
Siang hari yang cerah dan mobil mewah telah melaju cepat meninggalkan pusat kota.
Manda yang duduk dan hanya menatap ke arah jalanan. Benz berada di mobil depannya bersama sopir dan juga asisten yang mengurus segala keperluan Benz, jadinya mereka berduaan.
"Amanda Naomi."
"Iya Tuan."
Manda yang menatapnya dan wajah itu, memang terlihat sempurna di matanya. Sayangnya, dirinya tidak tertarik akan sosok Tuan Muda.
"Apa perjalanan kita masih lama?"
"Iya Tuan."
"Tahu begini, aku akan mengajak sopir."
"Bukannya, Kak Benz sudah bilang kalau kita akan keluar kota."
Tuan Muda Shaun yang mengemudikan sendiri mobilnya. Entah perasaan apa ini, tiba-tiba Manda gelisah saat Shaun melepaskan kacamata dan menatapnya.
"Fokuslah sama pekerjaan kamu."
"Iya Tuan."
"Pastikan, Benz menandatangi kontrak kerja kita."
"Baik Tuan."
Tuan muda yang menawan dengan senyuman tipis dan menyudut ke kanan. Gaya bicara yang selalu mencekam dan tegas.
Tidak pandang bulu, bila Tuan menyuruh asistennya ini, untuk melakukan ini dan itu. Termasuk, menyuruhnya meminum minuman yang Anna berikan untuknya.
"Amanda Naomi. Tadi pagi, kamu pulang dengan siapa?"
Degh!
Manda dengan gelisah berkata "Owh, tadi pagi saya naik taxi."
"Bagaimana bisa aku seperti ini? Rasanya badanku semakin lemas."
Manda yang mengambil air mineral dan lekas membukanya. Tangannya tampak tak bertenaga, begitu sulit membuka tutup botol minuman itu.
Lantas, Manda kembali meletakan botol minuman itu. Tidak lama mobilnya Shaun, memasuki rest area.
"Aku tahu, kamu belum makan."
"Tuan Muda, nanti kita tertinggal mobil mereka."
"Tidak apa-apa. Lagian, kamu sudah tahu alamat rumah Benz."
"Benar juga."
Shaun memarkirkan mobilnya dan Manda hanya terdiam. Tidak seperti biasanya, yang pandai melawan perkataan Tuan Muda.
"Keluarlah, aku akan disini."
"Tuan disini?"
Manda yang menatapnya dan ia melihat sorot mata yang lelah dari sosok Tuan Mudanya ini.
Shaun tampak mengatur kursinya dan segera bersandar. Lantas memejamkan kedua matanya.
"Cepatlah keluar. Aku ingin tidur sebentar."
"Baik Tuan."
Entah kenapa, perasaan Manda saat melihat wajah Tuan Mudanya, seketika menjadi luluh.
"Dia benar-benar meninggalkan aku. Seperti tadi pagi, yang meninggalkanku sendirian."
Shaun yang mengepalkan kedua tangan.
"Huh!"
__ADS_1
Shaun, sangat mengingat jelas. Apa yang telah terjadi semalam. Tapi, kalau bukan berkat manda yang memimun ramuan jahanam itu, bisa-bisa Shaun yang akan melewatkan malam panjang dengan artis cantik yang bernama Anna.
"Anna, aku tidak akan memaafkanmu."
"Amanda Naomi. Kamu buat aku gila."
Semalaman, Manda telah menari dan menggoda Tuan Muda ini. Kedua mata Manda juga sangat tajam, bibir Manda yang tidak henti mengecup manja dan membuat Tuan Muda ini kegelian sendiri.
"Kenapa aku harus berhadapan dengan 3 wanita itu??"
Freya si pecinta handal, Anna yang tidak tahu menahu akan perasaan manisnya, dan Manda yang bukan siapa-siapa. Sayangnya, Shaun hampir hilang kendali saat Manda telah diperdaya oleh ramuan itu dan Shaun hanya bisa pasrah dalam belaian.
Shaun yang terbangun dari tidurnya, ia tersentak dan memukul setiran mobilnya dengan keras.
"Siaal!!"
"Tuan."
Ternyata Manda sudah duduk di sebelahnya dan Shaun menoleh ke wajah polosnya Manda.
"Kamu sudah makan?"
"Sudah." Jawabnya yang begitu adanya.
Tatapan aneh Shaun, membuat Manda tidak berkutik. Ia mengalihkan padangan matanya.
Shaun dengan gerak cepat, tangannya meraih kepala Manda. Kedua dahi itu telah berhadapan. Kedua hidung mancung itu telah bersentuhan. Manda yang gelisah dan ia kembali mengingat akan romansa paginya.
"Tu-an." Suara itu bergetar.
"Amanda Naomi." Suara pelan dan Manda mendengarnya. Perlahan tangan Shaun melepaskan kepalanya.
Cengkeraman tangan Shaun begitu kuat, membuat Manda tidak bisa melawan dan sangat gelisah akan situasi ini. Semakin berdesir hebat dan Manda hanya pasrah dalam keadaan.
"Jangan tinggalkan aku lagi."
"Kamu harus berada disisiku."
"Aku harap kamu tidak meninggalkan aku lagi."
"I-ya."
Shaun kembali menjauh setelah memasang sabuk pengaman Manda.
Suara tegas Manda kembali setelah tampak raut wajah Shaun yang berbeda. "Tuan, saya tadi hanya makan. Tadi tuan sendiri yang menyuruh saya keluar untuk makan."
"Benar."
Shaun lantas mengemudikan kembali mobilnya. Manda kembali terdiam dan Shaun menyalakan sebuah musik, untuk mencairkan suasana pengap pada dirinya.
"Apa tadi, tidurku lama?" Tanya Shaun.
"Emh tidak, hanya sekitar 30 menit." Jawabnya dan Manda menjadi kurang fokus. Ia mengambil ponsel pada tas dan mencari aplikasi petunjuk arah jalan.
"Amanda Naomi. Aku ingin minum."
"Iya Tuan."
Manda membantin, "Tadi di rest area malah tidak minum. Tetap saja, aku yang harus melayaninya."
Manda yang sudah membuka tutup botol minuman Shaun dan menyodorkan padanya. "Silakan Tuan."
"Aku mau pakai sedotan."
Manda yang mengerti, "Baik Tuan."
Manda lantas memasang sedotan dan tetap memegangi botol minuman itu, sampai Tuan Mudanya selesai minum.
Setelah itu, Manda yang duduk tampak bersandar. Ia juga merasa ingin tidur, apalagi setelah makan dan kelopak matanya sudah terasanya begitu berat.
"Tuan, ini panduan jalannya. Saya mengantuk."
"Panduan jalan? Yang benar saja? Apa aku ini sopirnya?"
__ADS_1
"Amanda Naomi!!" Panggilnya dan Manda sudah tampak terlelap.
"Cepat sekali tidurnya."
Shaun melihat sosok yang duduk di sampingnya, ia perlahan tersenyum tipis dan merasa ada hal manis.
"Biarkan saja dia tidur. Masih ada si cantik petunjuk jalan." Gumamnya sendiri dan Manda ternyata masih mendengarkan suaranya.
"Aku tidak ingin melayaninya." Batin Manda.
Perjalanan yang tidak pernah dilalui oleh seorang Tuan Muda. Baru kali ini, ia menyetir begitu lama dan bersama seorang gadis. Yang dianggapnya seorang asisten pribadi.
Setelah 4 jam perjalanan dan akhirnya tiba di sebuah desa. Udara yang sejuk, dengan pemandangan hijau yang tampak menyegarkan mata.
"Tuan, itu rumahnya Kak Benz."
Rumah yang berada di tengah area persawahan. Bahkan, mobil yang di parkirkan begitu jauh. Berjalan kaki melewati jalan setapak dan untungnya tidak musim penghujan. Bisa-bisa sang Tuan Muda ini tergelincir ke sawah.
"Kamu jalannya cepat banget."
"Saya sudah terbiasa."
Benz yang sudah tiba lebih dulu, ia tampak menantikan mereka di teras rumahnya.
"Akhirnya kalian datang juga."
"Hem, kenapa?"
"Aku pikir. Kamu putar balik. Aku sudah bilang sama Ayahku. Kamu akan datang bersama tamu special."
"Paman dimana?"
"Ayah lagi ada urusan di rumah kepala desa. Ibu ada di dapur."
"Oke, aku akan mengobrol dengan Bibi. Kamu temani Tuan Muda Shaun."
Tuan Muda hanya berdiri, dan ia melihat ke sekitar tempat itu. Asisten Benz dan sopir berada di tempat lain.
Mereka hanya mengantarkan calon aktornya dan belum saatnya mereka mengenalkan diri kepada kedua orang tua Benz.
Mendengar ada tamu yang akan datang, Ibunya Benz langsung sibuk di dapur. Menyiapkan minuman dan makanan.
"Bibi, sibuk amat."
"Manda, kamu sudah datang."
"Iya. Bibi apa kabarnya?"
"Bibi sehat."
Lantas berpelukan dan senyuman manis sudah terlihat dari wajah keduanya.
"Bibi, Manda ada perlu sama Bibi dan Paman."
"Apa Benz menyusahkan kamu?"
"Bukan itu, tapi ini tentang Benz."
Bibi lantas duduk di sebuah kursi, kompor gas tampak menyala dan uap keluar dari sisi panci pengukus.
"Bibi."
"Apa Benz, terlibat masalah?"
Manda tersenyum, lantas berkata "Kak Benz sedang dapat hoki."
Manda menceritakan tentang hal itu, sang ibu itu hanya mendengarkan. Tidak banyak mengerti akan pekerjaan sebuah aktor. Beliau hanya biasa melihat aktor yang muncul di layar televisi, yang tampak menawan dan berpakaian rapi. Lantas ada beberapa yang mengawal dan orang-orang mengagungkannya.
"Manda, kalau peran Benz apa? Apa seperti sosok Tuan Muda yang memakai jas dan disanjung para bawahannya?"
Mengingat akan acara pesta semalam, lantas Manda mengeluarkan ponselnya. Ia menunjukan foto Benz yang sangat tampan saat mengenakan setelan jas hitam.
Seorang Ibu yang hanya mengenal aktor dari sebuah sinetron kejar tayang.
__ADS_1
"Kalau yang begini, bibi suka."
"Bibi mau mendukung Kakak?"