COUPLE UNIK

COUPLE UNIK
Tuan Muda Yang Membayar Tagihannya


__ADS_3

Masih di fresco restoran. Ada pria yang memakai setelan jas hitam, berbadan kekar dan tampak berkumis tipis. Pria berusia 35 tahun, sudah berdiri di depan pintu aula restoran itu dan semua mata sudah tertuju padanya. Lalu, ada satu orang lagi yang berdiri di sampingnya.


"Saya yang telah membayar tagihan itu, atas perintah Tuan Muda."


"Tuan Muda."


Semua langsung berucap Tuan Muda, lantas dalam hati Manda sudah bagai angin lesus. Rasanya campur aduk dan Shaun telah menyempurnakan peran pentingnya ini.


"Tuan?"


"Siapa Tuan Muda?"


"Saras, apa dia calon suami kamu?"


"Bukan."


Lalu ada yang menatap ke sosok selebgram cantik, "Guanzila, apa kamu mengenal Tuan Muda?"


"Tidak. Aku tidak tahu. Pacarku James." Gubrak, ia hampir jatuh. Sudah lama tertutup rapat, malah keceplosan sendiri.


Semua menatap Guanzila, akhirnya dia memalingkan wajahnya. Sudah lama dia mengencani pria beristri.


"Guanzila." Suara pelan Saras dan ia memegang bahu sahabatnya.


Lantas kedua orang itu, mendekati Manda. "Nona Amanda Naomi. Tuan Muda menyuruh saya kemari untuk mengawasi Nona. Dari tadi, saya duduk di sebelah sana."


Semua mata jadi mengarah kepada Manda. Nadia yang masih memegang lembaran merah. Tampak diam dan tidak berani menoleh ke sang sahabat.


"Apa Nona Amanda Naomi, sedang ada masalah?"


"Tidak."


"Kalau begitu, saya permisi dulu. Saya akan menunggu Nona di luar. Nanti saya akan mengawal Nona sampai di rumah."


"Iya."


Manda dengan raut wajah tampak manis. Saat ini telah berdiri, dan menghadap para temannya.


"Mereka itu tadi, pengawalnya pacarku."


"Yee, bikin deg-degan aja."


"Kenapa nggak bilang dari tadi."


"Huuu.." Sorak beberapa teman cowok.


Manda berkata "Maaf. Aku juga tidak tahu kalau pacarku semakin posesif."


"Perlu ya, dikawal begitu?"


"Ya, seperti itu."


Nadia menatapnya, seolah berkata "kamu harus jelaskan semuanya."


Saras bertepuk tangan dengan gaya elegan dan sangat manis. "Selamat Manda. Sepertinya, kamu akan jadi Nyonya."


"Entahlah. Aku belum ada pemikiran seperti itu. Kamu malahan yang segera menjadi Nyonya."


"Kamu benar."


Guanzila hanya diam dan sudah tak berkutik lagi. Lantas Manda berkata "Guanzila, aku minta maaf. Aku tidak tahu kalau kamu berniat mentraktir kita semua."


"Aku juga tidak tahu, kalau pacarku telah membayar tagihan kita."


Manda menatapnya Guanzila dengan wajah tampak sendu.


"Guanzila."


"Orang seperti aku dan Nadia. Memang sepertinya, tidak lagi sepadan dengan kamu. Tapi, kamu harus ingat. Di atas langit, masih ada langit."


"Teman-teman, aku pulang duluan."


Manda akhirnya pergi dengan langkah kaki percaya diri dan tampak sangat menawan.


Nadia berkata "Teman-teman, kalian jangan lupa. Kalian semua harus datang di pernikahanku. Sampai bertemu lagi. Daaa..."


Nadia dengan gaya feminine, akhirnya bisa tersenyum manis. Dia bisa melihat kemuraman wajah Guanzila dan Saras.


Sudah 10 menit mobil Nadia melaju dan ada satu mobil yang mengikutinya.


Manda tampak duduk bersandar dan tidak lama, ada sebuah panggilan telephone. Namun, sudah ditolak Manda.


"Kenapa nggak di jawab?"


"Nggak penting."


"Si Tuan Muda?"

__ADS_1


"Ini semua gara-gara kamu."


"Kok gara-gara aku?"


"Tadi kamu nyubit aku."


"Ya, aku pikir. Kamu tadi telephone pura-pura."


"Memang ini pura-pura."


"Terus, itu mobil belakang." Nadia yang tampak melihat dari kaca spion mobil.


"Aku bingung."


Panggilan telephone lagi, dan sudah 3 kali panggilan dari Shaun telah di tolak Manda.


"Malah di tolak lagi."


"Padahal aku udah bantuin."


"Amanda Naomi, memang gadis kasar. Dia nggak tahu terima kasih."


Shaun yang malas dan akhirnya hanya melihat layar ponselnya. Ponselnya, dari tadi berada di atas meja kerja sang Daddy.


Saat ini, Shaun berada di ruang kerja Daddy. Tepatnya di kantor FT Global."


Daddy bertanya "Kamu nggak malam mingguan?"


"Mana pernah aku malam mingguan."


"Bukannya kamu punya pacar."


"Sudah aku putusin."


"Putus? Kenapa?"


"Daddy, aku nggak bisa lagi sama dia."


"Daddy punya teman. Anaknya cantik."


"Udah deh, nggak usah jodoh-jodohin aku."


"Ya udah, kamu temani Daddy saja disini."


"Daddy, ini aku disini. Dari tadi temani Daddy."


"Terus, aku harus ngapain?"


"Kamu harus mencoba game baru ciptaan Daddy."


Setelah 20 menit, ia bermain Game buatan sang Daddy. Tapi, setelah itu hanya melamun saja. Menatap layar komputer dengan angan yang berbeda.


"Kapan Daddy bisa move on?"


"Shaun, kamu tidak mau melanjutkan perusahaan Daddy?"


"Daddy, terima saja pengajuan Paman Erick, demi masa depan FT Global."


"Shaun, ini semua hasil kerja keras Daddy."


"Daddy hanya bisa membuat ini. Tapi, Daddy tidak bisa mengatur perusahaan."


"Kamu berani bilang begitu sama Daddy?"


"Aku berkata dengan apa yang aku lihat. Aku sekarang tahu, kenapa Mommy jadi lebih fokus mengurus perusahaan di banding mengurus keluarganya."


"Kenapa?"


"Mommy menghidupkan banyak orang. Bukan demi egonya sendiri."


"Kamu memojokkan Daddy?"


"Daddy, ayolah. Keluar dari zona Daddy ini. Aku tahu Daddy kerja keras. Tapi, para tenaga kerja Daddy. Mereka semua juga layak untuk hidup sejahtera."


Daddy Zenno tampak terdiam dan meninggalkan Shaun begitu saja. Melihat ke seluruh ruangan. Menyaksikan para pekerjanya.


"Apa yang Shaun katakan memang benar. Aku sudah memaksakan diri. Mereka telah bekerja keras untuk perusahaan. Tapi, aku malah sibuk dengan tujuanku sendiri."



"Daddy, maafkan aku."


Dari kecil, Shaun memang tidak dekat dengan sang Daddy. Apalagi setelah Daddy fokus dengan ciptaannya. Lebih menjauh dan jarang sekali pulang ke rumah. Membuat istri dan anak tunggal ini makin berubah, mereka menyibukan diri mereka sendiri. Sang Mommy yang awalnya membantu di MC dan selama itu banyak pengalaman yang diambil. Kemudian membuat perusahaan sendiri. Lalu Tuan Muda ini, masa remajanya sangat dingin. Bahkan, dia jadi big bos yang membuat ricuh sekolahnya dan hanya diam bila menimbulkan masalah.


5 Tahun di luar negeri, membuat dirinya jadi berbeda. Mengantongi gelar S2 dari universitas ternama di Amerika. Tapi, Shaun tidak tertarik untuk meneruskan perusahaan sang Daddy.


Di mobil Nadia. Manda tampak bingung. Dia harusnya tidak berbuat itu, masalah percintaan tidak mudah baginya.

__ADS_1


"Aku harus berhadapan dengan dia setiap hari."


"Bodoh!"


Manda yang mengayak rambutnya sendiri dan merasa begitu bodoh. Meskipun hanya kebohongan, tapi menyenangkan. Sayangnya, dia melupakan pekerjaannya.


"Memalukan!"


Nadia menoleh ke wajah Manda.


"Huh, aku dari kemarin sudah gila. Sekarang, sahabatku menggiring aku ke kandang singa."


"Aku menggiringmu??"


"Entahlah. Aku susah berfikir."


"Bukannya, kamu sudah tinggal di apartemennya Tuan Muda." Gaya bicara Nadia yang menggoda Manda.


"Sialan, kamu ini sahabatku, atau musuhku??"


Nadia berkata "Jangan-jangan, cicilan mobil itu? Kamu juga bohong?"


"Enak aja. Ini juga gara-gara dia."


"Owh, Tuan Muda."


"Mana 10 jutanya?


"Emh, bukannya kamu sekarang sudah jadi Nona. Masih ingin, 10 juta dariku?"


"Nona, Nona, yang benar itu pembantu."


"Apa?? Pembantu?"


"Hemm, ceritanya panjang."


"Kamu jadi pembantu?"


"Emh, iya begitulah."


"Serius?"


"Aku jadi asprinya."


Nadia jadi tersenyum, lantas berkata "Yuhuu, ada kesempatan dong."


"Kesempatan apanya?"


"Ya gitu deh."


"Idih, kamu ini pikirannya kaya para staff di kantorku."


"Ya emang bener. Hari gini, serba butuh duit. Kapan lagi bisa jadi Nyonya."


"Terus kamu sendiri, dari Ruben yang royal soal duit, berubah pilih Abangku. Apa tujuan kamu?"


Nadia berkata "Ya ada deh. Mau tahu aja."


"Nadia, apa jangan-jangan kalian sudah??"


"Jangan ngaco deh! Manda sayangku, cintaku, sahabatku. Aku dan Bang Ariel saling mencintai. Aku putus dari Ruben, kamu sudah tahu. Meski dia royal, aku juga butuh perhatian. Aku punya rasa yang ingin dibelai manja, di sayang-sayang. Bukan duit aja, sana beli tas, aku TF aja ya. Bla bla bla. Dia bisanya fokus sama kerjaan. Mana betah kalau nikah sama dia."


"Emh,.." Manda yang manyun cantik.


"Ingat Manda. Meski kita ini, hidup serba duit. Tapi, perhatian dari laki-laki, juga kita butuhkan. Apalagi, kalau kita sudah menikah."


"Tapi, Abangku nggak perhatian sama aku."


"Calon adik iparku sayang, kamu masih harus belajar soal rasa ya. Sepertinya, kamu harus mengenal pria."


"Sudah, aku mengenal Abangku, Ruben, terus Kak Benz. Sama ini, Tuan Muda."


"Ya nggak begitu juga Manda. Udahlah, nantinya kamu juga akan paham. Yang jelas, jangan sampai kamu terlibat cinta dari orang yang sudah menikah. Oke."


Manda yang terdiam dan hanya bisa membayangkan saja.


"Cinta, belaian?"


Manda malas memikirkan hal itu, ia ingin meraih tujuan pertamanya.


"Aku harus bisa meraih impianku."


Manda yang membaca sebuah pesan dan Benz mengatakan kalau dia sudah menandatangi kontrak kerja S. O.


"Yes!"


Manda jadi kegirangan dan Nadia menoleh ke arahnya.

__ADS_1


__ADS_2