
Pagi yang memang tampak biasa saja, tapi tidak bagi Zenno Brata Perwira. Dengan raut wajah yang tak biasa dan menggaruk kepala, seolah dia tidak percaya akan hari ini.
Pertemuan pertama yang tidak mengesankan bagi keduanya dan jam sudah menunjukan pukul 10 pagi lewat 20 menit.
"Olivia...." Lirihnya dalam hati dan menyulam bibir, tampak sedikit canggung dan ini membuat dirinya menjadi tidak nyaman.
"Den Zenno, maaf... saya pagi-pagi sudah harus berkunjung." ucap Pak Roni dan mereka masih di depan pintu pagar rumah itu.
"Emms iya Pak Roni, mari silakan masuk." balasnya dan senyuman manis itu kembali tampil. Tetapi, Olivia masih menatapnya keji. Seolah hal yang tidak diharapkannya selama ini, adalah kesan pertama yang buruk.
"Huft!" keluh Olivia dan mulai mengikuti Pak Roni masuk ke rumah itu. Zenno yang kembali menutup pintu pagar dan rasanya tidak nyaman. Bertemu Olivia disaat begini dan membuatnya begitu canggung.
Setibanya di dalam rumah, dan Pak Roni duduk di sofa ruang tamu. Olivia masih saja berdiri dan menatap sekitar ruangan itu. Karena dirinya sudah tahu, akan nantinya tinggal di rumah Zenno.
"Maaf Pak Roni, saya tinggal mandi dulu." ucap Zenno dan tersenyum.
"Memang, sepertinya kamu harus mandi." Suara Olivia terdengar ketus dan Zenno tampak mengerutkan dahinya.
Zenno menapaki anak tangga yang tidak jauh dari ruang tamu itu, dan Olivia berjalan menuju ke sebuah ruangan. Pak Roni yang duduk tampak melihat ke layar ponsel dan mengirim sebuah pesan kepada Pak Dion, dan mengatakan kalau Olivia sudah tiba di rumah Zenno.
"Ini foto Paman Benny dan Tante Virda."
"Jadi, memang benar dia itu tadi Zenno."
"Kenapa dia berubah?"
"Apa yang Zenno rencanakan?"
"Waktu chat tadi, dia nggak bilang apapun. Sepertinya Zenno juga nggak tahu kalau aku akan tinggal disini."
Suara itu begitu pelan dan Olivia masih bertanya-tanya dalam benaknya.
Di sebuah kamar dan Zenno tampak sedang telfon dengan Papanya.
"Papa? Papa kenapa nggak kasih tahu Zenno??"
"Jadi Zenno harus tinggal sama Olivia?"
"Nggak bisa Pa. Zenno udah dewasa, apalagi Olivia juga sudah gadis."
"Papa, Papa......"
Tut tut tut... sepertinya panggilan itu tidak berlangsung lama. Opps, benar! Zenno tidak tahu kalau Olivia di Jakarta akan tinggal bersama dirinya.
"Mana bisa begini?" Perasaan Zenno tidak tenang, yang tadinya berdiri dengan tegas, dia seolah terpuruk di belakang pintu kamarnya.
"Aku harus menjaga Nona Muda." batinnya, serta pikirannya masih kacau "Tuhan, apa salahku?" Zenno tampak menggeleng lemas dan tak sanggup untuk mengelak dari semua ini.
__ADS_1
Zenno berdiri dan mulai meletakan ponselnya. Mengambil handuk dan mulai ke kamar mandi. Zenno tampak tidak senang.
Di saat dilantai dua Zenno galau, dan di lantai bawah, Olivia mulai gemas melihat foto kecil Zenno.
"Bahkan aku sudah lupa, kapan dulu bertemu?"
Pak Roni mulai mendekati Olivia dan berkata "Nona, saya mau mengambil koper Nona."
Olivia hanya tampak menggangguk dan masih berdiri di depan sebuah lemari putih, dia menatap beberapa foto yang terletak di dalam lemari kaca itu.
"Gimana kabar Paman sama Tante?" Olivia hanya mengenal orang tua Zenno dan tidak begitu mengenal Zenno. Walaupun mereka sering mengirim pesan, tapi mereka hanya sebatas chat dan tidak lebih.
Olivia sudah duduk di ruang tamu dan mengirim pesan untuk Kakaknya. Dia tidak lupa menceritakan apa yang tadi terjadi, kesan pertama saat bertemu Zenno.
"Kakak bisa-bisanya tersenyum, pasti kalau ketemu, ngeledekin aku. uuh!" Olivia menatap ke lantai atas dan terlihat Zenno yang berjalan mengenakan handuk hitam.
"Bisa-bisanya dia begitu, tidak tahu aturan." Desis Olivia yang merasa Zenno terlalu cuek. Padahal ada gadis yang baru datang, tapi Zenno yang berjalan dari kamar mandi dan menuju ke kamarnya, hanya melilitkan handuk ke pinggangnya.
Tidak lama Pak Roni sudah membawa satu koper besar dan satu tas jinjing bergambar bunga sakura.
"Nona, ini tas dan kopernya." Ucap Pak Roni dan Olivia hanya tersenyum.
Zenno yang sudah mandi dan memakai kaos biru muda, dipadukan celana jeans panjang warna hitam.
"Pak Roni, maaf saya lama." ucapnya dan mulai duduk di depan Olivia. Pak Roni yang duduk di sisi sofa sebelahnya berkata "Tidak apa-apa, saya cuma mengantar Nona Olivia. Sebentar lagi, saya ke kantor."
"Baik, saya akan sampaikan."
"Buat apa kamu ke kantor Papa?" Olivia yang tampak ketus dan menyela obrolan mereka berdua.
"Emh, mau bilang kalau kamu disini." Balasnya dan merasa kikuk.
"Nggak perlu, lagian Papa yang ngatur semuanya."
"Tapi kan, seenggaknya aku ketemu sama Papa kamu."
"Sok nggak tahu apa-apa, huft." Keluhnya dalam hati, "Mana kamar aku?" Olivia dengan suara ketusnya.
Zenno mulai tampak kesal dalam benaknya, tapi cukup menahannya. Pak Roni sebatas melihat tingkah mereka berdua.
"Emh, kamar kamu di lantai atas."
"Bukannya kamar kamu juga di lantai atas?"
"Iya, disini cuma ada dua kamar. Ayo, aku tunjukin sama kamu."
"Oke. Bawain koper aku." pintanya dan menatap tajam.
"Iya." balasnya dan tampak menghembuskan nafasnya pelan.
__ADS_1
Pak Roni ikut mengantar Olivia dan masih milihat aura sinis dari keduanya.
Setibanya di kamar yang bernuansa putih, tampak rapi dan hanya ada tempat tidur, meja rias dan satu lemari. Semuanya serba putih.
"Apa ini kamarku?"
Zenno hanya mengangguk dan Pak Roni mulai meletakan tas jinjing Olivia di atas meja sebelah tempat tidur.
"Apa nggak ada motif lain, selain putih?"
"Motif?" Tanya Zenno yang berdiri di dekat di samping Pak Roni.
"Iya, bedcover, gorden, dan itu" Menunjuk dekorasi kamar dan memang serba putih clasic.
"Memangnya, kamu mau apa?"
"Bunga atau apa gitu, dekorasi yang lebih ceria."
"Ya nanti kamu bisa beli sendiri."
Dalam hati Olivia "Ini cowok kenapa cuek. Dasar, nggak peka."
Olivia mulai berjalan mendekat dan Zenno menatapnya dengan gelisah. "Zenno, kamu tahu siapa aku?"
"Emh, tahu. Kamu Olivia."
"Hanya itu?"
"Iya, Olivia tuan putri keluarga Amarta."
"Cuma itu?"
"Iya, itu."
"Benar-benar keterlauan!" Lirihnya dan Pak Roni berusaha mencairkan suasana "Nona tadi tidak sarapan pagi. Sepertinya, Den Zenno nanti harus menyiapkan untuk Nona Olivia."
Pak Roni bergegas keluar kamar itu dan Zenno menatap Olivia dengan kesal, lalu berkata pelan "Aku tahu kamu calon istriku, harusnya kamu juga lebih peka."
Olivia mulai mengepalkan kedua tangannya, dan Zenno yang sudah berjalan melewati Olivia, tampak tersenyum nakal.
Sungguh suasana pagi yang tidak menyenangkan untuk Olivia. Zenno yang menoleh ke arahnya, dan mulai menutup pintu kamar itu.
"Olivia, kamu memang tuan putri. Tapi ini rumahku, dan aku yang berkuasa." Senyuman bak kucing nakal dan akan menerkam tikus imut dengan sadisnya.
"Zenno, awas aja kamu nanti. Kamu udah buat aku kesal." Olivia memang masih terlihat geram atas tindakan Zenno barusan.
Sungguh hal yang tidak disukai Olivia, padahal setiap mereka berdua mengirim pesan, tampak manis. Ya walaupun, keduanya saling ingin menjatuhkan. Tapi mereka tahu, kalau mereka nantinya akan menjadi suami istri.
__ADS_1