COUPLE UNIK

COUPLE UNIK
Kegelisahan Seorang Tuan Putri


__ADS_3

"Emh, Sherryl. Bikin kaget aja." Olivia yang tampak tidak nyaman karena sempat berbohong pada temannya.


"Loe nipu gue?" Sherryl yang berkacak pinggang dan melotot.


"Bukan gitu, emang Kakak gue sakit. Tapi, tiba-tiba dia ngajakin gue kesini. Ya udah, gue nurut aja." Olivia berkata jujur, tapi Sherryl masih merasa curiga.


"Ini loe suporter Kevin. Loe??"


"Soal ini, juga gara-gara Kakak gue."


"Kakak loe? Apa Kevin??" Sherryl yang merangkul pundak Olivia. Jadi merinding rasanya, seperti keciduk.


"Suer deh. Kakak gue. Kan gue cerita sama loe, Kakak gue juga kuliah disini, tapi udah mau wisuda. Apa loe lupa?"


"Memang, tapi tetap aja gue nggak bisa percaya gitu aja." Sherryl masih belum melepaskan Olivia.


"Please, percaya sama gue." Olivia dengan gemas dan Sherryl akhirnya melepaskan Olivia.


"Ya udah, kalau gitu. Temenin gue ke tempat basket. Mau nonton Loudy main basket."


"Emh, oke. Tapi gue masuk ke dalam dulu, gue mau bilang sama Kakak gue dulu."


"Ah... Loe bisa telfon Kakak loe. Bilang aja ke tempat basket. Biar dia nyusul kesana."


Sherryl menarik lengan Olivia begitu saja dan tampaknya Olivia terselamatkan. Bahkan, Kevin berbincang dengan Dinda setelah pertandingan selesai. Berkat Sherryl, Olivia tidak bertemu Kevin.


"Kak Dinda tadi sama siapa? Kayaknya, kalian berdua ngobrol."


"Owh, Adik gue. Dia juga kuliah disini."


"Adik?"


"Iya, tapi dia baru masuk."


"Mahasiswa baru?"


"Iya, ya udah nggak usah bahas dia."


"Kenapa? Nggak sabar traktiran Kevin."


"Bener banget, loe kan udah janji kemarin. Kalau loe menang mau traktir gue."


"Terus Adiknya Kak Dinda?"


"Mungkin sama temannya. Soal dia, gampang. Kapan-kapan gue kenalin sama loe."


"Oke, tunggu di parkir samping."


"Ya udah, sana buruan ganti baju."


Dinda memegang tropy Kevin dan merasa bangga, mereka cukup dekat. Kenal sudah satu tahun ini dan Kevin juga yang membantu pengerjaan Tesis Dinda.


"Hallo, Kak Dinda."


"Iya, kamu dimana?"


"Aku lagi di depan gedung basket."


"Mau nonton Zenno?"


"Bukan itu aja, itu tadi ketemu Sherryl di depan arena renang."


"Ya udah nggak apa-apa. Kakak mau pergi sama Kevin."


"Kemana?"


"Ada aja. Tapi tenang aja, Kevin nggak tahu. Kalau tadi sebelah Kakak itu kamu. Dia cuma tanya aja. Tapi Kakak nggak bilang nama Adik Kakak siapa."

__ADS_1


"Oke deh. Bagus kalau gitu. Udah dulu, Sherryl datang."


"Iya, sampai ketemu di rumah."


"Oke."


Olivia tersenyum, dia cukup senang. Baru satu minggu di kampus. Ada aja yang ingin membuka identitasnya.


Sherryl datang membawakan minuman botol "Ini buat loe."


"Thank you." Olivia menerimanya dan masih tersenyum.


"Kenapa senyum-senyum, pasti ada sesuatu. Emz... Jangan-jangan soal Kevin. Hayo ngaku!"


Olivia menggeleng dan mulai meneguk minuman botol berwarna orange.


"Ya udah, ayo kita masuk." Sherryl yang sudah tidak sabar.


Olivia hanya mengangguk dan menutup botol minumnan itu. Tampak senang, dan ternyata acara pertandingan di kampus begitu seru.


Setibanya masuk ke lapangan tertutup itu, Olivia tampak lupa tentang Zenno.


"Zenno. Duh, gawat kalau dia tahu kaos yang ini gimana. Pasti dia marah." Olivia yang lupa memakai maskernya dan Zenno tampak melihat Olivia dari kejauhan. Zenno belum masuk ke arena pertandingan, tapi dia memang tampak melihat Olivia yang baru masuk ke gedung olahraga itu.


[Buruan kesini, aku tunggu dekat ruang ganti.]


Melihat chat itu, Olivia berdebar. Jantungnya seakan mau lepas dan mulai tidak nyaman.


"Kenapa jadi seperti orang selingkuh begini. Padahal aku nggak ngapa-ngapain." Batinnya yang sudah tidak karuan.


"Sherryl, gue ke toilet dulu ya. Loe cari tempat duduk duluan. Nanti gue kesitu."


"Oke." Sherryl akhirnya masuk sendiri dan mencari tempat duduk.


Olivia mencari ruang ganti pemain basket.


Saat Olivia berjalan mencari ruang ganti, tiba-tiba seseorang menarik dan menyekap mulutnya.


Zenno menatapnya "Sssth...." Olivia yang masih berdebar dan tampak ketakutan. Terlihat dari sorot matanya dan ada keringat di pelipis matanya.


Zenno mulai melepaskan tangannya dan memandangi Olivia, lalu mengelus rambut Olivia.


"Tikus kecilku, apa yang kamu pakai ini?" Suara itu begitu pelan dan Olivia cukup mendengarnya.


"Kaos suporter."


"Kevin?"


Olivia mengangguk dan Zenno tampak kesal. Lalu Zenno berkata "Dia lagi dan lagi."


"Kak Dinda. Bukan aku." Keluhnya.


"Ya sudah, pakai hoodie milikku. Aku nggak suka melihatnya."


Zenno memberikan hoodie warna putih ada list abu-abu di sisi pinggirnya dan bertuliskan forever.


"Baik."


"Sana ganti kaos itu. Aku mau tanding basket."


"Emh, iya."


"Topi yang keren." Zenno mengambil topi Olivia yang terjatuh lantas memakaikan kembali ke Olivia.


Zenno lalu keluar lebih dulu dan Olivia masih berdebar. "Kenapa ini? Aku jadi deg-degan."


Cukup mengatur nafas dan detak jantungnya, lalu keluar dari gudang itu. Ada beberapa orang lewat, dan panitia acara itu juga menuju ke gudang.

__ADS_1


"Kamu ngapain di gudang?"


"Maaf Kak, tadi ada suara kucing. Saya cari kucingnya."


Olivia kaget "Meoow." Ternyata memang ada kucing keluar.


"Itu kucingnya sudah pergi. Sana pergi, jangan disini."


"Iya Kak."


Panitia itu cowok tapi begitu tegas dan untungnya Zenno sudah keluar lebih dulu. Jadi, tidak ada yang melihatnya.


Sesampai di toilet, lagi-lagi bertemu Bella. Tapi, Olivia memakai masker, jadi tidak begitu mengingatnya. Apalagi yang selalu diingat Bella hanya Zenno.


"Ayo Bell, buruan. Itu udah mau dimulai."


"Bentar dong, gue harus tampil cantik di depan Zenno."


"Emang dia bisa lihat loe. Lagian, yang nonton banyak gitu." Sahut temannya yang lain.


"Apa kata loe barusan?!" Bella tampak tidak senang.


"Bell, udahlah. Ayo buruan. Nggak usah ribut. Gue juga mau lihat Loudy."


"Oke,.." Lalu Bella memasukan bedaknya dan mereka pergi dari toilet wanita itu.


Olivia yang mendengar perkataan mereka hanya menggeleng saja.


"Emh, apaan ini?" Olivia menemukan sesuatu di kantong hoodie Zenno.


"Flashdisk." Lalu Olivia menyimpan ke dalam tasnya.


Olivia mengambil kaos yang di gantungan baju, lalu melihat tulisan nama punggung itu adalah Kevin.


"Emz, sudahlah. Dia juga orang baik." Gumamnya, lalu memasukan kaos itu ke dalam tas.


Olivia keluar dari toilet dan menuju ke arena pertandingan basket. Olivia susah mengenali Sherryl dan masih melihat ke penonton.


"Sherryl dimana? Udah penuh begini." Keluhnya dan sesaat Sherryl berdiri, lalu melaimbaikan tangannya.


"Dia disana."


Olivia sudah tidak lagi memakai masker. Tetapi, topinya masih dipakainya.


"Emh, kenapa nggak duduk di depan aja?"


"Enakkan disini, paling atas. Walaupun jauh dari Loudy, tapi gue akan puas melihatnya."


Olivia menggeleng saja, ternyata temannya yang satu ini suka sekali dengan Loudy.


"Apa hebatnya Loudy? Sampai loe tergila-gila sama dia."


Sherryl menatapnya tajam, lalu berkata "Loe, tidak akan mengerti tentang perasaan ini. Jantungpun, sampai berdetak kencang, saat berhadapan langsung dengan dia dan inilah yang dinamakan cinta."


"Hah, cinta?"


Sherryl mengangguk, lalu Olivia berfikir tentang tadi di gudang bersama Zenno, dia juga berdegub kencang.


"Cinta? Mana mungkin." Batinnya mengelak.


Pertandingan basket segera dimulai dan Zenno tampak sporty dengan kaos basket warna merah.


Zenno menatap ke penonton dan langsung tertuju pada calon istrinya. Karena hoodie dan topi itu, sangat dikenali Zenno.


"Jangan lihat kesini terus. Aku jadi gelisah." Batin Olivia dan Zenno tersenyum manis. Tetapi yang histeris para gadis lainnya.


__ADS_1


__ADS_2