COUPLE UNIK

COUPLE UNIK
Dinda Yang Sangat Malu


__ADS_3

"Pagi Dinda."


"Pagi Kak."


Di restoran Hotel mewah di Bali, mereka berdua tampak santai saat menikmati sarapan pagi.


"Nanti kita berangkat jam 1 siang."


"Oke." Dinda tampak santai dan Deffo menatap ke arah pantai, sambil menikmati kopi robusta.


"Dinda, pernikahan kamu bagaimana?"


"Aku malas membicarakan soal itu."


"Apa Gery tidak memberi penjelasan?"


"Buat apa, itu jelas videonya. Kakak kemarin juga lihat, kalau itu Gery."


Deffo benar-benar tidak habis pikir tentang Gery. Dinda gadis yang baik, dan berkelas, kenapa bisa terpikat oleh gadis yang tidak jelas.


"Lalu, Papa kamu?"


"Entah, aku belum punya rencana apapun."


"Apa kamu mau menikah?"


"Ya, aku tidak ingin seperti Kak Deffo, suatu saat aku pasti menikah."


"Kenapa bawa-bawa Kakak."


"Habisnya Kakak menyerah begitu aja, kalau aku tidak mau begitu. Aku juga mau bahagia."


"Tidak juga."


"Kak Deffo, punya teman yang setia nggak?"


"Teman setia?"


"Iya, yang setia. Nggak seperti Gery."


"Teman Kakak udah pada nikah."


"Huuf..." Dinda lantas melanjutkan makan paginya dan menikmati keindahan alam ini. Pantai yang mempesona, dan tampak cantik di pagi hari.


"Ada satu teman, tapi...."


"Tapi kenapa?"


"Tapi, dia punya anak."


"Duda??" Dinda yang melotot.


"Bukan begitu, itu anak Kakaknya yang sudah meninggal. Jadi, dia yang ngasuh dan mengadopsi anak itu."


"Masih perjaka?"


"Ya gitulah, yang jelas dia bukan duda."


"Kakak kenal dekat?"


"Iya, dulu junior di kampus. Dia orangnya baik, tidak aneh-aneh. Buktinya, dia mau merawat anak saudaranya."


"Kalau itu, memang tanggung jawab dia sebagai saudara." Dinda menggeleng dan mengambil cangkir kopi, lalu menikmatinya dengan mencium aromanya lebih dulu.


"Hems, kalau dia bukan orang baik. Mana mau ngasuh sendirian, mana dari bayi, sekarang umur 3 tahun."


"Benar juga."


"Saudaranya meninggal kecelakaan, jadi waktu itu hamil tua. Jadi bayinya selamat, kedua orang tuanya meninggal."


"Kasian, aku jadi tidak tega."


"Iya, Kakak juga sering berkunjung kesana."


"Memangnya dia dimana?"


"Di Bogor."


"Dekat dong, sama rumah Oma."


"Iya, dia juga pekerja keras dan punya usaha sendiri."


"Keren juga."


"Iya, makanya dia dulu juga nggak ada pacar, terus sekarang ngerawat anak. Dia hanya mau, yang menerima dia apa adanya dan sayang sama anak itu."


"Hems, berarti dia nggak akan aneh-aneh."


"Kamu mau kenal sama dia?"


"Em, boleh juga. Nggak ada salahnya. Malah lebih cepat lebih baik."


"Kamu serius?"

__ADS_1


"Memangnya kenapa?"


"Kalau serius, ya bagus kalau begitu."


Suasana menjadi pecah, dikala Deffo ternyata tadi hanya bercanda. Dinda jadi kesal dan begitu malu. Dia sudah niat untuk melupakan Gery, malah dibuat aneh sama Deffo.


Dinda malu, dan ingin kembali ke kamarnya, tiba-tiba.


Brrrak!


Dinda terpeleset di resto dan ada seorang pria tampan di dekatnya.


"Kamu tidak apa-apa?" Pria itu lalu membantu Dinda untuk berdiri.


"Iya, nggak apa-apa." Balasnya dan begitu malu.


Deffo juga melihat itu dan mendekati mereka.


"Dinda, kamu ada yang sakit?"


"Ini gara-gara Kakak." Ketusnya dan suaranya terdengar pelan.


Dinda hendak berjalan tapi masih licin, hampir saja terjatuh lagi, dengan sigap tangan pria itu menangkapnya dan Deffo tampak tertegun.


"Aku nggak apa-apa."


"Hati-hati."


"Dia adik saya, biar saya yang menemaninya."


"Iya, silakan." Ucap pria itu.


Deffo lalu mengantar Dinda, dan Dinda masih kesal "Ini karena Kakak."


"Iya, Kakak minta maaf. Nggak bermaksud begitu."


Pria itu tampak tersenyum manis, dan masih melihat ke arah Dinda yang sudah dipapah oleh Deffo.


Sampai di kamar Dinda, Deffo cukup memperhatikannya.


"Mana yang sakit?"


"Bukan sakit, tapi malu."


"Emh, iya. Kakak minta maaf."


"Habisnya, Kakak gitu. Dinda udah serius. Malah ternyata bercanda."


Dinda tiba-tiba mulai merasa ada yang salah dengan dirinya, memang dia susah untuk melupakan cintanya. Air mata Dinda kembali membasahi pipi, dan dadanya terasa begitu sakit.


"Menangislah kalau itu membuat kamu lega. Tidak ada yang salah dengan cinta, karena memang air mata salah satu penguatnya."


Deffo lalu meninggalkan Dinda sendirian, agar dia bisa meluapkan semua perasaannya.


Saat menutup pintu kamar Dinda, dia juga merasakan hal yang sama. Dia hanya bisa memendam perasaannya dan tidak bisa meluapkannya.


"Dinda menangislah." Gumamnya dan menutup pintu kamar Dinda.


Saat Deffo beranjak pergi, bertemu lagi dengan pria itu. Deffo lalu berhenti dan menyapanya.


"Terima kasih sudah menolong Adik saya."


"Iya sama-sama. Tadi juga, kebetulan disebelahnya."


"Perkenalkan, saya Deffo."


"Saya Erick."


Keduanya saling berjabat tangan dan tersenyum, lalu Erick bertanya "Apa adik anda baik-baik saja?"


"Iya, hanya sedikit malu katanya."


"Owh, begitu. Saya pikir dia mengalami kesleo."


"Tidak, dia baik-baik saja."


"Syukurlah, kalau tidak ada luka."


"Ada,.."


"Emh,? Tadi katanya tidak kesleo?"


"Owh, bukan itu maksud saya. Kalau begitu saya permisi dulu. Saya masih ada pekerjaan."


"Iya, silakan." Balasnya dengan tersenyum.


Deffo pergi ke arah restoran, dan Erick menuju ke kamarnya. Saat berjalan ke kamar, dia melewati kamar Dinda dan mendenger suara wanita menangis.


"Pagi-pagi ada yang menangis?" Pikirnya dan mulai berjalan lagi.


Erick yang bersebelahan kamar dengan Dinda, dan dia masih mendengar suara tangisan itu. Dia hanya menggeleng dan tidak ingin berfikir aneh-aneh.


"Kenapa dia menangis terus? Apa tidak capek?" Erick yang berbicara sendiri.

__ADS_1


Sambil membuka laptop dan mengirim sebuah file, tapi dia tidak konsen. Suara itu begitu terdengar di telingannya, masih ada pekerjaan yang harus dia selesaikan, tapi tamu sebelah kamar tidak henti menangis.


Erick keluar dari kamar, dan ingin memastikan keadaannya. Tapi dia bingung, haruskah mengetuk pintu ataukah melapor ke pihak Hotel.


"Tidak,.."


"Tapi dia tidak henti menangis."


"Apa yang harus aku lakukan?"


Erick yang berdiri di depan pintu kamar Dinda, dia cukup bingung akan situasi ini.


Suara bel kamar berbunyi, Dinda bangkit dari kasurnya.


"Kak Deffo gangguin aja." Dinda mengira itu Deffo.


Ceklek!


"Kakak, ganggu deh." Ucapnya dan tidak melihat siapa yang datang, hanya membuka pintu dan kembali ke ranjang.


Dinda tengkurep dan menangis lagi.


Erick berjalan masuk, sambil melihat apa yang terjadi.


"Tadi Kakak bilang, Dinda kalau mau nangis, ya udah nangis aja. Nggak usah di pendam. Tapi Kakak malah ganggu."


Dinda tampak melempar tisue.


"Ini cewek tadi, apa karena jatuh tadi?"


Erick melihat ke sekitar, penuh tisue bekas dan Dinda masih tengkurap memeluk bantal besar.


"Kakak tahu, gimana perasaan Dinda? Sakit Kak. Gery dan Marcella memang sengaja buat Dinda sakit." Ucapnya dan Erick seperti menelan ludah, dia bingung bagaimana cara menenangkan seorang gadis.


"Kak, tadi itu Dinda serius. Yang penting buat Dinda, dia setia dan nggak akan nyakitin Dinda. Tapi Kakak malah bercanda. Pernikahan Dinda tinggal sebulan lagi, Dinda masih bingung harus gimana."


Suara tangisan Dinda semakin menjadi dan Erick mulai mengerti, ternyata gadis ini sedang patah hati.


"EHem, ehem,.." Erick tampak berdehem.


Tapi, Dinda masih belum melihatnya dan tetap menangis.


"Kalau Kak Deffo nggak bisa bantu Dinda ya udah, tapi nggak usah bercanda. Padahal Dinda serius, mau cari pengganti Gery. Kakak gitu sama Dinda. Padahal semalam, Dinda udah bantuin Kakak." Ucapnya dan suara tangisnya pecah.


Tidak lama Deffo melihat pintu kamar Dinda yang terbuka dan masuk ke kamar.


"Kamu, Erick..." Deffo yang masih mengingat jelas.


"Iya,.." Suara Erick tampak gugup dan Dinda belum melihatnya.


Deffo mendekat dan membangunkan Dinda. "Udah nangisnya."


"Em, Kakak tega sama Dinda."


Deffo memeluk Dinda dan berbisik "Apa kamu tidak malu? Ada pria tampan yang memperhatikan kamu."


Dinda kesal dan bertanya "Siapa?"


Deffo melepas pelukannya dan membuat Dinda menoleh ke arah Erick.


Dengan cepat Dinda mengusap air matanya dan merapikan rambutnya. Lalu duduk terdiam memeluk bantal.


Erick tampak tersenyum "Maaf, saya hanya..."


Deffo berdiri mendekati Erick, lalu mengajak dia pergi. Deffo menutup pintu kamar Dinda dan menatap Erick.


"Ada perlu apa?"


"Saya penginap sebelah dan mendengar ada yang menangis. Saya jadi tidak bisa fokus kerja."


"Iya, saya minta maaf atas nama Adik saya. Maaf kalau membuat anda terganggu."


"Iya, tidak apa-apa. Apa dia baik-baik saja?"


"Iya, dia tidak apa-apa. Hanya berakting."


"Owh begitu, ya sudah kalau begitu. Saya permisi dulu."


"Iya, silakan."


Deffo menghembuskan nafasnya dan merasa beberapa hari ini, memang dia seperti layaknya Kakak yang melindungi Adik perempuan.


"Ternyata begini rasanya kalau punya Adik perempuan. Untung saja, Adikku cowok semua."


Deffo lalu kembali ke kamar Dinda dan berkata "Ayo kita belanja."


"Aku malu."


"Pakai masker, pakai kacamata."


Dinda menggeleng.


__ADS_1


__ADS_2