
Sabtu malam yang dinanti. Demi reuni dengan teman SMAnya. Manda sudah tampil berbeda. Bahkan, ia sampai berdandan di salon. Begitu niat dan tidak ingin menampilkan dirinya yang seperti biasa. Bagaimanapun, dirinya yang dulu sangat populer dan dikenal sebagai Manda yang perfect. Bukan Manda yang kudet akan penampilan luarnya.
"Tapi, dandanan ini terlalu norak."
"Kenapa tangan ini susah sekali begerak?"
"Bikin alis cetar aja nggak bisa."
"Huft"
"Udah satu jam di salon. Malah hasilnya begini."
"Bukannya mereka terpesona. Aku akan jadi bahan ledekan mereka."
Meski usianya sudah dewasa. Akan tetapi ajang reuni itu selalu ada bahan untuk menggunjingnya para temannya.
"Aaaa..."
Manda yang merengek tidak jelas, setelah dirinya melihat ke cermin.
Manda yang sudah tampak memakai dress warna tosca dan make-up itu membuat kesan tua pada wajah cantiknya.
"Manda."
Nadia yang menghampirinya ke kamar.
"Nadia."
"Wow.. Kamu dandan?"
"He'em, tadi aku ke salon."
"Keren."
"Ini, keren?"
"Ya, walaupun rada."
"Rada apa? Aneh ya?"
"Iya. Memang rada aneh menurutku."
"Nah kan, bener. Aku lihat ke cermin malah berasa aneh."
"Udah, nggak apa-apa."
"Duh, aku nggak mau begini."
"Nggak apa-apa. Nanti kita telat."
Manda langsung mengambil kapas dan pembersih. Menghapus make-up tebal itu dan Nadia hanya menatapnya saja.
"Nadia, aku harus gimana?"
"Tadi sudah bagus."
"Kamu bilang rada aneh."
"Kan rada. Jadi sedikit aja. Bukan aneh banget."
"Ya udah. Aku nggak usah ikut reuni."
"Kenapa? Sesekali kita harus datang."
"Kamu mau nikah. Jadi pastinya udah siap. Terus aku gimana?"
"Gimana, gimana, apa maksud kamu?"
"Nanti, apa kata mereka. Mereka pasti bahas duit. Terus pasangan. Terus soal liburan dan masih banyak lainnya. Terus aku harus gimana?"
Nadia melihat Manda yang memang berbeda dari semasa SMAnya. Dulu manis dengan penampilan apa adanya. Tapi, sekarang jaman juga lebih maju. Penampilan tetap yang utama.
"Tahu gitu, aku bawain dress buat kamu."
"Nadia bukan masalah itu saja."
"Sudah. Sekarang kamu nurut sama aku."
Nadia lantas menuju ke lemari Manda. Ia mencari-cari dress yang cocok untuk Manda.
Nadia melihat dress yang ada di sebuah plastik. Gaun hitam yang wangi, tampak sudah di laundry dan menarik mata Nadia.
Nadia yang tahu akan fashion, ia lalu mengambilnya dan mendekatkan ke tubuh indah Manda.
__ADS_1
"Kamu punya gaun mewah. Kenapa harus di sembunyikan?"
"Jangan yang ini."
"Kenapa? Apa salahnya?"
Nadia tersenyum manis, lantas berkata "Hems, jangan-jangan gaun ini punya kenangan. Hayo ngaku."
"Kenangan apaan?"
"Udah pakai ini."
"Iya."
Manda menyerah dan akhirnya kembali memakai gaun hitam itu. Baru kemarin selesai di laundry. Sekarang ini, Manda harus memakainya lagi.
Setelah beberapa saat kemudian. Manda yang sudah tampil menawan. Berkat sentuhan tangan Nadia.
Make-up yang super tipis dan terkesan lebih natural. Bibir Manda sudah lebih manis dan pipi tampak merona segar.
"Terima kasih sahabatku."
"Nah, gitu dong."
"A, pasti sepatu ini pasangan gaun kamu."
"Kok kamu tahu."
"Ya tahu dong."
Nadia bahkan sempat mencari tahu, berapa harga gaun yang dipakai sahabatnya.
Setelah itu, mereka berdua berangkat. Nadia yang mengemudikan mobilnya. Manda sebenernya sudah pernah belajar mobil dengan Nadia.
Sayangnya, dia belum punya mobil sendiri. Jadinya, ya begitu adanya. Meskipun dirinya bisa menyetir mobil. Manda selalu berkata tidak bisa menyetir mobil. Dia hanya ingin mengemudikan mobilnya sendiri.
"Jujur deh, gaun ini dari siapa?"
"Emh, ini dari tempat kerjaku."
"Tempat kerja?"
"Iya."
"Manda, kamu tahu harga gaun ini?"
"Gaun ini lebih dari 10 juta."
"Hah? Semahal apa?"
"Ya, pokoknya lebih dari itu."
"Kamu tahu dari mana?"
"Aku cari info dari atasanku."
Nadia bekerja di dunia hiburan. Lebih tepatnya dibagian keuangan MC Global dan bosnya itu adalah Dinda. Kakaknya Madam Olivia.
"Owh, aku nggak tahu. Aku cuma disuruh pilih. Ya aku ambil ini."
"Siapa?"
"Ya, atasanku."
Nadia yang tidak tahu menahu tentang Manda dan Benz yang pergi ke pesta Anna.
"Manda, kamu harus berhati-hati."
"Apa maksud kamu?"
"Kalau itu pemberian atasanmu. Pasti, dia sudah menginginkan kamu lebih."
"Owh, aku tidak berfikir begitu. Aku ini hanya bekerja."
Nadia tersenyum, lantas kembali berkata "Manda sayang, kamu jangan terlalu polos. Memang tidak masalah menerima perasaan atasan kamu. Tapi, kamu juga harus ingat. Jangan sampai menjadi pihak ke tiga."
"Pihak ke tiga?"
"Iya, jadi pihak ke tiga itu nggak enak. Apalagi kalau dia sudah beristri. Kamu tetap akan dalam cintanya yang lain."
"Aku tidak mengerti. Apa karena itu, kamu putus dari Ruben dan memilih abangku??"
"Bukan begitu sayangku, cintaku, sahabatku. Jangan ingetin aku sama dia deh."
__ADS_1
"Kamu memang susah dikasih nasehat."
"Apa yang Nadia bicarakan? Pihak ke 3? Apa aku ini pihak ke-3? Apa karena aku tidur dengan Tuan Muda? Akhirnya, Tuan Muda bertengkar dengan kekasihnya?"
"Mana mungkin. Aku cuma kerja. Nggak ada hubungan seperti itu. Tapi malam itu, aaa... sudahlah. Aku nggak peduli."
Manda lantas melihat ke arah jalanan kota. Yang tadinya masih terlihat sore. Sekarang sudah tampak gelap. Tidak lama lagi, mereka berdua tiba di Fresco Restoran.
Pertemuan dengan teman-temannya dan momen ini akan jadi ajang untuk menarik perhatian.
Selebgram terkenal yang telah menarik perhatian para temannya dan tampak mengobrol bersama. Mereka berpindah haluan, saat melihat Nadia yang cantik dan datang bersama Manda.
"Nadia, apa kabar?"
"Baik."
"Manda, sini. Gabung sama kita-kita." Ucapan para cowok saat melihat Manda yang tampak cantik. Para cowok itu terlihat sudah menggerombol sendiri.
Saras yang juga baru tiba lantas berkata "Mejanya disatukan saja. Jangan ada yang menyendiri."
Celetukan itu, membuat Manda paham. Tahun lalu, Manda jadi menyendiri tanpa ada teman bersamanya. Apalagi, saat itu Nadia tidak bisa datang.
Akhirnya beberapa meja telah di gabung. Satu aula restoran ini, di booking Saras.
Sebelumnya, meja sudah ditata begitu. Sayangnya, para perempuan punya topik obrolan sendiri. Sehingga mejanya jadi bergeser dan tetap asyik mengobrol.
Sepuluh menit berlalu, sudah ada 22 orang yang ada di tempat itu. Teman kelas Manda dulunya ada 30 siswa. Mungkin karena ada kesibukan lain, mereka tidak datang. Ada yang sibuk mengurus anak dan ada pula yang kerja di luar kota, bahkan ada yang sedang berbulan madu.
"Asyiknya yang bulan madu."
"Bentar lagi ada yang menyusul."
"Ciie, Nadia."
Obrolan mereka dan semua tertuju kepada Nadia. Setelah tiba tadi, Nadia tidak banyak basa basi, langsung saja memberikan undangannya. Mereka juga terheran akan Nadia, yang menikah dengan Kakaknya Manda.
Padahal, lamaran resmi baru akan terlaksana besok pagi. Tapi, Nadia tidak segan memberikan undangnya kepada teman SMAnya.
"Nadia, kamu tidak takut?"
"Takut apa?" Nadia yang menatap teman perempuannya.
"Takut mengurus anak. Seperti yang lainnya. Mereka setelah menikah, tidak punya kebebasan."
"Owh, soal itu. Aku tidak masalah. Calon suamiku bisa memahami aku."
Manda yang tampak diam, meskipun obrolan ini menyangkut Abang kandungnya.
Saras berkata "Menikah itu memang penting. Tapi, yang aku lihat. Nadia wanita karier yang hebat. Buktinya ada di depan."
Yang di maksud Saras ialah mobil Nadia dan itu memang hasil keringat Nadia selama bekerja di MC Global.
"Ya begitulah. Aku bekerja untuk memanjakan diriku. Aku sudah cukup puas bersenang-senang. Makanya, tahun ini aku bertekad untuk menikah."
"Semoga kamu tidak seperti Delia." Seloroh teman, yang memang tidak suka dengan Nadia.
Nadia yang hendak bicara, tangan Manda sudah memegang tangannya.
Saras tampak menatap Manda yang terlihat berbeda. Sang selebgram yang duduk di sebelahnya, tampak berbisik kepadanya.
Saras berkata "Teman-temanku yang aku sayang. Satu persatu-satu dari kita, pasti akan menikah. Begitupun juga aku."
Saras dengan senyuman manis, tampak memperlihatkan jari-jari lentiknya. Sebuah cicin cantik melingkari jari manisnya.
"Wah, Saras. Selamat ya."
"Terima kasih."
Setelah itu, mereka tampak menikmati makan malam bersama. Meski ada rasa aneh. Tapi, Manda dan Nadia tampak menikmatinya dengan perasaan senang.
"Manda, apa kamu sudah punya pacar?" Tanya seorang teman pria, yang duduk di hadapannya.
Semua jadi menatap ke arah Manda.
Tangan Nadia dengan gemas mencubit paha Manda. Dengan senyuman manis, Manda berkata "Iya, sudah. Aku sudah punya pacar."
"Aku pikir kamu belum punya pacar. Sepertinya, aku sudah tidak ada harapan."
Para teman cowok yang lain, lantas menggodanya dan ada pula yang mencecar Manda.
"Ayo telephone dia, kenalin sama kita-kita."
"Manda, ayo hubungi cowok kamu. Aku jadi penasaran."
__ADS_1
Manda menoleh ke Nadia dan mencubit balik dengan gemasnya. Nadia sampai kesakitan. Gara-gara dia, akhirnya jadi bingung sendiri.
"Tunggu sebentar."