
Sudah sore, setelah bangun melihat ke layar ponselnya. Ada dua pesan, dan mulai membaca pesan itu.
Pertama sebuah pesan dari temannya Bella, yang masih saja memohon kepadanya dan dia mengirim foto kedua orang tuanya, membuat Olivia semakin tidak berdaya. Melihat raut wajah itu, dan sepertinya dia mendekati Bella, agar dia bisa dipandang sebagai gadis berkelas. Walaupun terkadang, hanya dianggap pesuruh oleh Bella.
"Bagaimana aku membantu dia. Oma tidak bisa dibujuk."
Olivia membaca pesan berikutnya dan itu membuatnya tersenyum, ternyata pesan itu dari Zenno, yang ingin mengajak Olivia untuk makan malam di sebuah Hotel Berbintang.
Sepertinya malam ini Zenno ada waktu. Dia tidak ada pekerjaan. Padahal, biasanya setiap pulang kuliah, dia sibuk ke Hi Tech, atau ke base camp untuk berduel game CFF.
"Baiklah, aku akan makan malam dengan suamiku."
Melihat ke arah jam pada layar ponselnya, dan ini baru jam 5 sore, masih ada waktu untuk dirinya bersiap, sebelum Zenno datang menjemputnya.
Olivia membuka lemari pribadinya, dia mulai menyiapkan gaun dan tampak senyuman nakal.
"Emh, aku akan mandi dan bersiap."
Satu jam telah berlalu, Zenno yang sudah tiba di rumah. Dari tadi sudah menunggu Olivia. Zenno tampak mengobrol di ruang santai bersama Deffo, Mama Virda dan Vicco.
"Jadi, Olivia yang membongkar foto itu?"
"Untung saja Adik iparku begitu teliti." Jawabnya dan sang Papa datang ke ruangan itu.
"Hemms, Papa hanya iseng."
"Kayak begitu iseng, Deffo udah lemes." Lalu mulai meneguk minuman kaleng yang ada di tangan kirinya.
Mama yang tadinya hanya diam, dan cukup mendengarkan obrolan Zenno dengan Deffo. Vicco juga hanya bermain game dalam ponselnya.
Mama Virda lalu mengganti chanel tayangan televisi. Ada drama favoritenya, sebuah adegan romantis pria sedang melamar wanita.
"Seandainya putra Mama hidupnya normal. Pasti juga akan seperti itu."
Deffo menggeleng dan Zenno berkata "Hidup Zenno normal. Buktinya, Zenno sudah menikah." Lalu Deffo melirik Zenno dengan sadis. Zenno tersenyum nakal.
Memiliki tiga putra membuat Mama Virda merasa cepat tua, lalu dia berkata "Mungkin ini sudah jadi takdirnya Mama."
"Bukan hanya Mama, tapi Papa juga. Sudah banyak yang menanyakan soal resepsi dan ada juga yang bertanya tentang cucu." Sahut Papa Benny.
Deffo berkata "Zenno sudah menikah, jadi dia bisa bikin cucu buat Papa tersayang."
"Apa? Gue? Gue masih kuliah. Menikah juga karena Mama yang ingin dipercepat." Semua menatap Zenno.
"Apa kamu juga akan menyalahkan Mama seperti Kakak kamu?" Mama dengan tatapan sendu.
Zenno memegang tangan sang Mama dan berkata "Bukan begitu maksudnya Zenno, Olivia masih terlalu belia. Dia baru mulai kuliah. Mana bisa Zenno begitu sama dia. Kalian mikirlah, gimana hidup Zenno selama di rumah sama dia."
Lalu semua kembali menatap ke layar televisi dan Vicco menjatuhkan ponselnya, lalu berkata "Wow, sexy."
Deffo menutup mata Vicco dengan tangannya dan Vicco menarik tangan Deffo, lalu berkata "Kakak menghalangi mataku."
Semua mata tertuju pada Olivia yang berdiri di depan mereka semua. Zenno buru-buru melepas jaketnya dan menutupi bagian atas tubuh Olivia yang begitu terlihat sexy.
"Baby, apa yang kamu pakai?" Bisik Zenno ke teling kirinya.
Olivia balas berbisik "Bee, aku cuma pakai gaun."
"Iya, kenapa pakai gaun yang begini? Kita cuma makan malam."
"Lalu aku harus pakai apa?"
"Ini terlalu sexy."
"Hah?..." Olivia merasa kesal, tapi tetap tersenyum dihadapan semua keluarganya. Zenno yang masih menutupi paras sexy itu, mengajak Olivia pergi dari ruangan itu.
__ADS_1
"Mama, sepertinya Zenno tidak seperti Papa dulu."
"Bukan begitu maksudnya Zenno, pasti dia menjaga Olivia agar tidak dilihat yang lainnya. Dia mulai cemburu."
"Bener juga pemikiran Mama. Sepertinya memang begitu."
Kedua orang tua yang berbisik dan Deffo berkata "Lihatlah menantu kalian, sepertinya sudah dewasa dan siap memberikan cucu."
Deffo hendak pergi dan Mama berkata "Bagaimana kabar Ardilla?"
Deffo tampak menghentikan langkahnya dan berkata "Sudah berakhir."
"Bukannya kamu mencintainya? Sampai tidak bisa melupakannya."
"Mama, biarkan ini menjadi urusan Deffo. Yang jelas, Deffo juga akan menikah. Deffo akan memilih sendiri pasangan Deffo. Mama tidak perlu memikirkan soal siapa pilihan Deffo."
Mama Virda dan Papa Benny hanya diam, kemudian Deffo pergi dari ruangan itu.
Mama Virda tersenyum dan Papa Benny memegang tangan Mama Virda, lalu berkata "Biarkan saja dia. Kita tidak usah ikut campur lagi."
"Papa benar, Mama juga sudah lega. Ternyata Deffo bisa menyukai perempuan."
Vicco lalu bertanya "Apa Vicco boleh pacaran?"
Kedua orang tua itu menoleh, Mama Virda gemas, lalu berkata "Boleh, ajak dia bermain ke rumah."
"Yes!" Vicco tampak bersemangat dan kembali ke kamarnya.
Yang di kamar atas, Zenno masih memilih gaun untuk Olivia.
"Yang ini saja."
"Ini sudah biasa aku pakai."
"Pakai ini, buruan aku tunggu."
"Apa yang salah dengan gaunku?"
Zenno mendekat lalu berbisik, "Gaun ini terlalu sexy, hanya aku yang boleh melihatnya."
Zenno lantas keluar dari kamar itu, dan Olivia mulai memegang gaun pilihan Zenno, lalu berkata "Aku kesal, tapi kamu bikin aku berdebar."
Olivia mulai mengganti gaunnya dan Zenno yang ada di balik pintu kamar berdebar kencang.
"Untung saja disini, kalau di rumah sana. Aku bisa hilang kendali. Apalagi kalau di Hotel, mata lelaki mana yang tidak normal, saat melihat Olivia memakai gaun itu." Zenno mencoba untuk tenang.
Zenno masih menunggu Olivia di depan kamar itu, dan dia sendiri yang akan memastikan sang istri berganti gaun.
Setelah Olivia keluar dan Zenno tampak memasang senyuman manis.
Zenno mendekat dan berkata "Nah, kalau ini aku suka. Tidak ada lelaki yang akan menatap kamu."
"Huft, menyebalkan." Balasnya dengan cemberut. Padahal dia menyiapkan itu untuk bermalam dengan suaminya, tapi suaminya begitu menjengkelkan.
"Baby, senyum."
Olivia lalu memasang senyuman tipis dan Zenno mulai menggandeng tangan kanan Olivia.
"Aku pakai gaun, kamu begini?" Tanya Olivia dan Zenno memastikan tampilan dirinya saat ini.
"Oke, 2 menit." Ucapnya dan masuk ke kamar mengambil stelan jasnya.
Olivia tersenyum manis dan ini akan membuat malamnya jadi berarti. Olivia tampak nakal dan mencoba masuk ke dalam kamar.
__ADS_1
"No!" Zenno mengunci pintu kamar itu.
Olivia berkata "Kenapa dia? Aku istrinya, aku cuma mau memastikan penampilannya saja."
Setelah itu mereka berangkat dan Zenno masih terus saja mengingat gaun sexy Olivia yang tadi.
"Bee, kamu kenapa?" Tanya Olivia dan menyentuh pelipis Zenno.
Zenno berkata "Baby, kalau pakai gaun sexy, jangan didepan orang lain. Aku nggak suka."
"Kamu nggak suka aku pakai gaun sexy?"
"Bukan begitu maksud aku. Aku suka, tapi nanti kalau kamu sudah dewasa dan itu cuma dihadapan suamimu." Zenno sambil mengelus rambut Olivia.
"Aku sudah menikah, berarti aku sudah dewasa."
"Baby, maksud aku...." Zenno begitu susah menjelaskan, kalau tadi hampir saja dia hilang kendali, karena istrinya begitu sexy.
"Apa? Padahal gaun itu rancangan khusus buat aku, tadi pertama kali memakainya."
"Baby, aku ngerti. Ya udah kamu pakai saja kalau di rumah ya."
"Emh, oke. Besok malam aku akan pakai di rumah."
"Ya jangan besok malam juga." Zenno menjadi semakin gelisah.
"Terus?"
Zenno berkata "Ya udah terserah kamu saja."
Zenno akan mengunci dirinya di kamar, kalau Olivia benar-benar memakai gaun merah itu.
Gaun itu, Olivia inginkan waktu di pesta pernikahan Gery dan Marcella, untung saja Olivia memilih tampil seperti CEO wanita, yang tampak berkuasa dan menawan.
Mereka tampak harmonis saat berjalan bersama dan kedua memancarkan aura bahagia.
Zenno begitu memperhatikan Olivia saat makan malam. Dia memang sosok pria manis dan pujaan gadis-gadis.
Olivia yang menyeka bibir merahnya, lalu meletakan serbet makannya, dan menatap Zenno "Bee..."
Zenno yang memegang fluteglass dan hendak minum, bertanya "Ada apa?"
Olivia masih memikirkan sesaat, lalu Zenno minum dan Olivia berkata "Gimana kalau kita berdua bermalam disini?"
Zenno tampak tersedak dan Olivia jadi terdiam. Olivia menatapnya, sambil memberikan serbet makan untuk Zenno.
Ekspresi polos Olivia dan Zenno tampak batuk-batuk. Zenno masih gelisah dengan gaun merah tadi, tapi sekarang mendengar ucapan Olivia, Zenno jadi semakin berdebar dan entah apa yang ada dalam benak Zenno.
Dia pria normal dan saat ini status yang mengikatnya menjadi seorang suami, walaupun masih berusia muda, dia juga punya perasaan dan mungkin susah untuk dikendalikan.
"Baby,... Apa mau kamu?"
"Emh, hanya ingin bermalam disini."
Olivia tampak santai, dan Zenno kembali bertanya "Hanya bermalam?"
"Benar, kita suami istri. Tidak ada salahnya kita menginap di kamar hotel."
Zenno tampak melonggarkan kerah kemejanya dan berkata "Iya, kita suami istri."
Tampaknya, aura panas sudah mulai menerjang Zenno. Olivia mulai tersenyum dan mengangkat gelasnya, meminum dengan begitu elegan, lehernya tampak menggoda dan Zenno kembali gelisah.
"Apa yang akan terjadi nanti?" Batin Zenno begitu gelisah.
__ADS_1