COUPLE UNIK

COUPLE UNIK
Pesta Malam Yang Mengagumkan


__ADS_3

Mendengar akan pekerjaan barunya. Manda tampak tidak tertarik meski dirinya sedang berada di butik mewah dan ia bebas memilih gaun sesuka hatinya.


"Aku tidak suka ini." Keluhnya dan duduk bersandar di atas sofa. Kedua kaki ia pijit dan nantinya masih ada malam yang panjang.


"Amanda Naomi. Buruan pilih gaunnya."


"Tidak."


"Ayo." Tuan Muda yang nekatan dan akhirnya menarik Manda dari sofa.


"Pilih cepat."


"Ini." Manda asal mengambil gaun diantara deretan gaun mewah lainnya.


Konsep busana mereka nuansa hitam, untuk menghadiri acara pesta Anna yang akan digelar malam ini.


Setelah memilih gaunnya dan Shaun juga sudah membawakan setelan jas yang cocok untuk Benny Mahardika, yang dikenalnya dengan nama Benz.


"Pastikan, kalau aktor pertamamu memakai ini." Ucap Shaun kepada Manda.


"Baik."


"Mana suara kamu."


"Baik Tuan Muda Shaun." Suara tegas dan mereka berdua sudah berjalan menuju ke mobil.


"Apa ini sudah dibayar?"


"Apa tampangku seperti pencuri?"


"Emh, aku tidak tahu."


"A,, sepertinya kamu juga harus memegang kekuanganku."


"Tidak. Aku tidak mau. Aku sudah pusing dengan pekerjaanku."


"Pusing? Kamu enak, tinggal duduk manis." Lantas Shaun memasangkan sabuk pengamannya. Ia masih saja menenteng setelan jas dan gaunnya.


Sang sopir tampan ini, berkata dengan benar adanya. Yang mana bosnya, yang mana asistennya. Tidak ada yang tahu, kalau Manda hanyalah seorang asisten. Bahkan, saat tiba di butik tadi. Ia langsung dipanggil Nona.


"Nona Amanda Naomi. Apakah anda sudah siap?"


"Siap?"


"Iya, kita akan berpesta."


Wuss!!


Sudah jam 5 sore dan ia baru selesai dari butik. Belum lagi ke salon untuk menyempurnakan penampilan dirinya.


Dari ujung rambut sampai ujung kaki, akan di sulap bak cinderella. Hanya dalam hitungan menit. Kuku di jari-jari lentiknya sudah berubah warna, lantas kulitnya tampak mulus bagaikan sutra.


Tidak butuh waktu yang lama. Wajah dan rambutnya sudah tampak berbeda.


Sudah terlihat lebih cantik, terutama bagian mata dan bibirnya, sangat terkesan sensual.


Tuan Muda Shaun, sampai tidak berkedip saat menatapnya.


"Lumayan." Ia tersenyum menyudut ke kanan.


Manda yang hanya menahan senyuman. Ia tidak suka hal seperti ini. Kesannya saja mewah. Tetap saja dirinya upik abu yang harus melayani sang Tuan Muda.


"Ayo kita berangkat."


"Baik."


"Tunggu!"


Benz yang keluar dari ruang khusus dan Manda menoleh kepadanya. Spekta, sungguh diluar dugaan Manda.


"Wwaw!" Manda terbelalak.

__ADS_1


Benz tampil menawan dengan setelan jas warna hitam. Membuat Manda tidak bisa menolak, bila dirinya harus melayani aktor pertamanya.


"Kak Benz. Ini beneran Kakak?" Manda yang tidak henti menatap dan berjalan memutari sepupu tampannya.


Benz tersenyum, lantas bertanya "Apa aku sudah keren?"


"Lebih dari keren. Aku seperti lihat Oppa Korea."


Tuan Muda ini, tidak bisa melihat kesenangan asisten pribadinya, ia menarik tangan Manda dan berkata "Ayo kita berangkat. Sudah cukup menatapnya."


Benz yang imut sudah tampil menawan dan terlihat sempurna. Para gadis yang melihatnya, pasti akan terpikat pada pesonanya saat ini.


"Let's go." Ucap Shaun dengan tatapan menawan.


Dari ujung rambut sampai ke bawah, semuanya tampak mahal. Maklum saja, meskipun dirinya tidak seharian di salon seperti Benz, tapi sekalinya Tuan Muda ini merapikan dirinya, pasti akan terlihat sempurna.


Mereka bertiga yang menaiki mobil mewah. Manda dan Benz seolah telah berada di alam mimpi. Bagaimana bisa, mereka berdua yang orang biasa, dari kalangan bawah. Bisa menaiki mobil mewah ini dan diperlakukan layaknya bos muda yang hendak pergi dengan para ajudannya.


1 jam kemudian.


Sebuah hotel mewah dan berada di lantai paling atas. Keamanan sudah diperketat. Pesta malam gemerlap bintang akan segera dimulai.


Aula hotel yang mewah, sudah disulap dengan spektakuler. Acara pesta dan tuan rumah telah menyambut para tamu undangan.


Anna memang begitu, mengadakan party setelah ia membintangi sebuah film. Maklum saja, Anna juga putri tunggal dari kalangan atas. Dia menjadi artis hanya sebuah kesenangan, pada akhirnya ia menyukai pekerjaannya di dunia hiburan ini. Mendapat teman baru dan membuat dirinya semakin dikenal kalayak ramai.


"Anna, sayang."


"Iya, Madam Olivia."


"Maaf. Madam tidak bisa berlama-lama disini. Soalnya, Daddynya Shaun sudah bosan."


"Iya Madam. Anna negerti. Terima kasih Madam sudah mau datang ke pestanya Anna."


"Kamu harus bersenang-senang dengan tamu yang lain. Nanti Shaun juga akan kesini."


"Benarkah? Kak Shaun datang kemari?"


Tidak menunggu waktu lama, setelah sang Mommy meninggalkan aula pesta.


Tak


Tak


Tak


Shaun, Manda, Benz, telah memasuki pintu utama aula pesta. Lampu sorot telah menyinari mereka bertiga.


Sorot mata yang berkilau dengan kompak mereka bertiga berjalan.


Semua tamu undangan, telah menatap mereka bertiga. Shaun yang mewanan dengan gaya dingin, bak model papan atas. Benz yang berkharisma, wajah imut nan manisnya, sudah menjelma dari seekor ulat menjadi kepompong, lalu berubah menjadi kupu-kupu yang siap terbang.


Manda gadis biasa dan apa adanya. Bahkan, yang ia tahu hanya sebuah nilai. Nominal puluhan juta yang sering ia temui hanyalah dalam sebuah data. Malam ini, tampil bak nona muda yang telah berkiprah di dunia hiburan ini. Tatapan tajam nan menawan. Bahkan, sang sutradara yang tadi siang berkenalan dengannya, tampak menatapnya saja dan seolah tak lagi mengenali sosok staff kantor yang tadi siang telah menyiapkan kopi untuknya.


Tepukan tangan dari sang sutradara, untuk mereka bertiga. Mereka bertiga berjalan dan menghampiri sang sutradara.


"Hebat! Hebat! Saya sampai tidak bisa mengenali kalian bertiga."


Mereka bertiga tampak tersenyum kepada sang sutradara. Anna mendekatinya dengan senang dan hanya menatap ke arah Shaun.


"Kak Shaun. Aku sampai berdebar."


"Anna, malam ini kamu santi sekali. Aku sampai terpesona."


"Kak Shaun, bisa saja. Terima kasih sudah datang ke pesta Anna."


"Pastilah aku datang. Ini, pestanya Anna. Aku tidak akan bosan."


"Aa, Kak Shaun bikin aku baper."


"Baper? Aku belum cium tangan kamu. Kamu udah baper duluan."

__ADS_1


"Uuu, Kak Shaun."


Shaun dengan gaya manis, tampak mencium tangan Anna "Selamat untuk karir kamu. Semoga, Anna semakin terkenal."


"Kak Shaun bisa saja, kalau bikin aku senang."


"Kamu harus senang. Makanya aku datang biar kamu semakin senang."


"O..iya. Kak Shaun nanti mau kasih aku hadiah apa? Yang lain sudah mulai."


"Aku akan dansa sama kamu." Tatapan Shaun bikin Anna baper maksimal.


"Ooo, Kak Shaun bisa baca isi hatiku. Aku jadi makin berdebar."


Benz dan Manda hanya menatap Anna saja. Benar, ternyata Anna suka kalau dipuji-puji. Mungkin saja, karena Shaun yang pandai merangkai kata untuk Anna.


Manda, Benz dan sang sutradara itu, menatap Anna yang berdansa. Mereka tampak menikmati alunan musik dansa.


"Tuan dan Nona. Memang serasi." Batin Manda yang melihat mereka berdua, bak seperti pangeran dan putri kerajaan.


"Nona Anna memang cantik, tapi hatiku masih sakit atas ucapannya padaku." Batin Benz.


Setelah acara dansa selesai, suara musik berubah. Seperti tarian untuk pesta ini.


Anna berkata "Kamu juga harus menari"


"Aku?" Batin Manda.


Shaun menarik pinggangnya, lantas berbisik. "Anna meminta hadiahnya. Kamu harus menari untuk menyenangkannya."


Manda mengerti, lagian ini bukan acara formal. Meskipun, para tamu yang datang dari kalangan atas dan sangat tidak sopan bila menari dengan asal-asalan.


Manda yang merasakan suara musik itu mengalun sendu dan terkesan sensual. Manda dengan terpaksa menari dengan makna cerita cinta yang kandas.


"Patah hati?" Gerakan bibir sang sutrada juga bisa terbaca Shaun.


Seketika Shaun menoleh ke arah Manda.


"Amanda Naomi."


Tatapan mata Shaun saat ini, dan ia mengingat akan cintanya yang tulus kepada Freya.


"Dia, patah hati."


Shaun tetap saja menatapnya, meski hatinya seperti teriris saat mengingat akan mantan kekasihnya. Emh, Shaun yang menganggap mantan, belum tentu si Freya setuju untuk dibilang mantan.


Sampai selesai tarian itu, Shaun tetap menatap Manda dengan penuh rasa yang ada dalam hatinya.


Manda yang memberikan salam penutupnya. Terdengar tepukan dari para penonton, menghidupkan kembali suasana bahagia pesta malam ini.


"Sekarang, giliran kamu." Ucap Anna saat menunjuk Benz dan ia sangat ketus.


"Aku juga??"


"Iya."


Anna lantas memberikan sebuah mic dan Benz harus menyanyikan sebuah lagu cinta.


"Lakukan sekarang."


Benz menoleh ke arah sang sutradara "Ini, aku lakukan demi nilai magangku."


Suara musik terdengar dan Benz berjalan ke tengah aula. Suara Benz yang terdengar merdu.


"Lumayan juga suaranya." Guman Shaun dan ia cukup menikmati lagu Jodoh Pasti Bertemu.


"Dia juga bisa menyanyi." Gumam sutradara yang tampak senang.


Manda berjalan keluar, meninggalkan aula.


__ADS_1


__ADS_2