
Siang itu Zenno ternyata masih berada di area kampus dan dia melihat Olivia yang tampak terburu-buru saat berjalan keluar kampus.
"Zenn, loe kenapa?" Tanya Loudy, karena tadi mereka sempat bertemu Bella. Loudy beranggapan kalau Zenno masih kepikiran soal ajakan ke pesta penyambutan mahasiswa baru nanti.
"Bukan apa-apa, sepertinya gue harus pulang."
"Tumben?"
Zenno tersenyum dan memegang pundak kanan Loudya. Mereka saling menatap, tapi Zenno tampak berbeda dan dia berkata "Gue harus jagain calon bini gue."
Zenno pergi begitu saja dan Loudy masih belum percaya dengan perkataan Zenno.
"Apa dia serius?" Dalam benak Loudy, kalau dari perkataan Zenno hanya biasa saja, dan sepertinya cuma bercanda.
Loudy lalu berjalan dan beberapa teman yang dari kantin juga menghampiri dia, untuk menanyakan tentang Zenno. Dari tadi mereka masih penasaran dengan apa yang Zenno katakan. Tapi Loudy tidak ingin membahasnya dan hanya mengajak mereka untuk bertanding CFF.
Zenno yang sudah ada di dalam mobil, mencoba untuk menghubungi Olivia. Tapi dia tidak menerima panggilan itu.
"Kenapa malah dimatiin?"
Zenno masih mencoba untuk melakukan panggilan ke nomor Olivia, ternyata ponselnya malah di non aktifkan.
"Kenapa dengan dia?" Zenno tampak tidak senang dan mulai melajukan mobilnya.
Saat hendak keluar dari parkirkan kampus, Zenno melihat Olivia di pintu gerbang kampus dan hendak masuk ke taxi biru.
"Dia Buru-buru." Zenno berusaha untuk mengikuti taxi itu.
Olivia begitu cemas, setelah mendapat kabar kalau sang Kakak masuk rumah sakit. Barusan pelayanan kebersihan apartemen yang melihat Dinda pingsan di ruang tamu, dan akhirnya penjaga apartemen menghubungi ambulan. Pak Roni telah mengabari Olivia tentang Dinda yang masih belum sadarkan diri.
"Kak Dinda harus segera sadar." Batinnya dan masih merasa cemas.
Sekitar 20 menit, akhirnya Olivia tiba di rumah sakit. Zenno yang mengikuti dan dia harus memarkirkan mobilnya. Jadi tidak bisa mengikuti Olivia begitu saja.
Olivia yang berlari dan tidak lama dia sudah bertemu Pak Roni.
"Pak Roni, gimana keadaan Kak Dinda?"
"Nona Dinda sudah siuman. Baru saja dipindahkan ke kamar."
Setelah mendapatkan penanganan dokter, Dinda sadar dan sudah dipindahakan ke ruang rawat inap. Dinda banyak pikiran dan asam lambungnya menjadi naik. Sudah beberapa hari setelah itu, Dinda kurang memperhatikan dirinya dan keluarga tidak ada yang tahu tentang perasaanya. Hanya sang Oma yang tahu tentang Dinda, tapi Oma belum menemukan rencana untuk Dinda.
"Kak Dinda." Olivia yang sudah masuk ke ruangan itu dan Dinda tersenyum tipis.
"Oliv, kamu kenapa kesini?"
"Pak Roni yang kasih tahu Oliv. Kakak kenapa bisa sakit? Oliv udah dari kemarin susah hubungi kakak."
"Kakak cuma telat makan, biasa kan kakak punya asam lambung yang sering kambuh."
"Iya, tapi Kakak baik-baik aja kan?! Apa Kak Dinda ada masalah?"
__ADS_1
Dinda tersenyum dan Olivia yang masih berdiri, sambil memegang tangan sang Kakak.
"Tidak, Kakak cuma telat makan aja."
Pak Roni juga belum tahu apa yang terjadi, walaupun dia hanya seorang sopir. Tapi dia sudah jadi kepercayaan keluarga Amarta. Bahkan staff apartemen itu, hanya mempunyai nomor Pak Roni, bila terjadi sesuatu terhadap Dinda. Karena waktu itu, memang Pak Roni yang mencarikan apartemen yang cocok untuk Dinda.
"Serius Kak Dinda nggak ada masalah?"
Dinda tersenyum dan mengelus tangan Olivia, lalu berkata "Kamu sudah seperti Mama. Yang selalu cemas atas diri Kakak."
"Ems, Kak Dinda gitu."
Tidak lama, Zenno datang dan bertemu Pak Roni di depan ruangan itu.
"Kak Dinda, kenapa Olivia seperti dengar suara Zenno?" Tanya Olivia. Dinda tampak tersenyum, walaupun masih terlihat pucat, tapi Dinda begitu kuat bila sudah berhadapan dengan sang adik.
"Kamu sudah menyukainya, jadi kamu kepikiran dia terus." Dinda sedang berusaha untuk menggoda adiknya.
"Bener kok, apa Kak Dinda nggak dengar suara Pak Roni mengobrol."
"Iya, tapi bisa saja ngobrol sama dokter."
Olivia penasaran dan Dinda cukup senang saat melihat Olivia yang sudah mulai dewasa.
Tidak berselang lama, Zenno masuk ke kamar itu dan Olivia menoleh ke arah suara pintu ruangan yang terdorong.
"Zenno..." Suara Olivia yang terdengar pelan dan Dinda tersenyum melihat ekspresi adiknya.
"Iya, makasih ya."
Zenno tampak tersenyum, karena mereka memang cukup mengenal. Walaupun tidak dekat, tapi mereka juga satu kampus dan Zenno juga tahu kalau Dinda calon Kakak iparnya.
"Kamu tahu dari mana kalau Kak Dinda sakit?" Olivia berusaha untuk memastikannya.
"Tadi aku ngikuti kamu dari kampus. Aku tadi telfon, tapi kamu matiin ponselnya, untung aja masih lihat kamu di gerbang kampus."
Dinda melihat Olivia yang sedikit canggung dan Zenno cuma cukup kikuk saat berhadapan dengan Olivia di depan Dinda.
"Zenno, aku titip adikku ini ya. Dia kadang ngambekan."
"Ah, Kak Dinda. Siapa juga yang ngambekan." Olivia berusaha untuk menutup dirinya dan mengambilkan air minum untuk Dinda.
"Kak Dinda tidak perlu khawatir, Olivia cepat menyesuaikan diri." Zenno juga bingung menjelaskan keadaan dirinya dan Olivia bila berada di rumah.
"Udahlah, Kakak ayo minum dulu. Terus istirahat." Olivia merubah suasana canggung itu dan Zenno masih menatap ke arah Olivia.
"Iya, benar kata Oliv. Kak Dinda harus istirahat dulu. Zenno mau ke depan dulu."
Zenno tiba-tiba bingung dan merasa tidak enak. Olivia juga merasa tidak nyaman saat berada di depan Zenno.
"Kakak akan istirahat. Kamu pulang saja sama Zenno."
__ADS_1
"Emh, nggak mau. Olivia mau disini saja menemani Kak Dinda."
"Besok malam ada pesta penyambutan, kamu harus cukup tidur malam ini. Biar besok malam, kamu bisa tampil cantik."
"Aku nggak akan datang."
"Kenapa tidak? Kamu akan lebih banyak teman."
"Buat apa banyak teman. Lagian aku sudah diatur sama Papa, untuk selalu dekat sama Zenno."
"Olivia, Papa begitu demi kamu sayang."
"Ya udah, Kak Dinda istirahat dulu. Aku akan temani Kak Dinda disini."
"Olivia..."
"Aku mau bilang sama Zenno. Aku malam ini mau menemani Kak Dinda disini. Biar dia pulang sendiri."
"Ya udah kalau begitu." Dinda mulai memejamkan matanya dan Olivia keluar dari ruangan itu.
Ruang rawat inap begitu bersih, tapi tetap saja lebih nyaman kamar sendiri, itulah yang ada dalam benak Dinda.
"Lebih baik aku pulang ke apartemen." Batinnya dan mulai mengantuk, karena tadi Dinda mendapat suntikan obat yang membuat dia mengantuk.
Olivia yang sudah ada di luar ruangan, Pak Roni mengerti dan meninggalkan mereka berdua untuk berbincang.
"Zenno, malam ini aku mau menemani Kak Dinda."
Zenno mengerti apa yang dirasakan Olivia saat ini, dia lalu berkata "Iya, nanti aku akan antar pakaian kamu."
Olivia masih tidak nyaman kalau sampai Zenno membuka lemari dan mengambilkan pakaiannya, terutama pakaian dalam yang membuatnya malu, lalu dia berkata "Tidak perlu, besok pagi aku akan segera pulang. Kamu tidak perlu repot-repot."
"Nggak akan repot." Zenno masih tidak bisa berpikir kesana, apalagi tentang pakaian dalam perempuan.
"Nggak perlu, lagian cuma semalam. Besok pagi-pagi aku akan pulang. Kamu nggak perlu cemas."
Zenno berkata "Ya udah kalau gitu. Kalau kamu butuh sesuatu, kamu bilang sama aku."
"Iya, pasti. Aku akan telfon kamu."
"Ya udah, kalau gitu aku pulang dulu." Zenno mengusap rambut Olivia dan membuatnya merasakan ada hal aneh.
"Emz... Oke. Hati-hati."
Zenno tersenyum dan Olivia jadi mematung atas sikap Zenno barusan.
Zenno berjalan dan sempat menoleh, Olivia masih mematung, mencoba untuk meraba rambutnya bagian atas.
"Kenapa begini?" Olivia merasa sedikit rasa berdebar.
Zenno yang berjalan melewati koridor rumah sakit itu, tampak tersenyum.
__ADS_1