
Pagi buta di sebuah kamar bernuansa putih. Tampak lampu kamar yang redup, sosok tampan telah berbaring di atas ranjang.
"Freya."
"Freya."
"Freya."
"Jangan!!"
"Freya!"
Hentakan dengan nafas kasarnya, terduduk di atas ranjang. Keringat mengalir lembut di antara lehernya.
"Sial." Pekiknya dan memandang ke sekitarnya "Kenapa aku harus bermimpi begitu?"
"Huh."
Menyikap selimut lembutnya dan berjalan ke kamar mandi untuk menenangkan batinnya.
Di kamar lain, pada waktu yang sama.
"Aa... Nadia. Bergeserlah. Aku bukan gulingmu."
Nadia yang semalam menceritakan tentang si Abang ganteng. Membuat Nadia menginap di kamarnya. Rasa tidak nyaman saat seranjang dengan sahabatnya.
"Nadia, jangan memelukku lagi."
Ranjang yang terasa sempit baginya. Sudah lama sekali mereka tidak tidur berdua. Terakhir kalinya, saat mereka berdua berada di asrama sekolah, dan waktu itu Nadia merasa ketakutan, lalu tidur seranjang dengan Manda.
"Emh." Nadia yang kembali memeluk Manda. Sudah bagaikan guling yang empuk untuknya dan sangat nyenyak.
"Aaa..." Manda yang kesal dan akhirnya mendorong Nadia.
"Manda aku terjatuh." Nadia kembali ke ranjang dan Manda beranjak pergi ke luar kamar.
Nadia yang tidak tahu menahu, dirinya yang kembali terlelap dalam mimpi indahnya.
Manda yang terbaring di sofa ruang tamu dan ia hanya membawa selimut bulunya yang lembut. Selimut dengan gambar kartun kesukaannya dan ia bisa tertidur pulas di atas sofa.
Setelah waktu pagi, sudah jam 6 pagi. Manda yang telah tiba di ruang makan. Benz juga terlihat meminum segelas susu segar.
"Terima kasih." Wajah berseri Nadia, saat Abang Ariel meletakan sebuah piring.
Tampak omelet yang cantik dan secangkir teh hangat aroma bunga.
"Hems, palingan cuma bertahan seminggu. Waktu aku baru kerja juga digituin. Setelah itu, sana buat sarapan sendiri. Jangan manja-manja jadi anak perempuan." Desis Manda yang tidak terima.
Nadia berkata "Tidak masalah, aku nanti yang akan membuatkan sarapan untuk kalian semua."
Bang Ariel lekas duduk di sebelahnya, dan memegang tangan Nadia, "Tidak perlu, nanti tanganmu jadi kasar."
"Ciih," Cebikan hati Manda yang tidak senang melihat mereka yang saling mesra.
Manda berkata "Ya, ya, bulan depan sudah ada kakak ipar. Jadi, aku tidak perlu repot belanja bulanan."
Bang Ariel berkata "Manda, kita tidak akan merepotkan kamu. Aku sama Nadia akan pindah rumah setelah renovasi rumah kita selesai."
"Hah, rumah? Jadi kalian berdua sudah beli rumah?" Manda tatapan melotot.
"Sayangku, sahabatku yang jelita tiada tara. Sebenarnya, aku sama Bang Ariel sudah mempersiapkan semuanya. Biar kamu nggak repot-repot lagi mengurus lamaran dan pernikahan kita nantinya." Tangan itu saling menggenggam, ada cincin silver yang melingkari jari manis mereka berdua.
"Baguslah, kalau begitu. Nanti, lamaran kalian. Aku sibuk banget. Palingan aku nyusul kesana." Ungkapnya dan ia memegang pisau roti, untuk mengoles roti tawarnya dengan selai strawberry.
__ADS_1
"Emh, kamu tega sama aku. Ini lamaran Abang kamu satu-satunya. Terus, kamu juga sahabat aku satu-satunya."
"Kamu bilang semuanya sudah diurus. Ya sudah. Aku tinggal datang saja."
Benz siap berangkat dan Manda berkata "Kak Benz, kita berangkat bareng."
"Iya."
Nadia berkata "Hati-hati sayangku."
"Kamu juga, hati-hati sama Abangku."
Setelah cipika-cipiki dan melotot ke wajah Abangnya, Manda berkata "Jaga Nadia, awas kalau nyakitin Nadia."
"Kamu nggak perlu cemas. Aku pasti jagain Nadia."
Abangnya hendak membelai rambut Nadia, Manda menghempas tangan Abangnya, geregetan "Tahan Bang Ariel!"
"Sana berangkat." Ucap Bang Ariel dengan senyuman dan Nadia merasa kalau Manda selalu memperhatikan dirinya.
"Sampai ketemu hari minggu."
"Oke."
Manda lantas pergi, dan melambaikan tangan kirinya. Tangan kanan masih memegang kotak roti tawarnya, yang akan dia makan setibanya di kantor.
"Manda terlihat kurusan. Apa dia diet?" Batin Nadia dan akan bertanya nanti. Obat diet apa yang di minum calon adik iparnya. Nantinya akan memakai gaun indah, dan ingin terlihat mempesona di hari pernikahannya. Dirinya berniat untuk diet seperti Manda.
40 menit kemudian.
Setibanya di kantor StarLight One. Benz yang menurunkannya di parkiran motor. Memberikan helm kepada Benz.
"Thank you Kak Benz." Lantas pergi lebih dulu dan tampak sedikit berlari.
Benz sangat perasa, dirinya bingung. Padahal Manda sudah berjanji untuk membantunya. Malah ditinggal begitu saja dan tanpa mengajak Benz untuk berjalan bersamanya.
"Duh, rambutku jadi lepek." Keluhnya dan melihat ke arah cermin yang ada di toilet.
Merapikan dirinya dan menyisir kembali rambut panjanganya.
"Kak Benz selalu ngebut. Rambutku jadi begini."
Manda yang sibuk membenahi dirinya, di balik pintu toilet. Ada yang sedang menceritakan dirinya.
"Kesempatan apaan? Yang ada malah aku ini salah melulu di mata dia." Desis Manda, saat ia mendengar orang berkata kalau Manda berkesempatan untuk meraih hati Tuan Muda.
Manda dengan tatapan tajam. Cermin itu sepertinya takut dengannya, ia jadi retak saat Manda menatapnya begitu.
"Hah? Pecah?"
Manda lantas meninggalkan toilet dan ia begitu kesal pada sosok Tuan Muda. Sampai-sampai, Tuan Muda itu telah muncul dari sebuah cermin dan akhirnya di getok dengan sisir yang ia pegang.
"Kenapa hari-hariku tidak ada yang benar?" Batin Manda.
"Selamat pagi Manda." Suara yang sangat dikenali Manda.
"Mariska."
"Tumben, kamu dari toilet itu?"
"Tadi, rambutku lepek. Sepupuku naik motornya udah kayak kilat. Wuss!"
"Owh, naik motor lagi."
__ADS_1
"Iya."
"Gimana? Kamu tertarik sama mobilku? Nanti aku kasih harga murah."
"Aku nggak ada duit."
"Sayang sekali. Padahal kalau kamu yang merawat mobil kesayanganku. Aku akan senang sekali."
Mariska merangkul lengan Manda, ia bertanya "Manda, apa Tuan Muda Shaun tertarik sama kamu?"
"Hems? Tertarik sama aku?"
Mariska berkata "Gosipnya begitu. Aku hanya berfikir. Sepertinya tidak mungkin kalau Tuan Muda Shaun bisa suka sama kamu yang begini."
Mariska masih bisa tersenyum manis, lantas Manda berkata "Hahaha, iya mana mungkin dia suka sama aku. Yang ada malah beban pekerjaanku jadi terus bertambah."
"Orang-orang bilang begitu. Makanya, aku jadi ingin tahu dari kamu."
"Owh, jadi semua orang mengira aku dan dia saling menyukai. Huf, yang benar saja."
"Mariska, gimana pernikahan kamu?"
"Emh, kita menundanya."
"Menunda?"
"Iya, lagian kita baru 2 bulan pacaran. Masih harus saling mengenal lebih dekat lagi. Edo juga tidak masalah soal itu. Jadi, kita sepakat untuk menunda pernikahan."
"Baguslah, kamu punya calon suami yang bisa mengerti pekerjaan kamu."
"Iya, Edo memang perhatian. Apa saja yang aku ingin lakukan, dia juga tidak melarangku."
Manda tersenyum dan Mariska masih saja kepo "Manda, kamu serius. Kalau misalnya Tuan Muda menyukai kamu gimana?"
"Tidak Mariska. Lagian, dia punya kekasih di luar negeri." Manda yang mengarang bebas.
"Pantes saja, aku juga mendengar hal itu. Katanya, selama di Amerika. Dia punya kekasih."
Manda tersenyum lega, tidak salah saat mengarang cerita. Akhirnya mereka masuk ke dalam lift dan terpisah saat Mariska keluar lebih dulu. Karena, ruang kerja mereka sekarang ini sudah berbeda.
Mariska menatap ke pintu lift "Manda sangat beruntung, punya kesempatan mendekati Tuan Muda."
Entah apa yang ada dalam pikiran Mariska saat ini. Yang jelas, Manda tidaklah peduli dengan omongan orang sekitarnya. Yang menganggap ini sebuah kesempatan.
Manda yang telah tiba di ruangannya "Apa yang mereka semua pikirkan. Yang ada, aku hanya dijadikan upik abu oleh Tuan Muda."
Melihat ruang kerja Tuan Muda, yang telah berantakan. Banyak sekali tisue berserakan dan tercium aroma bekas mie cup.
"Tuan Muda tidur disini."
Saat Manda melihat dekat, sang Tuan Muda tidur di bawah meja kerjanya.
Manda mendekat "Tuan, Tuan, Bangunlah."
"Tuan. Tuan."
Tuan Muda yang terlihat tampan saat mengenakan kaos putih dengan celana jeans warna biru. Tampak tertidur pulas dan Manda sudah membangunkannya.
"Tuan, maafkan saya." Tatapan senang.
Syuurr!
"Freya Clarissa!!"
__ADS_1
Manda terpaksa menyiramkan air mineral ke atas wajah tampannya.