COUPLE UNIK

COUPLE UNIK
Ada Seseorang Yang Datang


__ADS_3

Suasana malam yang tidak biasa, saat Olivia menemani Dinda. Ada rasa yang membuatnya gemas atas perlakuan Zenno tadi. Tapi, disisi lain Olivia merasa ada yang janggal. Dari tadi dia belum melihat calon Kakak iparnya itu, datang ke rumah sakit untuk menemui Dinda yang terbaring sakit.


Menatap wajah sang Kakak yang sedang tidur, dan berkata pelan "Ada apa dengan Kak Dinda dan Kak Gery?"


Baru jam 7 malam, tapi setelah makan dan minum obat, Dinda merasakan kantuk yang luar biasa. Jadi saat ini, dia sudah tertidur pulas karena pengaruh obat yang diminumnya.


Pak Roni juga sudah pulang dan akan mengabarkan kondisi Dinda kepada Dion Jody Amarta. Benar, tidak berselang lama, Dion tiba di rumah sakit swasta itu.


"Papa." Ucap Olivia yang bertemu sang Papa.


Tampak menghela nafasnya dan mulai mendekati Dinda yang terbaring di ranjang.


"Kenapa lagi kamu? Kamu tidak seperti biasanya." Pertanyaan sang Papa itu juga terdengar oleh Olivia.


Mata Dion masih tertuju pada Dinda dan belum melihat ke arah Olivia yang berada di dekatnya. Olivia berjalan untuk ke sofa dan ingin membiarkan sang Papa agar lebih dekat dengan sang Kakak.


"Kenapa kamu tidak pulang?" Dion mulai menatap Olivia dan keduanya saling menatap teduh.


"Oliv ingin menemani Kakak. Memangnya kenapa? Apa tidak boleh?"


Dion kembali berkata "Disini sudah banyak suster, Papa bisa meminta suster khusus untuk menjaga Kakak kamu."


"Olivia tetap mau menemani Kak Dinda."


Dion juga sangat tahu kalau Olivia sama seperti Dinda yang keras kepala. Padahal hari-hari ini, awal Olivia masuk kuliah dan masih banyak acara penting. Tapi, Olivia tetap pada pendiriannya.


"Gimana Zenno, apa kalian sudah saling mengenal?"


"Papa nggak usah bahas dia, saat ini Kak Dinda sakit. Terus, mana calon suaminya? Kenapa Papa nggak peduli hal itu, malah tanya soal Zenno."


Mendengar hal itu, Dion jadi menatap Olivia dengan tajam "Gery belum datang?"


"Iya, selama Oliv dari siang disini. Sama sekali belum melihat Kak Gery datang. Sepertinya Kak Dinda sakit, gara-gara dia."


Dion melihat putri keduanya begitu ketus dan seolah memang sepertinya ada hal aneh.


"Mungkin, belum ada yang memberitahu dia. Besok juga pasti akan datang."


"Pak Roni udah kasih kabar, tapi mana buktinya. Dia nggak datang juga." Olivia berkata dengan tegasnya dan Dion mulai berfikir tentang Gery.


"Sudah, Dinda masih sakit. Kalau dia mendengar kamu begitu, nanti dia tambah sakit." Ujar Dion dan Olivia menatap ke Dinda yang terlelap itu.


Olivia memang merasakan ada hal aneh, tapi tadi dia tidak bertanya soal Gery. Dia hanya menceritakan tentang teman barunya kepada Dinda, agar sang Kakak merasa terhibur.


Sudah lebih dari satu jam, dan Olivia tadi cukup meninggalkan sang Papa untuk menemani Dinda.


"Papa sudah mau pulang?" Tanya Olivia, saat melihat sang Papa yang beranjak dari sofa.

__ADS_1


"Iya, Papa harus pulang. Besok pagi Papa ada pertemuan penting."


"Oliv paham."


"Kamu tidak ingin ke rumah Papa?"


"Tidak, Oliv belum siap."


"Baik, lain kali datang ke kantor. Kita bisa makan siang bareng."


"Emh, Oliv usahakan."


"Ya udah, Papa pulang dulu. Salam untuk Zenno."


Olivia hanya mengangguk dan dia mengantarkan sang Papa sampai ke tempat parkiran mobil. Disana juga sudah ada sopir pribadi sang Papa, tapi Olivia tidak begitu mengenalnya, tidak seperti Pak Roni yang memang sudah sangat lama dikenalnya.


Belum terlalu malam, tapi sang Papa memang harus pergi. Olivia cukup mengerti tentang pekerjaan sang Papa. Walaupun sudah ada para pekerja, sang Papa memang terkenal ulet dalam pekerjaannya.


"Olivia sayang Papa." Batinnya tidak bisa berbohong, tetap saja dia sangat cinta Papanya, walaupun pernah melukai perasaan Mamanya. Olivia mengerti, bahwa kehidupannya, tidak selalu selaras seperti yang dia harapkan. Ada kalanya, harus merasakan sakit dan merasakan derita hidup.


Mobil BMW itu sudah pergi dari pandangan Olivia dan dia kembali ke ruang rawat inap.


Saat dia berjalan dan melewati koridor rawat inap, tanpa sengaja Olivia berpapasan dengan pemuda kampus yang pagi tadi, bisa dibilang senior yang menumpahkan kopi ke bajunya.


"Hai, kita bertemu lagi." Sapa pemuda itu dengan tersenyum manis.


"Kenalin, gue Kevin." Dia mengajak Olivia untuk berkenalan lebih dulu.


Olivia tersenyum kecil dan mulai menerima tangan kanan pemuda itu. Saling berjabat tangan, tidak ada salahnya.


"Gue Olivia." Balasnya dan cukup ramah.


Pertemuan tak terduga dan sepertinya dia pemuda yang baik. Olivia hanya merasa masih bingung, dan belum ingin membuka diri untuk berteman dengan orang lain.


"Loe di rumah sakit. Siapa yang sakit?" Tanyanya dengan penasaran. Karena ini sudah malam, bahkan hampir pukul 9. Pasti ada seseorang yang dikenal Olivia dan menjalani perawatan.


"Iya, Kakak gue yang sakit."


"Owh Kakak, di ruang mana?" Dia memang sedikit kepo dan mereka masih berdiri di koridor itu.


"Di ruang VIP 9."


"Owh, Nenek gue di rawat di VIP 8. Berarti sebelahan ya."


Olivia hanya tersenyum dan pemuda itu belum tahu, kalau yang di rawat adalah senior yang cukup terkenal di kampusnya. Karena semua tahu, kalau Dinda adalah putri dari Direktur Dion sang pemilik MC Global, perusahaan yang bergerak di bidang iklan dan industri kreatif.


"Emh, iya sebelahan."

__ADS_1


"Ya udah kalau gitu, gue mau pulang."


"Iya silakan."


"Sampai ketemu di kampus."


"Iya." Suara Olivia yang sedikit lembut, dan merasa kurang nyaman. Tapi, tetap saja mereka berdua satu kampus dan pastinya akan bertemu lagi.


Senyuman manis Kevin kembali tersemat dan Olivia hanya bisa membalasnya. Walaupun dia belum mengenal siapa Kevin, tapi dia berfikir hanya senior di kampusnya.


Olivia sendiri mengambil jurusan management bisnis dan Dinda dengan jurusan industri kreatif. Dinda sudah berusia 24 tahun dan sudah menyelesaikan S2-nya tepat waktu, sedangkan Gery 25 tahun, tapi mereka tidak kuliah di kampus yang sama. Gery sempat mengenyam pendidikan di luar negeri dan kembali dua tahun yang lalu, kemudian menjalin hubungan dengan Dinda.


Sedangkan Zenno, usianya baru 21 tahun, tahun ini semester akhir, lanjut skripsi dan mungkin hanya tinggal beberapa bulan saja dia berada di kampus. Lalu Kevin, dia baru semester 5 dan akan menjadi senior Olivia, apalagi mereka di jurusan yang sama.


"Kak Dinda terbangun." Olivia yang kembali dan Dinda ternyata duduk bersandar, sambil menatap ponselnya.


"Kamu darimana?"


"Anterin Papa ke depan."


"Papa?"


"Iya, tadi Papa disini. Emh, lumayan lama."


Dinda tersenyum mendengar hal itu, walaupun dia sering berdebat dengan sang Papa, tapi dia juga yang paling dekat dengan Papanya, berbeda dengan Olivia yang cenderung dekat dengan Mamanya.


Olivia duduk di sofa dan menyalakan ponselnya, karena dari tadi mematikan ponsel itu. Kembali menatap sang Kakak dan dia bertanya "Kenapa Kak Gery tidak datang?"


"Dia di luar kota."


"Luar kota?"


"Iya, sudah dari kemarin dia di Bandung. Ada pekerjaan."


Dinda berkata benar, tapi dia tidak ingin bercerita kalau dia akan membatalkan pernikahannya dengan Gery.


"Owh.." Olivia merasa aneh, tapi dia tidak merasa kalau Dinda telah berbohong. Mungkin Gery sibuk, jadi belum sempat menjenguk Kakaknya.


"Oliv, tidurlah. Besok kamu harus ke kampus."


"Iya, Kakak tenang aja."


Dinda kembali meletakan ponselnya, dan Olivia membaca beberapa pesan masuk.


Ceklek!


Ada seseorang datang. Mereka berdua menatapnya bersamaan.

__ADS_1


Terima kasih atas jempolnya 😍🤗


__ADS_2