
Minggu sore yang tampak cerah, Olivia yang melihat bunga-bunga cantik yang tersiram air. Tampak basah nan segar.
"Kamu memang cantik." Ucapnya kepada sang bunga mawar merah. Olivia lebih suka mawar merah, tidak seperti Kakaknya yang menyukai mawar putih.
Olivia yang berjalan ke rumah, sambil memandangi kolam yang terdapat beberapa ikan koi.
"Hai ikan,..." Lalu dia mengingat ikan milik Zenno di rumah.
"Kalau Zenno tidak pulang selama dua hari, gimana kabar ikan-ikannya."
Olivia yang begitu ceria hari ini, dari pagi dia membantu Mama Virda merapikan tanaman-tanaman, lalu siang belajar membuat cake coklat. Dia kembali merasakan sosok Mama yang sering bersamanya dikala hari minggu.
Saat di dalam rumah, Mama Virda yang sedang membersihkan bunga sakura hias, yang tertanam di dalam vas bunga besar, bersama seorang pembantu.
Olivia memeluknya dari belakang, lalu bertanya "Mama, apa Olivia boleh pulang ke rumah Zenno?"
Mendengar itu, Mama Virda lalu meletakan kain pembersihnya dan meminta pembantu untuk melanjutkannya.
Olivia melepaskan pelukannya dan Mama Virda mengelus rambut putri kesayangannya.
"Mama, gimana? Boleh nggak Olivia tinggal disana?"
Mama Virda tersenyum dan menarik hidung Olivia, lalu berkata "Ya pasti boleh sayang. Mama nggak keberatan kalian tinggal bersama."
"Emh, Mama. Olivia bukan ingin tinggal bersama. Tapi disana juga ada ikan dan tanaman milik Zenno. Kalau Zenno sibuk, kasian mereka nggak ada yang perhatiin."
Olivia seperti anak kecil yang sedang bermanja dengan Mamanya, lalu Mama Virda berkata "Kapan kamu mau kesana?"
"Em, sore ini juga setelah selesai mandi."
"Tapi yang lain pada pergi. Ya sudah, Mama yang akan mengantar kamu."
"Mama udah capek, seharian Mama sibuk ngurusin rumah. Olivia bisa naik taxi."
"Naik taxi?"
Olivia memegang tangan Mama Virda lalu berkata "Mama nggak usah cemas, Olivia sudah terbiasa. Kalau ke kampus juga naik taxi. Olivia baik-baik saja."
"Sayang, tapi...."
Belum selesai Mama Virda berkata, ekspresi wajah Olivia begitu imut, dan membuat Mama Virda tersenyum gemas kepadanya.
"Oke Mama mengerti. Putri kesayangan Mama sudah dewasa."
Olivia lalu memeluk Mama Virda, dan berkata "Mama terima kasih, udah sayang sama Olivia."
Setelah itu, Olivia dengan secepatnya ke kamar dan Mama Virda begitu gemas melihat tingkah Olivia.
"Kadang manja, kadang juga bikin cemas." Gumam Mama Virda yang tampak tersenyum.
Olivia begitu disayangi oleh keluarga Brata Perwira, dan Olivia begitu dekat dengan semua anggota keluarga itu.
Setelah hampir satu jam dan sudah terlihat senja, Olivia pergi meninggalkan rumah Mama Virda.
Olivia yang begitu bahagia, karena semua baik-baik saja. Semalam juga tidak ada masalah di acara pesta Gery dan Marcella. Kakaknya juga sudah bahagia, jadi tidak ada yang membuat hati dan perasaannya risau.
"Zenno, aku pulang." Batinnya dan sambil menatap layar ponselnya. Dia akan mengejutkan Zenno nantinya.
Olivia tidak memberitahu Zenno, kalau dia dalam perjalanan pulang ke rumah.
Setelah tampak gelap karena sudah hampir jam 7 malam, arah jalanan menuju ke rumah itu, ternyata macet.
Olivia yang menarik kopernya dan rumah begitu sepi. Zenno belum pulang, tapi akan pulang malam. Olivia lalu menyelakan lampu ruang tamu dan berbegas untuk bersih-bersih rumah, hanya sekedar menyapu lantai, Olivia tidak masalah.
Koper masih disamping sofa, lalu dia meletakan tasnya di atas sofa. Dia mulai menyapu.
"Padahal cuma dua hari, tapi lantai begitu kotor. Apa Zenno tidak bersih-bersih rumah?"
Dia juga akan mengepel lantai, karena melihat lantai yang tampak lengket karena sesuatu.
"Tidak masalah aku begini, orang-orang lain juga melakukannya." Ucapnya dengan senyuman dan begitu semangat.
Olivia hanya membersihkan sekitar lantai bawah saja. Dia belum ke lantai atas, lalu pergi ke lantai atas untuk berganti baju. Tapi dia meninggalkan koper dan tasnya di ruang tamu.
"Kamarku, aku rindu." Olivia dengan cepat menghempaskan badannya ke atas tempat tidur. Sesaat dia teringat pertama datang ke rumah ini. Ternyata sudah sebulan Olivia berada di Jakarta.
"Emh, Bee aku kangen kamu." Ucapnya saat menatap layar ponselnya. Lalu dia segera berganti baju. Karena sebentar lagi Zenno akan pulang. Setidaknya jam 9 malam sudah sampai di rumah.
__ADS_1
"Aku tidak boleh memikat Zenno, aku masih kuliah, aku belum bisa menjadi istri." Tadinya dia ingin memakai gaun malam yang dibelikan oleh Mama Virda, tapi baginya itu terlalu dewasa. Jadi dia memakai piyama merah maroon.
Tidak lupa menyemprotkan parfum lalu berfikir "Apakah ini juga akan memikat dia?"
Yang biasanya hampir sekujur badan dia semprotkan parfum itu, tadi hanya dua kali semprot saja. Lalu memakai body cream yang harum.
"Kalau ini Zenno tidak akan terpikat." Ucapnya dan merasakan keharuman body cream, pada tangan serta di jari-jari lentiknya.
Olivia melihat ke jarinya, lalu dia hanya memakai cicin pernikahannya. Cicin dari Zenno dan Mama Virda dia simpan dalam kotak perhiasan.
Saat ini baru jam 8 malam, dan dia akan menunggu Zenno di ruang tamu sambil menonton film.
Baru dia menyalakan televisi, terdengar suara pintu pagar dan setelahnya mobil Zenno masuk ke carport.
"Zenno datang. Aku harus bersiap." Olivia tampak merapikan rambutnya dan rasanya dia begitu berdebar. Akhirnya dia bertemu lagi dengan Zenno dan akan tinggal bersama.
Zenno hendak masuk dan Olivia begitu senang, bersiap untuk mengejutkan Zenno.
Ceklek!!
Zenno membuka pintu dan dia berjalan ke dalam. Lalu Olivia berlari ke arahnya dan memeluknya.
"Bee, aku pulang." Olivia memeluknya dengan erat, begitu pula dengan Zenno.
Tapi, ada anggota FGFC yang melongo dan begitu ternganga melihat Olivia yang memeluk Zenno.
Olivia belum sadar akan hal itu, lalu Zenno berkata "Baby, ada teman-teman yang datang kemari."
Olivia perlahan membuka matanya dan mengangkat wajahnya.
Anggota FGFC dengan kompak "Haii..."
Ekspresi wajah Olivia seketika berubah dan secepatnya melepaskan pelukan itu. Olivia menunduk dan seolah telah menutupi wajahnya dengan rambut panjangnya.
"Baby,..." Zenno yang mengangkat wajah Olivia.
"Kamu kenapa nggak bilang." Bisiknya dengan wajah yang malu.
"Aku pikir kamu masih di rumah Mama. Makanya aku ajak mereka datang kemari."
Karena sudah terlanjur basah, Olivia mulai merapikan rambutnya. Untung saja, dia tidak jadi memakai gaun malam yang dewasa itu. Bisa-bisa akan lebih malu lagi.
Mereka masih mematung.
Zenno lalu berkata "Kalian semua kenapa diam, ayo masuk."
Zenno mengajak mereka duduk di sofa dan Olivia lalu mengambil tasnya.
"Semuanya, silakan duduk." Ucap Olivia dan Zenno tampak tersenyum.
Mereka masih diam dan hanya melihat ke arah Olivia.
Olivia duduk di sebelah Zenno, dan mereka juga merasa tidak nyaman.
"Kenapa pada bengong?" Zenno yang mendahului, "Nah, sekarang udah ketemu bini gue."
"Bini? Jadi itu beneran?" Tanya Vino dan Loudy hanya diam. Ken dan Joy masih heran dengan apa yang mereka lihat.
Zenno memegang tangan Olivia, dan mengangkatnya "Lihat ini, cincin kita sama. Beberapa hari lalu kita menikah. Tadinya dia tinggal disini, tapi beberapa hari lalu dia di rumah Mama. Makanya, waktu itu aku larang kalian ke rumah, soalnya ada Olivia. Dia nggak mau kalau teman kampus tahu, kalau dia calon istri Zenno."
"Owh, iya pantes. Sempat heboh berita Nona X." Ucap Ken.
"Iya kita jadi tahu Nona X."
"Berarti waktu sama Pak Erick. Owh, jadi dia Adiknya Pak Erick?" Tanya Joy.
"Bukan Adiknya Pak Erick." Jawab Zenno.
"Bee, kita memang Adiknya Kak Erick. Dia menikah sama Kakak Dinda."
Zenno, terkejut dan bertanya "Menikah? Kenapa aku nggak tahu."
"Kamu nggak tanya aku. Waktu Jony ke kampus itu, kita lagi mikirin buat kasih kejutan sama mereka berdua. Mereka ke catatan sipil aja, aku nggak dikasih tahu. Jadi bener, Kak Erick Kakaknya kita berdua."
"Tapi, Pak Erick tadi ketemu kita, nggak bilang apa-apa sama aku."
"Iya, mungkin Kak Dinda nggak cerita soal kamu."
__ADS_1
"Ya udah nggak apa-apa." Ucap Zenno, lalu mengambilkan minuman untuk teman-temannya.
"Hai, gue Olivia. Istrinya Zenno."
"Gue Loudy."
"Vino."
"Gue Ken."
"Kalau gue Joy."
"Iya. Gue tahu kalian semua. Teman gue ada yang fans sama kalian."
"Owh iya, pasti yang minta tanda tangan." Vino cukup mengingatnya.
"Iya dia, Sherryl."
"Pantes aja loe agak beda. Ternyata udah kenal Zenno."
"Iya, gitulah. Gue sama Zenno itu dijodohin dari kecil. Tapi ketemu baru sebulan ini."
"Owh, jadi kalian dijodohin. Pantes aja Zenno males kalau di dekatin cewek."
"Kalau itu Olivia nggak masalah."
Zenno yang datang membawa minuman kaleng, lalu bertanya "Serius, nggak masalah?"
"Ya nggak gitu juga Bee, fans kamu banyak gitu. Mana bisa aku ngelarang. Yang jelas, kamu suami Olivia Sada Amarta."
Vino yang meneguk minuman, jadi tersedak mendengar nama Amarta.
Ken, Joy dan Loudy, cukup terpana akan nama Amarta, yang begitu terkenal di kampus.
"Loe anaknya Direktur Dion? Adiknya Dinda yang jurusan Industri Kreatif?" Tanya Vino.
"Iya, gue putri kedua Direktur Dion. Nah, bener Kak Dinda yang itu."
"Wah, Zenno. Loe emang unggul dalam segala hal. Tampang cakep, akademi oke, bahkan punya bini level atas." Vino yang menggeleng.
"Apasih, udahlah. Gue mah biasa aja. Olivia juga apa adanya."
"Pantes aja, waktu kasih Flashdisk. Gue ingat itu mobil yang dibawa suka parkir di depan gedung utama dan milik Kak Dinda."
"Iya itu punya Kak Dinda. Olivia kalau ke kampus naik taxi."
"Gue ingat, waktu Zenno lihat video kejadian kantin. Dia buru-buru lari ke rektorat. Ternyata mau nolongin bininya."
Olivia tampak tersenyum dan berkata "Zenno emang baik sama semuanya."
Zenno menarik hidungnya "Habisnya kamu bandel, suka bikin orang cemas."
"Emh, biarin. Kalau emang nggak salah, aku juga nggak takut."
Melihat mereka uwu, Ken berkata "Kayaknya kita harus pulang."
"Iya bener, sepertinya kita ganggu mereka berdua." Sambung Joy.
Vino malah berkata "Mereka bikin baper, gue juga nggak kuat lihatnya."
"Sepertinya Olivia yang ganggu kalian. Olivia ke atas dulu." Olivia yang mulai berdiri.
Zenno menariknya dan berkata "Baby, kamu disini aja. Biar mereka aja yang pulang."
"Wah, udah ada bini. Jadi lupa kawan." Ucap Ken.
Loudy lalu berkata "Ah.. Gue besok mau cari cewek."
"Loe keren, la gue? Mana ada yang mau." Ucap Joy.
"Apalagi gue." Vino yang tampak merengek dan memeluk Loudy.
"Makanya loe berubah, jangan rewelan" Loudy menepuk-nepuknya.
Mereka semua akhirnya mengenal Olivia bukan hanya karena istri Zenno, tapi mengenal Olivia yang apa adanya.
Olivia juga mulai mengerti, persahabatan Zenno dengan anggota FGFC, yang kompak dan saling mendukung satu sama lainnya.
__ADS_1
Terima kasih, atas Like & Komentarnya 🤗