COUPLE UNIK

COUPLE UNIK
Apartemen Untuk Asisten Pribadi


__ADS_3

"Iya Tuan."


"Aku kita berangkat."


"Berangkat?"


"Sudah cukup waktu tidurku. Keburu pagi nanti."


"Memangnya ini jam berapa?"


"Sudah jam 3 pagi."


"Tuan, saya masih mengantuk."


"Kamu bisa lanjut tidur di mobil."


Manda yang tampak pasrah dan ia lantas mencuci muka. Shauh telah menunggu di ruang tamu.


Shaun sudah tampak segar dan rasa kantuknya telah terobati. Melihat ke layar ponselnya, ada beberapa panggilan dari sang Mommy.


Setelah beberapa menit berlalu, mereka sudah berada di perjalanan dan hendak kembali ke kota tempat tinggal mereka.


"Kamu nanti pulang saja ke rumahku."


"Nggak bisa. Tuan turunkan saya di perempatan raya."


"Kenapa?"


"Tuan, saya harus pulang dulu. Saya juga harus siap-siap ke kantor."


"Makanya itu, lebih cepat kalau ke rumahku."


"Terus, saya gimana? Saya nggak bawa baju ganti."


"Mulai besok. Sedia koper di bagasi mobil. Biar kamu nggak bingung sama baju ganti. Kamu harus ikut kemana saja aku pergi. Apalagi, kita ini bakalan sering ke luar kota. Bahkan ke luar negeri."


"Hah? Ke luar negeri. Ngapain?"


"Benz nantinya ada shuting di luar. Kamu lupa apa gimana?"


Manda menyengir dan melihat ke arah wajah tampan Tuan Mudanya, lantas ia bertanya "Apa saya juga harus ikut?"


"Iya, kita harus ikut. Kita akan mengawal jalannya aktor pertama kamu."


"Benar juga. Kak Benz, ia aktor pertama saya."


"Kalau perlu, rubah penampilan kamu."


"Apanya yang salah dengan penampilan saya?"


"Kamu punya cermin, lihat cermin. Terus kamu lihat ke yang lain, manager Anna dan yang lainnya. Gimana penampilan mereka, terus kamu sendiri begitu saja."


"Harus ya, penampilan glamour begitu?"


"Bukan harus glamour. Setidaknya, kamu tahu fashion, tahu merk ternama dan busana yang buat kamu nyaman. Cari gaya pakaian yang fleksible dan cocok buat kamu yang gerak bebas, tetapi juga bisa dipandang orang, kalau kamu itu seorang bos."


"Tapi saya bukan bos."


"Huh, kamu nggak ngerti-ngerti."


"Terus, saya harus gimana?"


"Hari ini, pekerjaan kita. Shopping."


"Shopping??"


Mau dibilang norak, nantinya akan jadi panjang lebar penjelasannya. Mau dikata nggak modis, memang begitu adanya. Kalau soal fisik, tidak kalah dengan para artis muda dan para tallent. Sayangnya, Amanda Naomi memang tidak pandai merapkan pakaian pada tubuh indahnya.


3 jam kemudian


Shaun dan Manda yang tiba di sebuah apatemen mewah. Aparteman gaya modern dengan nuansa putih.


"Manda, ini apartemen kamu. Selama kamu bekerja sama aku. Kamu harus tinggal disini."


"Ini? Apartemen saya?"

__ADS_1


Kedua tangan yang masuk ke dalam saku dan tampak senyuman tipis. Ia hanya mengangguk saja.


Manda yang melihat ke sekitar ruangan ini, rasanya berbedar. "Wow."


Rona wajah yang tampak keheranan, dengan perasaan campur aduk. Antara senang dan tidak bisa percaya akan apa yang dilihatnya.


"Tuan, seriusan. Ini apartemen saya?"


"Ini apartemen pribadiku. Tapi, selama kamu bekerja denganku. Apartemen ini milik kamu."


"Hem, sama saja. Saya pikir. Apartemennya diberikan untuk saya"


"Enak aja. Kerja dulu. Baru nanti, punya apartemen sendiri."


"Ya kan, tadi Tuan bilang ini apartemen saya."


"Kurang ngomongnya. Ini apartemen tempat tinggal kamu, selama kamu jadi asisten pribadku. Soalnya, kalau kamu harus pulang ke rumah kamu. Kejauhan."


"Bener juga. Ini dekat sama kantor."


"Yap, dekat juga sama rumahku."


"Rumah Tuan?"


"Sini, aku kasih lihat."


Dari sebuah balkon, dan Manda bisa melihat mentari pagi yang telah menyapanya.


"Itu, kamu lihat rumah yang ada kolam renangnya itu. Rumah Madam Olivia."


"Owh, itu. Ya lumayan dekat."


"Nah, di sebelah kanan itu. Gedung kantor S. O."


"Iya Tuan. Saya sudah tahu."


"Terus, di sebelah sana. Ada gedung MC, itu punya Kakek."


"Kakek?"


"Owh, teman saya ada yang kerja disana."


"Siapa?"


"Nadia. Karena dia juga sih. Saya dapat info lowongan kerja di S. O."


"MC dan S. O. Kelihatannya saingan, tapi mereka itu saudara."


"Iya, saya paham."


"Terus, kamu harus tinggal disini. Biar kamu cepat kalau aku suruh-suruh."


"Huf, tadinya aku pikir bakalan enak. Malahan jadi pembantu lagi."


Shaun menatap Manda dalam lamunan, entah apa yang dipikirkan Shaun saat ini.


Dirinya hanya tidak ingin membuat Manda terlalu kejauhan bila harus pulang ke rumahnya. Apalagi, kalau Benz sudah menandatangi kontrak kerjanya. Manda yang harus menjaga aktor pertamanya itu, dari mulai latihan peran, mengawasi pola makannya dan mengatur jadwal Benz. Semua tentang Benz, dialah orang yang bertanggung jawab.


Shaun mengulurkan tangan kanannya, Manda yang belum paham.


"Nona Amanda Naomi. Selamat datang, di dunia Madam Olivia."


"Iya Tuan. Mohon bimbingannya."


Keduanya telah menampilkan senyuman manis dan saling berjabat tangan. Rasa berdebar dari keduanya. Tatapan yang tampak tulus dari keduanya. Lalu, kedua tangan itu terlepas.


Shaun berkata "Kamu, bisa istirahat dulu. Aku mau pulang. Nanti, jam 9 aku akan datang kemari. Kamu sudah harus siap. Karena nanti. Banyak pekerjaan untuk kita berdua."


"Baik Tuan."


Shaun lantas pergi dari sisinya dan Manda masih berada di balkon itu. Mentari yang bersinar dengan cerah.


"Amanda Naomi." Panggilnya dan Manda segera datang.


"Kunci pintu dan jangan buka pintu bila ada yang datang."

__ADS_1


"Baik Tuan."


"Nanti aku kasih tahu sandinya. Kamu jangan kemana-mana."


"Iya Tuan."


"Ingat, jangan pergi."


"Iya Tuan."


Shaun lantas membuka pintunya dan ia berkata lagi "Di kulkas ada makanan. Kamu bisa menghangatkan di microwave. Tapi, kalau baju belum ada."


"Iya Tuan. Saya mengerti."


Shaun lantas pergi dan Manda jadi bingung sendiri. Berdiri dan bersandar pintu apartemennya. Aparteman Golden Rosse, yang berada di lantai 8, dengan nomor pintu F14.


Ruangan serba broken heart, warna putih ini sangat kalem. Sofa abu-abu muda dan tampak minimalis. Manda yang duduk dan memegangi sofa itu.


"Apa yang harus aku lakukan?"


Ia lantas mengambil remot televisi dan menyalakannya, agar tidak terasa hening. Lalu, ia melihat ke arah pintu kamar yang sedikit terbuka.


Ada dua kamar di apartemen ini. Meski tampak kamar minimalis. Di dalam ruang itu, serba mewah. Tidak seperti kamarnya yang ada di rumah.


"Aku jadi rindu kamarku."


Manda meraba-raba kasur yang terlihat empuk itu. Sprai dengan bedcover yang sangat halus. Begitu lembut dan terasa sangat nyaman saat ia merebahkan badannya.


"Orang kaya memang beda."


Manda kembali memejamkan matanya, rasanya ingin tidur lagi, karena tadi di mobil hanya menatap jalanan.


Shaun yang berada di dalam lift dan pintu terbuka. Shaun keluar dan ada perempuan yang masuk ke dalam lift. Melihat Shaun di pagi hari dan keluar dari lift itu. Membuatnya berdebar manis.


"Owh, jadi Tuan Shaun tinggal disini." Gumamnya, lantas menekan nomor 8. Ia hendak menuju lantai 8.


Mariska dengan penampilan modisnya dan ia harus bertemu sang calon suami. Sebelum nantinya bekerja di kantor.


"Pagi honey."


"Edo." Mariska tampak terkejut saat Edo sudah berada di depan pintu lift.


Saat pintu terbuka, Edo langsung saja menyapanya. Padahal, pikiran Mariska sedang melayang jauh ke negeri seberang.


"Kenapa disini? Aku mau masuk dulu."


"Kamu rindu aku?".


"Bukan begitu, kalau bertemu disini nggak enak. Apalagi kalau kita dilihat orang lain."


"Memangnya, kamu ingin ciuman selamat pagi?"


"Edo."


"Ayolah, aku harus berangkat pagi."


Akhirnya, Mariska yang hanya bisa bertemu calon suaminya di dalam lift dan sekarang mereka telah berjalan ke parkiran mobil.


Shaun masih berada di mobil, ia seakan melihat film romansa pagi.


"Wah, sekarang banyak orang yang tidak tahu malu."


"Ck,ck,ck. Tapi, kenapa aku harus peduli. Terserah mereka mau ciuman dimana."


Mariska dan Edo, berciuman tepat di depan mobilnya.


Shaun menyalakan mesin mobilnya, membuat mereka berdua melepaskan ciuman manisnya.


"Edo." Mariska yang mendorongnya.


Edo merangkul pinggangnya, lantas berkata "Santai saja. Ayo kita jalan."


Mariska sekilas mengenali mobil itu, tapi dia juga segera berjalan, dan tampak beriringan dengan Edo.


Shaun lantas melajukan mobilnya.

__ADS_1


__ADS_2