
Pagi dengan segala kepenatan dalam pikirannya. Membawanya untuk selalu mengangkat kedua bahunya. Tidak ada kata terlambat, untuk mengubah nasib hidupnya.
Meraih lipstik warna merah muda, dan memakainya secepat mungkin.
Menaiki bus dan berdiri diantara penumpang lainnya. Bus kota yang melaju dengan lambannya.
Melihat ke jam tangan yang ada di tangan kirinya. "Aku sudah terlambat."
"Huf!" Desahnya lembut dan menatap ke arah jalanan kota yang sangat ramai.
Kemacetan pagi ini, membuat dirinya terlambat menuju tempat ia bekerja.
Wajah lesu dan mencoba untuk santai. Mengingat akan apa yang terjadi nanti. Bagaimana bisa, dirinya harus berpura tidak menaruh hati pada Edo. Seniornya selama di kampus dan saat ini sudah menjalin hubungan dengan rekan kerjanya.
"Edo, memang keren." Batinnya yang masih saja membanggakan sosok Edo.
Edo yang juga mengenal dekat Manda selama di kampusnya dulu. Semalam itu, Edo bahkan tidak mengenali sosok Manda.
"Aku memang bukan siapa-siapa. Tapi kenapa hatiku sangat sakit." Keluhnya dalam hati, dan seolah tidak menerima kenyataan ini.
Bus kota itu kembali melaju, setelah terhimpit dalam kemacetan yang ada. Manda tidak akan ambil pusing selama dirinya harus fokus akan pekerjaannya.
Halte bus yang tidak jauh dari gedung perkantoran. Manda yang sudah turun dari bus dan secepatnya berjalan ke arah gedung kantor tempat ia bekerja.
Setelah tiba di ruang kerjanya, begitu sepi tidak ada siapapun. Ia beralih menatap ke sebuah mawar merah di meja Mariska.
"Ruang rapat." Lalu ia mengambil file dan segera ke ruang rapat.
Tok tok
Membuka pintu ruangan yang sudah ia ketuk. Semburat wajah semangat, ia tampilkan meski perasaan dalam hatinya begitu rumit.
Ruangan rapat yang berada di lantai 3. Manda dengan senyuman tipis dan ia langsung duduk di kursinya.
Kepala bagian, telah mengadakan rapat bulanan dan dirinya malah terlambat.
"Manda, silakan."
"Baik Bu Franda."
Kepala bagian keuangan perusahaan. Manda sendiri, seorang staff akuntan yang bertugas menghitung gaji para karyawan perusahaan ini. Sedangkan Mariska, bertugas membayarkan gaji para karyawan dan ada empat staff keuangan lagi yang harus menghitung pendapatan, pajak dan lainnya. Lalu, Bu Franda adalah orang yang bertanggung jawab atas keuangan perusahaan.
Setelah menjelaskan laporan bulanan, dan ia juga harus segera mempercepat kerjanya, merinci gaji para karyawan untuk akhir bulan ini.
"Mariska, kamu akan cuti?" Bu Franda yang bingung akan masalah ini.
"Iya Bu Franda." Jawabnya dengan tersenyum.
Manda juga bisa mengerti akan hal ini, pastinya Mariska akan sibuk mengurus pernikahan dan pergi berbulan madu.
"Kalau begitu, siapa yang akan memegang pekerjaan kamu??" Begitu tegas suara yang terdengar dan para staff itu merasa tegang.
"Manda, Bu Franda." Jawabnya spontan dan Manda berubah gugup setelah mendengar ucapan rekannya.
"Manda??" Tanyanya sekali lagi.
"Iya Bu Franda. Saya akan percayakan kepada Manda. Selama saya mengambil cuti."
Manda yang merasa gugup, hanya bisa terdiam dan memalingkan wajahnya saat Bu Franda menatapnya tegas.
"Manda!" Seru Bu Franda.
"Iya Bu Franda."
"Kamu sudah mendengar, saya tidak akan menjelaskan lagi." Ucapnya.
Manda menoleh ke Mariska, dan gadis sebelah kanannya ini tersenyum manis padanya.
Mariska memegang tangan Manda, lalu berkata "Manda, aku mohon. Aku tidak akan melupakan jasamu."
"Kenapa aku jadi susah membuka mulut?" Batinnya dan hanya menatap wajah cantik Mariska.
__ADS_1
Mariska yang begitu cantik, dengan lekuk tubuh indah nan mempesona. Bahkan, dari rambut sampai ke kaki, tampak sempurna dimata lelaki, yaitu Edo Samudra. Tidak dipungkiri, Manda juga melihatnya begitu sempurna, bagi wanita yang seumuran dengannya.
"Manda, kamu mau?" Mariska dengan suara manisnya dan tangan itu begitu lembut saat memegang punggung tangannya.
"Iya." Suara hati dan suara yang keluar dari mulutnya sangat berlawanan.
"Huf, bodohnya aku di hadapan Bu Franda dan Mariska."
"Manda semangat." Seorang staf senior yang mengurus pajak.
"Manda kamu pasti bisa." Ucap seorang senior lainnya.
Manda baru setahun bekerja di perusahaan ini. Awalnya, Manda hanya bekerja sebagai asisten Bu Franda.
Melihat kegigihan Manda. Bu Franda menempatkan kursi khusus padanya, setelah staff lama mengundurkan diri.
Bu Franda bertanya "Tumben kamu pakai kemeja dibalut blazer?"
"Saya hanya ingin memakainya." Jawabnya.
"Bagus. Tampillah begitu. Biar enak dilihat."
Mariska bertanya "Kamu beli blazernya dimana?"
"Di olshop." Jawabnya dan dua senior lain juga memujinya.
"Padahal ini hanya untuk menutupi luka tanganku. Kenapa mereka malah memuji penampilanku." Batinnya yang berbicara. Selama di bus tadi saja, ia sangat merasa kepanasan.
Setelah kembali ke ruang kerja. Manda yang fokus akan pekerjaannya. Sudah satu jam bekerja di depan layar. Ia harus teliti menghitung satu persatu gaji karyawan perusahaan ini.
"Aduh." Ia terbiasa memijit-mijit tangan saat lelah bekerja. Sepertinya, dia lupa kalau ada luka di tangannya.
"Kamu kenapa?" Tanya Mariska.
Sebenarnya, tugas mereka berdua itu sama. Tetapi, Mariska yang lebih dipercaya untuk memegang kartu rekening perusahaan. Mariska hanya sibuk mengirim uang ketika Manda sudah menyelesaikan perkerjaannya.
"Aku tidak apa-apa. Tapi kemarin, aku kecelakaan." Jawabnya.
"Kamu kecelakaan? Ada yang luka?"
"Kamu harus hati-hati kalau mengendarai motor. Aku sudah pernah bilang sama kamu, agar membeli mobil." Mariska dengan gampangnya, karena ia tidak tahu betapa susahnya Manda mencari uang, hanya untuk kebutuhan rumahnya.
"Hem,"
"Beli mobil saja. Nanti aku tanyakan Edo."
"Edo?"
"Iya, calon suamiku. Dia kemarin membelikan aku ini." Mariska menunjukan kunci mobil barunya.
"Calon suamiku. Mobil baru." Batin Manda, namun ia tersenyum saat melihatnya.
"Berapa harganya??" Tanyanya dengan senyuman.
"Entahlah, aku tidak tahu. Yang jelas, dia sudah membelikan aku mobil baru."
"Terus, mobil kamu?" Wajah yang tampak penasaran, dari seorang Manda.
"Rencananya, mau aku jual. Apa kamu mau membeli mobilku?" Mariska yang tersenyum lembut.
"Aku tidak ada duit." Jawabnya dan kembali fokus pada layar komputer.
Mariska berdiri dan mendekati Manda, lalu berbisik "Nanti aku kasih harga murah."
"Aku tidak ada tabungan."
Mariska berubah penasaran akan sosok Manda, ia bertanya "Memangnya, kamu kerja buat apa? Aku lihat. Kamu tidak pernah dandan dan tidak memakai baju yang mewah."
"Maaf, aku kelewatan." Saat melihat wajah lesu Manda barusan.
"Mariska, aku tidak bisa seperti kamu."
__ADS_1
Mariska lantas terdiam dan kembali ke meja kerjanya. Ia sekali lagi melihat Manda, dari ujung kaki sampai ke atas.
"Manda memang tidak mengerti fashion."
Boro-boro mengerti fashion, yang ada hanya untuk mencukupi kebutuhan rumahnya. Makanan kedua bujang itu saja, sudah menghambiskan separuh gajinya. Bagaimana bisa dirinya membeli barang-barang mewah dan branded seperti dirinya.
"Aku mau buat kopi." Desis Manda dan beranjak pergi.
Mariska juga mendengar kalau Manda ingin meminum kopi.
Mariska menggeleng, "Kebiasaan."
Meskipun memakai rok sepan dan tampak memakai blazer. Manda sangat kesulitan setiap memakai sepatu hak tinggi.
Saat di pantry, ia melepas sepatunya dan menatap lekat sepatunya "Kamu sudah menyusahkan aku."
Dari ujung jauh dimata, sosok tampan nan rupawan tampak menatap dirinya. Kedua tangan yang masuk ke dalam setelan jasnya.
"Dia lagi." Semburat wajah nakal dan hendak menggoda. Sayangnya, ia memilih berjalan pergi.
Ia membaca kartu nama itu, dan menuju ke ruangan sang Mommy.
"Amanda Naomi."
Batinnya yang merasa kalau ada hal yang menarik di kantor ini. Tidak ada salahnya menghibur diri sesaat, selama berada di kota ini.
"Mommy."
"Shaun!!" Teriakan senang sang Mommy dan berlari ke arahnya.
Memeluk erat putra tampannya dan berkata "Kenapa Mommy merasa kamu lebih tinggi dari Mommy."
"Emh?"
Mengusap punggung putranya, "Mommy senang melihat kamu pulang."
"Mommy, kenapa selalu sibuk di ruangan ini?"
Melihat ke sekitar dan ruangan itu sudah tampak seperti hotel. Bahkan, ada lapangan golf mini dan ruang istirahat.
"Sampai kapan Mommy akan begini?"
"Mommy sepertinya, tidak akan pulang dalam waktu dekat. Nanti sore, Mommy harus melihat penayangan perdana filmnya Anna."
Anna artis muda yang sedang naik daun.
"Lalu aku??" Shaun yang bingung. Bahkan, semalam dia menemui Daddy dan hanya sibuk bermain game di kantor FT Global.
"Kamu ikut Mommy."
Shaun mengingat akan sesuatu, ia berkata "Aku disini saja."
"Terserah kamu saja."
Shaun memandangi foto-foto para artis muda itu, dan ia menatap foto Anna.
Sang Mommy mendekat "Apa kamu menyukai Anna?"
Shaun menggeleng, dan sang Mommy bertanya "Gimana kabar Freya?"
Shaun sebenarnya, tidak ingin sang Mommy tahu tentang Freya. Shaun berkata "Kita sudah putus."
"Putus??" Sang Mommy yang terheran.
"Iya putus. Lebih tepatnya, aku sudah meninggalkannya."
"Kamu memutuskannya?"
Shaun mengangguk dengan tenang.
"Baguslah!"
__ADS_1