
Malam minggu yang menyenangkan. Olivia yang berada di dalam mobil, menatap luar jalanan ibukota. Cuaca terlihat terang dan bintang-bintang tampak gemerlap di langit.
Zenno yang mengendarai mobil, dan menoleh ke arah Olivia, lalu bertanya "Mau nonton film apa?"
"Aku mau nonton film horor." Jawabnya.
"Kamu tidak takut?"
"Ada kamu, ada penonton lain, apa yang harus ditakutkan. Kecuali sendirian, ya aku juga akan takut." Jawabnya dan Zenno mulai tersenyum gemas.
"Selama aku nggak di rumah, kamu takut nggak?" Tanya Zenno.
"Ya awalnya takut, tapi jadi terbiasa. Nggak ada kamu, aku bisa enjoy."
"Enjoy? Apa maksud kamu? Kamu suka kita LDR?" Tanyanya yang penasaran.
"Habisnya kalau kita berduaan di rumah, kita berantem terus dan sekarang..."
"Sekarang apa?"
"Nggak apa-apa. Kamu fokus aja sama jalan." Olivia masih bingung untuk berkata jujur tentang perasaannya, yang sepertinya telah berubah.
Zenno, memberanikan dirinya. Lalu bertanya "Kamu sama Pak Erick?"
"Kak Erick, kenapa?"
"Sepertinya kalian dekat."
"Emh, iya."
Zenno menoleh ke wajah Olivia, lalu bertanya lagi "Kalian kenal dimana?"
"Di rumah sakit, waktu Kak Dinda pingsan. Dia yang menolong Kak Dinda." Jawabnya dan enggan untuk melihat wajah Zenno.
"Owh, begitu." Ucap Zenno dan kembali fokus menyetir mobilnya, karena tempat mereka nonton sudah dekat.
Sesampainya di sebuah Mall ternama. Zenno tampak berjalan di sebelah kiri Olivia. Memang mereka sudah tinggal satu rumah, tapi terkadang masih canggung.
"Zenno, beneran nggak akan ada yang ngenalin aku?" Tanya Olivia.
"Nggak akan." Zenno juga memakai topi dan masker.
Bioskop yang dituju, ternyata begitu ramai. Ini malam minggu jadi wajar, banyak pasangan muda yang ingin menghabiskan waktu bersama. Ada juga sekelompok anak remaja yang bersama-sama untuk menonton film.
"Zenno, disini ramai banget." Ucap Olivia.
Zenno menatap Olivia dan bertanya "Kamu takut ilang?"
"Bukan begitu, itu antrian panjang."
"Aku sudah pesan." Zenno yang tadi berjalan sambil memegang ponsel, ternyata sudah membeli dua tiket.
"Baguslah. Kalau gitu aku mau beli popcorn sama minuman." Olivia yang senang dan Zenno mengangguk.
Zenno yang berdiri, dan tampak melihat Bella bersama teman-temannya.
"Emh, mereka juga disini." Batinnya yang sangat malas bertemu Bella dan para dayangnya itu.
Olivia yang berjalan dan Bella tidak sengaja menabrak Olivia.
"Maaf,.." Ucap Olivia yang belum melihat Bella.
"Makanya kalau jalan lihat-lihat." Padahal yang menyenggol Bella sendiri, karena terlalu asyik bercanda dengan temannya. Bukannya minta maaf, malah sok dia yang jadi korban.
Bella masih lanjut berjalan dan Olivia baru sadar kalau tadi itu Bella bersama teman-temannya.
"Dia lagi, dan kenapa selalu bertemu dia." Desis Olivia dan Zenno mendekati Olivia.
"Kamu nggak apa-apa?"
Olivia menggeleng, lalu bertanya "Kamu lihat mereka barusan?"
"Iya, aku tahu."
"Apa kita pergi aja dari sini."
"Untuk apa pergi?"
Olivia tampak terdiam, dia bingung. Takutnya nanti akan menonton film yang sama. Apalagi, kalau tempat duduknya dekat mereka. Bisa-bisa, tidak nyaman.
Zenno, lalu berbisik. "Ada aku, aku akan menjaga kamu." Lalu mengambil minuman yang ada di tangan Olivia, dan menggandeng tangan kiri Olivia.
"Aku bukan takut sama mereka. Tapi, nggak nyaman aja."
"Udah, nggak usah mikirin mereka."
Olivia merasa senang, saat Zenno memperlakukannya dengan manis.
Walaupun belum ada satu bulan tinggal bersama, tapi mereka mulai dekat dan berusaha mengenal satu sama lainnya.
Saat di kursi, Olivia masih melihat ke sekeliling ruang bioskop itu. Tapi, dia tidak melihat Bella dan lainnya.
__ADS_1
"Olivia, kamu kenapa?"
"Nggak apa-apa." Jawabnya.
Zenno berbisik, "Filmnya udah mau dimulai. Kalau takut, kamu bisa peluk aku."
Olivia menoleh ke arahnya dan melotot tajam. "Kamu mau nakalin aku?" Suara Olivia yang cukup kencang.
"Sssth... Kamu dilihatin orang-orang. Mulai sekarang kamu harus patuh sama aku."
Olivia menggeleng dan bersedekap. Dirinya merasa ini jebakan Zenno. Pantas saja bersikap manis dan mengajaknya nonton.
"Dasar, kucing nakal." Batinnya yang geram dan Zenno memang hanya menggoda Olivia.
Olivia tampak berdebar, bukan karena ucapan Zenno tadi. Tapi, filmnya begitu menyeramkan.
"Zenno." Olivia yang tegang dan meraih lengan tangan Zenno.
"Kenapa? Kamu takut?" Suara Zenno yang begitu menggoda Olivia.
"Emmh, kamu nakal." Olivia mencubit pipi kanan Zenno.
Olivia yang masih ketakutan dan tidak melepaskan lengan tangan Zenno. Lalu Zenno, meraih telapak tangan Olivia dan menggenggamnya. Olivia yang kembali fokus akan film itu, dia belum merasa ada yang aneh dari dirinya.
Olivia meremas tangan itu, saat sound film horornya begitu membuat dia berdebar.
"Jangan takut, ada aku." Bisik Zenno.
Lalu Olivia mengambil minuman dan menyedotnya dengan cepat.
"Zenno nyebelin." Batinnya dan dia memang merasa takut akan filmnya.
Setelah film selesai, dia kembali memakai maskernya. Zenno menatapnya dan mengelus rambutnya.
"Tikus kecilku, kamu ternyata penakut." Ucapnya dengan pelan.
Olivia beranjak berdiri dengan kesal, dan perlahan memakai topinya. Zenno yang mengejarnya, dan maskernya terlupakan.
"Ayolah, jangan marah. Aku cuma bercanda." Zenno yang merangkul Olivia dari belakang dan saat keluar dari pintu bioskop itu, teman Bella melihat Zenno.
"OMG dia Zenno, sama cewek." Ucap temannya Bella dan berusaha memberi tahu Bella.
Olivia melihat ke arah Zenno. Lalu berkata "Mana masker kamu? Kenapa tidak dipakai?"
Zenno lalu mengambil dari saku jaketnya. "Ini, baru mau aku pakai."
"Kamu sengaja, biar aku diserbu sama fans kamu itu."
"Nyebelin." Olivia yang masih sewot.
Zenno meraih tangannya dan berkata "Ayo kita beli sesuatu."
Olivia tampak menurut. Kedua tangan itu saling menggenggam dan mereka tampak seperti pasangan yang manis.
"Apa??! Sama cewek?" Bella yang tidak senang mendengar itu.
"Beneran, gue nggak bohong. Gue lihat sendiri. Habisnya kalian nggak mau nemenin gue ke toilet. Pas gue lewat, Zenno keluar dari Bioskop sama cewek."
"Terus mereka kemana??" Bella yang penasaran akan hal itu.
"Gue nggak tahu."
"Loe harusnya video mereka." Ucap teman satunya.
"Gue buru-buru cari kalian."
"Ya udah, kita harus cari mereka."
Bella yang merasa geram dan membuat dia berdebar karena sakit hati. Mereka berjalan bersama, untuk mencari Zenno.
Zenno mengajak Olivia ke sebuah toko perhiasan ternama. Olivia yang masih tampak bingung dan belum mengerti maksud dan tujuan Zenno ke toko itu.
Jawellery Lux, toko perhiasan yang memang terkenal berkelas, dari desain perhiasannya begitu tampak mewah, bahkan sudah banyak cabang di beberapa Mall terkenal.
"Kamu mau yang mana?" Tanya Zenno yang berniat membelikan cicin untuk Olivia.
Bukannya menjawab, Olivia malah bertanya "Kamu mau kasih aku cincin?"
Zenno berkata "Iya, kamu tunangan aku. Aku belum sempat kasih cicin sama kamu."
Olivia menunjukkan jarinya "Terus ini apa?" Cicin emas yang melingkar dijari tengahnya, dan itu sebagai pertanda kalau keluarga Brata Perwira sudah melamarnya.
"Itu cicinnya dari Mama. Ya beda kalau aku yang kasih." Ucap Zenno yang masih menatap Olivia.
Olivia juga berfikir kalau jari manisnya masih kosong, dan waktu itu Mama Virda memberinya terlalu besar.
"Ya udah kalau gitu. Aku mau lihat-lihat dulu." Ucapnya dan dari tadi pelayan wanita sudah ada di depan Olivia.
"Kak, boleh saya lihat cincin yang itu." Olivia menunjuk ke sebuah cicin motif love yang ada batu permata.
__ADS_1
Zenno tampak santai saat Olivia masih memilih cicinnya.
"Ini Nona." Pelayan yang tersenyum saat memberikan cicin itu.
"Cincin yang cantik."
"Mau dicoba?" Tanya Pelayan.
"Memangnya ini boleh dicoba Kak?"
"Silakan di coba dulu. Disini ada berbagai ukuran dengan motif yang sama." Ucapnya dengan senyum.
Olivia lalu mencoba cicin itu, dan ternyata kebesaran. "Kak ini masih kebesaran. Saya minta yang kecil."
Olivia menyerahkan cicin itu dan pelayan toko itu kembali mencarikan cicin yang sama, tapi dengan ukuran ring lebih kecil.
"Nona, ini ada ukuran lebih kecil."
Olivia lalu mencobanya, dan tampak cocok. Olivia menoleh ke wajah Zenno "Aku mau yang ini."
"Ya udah, kalau mau yang itu."
Olivia memberikan cicinnya kembali dan pelayan akan membuat sertifikat cicinnya.
Mereka menunggu dan duduk di sofa. Olivia tampak melihat-lihat katalog toko itu dan Zenno duduk disebelahnya.
Tidak lama, teman Bella menunjukkan sama Bella "Itu mereka. Disana. Itu di toko perhiasan."
Bella menatap itu dari kejauhan dan begitu kesalnya. Tangannya meremas lengan temannya.
"Bella, sakit." Temannya masih mengusap lengan tangannya.
"Ayo kita kesana." Ajaknya dan para teman itu mengikutinya.
Zenno berdiri dan tampak membayar cicin itu.
Zenno sudah mendapatkan cicinnya dan Olivia mulai beranjak dari sofa.
"Sudah?" Tanya Olivia.
"Iya." Jawabnya.
Zenno yang menggandeng tangan kiri Olivia dan menuju ke toko baju.
Bella masih tampak mengikuti mereka dan memotret mereka berdua.
"Kita mau kemana lagi?"
"Kaos couple."
Olivia yang suka menonton film, dia tampak senang mendengar itu. Dia berfikir kalau Zenno memang bersikap manis.
"Emh, iya aku mau."
Sampai di toko tujuan, Zenno tampak memilih dan Olivia cukup pasrah atas perlakuan Zenno.
Zenno menunjukkan kaos warna hitam dan ada gambar love merah. Olivia hanya menjawab dengan jempolnya.
Mereka berdua memang terlihat manis, dan Bella semakin geram.
Setelah mendapatkan kaos couple, Olivia berkata "Zenno, pulang yuk."
"Kenapa?"
"Nggak tahu kenapa, rasanya ada yang ngikutin kita."
Zenno melihat ke sekitar dan ternyata dugaan Olivia benar.
Zenno mendekat dan berbisik "Kita harus mesra. Ada Bella dan temannya."
"Mesra?" Olivia yang bingung.
"Iya, kamu nurut aja sama aku." Zenno lalu mengajak Olivia berjalan.
Olivia mengerti itu, tidak ada salahnya dia memeluk dan berjalan sambil bersandar dibahu calon suaminya.
"Mereka ternyata uwu." Ucap temannya Bella.
"Loe!!!" Bella yang menunjuk wajah temannya dengan emosi.
"Ih, loe bisa-bisanya ngomong gitu." Ujar teman satunya.
Rupanya tidak henti sampai disitu. Bella masih mengikuti mereka sampai rumah.
Olivia yang turun lebih dulu, lalu Bella berkata "Owh, jadi ini rumah gadis itu."
"Bella, kapan-kapan kita samperin aja."
"Nggak perlu, dia hanya orang miskin. Nggak selevel sama gue." Ucapnya dan melihat mobil Zenno yang pergi.
Zenno menurunkan Olivia di kontrakan Pak Roni, dan nanti akan menjemputnya lagi setelah Bella pergi. Pak Roni selama di Jakarta hidup mengontak rumah biasa. Karena keluarga Pak Roni, tinggal di Bogor bersama Oma dan Julia.
__ADS_1
"Kita pulang saja." Ucap Bella kepada temannya.