COUPLE UNIK

COUPLE UNIK
Biaya Perbaikan Mobil


__ADS_3

Tok tok


"Masuk!" Ucapnya dan duduk di kursi utama. Kedua kaki ia topangkan pada sebuah meja.


"Dia."


Tangan itu sedikit gemetar, saat menyadarai sosok tampan nan menawan itu.


Manda, mengenali wajah pengemudi mobil.


Padahal ada OB, namun Bu Franda menyuruh Manda untuk mengantarkan kopi kepada tamu special Madam Olivia.


"Manda, tolong buatkan kopi dan antarkan ke ruang rapat. Madam Olivia ada tamu special." Seperti itulah, ucapan Bu Franda, ketika Manda selesai makan siang.


Bu Franda sangat tahu, kalau Manda bisa membuat kopi yang enak. Meski memakai mesin kopi yang sama, entah kenapa bila Manda yang membuatnya akan terasa nikmat. Ada rahasia apa di tangannya, sampai rasa kopi buatannya sangat berbeda.


Tercium aroma kopi yang menggugah selera. Kantuknya seolah sudah terobati, dari sensasi aroma kopi buatan Manda.


Tatakan cangkir kopi, ia letakan dengan sopan di atas meja.


Tanpa berucap kata, Manda memilih pergi secepatnya, setelah meletakan cangkir kopi itu.


Belum sampai Manda membuka pintu, Shaun berkata "Totalnya 36 juta."


Degh!


Seketika mematung, "36 juta?"


"Bukannya hanya tergores, sepertinya tidak sampai penyok!" Batinnya yang mencerca untuk mengingatnya.


"Amanda Naomi." Panggilnya.


Masih saja memegang gagang pintu, tanpa membalikan badan.


"Amanda??"


"Naomi?"


Menghembuskan nafas kasarnya dan membalikan badannya.


Shaun begitu senang, saat melihat wajah garang yang sudah menatapnya.


"Akhirnya, wajah juteknya keluar." Batin Shaun.


Manda berjalan mendekat, lalu berkata "Saya butuh nota bengkelnya. Nanti saya akan segera menggantinya."


"Nota bengkel?" Shaun lantas berdiri, perlahan memandang wajah jutek Manda.


Manda yang lantas menundukkan wajahnya, ia berkata "Iya. Saya butuh nota dari bengkelnya."


"Owh, aku tahu. Staff akuntan pasti sangat teliti soal uang." Kedua tangannya masuk ke kantong. Shaun semakin senang saat melihat wajah juteknya Manda.


Manda berkata lebih lembut "Tuan, saya minta maaf. Semalam saya yang salah. Saya akan segera mengganti biaya perbaikan mobil anda."


Manda membalikan badannya, namun Shaun lebih dulu memegang lengannya.


"Masih sakit??"


"Tidak."


Shaun lebih mendekat, berbisik ke telinga kirinya Manda "Sepertinya, kamu punya kepribadian ganda."


Shaun menyudutkan senyuman ke kanan. Manda melepaskan tangannya dari cengkraman Shaun.


Manda yang menatapnya tajam, berkata "Tuan. Saya permisi dulu. Saya masih ada pekerjaan. Silakan nikmati kopi buatan saya."


Shaun tersenyum "Baik, kali ini aku biarkan kamu pergi."


Mengingat akan kejadian semalam, betapa kasarnya gadis itu terhadap dirinya.


"Huf!"


"Apalagi ini."


"36 juta?"


"Yang benar saja."


Manda yang kembali ke ruangannya, bergeming sendiri. Lantas, ia mencoba mencari tahu informasi soal bengkel dan biaya kerusakan seperti itu.


"Pasti dia mempermainkan aku."

__ADS_1


"Tapi, mobilnya memang keren."


"Bisa jadi benar, kalau biayanya segitu."


"Duit dari mana untuk menggantinya?"


"Hooo." Merengek tidak jelas.


Manda menggaruk pusing kepalanya dan ia berjalan dengan kesalnya.


Shaun yang di ruangan itu, tampak menikmati kopi buatannya.


"Enak juga."


Shaun lantas menghubungi seseorang dan memintanya untuk membuat nota perbaikan dari bengkel ternama.


Banyak bengkel kenalan dekatnya. Pamannya saja banyak, apalagi hanya sebuah nota atas nama bengkel ternama. Sangat remeh, untuk seorang Tuan Muda ini.


"Terima kasih Paman Loudy. Nanti saya sendiri yang akan mengambilnya kesana." Lalu menutup panggilan telephone itu.


"Beres."


Merasa menyenangkan dan kembali meminum kopi buatan Manda. Sedikit lupa akan Freya Clarissa, sang kekasih yang telah menghianati cintanya.


Freya di negeri jauh sana, sepertinya telah menghubungi nomor telephone Shaun dan pastinya sudah mencari Shaun ke apartemen. Sayangnya, Shaun telah kembali ke kota asalnya, tanpa berpamitan padanya.


Manda yang telah kembali ke ruang kerja. Segera fokus pada pekerjaan.


Menatap layar komputer dan kepalanya semakin nyut-nyutan. Ingin rasanya, menikmati spa di salon dan berlibur menatap ombak yang berdeburan di pantai yang indah. Melihat senja yang akan tenggelam dengan perasaan cinta. Sayangnya, itu semua hanyalah impian dari seorang Amanda Naomi.


Setelah pulang kerja dan sudah waktu sore. Duduk di sebuah halte sambil menatap sang senja yang telah menyapa dirinya.


Senyuman manis, ia sampaikan untuk sang senja sore ini.


"Terima kasih, kembalilah esok hari." Batinnya dengan perasaan tenang.


Setidaknya senja merona di sore ini, cukup mengobati lelahnya. Dari pagi sampai sore ini, badan letih, pikiran rumit, dan masih banyak lagi yang akan menanti kedua tangannya itu.


Menatap telapak tangan, dan ia mengingat tangan Mariska yang halus.


"Tangan ini sudah mengerjakan semuanya." Senyuman manisnya dan mengembalikan semangatnya.


"Amanda Naomi."


Setidaknya, ada mainan baru untuknya. Yang telah menghibur luka hatinya.


Amanda yang telah menaiki bus kota J708. Bus warna hijau itu, membawa Manda ke halte yang akan dituju.


Sudah hampir jam 7 malam. Manda masih dalam perjalanan. Sejenak mampir ke mini market, untuk mengisi perut langsingnya.


Itulah, kebiasan Manda setiap harinya.


Manda harus berjalan kaki, dari tempat ia membeli makanan dan menuju rumah.


Kaki itu masih terus berjalan dan ia tidak mengeluh akan keadaannya.


"36 juta?"


Tidak mudah baginya memiliki uang 36 juta. Sama saja itu, 6 bulan gajinya saat bekerja.


"36 juta?" selorohnya dan Manda menolehnya.


"Abang!"


"Kamu menang undian?" Selalu tidak basa basi.


"Tidak."


"Barusan kamu lihat handphone terus bilang 36 juta. Itu, uang apaan?"


"Bukan apa-apa." Lantas Manda membuka pintu pagar rumahnya.


"Kamu menghilangkan uang perusahaan?"


"Nggaklah Bang."


"Terus, itu duit apaan??" Abang Ariel semakin penasaran. Ia tampak merangkul bahu Manda.


"Bukan urusan Abang." Jawabnya ketus.


Di ujung jalan ada yang mengamati dirinya.

__ADS_1


"Oh, dia punya kekasih. Tapi, semalam menangis."


"Patah hati."


"Aku pikir kita senasib."


"Emh, tapi dia memang aneh."


Shaun melihat ke sekitar perumahan itu. Merasa heran akan rumah Manda yang tampak tidak terurus. Berbeda dengan beberapa barisan rumah terdekat, sudah tampak rumah mewah, ada pula rumah minimalis modern. Banyak yang sudah merenovasi rumah itu, hanya rumah Manda sendiri yang terlihat tidak sepadan dengan lingkungan sekitarnya.


Setelah dirinya sadar, ia bergeming "Gara-gara Freya aku jadi gila. Untuk apa aku mengikuti gadis itu sampai kemari."


Shaun melajukan mobilnya, "Aku jadi lupa jalan pulang."


"Ke kiri apa kanan?"


Sampai kebingungan sendiri, melihat jalan perumahan itu yang hampir mirip satu sama lain. Shaun akhirnya meraih ponselnya, dan menyalakan aplikasi petunjuk jalan untuk pulang ke rumah.


Manda yang telah sampai di rumah. Rasanya begitu malas, merebahkan dirinya di sofa.


"Manda."


"Hem?"


"Kamu ada masalah, soal uang 36 juta?"


Si Abang ganteng ini, bisa melihat raut wajah muram adiknya. Meski dirinya tidak pernah berbuat banyak pada adiknya, setidaknya untuk hal penting ketika Manda sakit dan lain sebagainya, sang Abang ganteng ini juga akan memperhatikan adiknya.


"He'em."


"He'em?"


"Iya Abang."


"Kamu punya hutang? Kamu kena tipu?"


"Aku nabrak mobil orang."


"Jadi, semalam itu kamu nabrak mobil orang?"


"Iya." Lantas menopangkan satu tangan ke dahinya. Kedua mata cantiknya tampak terpejam dan si Abang ganteng hanya memandangi raut wajah adiknya.


"Aku sih, juga ada uang segitu."


Seketika Manda bangkit dari tidurnya dan duduk menatap wajah sang Abang.


"Bang Ariel punya tabungan??"


Abangnya mengangguk.


"Bang Ariel serius?!"


Abangnya kembal mengangguk.


"Ooohh, Abangku sayang."


Manda memeluknya dengan senang.


Abang Ariel berkata "Tapi uang itu, untuk melamar Nadia."


Gubrrrak,


Manda langsung melepaskan pelukannya itu. Ia tampak bibir cemberut.


"Abang jadi melamar Nadia?"


"Iya."


"Ya sudah. Niatkan saja pada tujuan Abang. Aku akan mencari uang itu."


"Kamu mau cari kemana uang sebanyak itu?"


"Entahlah. Aku juga tidak tahu. Tabunganku hanya sedikit."


Manda juga terkadang menyisihkan gajinya. Dia ingin berlibur ke suatu tempat yang indah.


Si Abang ganteng mengusap rambut Manda, lalu berkata "Kamu sudah besar. Kalau ada laki-laki yang menyukaimu. Kamu harus bilang sama Abangmu ini."


"Pasti." Jawabnya.


Si Abang ganteng ini, sebenarnya juga tidak tega melihat wajah muram adiknya.

__ADS_1


__ADS_2