COUPLE UNIK

COUPLE UNIK
Manda Yang Sedang Shopping


__ADS_3

Sebuah mal ternama di pusat kota. Mereka tampak jalan berdua. Shaun menatap heran sosok asisten pribadinya. Dari tadi sudah tampak terdiam saat memilih baju atasan.


"Aku heran sama kamu. Kalau gadis lainnya, belanja itu jadi hobby. Kenapa kamu jadi kayak terpaksa begini?" Lugas dan jelas, tanpa basa-basi.


Sudah lebih dari setengah jam, Shaun menemani Manda memilih pakaian. Namun, wajah Manda tampak tidak berselera.


"Ini mahal."


"Mahal?"


"Kemejanya mahal. Sayang duitnya."


Shaun dengan wajah geregetan dan ia sudah berkacak pinggang. Menatap gadis yang ada dihadapannya, dengan tatapan serius.


"Kamu masih mikirin uang?"


"Tuan, ini setara setengah gajiku. Aku nggak sanggup beli ini."


Shaun yang menghela nafasnya. Meski telah memakai kaos. Rasanya seperti tecekik kerah baju yang ketat, sampai tenggorakannya terasa sesak.


"Amanda Naomi."


"Iya Tuan."


"Aku ajak kamu kesini ini. Biar kamu tahu fashion."


Manda menatapnya judes, "Sekalian saja bilang seleraku murahan."


"Memang iya. Selera kamu murahan."


Manda lantas pergi dan meninggalkan Shaun begitu saja. Tanpa menghiraukan sekitarnya. Perasaannya tidak suka, tapi dirinya memang begitu adanya. Tidak bisa kalau melihat nomimal tinggi tertera di label baju itu, meskipun ada diskon. Manda tetap saja memikiran isi dompetnya.


"Ini masih harga murah." Saat Shaun melihat harga yang tertera dilabel baju. "Gimana kalau aku mengajaknya ke toko A. Bisa-bisa dia pingsan."


Shaun lantas keluar dan mengejarnya. Padahal, Mal ini tempat para kalangan mengenah ke atas. Bukan yang paling atas. Harga tiga jutaan masih wajar bagi Tuan Muda. Tapi, tidak untuk Amanda Naomi. Baginya, kemeja kerja seharga dua ratus ribu, sudah terasa nyaman bila dikenakannya.


"Amanda Naomi!"


"Amanda Naomi!!"


"Amanda Naomi!!!"


Langkah kaki yang terhenti, Manda lalu membalikan badannya dan menatap sang Tuan Muda.


"Iya Tuan."


"Kamu ingin kemana?"


"Ke tempat yang cocok buat saya."


"Dimana?"


1 jam kemudian


Sebuah Mal yang menyegarkan mata Manda. Sangat ramai, dan sudah tampak toko-toko yang menjual berbagai jenis busana, untuk wanita maupun pria.


Harga yang tercantum kisaran ratusan ribu. Membuat mata Manda berbinar manis. Shaun juga bisa melihat raut wajah Manda yang tampak berseri-seri.


"Diskon." Manda dengan gemasnya dan Shaun hanya mengikuti langkah kaki asisten pribadinya.


"Harusnya, dia mengawalku. Kenapa aku yang jadi mengawalnya."


"Tuan saya mau kesana."


Shaun hanya tampak tersenyum saja.


"Hari ini, aku biarkan kamu sesuka hatimu. Lain kali, aku tidak akan melepaskan kamu."


Sudah beberapa toko Manda kunjungi, dan sudah mendapatkan dua kemeja cantik. Kemeja kerah korea warna putih. Lalu kemeja kerut tengah warna ungu muda dan yang lainnya akan dicari lagi.


Sudah hampir satu jam. Manda sibuk mencari baju atasan dan tidak peduli akan Tuan Muda Shaun yang dari tadi sudah menemani.


"Masih lama?"


Shaun yang tidak terbiasa di tempat ramai seperti ini. Apalagi, banyak sekali perempuan yang menggoda dirinya. Perkataan mereka juga menuju ke hal sensitif.


"Tuan."


Manda yang melihat raut wajah itu sudah tampak berkeringat. Manda mengambil tisue yang ada di dalam tasnya. Mengusap dengan lembut keringat Tuan Mudanya.


"Maaf."

__ADS_1


Manda yang tersenyum dan ia berjalan pergi.


"Gitu doang!" Batinnya Shaun telah memberontak.


Kali ini masih sabar dan menahan dengan senyuman sinisnya. Raut wajahnya begitu dingin, sayanganya Manda tidak mempedulikan hal itu.


Manda yang sibuk akan angka yang terpampang di setiap toko. Barisan busana perempuan, ia mengingat akan lamaran Abang gantengnya. Akhirnya memasuki toko khusus gaun-gaun.


"Cantiknya." Memegang gaun yang ada di manekin dan tampak harga sekitar lima ratus ribu.


Tuan Muda yang tampak menggeleng.


"Huh."


Shaun mendesis sendiri "Apa dia benar-benar tidak mengerti fashion?!"


"Ini bagus banget." Ucap Manda yang telah memegang sebuah dress dengan mode A-line skirt dress warna nude.


"Semua dibilang bagus. Tapi tidak jadi membelinya." Seorang mengatakan begitu. Entah, itu pelayan atau pembeli yang lain. Manda lantas menatapnya.


Shaun melihat itu hanya pasrah dengan hembusan nafasnya. Semakin sesak rasanya. Dia ingin segera pergi dari tempat ini. Sayangnya, Manda masih saja berjalan menelusuri tempat ini.


"Kenapa keluar lagi? Bukannya dressnya itu cantik?"


Manda tersenyum melihat gaya bicara Shaun yang menirukan dirinya.


"Tuan."


"Apa lagi? Mahal?"


Manda mengangguk, lantas Shaun berkata "Perasaan, dari tadi. Kartu itu sudah kamu pegang. Kenapa kartunya tidak dipakai?"


"Owh, yang itu. Jangan boros. Nanti uang itu bisa saya tabung. Buat beli rumah mewah."


"Iya, bener. Gitu saja terus." Ucap Shaun yang sudah lelah dan Manda lantas pergi dari toko itu.


Manda juga tidak suka kalau dibicarakan orang lain. Mau beli ataupun tidak, bukan urusannya.


Shaun memanggilnya dengan lembut "Amanda Naomi."


"Iya Tuan."


"Aku lelah. Aku ingin ke coffee shop."


"Aku cuma mau ngopi."


"Iya, saya paham."


Manda juga cukup membuat lelah Tuan Mudanya. Rasanya begitu senang, bisa mengerjai Tuan Mudanya. Sebenarnya, Manda juga ingin sekali memakai baju mahal. Ya, nanti saja setelah mendapat uang ratusan juta itu.


"Ini kopi Tuan."


"Tuan Muda Bawel." Desisnya melihat tulisan Manda di sebuah gelas kopinya.


Es americano yang menyegarkan dan membuat matanya kembali terang.


Manda yang duduk menghadap ke arah Shaun, ia telah menikmati coffee latte dan tampak tersenyum senang.


"Kamu kenapa suka belanja disini?"


"Emh, disini harganya terjangkau."


"Kamu pastinya juga tahu. Nama-nama brend ternama dan berkelas."


"Tentu saja."


"Terus? Kenapa tidak belanja di tempat yang mewah?"


"Emh, saya tidak butuh itu. Saya hanya asisten. Percuma juga kalau saya tampil mewah. Memang tidak sepadan dengan Nyonya dan Tuan. Asisten ya asisten. Tidak sama seperti Tuan. Jadi, orang juga akan langsung mengenali. Kalau saya ini asisten Tuan Muda Shaun. Kalau saya pakai gaun indah, nantinya mereka akan salah sangka."


"Iya. Aku mengerti penjelasan kamu." Shaun kembali meminum kopinya.


Manda bertanya "Apa Tuan, sebelumnya belum pernah datang kesini?"


Shaun menggeleng dan tampak tersenyum.


Lalu Shaun berkata "Aku jarang pergi ke mal. Setiap aku ingin sesuatu. Mereka yang datang ke rumah."


"Mereka?"


"Iya. Misal aku ingin mainan. Dulu ada orang yang mengantarnya ke rumah. Aku tinggal pilih mainnya."

__ADS_1


"Tapi, Tuan pastinya pernah ke Mal?"


"Ya pernah. Tapi ada para pengawal."


Shaun mendekatkan wajahnya, ia berkata "Sebenarnya."


"Iya."


"Aku ini."


Manda sudah sangat serius, malah Shaun tidak jadi cerita dan hanya tersenyum saja.


"Ngeselin!"


"Tuan." Mengembalikan kartunya.


"Bawa saja."


"Saya takut hilang."


"Kamu harus menjaganya."


"Kalau uangnya habis?"


"Aku juga akan dapat infonya."


"Bener juga. Aku tidak jadi beli mobil."


"Mobil?"


"Tidak, saya hanya bergumam saja. Mana bisa saya mengemudikan mobil."


"Nanti hari minggu, kamu harus belajar sama sopirku."


"Tidak mau. Hari minggu saya ada acara."


"Aku sudah mendengarnya kemarin. Ya sudah. Mulai nanti sore. Kamu aku kasih ijin pulang lebih awal. Minggu sore segera kembali ke apartemen."


"Lalu, Tuan?"


"Nanti malam, aku mau ke luar kota sama Daddy. Jadi, kamu bisa libur."


"Baik Tuan." Manda dengan senyuman manis, dalam hatinya terdalam berseru senang, "Yes! Yes! Yes!"


"Manda." Seseorang memanggilnya dan Manda menoleh ke arah suara yang sudah dikenalnya.


"Saras?"


"Hai, gimana kabar kamu?"


"Kabarku baik."


"Manda, lama kita berkumpul. Sabtu malam teman-teman akan ada pertemuan. Emh, Nadia juga akan hadir."


"Benarkah?"


"Iya. Malam minggu jam 7 di Fresco Restoran."


"Owh, iya."


"Jangan lupa datang."


"Oke." Tampak mengedipkan sebelah mata dan ia telihat menjijing tas belanjaan.


"Tuan, maaf. Dia teman SMA."


"Pantas saja. Sama seperti kamu."


"Tuan."


"Memang benar begitu."


Manda yang kesal atas ucapan Tuannya. "Sukanya ngerendahin orang." Menggigit gemas sedotan, lantas memalingkan wajahnya.


"Manda akan datang." Ujar sang teman tadi, pada sebuah pesan untuk para temannya.


"Aku merasa aneh sama sikap kamu."


"Saya juga. Kadang Tuan berubah baik. Kadang seperti singa."


"Aku? Seperti singa?"

__ADS_1


"Iya."


__ADS_2