga tidak berniat ikut campur, dan dia memilih pergi.


Olivia mendekat dan berkata "Kabar baik. Bagaimana dengan anda?"


"Saya baik."


Tiba-tiba, Marcella mendapat sebuah telfon. Sepertinya dari panitia acara pesta kampus itu.


"Baik, tidak masalah." Jawabnya saat di telfon.


Olivia malas menatap dirinya dan pelayan datang memberikan gaun Marcella.


"Ini gaunnya, Nona Marcella."


"Mbak, saya mau batalkan saja."


"Tapi ini sudah anda bayar gaunnya, kami tidak menerima return."


"Terus tadi dia?" Marcella seolah menunjuk ke Olivia, yang mengganti gaunnya.


"Kalau Nona Olivia, memang sudah membayarnya lebih dulu. Jadi kami tidak rugi."


Zenno masuk ke ruangan itu dan meraih tangan Olivia "Olivia, ayo kita pergi."


"Oke, Zen-zen." Balasnya dan senyuman manis Olivia begitu menggoda. Marcella semakin kesal, pertama karena gaun, kedua jobnya ternyata dibatalkan.


Olivia melepas tangan Zenno dan berkata "Zen-zen tas aku ketinggalan, kamu ke mobil duluan."


Zenno paham dan ternyata Olivia belum selesai membuat kegaduhan, lalu Olivia yang lewat berkata sendiri "Duh, aku pelupa amat ya. Tas sampai ketinggalan."


Marcella masih mencoba menghubungi owner butik itu dan Olivia melewatinya "Ternyata cuma jadi cadangan." Suara itu begitu lembut dan Marcella tetap saja bisa mendengarnya.


"Anak itu, sialan. Gara-gara dia aku jadi kesal." Batinnya yang penuh emosi. Marcella mengambil kaca di dalam tasnya dan melihat apakah ada kerutan di wajah cantiknya, karena seharian sudah kesal. Gery susah dihubungi dan semua gagal dalam sekejab saja.


Tak lama dalam perjalan, Olivia merasa senang. Zenno bisa melihat dari cara Olivia tertawa.


"Kamu apain dia?"


"Aku cuma batalkan job dia."


"Gimana caranya?"


"Ada deh. Kamu nggak perlu tahu."


Zenno cuma menggeleng, saat melihat kenakalan Olivia.


"Jangan mutusin rezeki orang."


"Aku nggak begitu, emang dia cuma cadangan. MC awal kan memang bukan dia. Aku juga ingin, melihat MC berkelas seperti si cantik Gabrielle Guan."

__ADS_1


"Ya ya ya, terserah kamu."


__ADS_2