
Hari hari berlalu begitu cepat, dan ini sudah tahun ke-4, setelah Olivia pergi meninggalkan Zenno.
Rintik hujan menyambutnya dan Olivia tersenyum saat dia mulai merasakan air hujan kota Jakarta.
Telapak tangan kirinya, dia tadahkan dan tersenyum manis "Aku kembali."
Senyuman yang begitu merekah dan dia ingin segera pulang. Tapi, dia kembali mengingat akan sesuatu. Pasti ini akan sulit dipercaya dan bagaimana kalau Zenno ternyata tidak menunggunya dan tidak memaafkannya, karena selama Olivia tinggal di luar negeri. Dia memutuskan hubungan dengan siapapun. Bahkan dengan suaminya sendiri.
"Zenno pasti marah." Batinnya dan raut wajahnya berubah muram.
Pengawal sudah tiba dan menjemput Olivia. Melangkah dengan tatapan percaya diri, Olivia semakin menawan dan terlebih, dia sudah terlihat dewasa. Dengan highheels merah yang akan menemani langkah kakinya.
Sudah siang, dan dia memilih untuk menginap di Hotel. Sebelum nantinya, dia bertemu keluarganya.
Olivia tampak membaca sebuah majalah bisnis. Ada sosok tampan dan membuatnya jadi gemas.
"Emh, kamu sudah menjadi CEO." Olivia yang tersenyum melihat berita itu.
Zenno sebagai CEO, di perusahaan yang dia dirikan satu tahun yang lalu bersama Tim FGFC. Perusahaan aplikasi dengan nama FT Global, kemarin telah mendapatkan penghargaan pilar emas bisnis. Suatu kehormatan untuk dirinya, dan di usia muda dia sudah mencapai tujuannya.
"Kamu memang serba bisa." Ucap Olivia dan merasa bangga.
Di perusahaan FT Global, begitu sibuk dengan perkerjaan, bahkan banyak sekali telefon dari beberapa wartawan bisnis, ingin membuat wawancara khusus dengan CEO muda itu.
"Kalian berempat saja yang tampil." Ucap Zenno yang begitu malas dan malah bermain game.
"Kita mencapai kesuksesan kita. Tidak ada salahnya, kita tampil di tabloid dan televisi." Vino yang berusaha membujuk Zenno.
"Tidak bisa. Kemarin saja, sudah cukup mendapat penghargaan, wajahku sudah populer. Bagaimana kalau sampai di televisi. Pasti istriku tidak mau kembali lagi."
"Nah, makanya itu. Mumpung Olivia masih di ujung jauh. Kita bisa tampil di televisi." Sambung Joy.
Zenno berdiri "Tetap saja, dia pasti tahu apa saja yang gue lakuin." Zenno lalu menyambar jaketnya dan pergi.
Semua temannya sudah memakai jas dan dia selalu begitu, tidak ada tampilan yang menarik.
Padahal CEO, hanya memakai kaos dan jaket. Cukup kemarin saja, saat menerima penghargaan, Zenno datang dan tampil menawan memakai setelan jas warna hitam.
Semua temannya mengikuti dia dan asisten Vasya menghadang Zenno.
"Mau pergi lagi?" Tangan Vasya telah menghalangi Zenno.
"Emh, hanya ke Mall City."
"Setujui dulu, untuk wawancara nanti."
Zenno menggeleng dan semua temannya menatapnya.
"Baik, gue disini memang asisten loe, Zenno. Tapi di rumah Mama, gue yang berkuasa."
Vasya menjadi istrinya Deffo karena suatu hal terjadi, dan itu sudah satu tahun yang lalu. Vasya yang begitu berbeda dengan gadis lainnya, akhirnya Deffo bisa membuka hati dan perasaannya.
"Gue tidak tinggal disana, gue nggak takut sama loe." Zenno mendorong tangan Vasya.
Vasya kesal dan Zenno membalikan badannya, lalu berkata "Bye bye Kakak iparku yang super bawel."
Zenno merasa kalau kedua Kakak iparnya begitu bawel. Bukan hanya Vasya, tetapi Dinda yang sering mengingatkan agar Zenno tidak berbuat aneh-aneh, selama Olivia di luar negeri.
"Huft, untung saja istri gue nggak bawel" Gumamnya dan mulai ingat, "Tapi kapan dia kembali? Olivia, aku kangen kamu."
Gayanya memang tidak berubah, Zenno tetaplah Zenno dan dia merasa kalau masih bebas saat ini. Tidak ada yang akan melarang dia untuk bersenang-senang.
Di Mall City, tempat dimana Zenno dan Olivia suka bermain di arena game.
Zenno yang asyik bermain sendiri dan Tim FGFC melakukan siaran langsung dalam sebuah media. Vasya sudah menghubungi Zenno, tapi dia tidak menghiraukannya.
Zenno yang ada di atas motor game, begitu asyik bermain, layaknya anak kecil yang tidak ingin diganggu.
"Daddy...." Suara anak kecil dan menarik celana jeans yang Zenno kenakan.
"Daddy..." Bocah kecil itu kembali memanggil Zenno.
Zenno yang tampak asyik, dan perlahan dia melihat ke arah bawah. Ternyata ada bocah laki-laki berusia sekitar 3 tahun dengan tatapan yang tampak menggemaskan.
"Anak kecil, kamu mau naik ini?"
"Daddy.." Ucapnya sekali lagi.
"Daddy?? Papa?" Zenno yang bingung dan mulai mendekati bocah kecil itu.
"Daddy..." Ucapnya dengan gemas memegang kedua pipi Zenno.
Tidak lama dua pengawal datang dan berkata "Tuan muda..."
"Maaf Mr." Ucap pengawal itu kepada Zenno.
Zenno berkata "Jangan biarkan anak kecil main sendirian."
"Tuan Muda, ayo kita pulang."
Bocah kecil itu menggeleng dan menunjuk Zenno, lalu berkata "Daddy."
Pengawal itu tersenyum dan berkata "Tuan Muda, Mommy sudah datang, Tuan Muda pasti rindu Mommy."
"Mommy?"
Kedua pengawal tampan, telah mengajak bocah itu pergi. Zenno mulai merasa aneh.
Bocah kecil yang begitu menggemaskan, saat dibawa kedua pengawal itu, dia masih saja menatap ke arah Zenno dan melambaikan tangan kanannya.
Olivia yang tersenyum dan menjemput putranya di lobby Mall City.
"Shaun.." Olivia yang membuka kedua tangannya, dan bocah kecil itu mulai berlari ke arahnya.
"Mommy." Suara itu sangat menggemaskan dan memeluknya.
Mereka berdua berpisah selama satu bulan, Shaun yang lebih dulu datang ke Jakarta, bersama Bibi Jum dan juga kedua pengawalnya.
Shaun Brata Perwira, anak kecil yang lahir di Amerika. Dia adalah anak Olivia dan Zenno.
Setelah bermalam di Hotel berbintang itu, Olivia yang baru beberapa hari tiba di Amerika, dia dinyatakan positif hamil.
Saat ini, Shaun tinggal di apartemen bersama Bibi Jum. Yang tidak jauh dari Mall City. Semua keluarganya, tidak ada yang tahu. Hanya, Oma Sellia yang tahu hal itu, tapi Oma juga belum bertemu Shaun, padahal sudah sebulan di Jakarta.
"Mommy.." Shaun menunjuk ke lantai atas "Daddy..."
"Daddy?" Olivia menatap Shaun, lalu melihat ke lantai atas.
"Shaun, bertemu Daddy." Logat bicara anak kecil ini begitu menggemaskan.
"Daddy ada disini?"
Shaun mengangguk dan Olivia tersenyum. Zenno yang berada di eskalator dan matanya mulai tertuju pada lobby, tapi begitu jauh pandangannya.
"Olivia???" Zenno yang begitu terkejut.
"Shaun, mau ke taman?"
__ADS_1
Shaun memeluk Olivia dan ingin meminta gendong "Mau... permen."
Olivia tersenyum "Baiklah, ayo kita beli permen."
Olivia menggendong Shaun dan mengajaknya keluar dari Mall City bersama kedua pengawal itu.
Zenno yang berlari dan setelah sampai di lobby, Olivia sudah tidak ada di tempat itu.
"Siapa anak kecil yang bersama Olivia?"
Zenno mengingat kalau bocah kecil tadi bersama dua pengawal.
"Tuan Muda?" Zenno mengingat kalau pengawal tadi memanggilnya Tuan Muda.
"Daddy?" Zenno masih berfikir. "Nggak mungkin."
Zenno mengambil ponselnya dan dia mencoba untuk bertanya kepada Pak Roni. Hanya Pak Roni yang sering dihubungi oleh Zenno.
Setelah itu, "Pak Roni tidak tahu apa-apa."
Zenno lalu ke tempat parkiran mobil, akan segera pergi ke rumah Mama Virda untuk memastikan kalau Olivia sudah kembali.
"Shaun, kamu senang tinggal disini?"
Shaun yang berada di atas pangkuan Olivia hanya menggeleng.
"Kenapa?"
"Daddy..."
"Daddy?"
"Daddy bermain, Shaun tidak diajak." Ucapnya dengan suara yang gemas. Walaupun belum begitu jelas saat dia membuat kalimat ungkapan, tapi Olivia mengerti bahasa putranya.
"Shaun kecewa dengan Daddy?"
Shaun asyik mengunyah permen dan turun dari pangkuan Olivia.
"Dia memang seperti Zenno." Ucap Olivia yang gemas, lalu memotret putranya itu dengan ponselnya.
"Olivia..." Dari kejauhan Zenno melihat Olivia yang duduk di kursi taman. Tapi dia susah menghentikan mobilnya, karena memang di larang parkir di pintu keluar Mall City.
"Shaun, mau bermain sama Daddy?"
Tampak menggeleng imut.
"Masih marah?"
Shaun menggangguk.
Olivia mengandengnya dan berjalan pergi "Ayo kita pergi, itu mobilnya sudah datang."
Olivia berjalan ke arah pintu keluar taman itu dan Zenno juga berusaha untuk memarkirkan mobilnya disitu.
Tapi, Olivia sudah berada dalam mobil sedan BMW hitam dan Zenno mulai mengikutinya.
"Olivia, kamu sudah kembali. Tapi tidak mau menemui aku. Baiklah, kalau itu yang kamu mau." Zenno dengan cepat tancap gas untuk mengikuti mobil Olivia.
Olivia yang tiba di lobby apartemen tempat Shaun tinggal saat ini dan Zenno melihatnya.
"Kamu tinggal disini, dan aku nggak tahu."
Zenno berusaha untuk memarkirkan mobilnya, dengan cepat masuk ke lobby dan dia bertanya pada resepsionis lobby apartemen itu, tapi tidak ada pemilik atau penyewa apartemen atas nama Olivia Sada Amarta. Zenno menjelaskan tadi wanita yang bersama anak kecil. Tapi mereka tidak bisa memberikan informasi apapun.
Zenno masih berada di lobby apartemen itu dan dia merasa begitu sulit untuk bertemu Olivia. Lalu dia kembali ke FT Global.
Semua temannya tampak bahagia di ruangan khusus dan Zenno yang datang tampak terdiam.
Vasya bertanya "Kita berhasil diliput media ternama, tapi loe pasang wajah begitu?"
"Dia kembali."
Semua masih belum mengerti, Loudy bertanya "Dia?"
Zenno dengan wajah kecewa berkata "Olivia sudah kembali."
Semua tampak tersenyum, lalu Vino berkata "Selamat Master. Akhirnya sang istri pulang."
Bukan hanya Vino, yang lainnya juga memberikan ucapan selamat.
Vasya bertanya "Bini loe datang, tapi kenapa muka loe begitu?"
"Entahlah, dia sudah berbeda. Bahkan tinggal di apartemen dan gue nggak tahu apapun."
"Ya udah, tinggal samperin kesana. Apa susahnya." Ujar Joy.
"Gue udah kesana. Tapi, mereka bilang. Nggak ada yang namanya Olivia yang tinggal di apartemen itu."
"Daddy?" Batin Zenno yang masih memikirkan perkataan bocah kecil tadi.
Tidak lama ada panggilan dengan nomor baru, Zenno masih enggan mengangkatnya dan Vasya yang menerima itu.
"Olivia?"
"Iya, Kakak iparku."
"Loe tahu gue?"
"Tahulah, gue tahu semua tentang kalian. Selamat ya, nanti kadonya nyusul."
"Zenno, ada." Vasya yang melirik ke Zenno.
Zenno masih kesal dan tampak cuek.
"Owh, oke. Nanti gue kasih tahu ke dia." Vasya menggeleng saja.
"Emh, anaknya juga begitu. Lagi ngambek, sama seperti Daddnya." Ucap Olivia.
"Anak? Apa?" Vasya menatap ke Zenno dan bertanya "Zenno loe punya anak?"
Semua temannya kaget dan menatap Zenno.
"Oke Olivia, nanti biar Zenno kesana."
Vasya berkacak pinggang dan menatap Zenno dengan tajam "Loe bikin anak, setelah itu loe nggak ingat??"
Zenno balik bertanya "Apa kata Olivia?"
"Ngajak ketemuan. Katanya anaknya ngambek. Gara-garanya bokapnya asyik mainan sendiri dan anaknya nggak diajak."
Zenno berkata "Jadi tadi, anak gue?"
"Olivia, nungguin loe di Hotel Berbintang. Tempat loe bikin anak."
Zenno langsung mengambil ponselnya yang di atas meja dan segera pergi.
__ADS_1
Vasya menggeleng dan semua temannya menatap Vasya.
"Nggak usah kalian tanya gue. Kalian tanya saja sama Zenno." Vasya lalu pergi dan penampilannya sudah berubah.
Vasya yang sudah menikah memang berbeda dari semasa dia berkuliah.
Zenno yang cepat melajukan mobilnya dan begitu sampai di Hotel Berbintang itu.
Olivia membuka pintu kamar itu "Kamu datang."
Zenno langsung memeluknya dengan perasaan rindu menggebu.
"Olivia.." Lirihnya.
"Masuklah dulu, nggak enak kalau ada yang lihat."
Zenno masuk ke ruang kamar itu, dan Olivia menjelaskan semuanya.
"Kamu masih mau marah?"
"Dimana putra kita?"
"Di Apartemen Golden Vega."
"Tadi aku sudah kesana, tapi tidak ada yang kenal nama Olivia."
"Hems, apartemennya atas nama Shaun sendiri."
"Shaun?"
"Iya, anugrah terindah."
"Shaun Brata Perwira?"
"Benar, dia juga sensitif seperti kamu."
Zenno tersenyum dan bertanya "Apa kamu sulit saat hamil Shaun?"
"Tidak, hanya saja aku semakin gemuk. Karena saat hamil, aku lebih doyan makan."
"Kenapa tidak ada kabar apapun?"
"Emh, aku tidak ingin menganggu kamu."
Olivia mendekati suami yang masih duduk di sofa dan mulai memeluknya. Mencium pipinya dengan gemas.
"Aku rindu kamu." Olivia yang meneteskan air matanya.
"Bahkan aku lebih merindukan kamu." Zenno mencium bibir Olivia dengan liarnya dan membuatnya semakin tenggelam dalam pengobatan rindu ini.
Keduanya saling melepas rindu, cinta yang terpisah dan akhirnya kembali.
"Baby, aku mencintaimu."
"Bee.." Olivia kembali merasakan ciuman panas itu dan keduanya dalam romansa pertemuan cinta.
Setelah itu dan seterusnya.
Sang istri lebih mendominasi dalam kehidupan Zenno. Setelah kembalinya sang istri dan sekarang Zenno hanya sibuk bermain bersama putra tampannya.
"Daddy... Ayo cepat bangun."
"Daddy masih mengantuk."
"Daddy... Bangun."
Zenno tidak terbangun dan Shaun menghubungi Mommy.
"Mommy, Daddy tidak bangun."
"Biarkan Daddy tidur dulu sayang." Olivia yang sibuk di MC Global, karena dia sekarang adalah pemimpin MC Global. Setelah Papanya sakit dan Olivia yang meneruskan kerja keras orang tuanya.
Zenno juga semalam lembur di kantornya dan itu membuatnya lelah.
"Mommy..."
"Iya sayang. Nanti Mommy akan pulang."
Mendengar obrolan itu, Zenno terbangun dan meraih putranya untuk duduk diatas perutnya "Shaun, Daddy mau mandi. Terus, kita pergi."
Zenno mengajak anaknya ke kantornya dan ini untuk pertama kalinya, Zenno mengajak dan mengenalkan putranya.
"Shaun, boleh bermain disini?"
"Iya, dengan Om-om yang ada disini."
Shaun berdiri di atas kursi dan berkata "Om Loudy, gendong Shaun."
"Om Joy, pegang pedang ini."
"Kalian harus jadi pasukan Shaun." Suara yang menggemaskan.
Vasya menggeleng, tapi dia tidak keberatan akan hal itu. Semua tampak bermain dengan Tuan Muda Shaun. Meski sudah bersama Daddynya, Shaun tetap dalam pengawalan.
Zenno merasa bahagia melihat putranya begitu mirip dengannya.
"Vasya, gue mau kencan. Titip Shaun sebentar."
"Oke."
Pertemuan ini tidak singkat, cinta ini butuh waktu untuk mengukirnya, dan kebahagiaan ini juga butuh proses.
Walaupun sudah punya buntut, tapi mereka masih sangat muda. Harus ada waktu khusus untuk mereka merajut kasih.
"Baby, aku mencintaimu."
"Bee, aku juga mencintaimu."
TAMAT
Terima kasih para pembaca semuanya 🙏 ini hanya sekedar cerita romantis.
*Kisah Dinda dan Erick, hampir sama seperti Olivia dan Zenno, tapi mereka disibukan oleh bayi mungil yang baru berusia 1 tahun, Dinda sudah melahirkan dua putra tampan. Anak pertama seusia Shaun, namaya Ellarick, dan adek bayi namanya Edward. Itu juga karena Chilla suka nama itu.
*Gery dan Marcella akhirnya hanya menikah seumur jagung, mereka bercerai setelah Marcella mengalami keguguran, dan keluarga Gery memisahkan mereka. Marcella akhirnya kembali ke kota masa kecilnya dan membuka cafe dan akhirnya bertemu dengan seorang duda tanpa anak, dan akhirnya dia bisa bahagia. Sedangkan Gery, belum menikah lagi.
*Monica merawat Dion, yang beberapa bulan lalu mengalami sakit. Dia akhirnya sadar, dia benar-benar mencintai Dion dan bukan hanya karena harta dan tahta Dion semata. Dion melangami stroke dan akhirnya hidup dengan kursi roda. Dari sinilah, Olivia akhirnya kembali dan melanjutkan bisnis sang Papa.
Ini hanya sebuah cerita, ada sisi positif dan negatifnya, tidak ada yang istimewa. Mungkin ini akan jadi tulisan akhir dari author Vie-GV.
Terima kasih para pembaca setia 🤗😘
__ADS_1