COUPLE UNIK

COUPLE UNIK
Pagi Dengan Rasa Kecewa


__ADS_3

Kamar hotel yang mewah, terlelap dalam kehangatan. Apa yang telah mereka rasakan. Tanpa sadar satu dengan lainnya. Amanda yang merasa nyaman memeluk tubuh kekar itu. Sosok pria nan menawan juga tampak mendekap dalam kenyamanan.


Bergerak melikukan tubuhnya, perlahan tangan itu meraba pelan. Sebuah dada dengan nafas seperti orang tertidur.


Mata terpejam dan ia semakin meraba, sepertinya telah bermimpi manis dengan seorang pria.


"Emh, sudah lama aku tidak bermimpi." Ia kembali dalam tidur lelapnya.


Setelah pagi dan masih dalam dekapan hangat. Manda yang perlahan terbangun dari tidurnya. Matanya yang terbuka dan menatap ke langit-langit kamar itu.


"Apa aku masih mimpi?" Batin Manda.


Manda yang masih berselimut putih dan ia perlahan menoleh ke samping. Rasa desiran hebat dengan mata terbelalak.


"Apa yang telah terjadi?"


Manda yang masih terbaring, ia ingin segera bergeser dan bangkit dari ranjang besar itu. Sayangnya, sosok yang ada disampingnya tetap mendekap erat dan seolah tidak ingin melepaskannya.


Kedua tangannya memegang sisi selimut putih, melihat dirinya dengan keadaan sadar.


"Apa yang terjadi padaku?"


Manda yang sudah tidak berbusana dan perasaannya semakin takut. Rasa sesak dalam dadanya dan jantungnya makin berdesir hebat.


Perlahan dirinya bisa melepaskan pelukan itu dan pergi dengan rasa takut yang luar biasa.


1 jam kemudian


Manda yang tampak mengenakan gaun hitam. Ia telah menaiki sebuah taxi. Ia juga tidak membawa apapun, bahkan tas dan bajunya. Kemarin, ia tinggalkan di dalam mobil Tuan Muda.


"Pak, ini sudah jam berapa?" Tanya Manda pada seorang sopir Taxi.


Manda sebenarnya juga risih, akan tatapan sopir taxi itu padanya. Padahal, itu hanya perasaan Manda saja.


"Sudah jam 10 Kak."


Berfikir kalau ini masih hari kerja, pasti sudah tidak ada orang di rumahnya.


"Pak, saya tidak ada uang. Saya akan membayarnya nanti. Bisakan Bapak kasih nomor rekening."


"Iya Kak. Bisa."


Sebuah kartu nama sopir taxi itu, dan dibelakangnya sudah tertulis nomor rekeningnya.


"Nanti saya akan hubungi Bapak. Terima kasih."


"Baik Kak."


Senyuman sang sopir taxi itu terlihat begitu tulus, sayangnya Manda merasa dirinya begitu risih. Setelah apa yang telah menimpa dirinya.


Manda dengan cepat masuk rumah dan ia terpana saat melihat Benz ternyata ada di rumah.


"Kak Benz."


"Kamu baru pulang?"


"Emh, iya. Aku ketiduran di hotel."


"Aku juga, tapi tadi pagi sopir Tuan Shuan mengantarkan aku pulang. Aku sudah mencarimu, tapi tidak bertemu. Ya sudah, akhirnya aku pulang lebih dulu."


"Owh, begitu rupanya." Manda cari aman.


Benz tidak menangkap gelagat aneh adik sepupunya. Ia lantas membaca lembaran-lembaran kertas tentang kontrak kerja untuknya.


Benz juga tampak merenung, bagaimana dirinya bisa menandatangi kontrak kerja ini. Dirinya juga harus mendapatkan persetujuan dari kedua orang tuanya. Mengingat sang Ayah yang ingin melihat gelar putra bungsunya. Bukan hasil kerjanya sebagai aktor.


"Aku bingung." Benz yang tampak tidak minat akan kontrak kerja itu, tapi Manda pernah bilang. Demi nilai magangnya itu, Manda sudah menempatkan posisi yang bagus. Pikiran Benz yang masih muda dan ia hanya percaya kalau Manda yang telah membuatnya menjadi aktor.

__ADS_1


"Kalau begitu. Manda yang harus kasih tahu dan meminta ijin sama Ayah." Benz yang sudah mendapatkan ide.


Manda yang biasanya kuat akan beban hidupnya, dengan sikap juteknya. Saat dirinya mengingat akan pagi tadi, segalanya terasa berat. Tubuh indahnya sudah tidak lagi seperti dulu.


"Aku, aku, aku sudah melakukannya." Kesalnya dalam hati dan ia beranjak pergi ke kamar mandi.


Manda yang membuka pintu kamar, berkata "Kak Benz. Bikin aku kaget saja."


"Manda, aku ingin bicara sama kamu."


"Apa?"


"Ini, soal kontrak S. O."


"Iya, memangnya kenapa?"


"Aku bingung. Kamu sangat tahu Ayahku. Pasti dia tidak akan mengijinkan aku shuting film."


Manda baru mengingat akan hal itu, bagaimana bisa dirinya menyutujui pekerjaan barunya. Untuk menjadi menager sekaligus penanggung jawab atas aktor pertamanya. Bahkan, dia sudah membuat kontrak kerja dengan Madam Olivia.


"Ratusan jutaku?" Batin Manda.


"Kak Benz, coba bicarakan dulu sama Paman. Nanti aku akan telephone juga."


"Mana bisa begitu, kita harus pulang rumahku."


"Hah??!"


"Mau gimana lagi."


Manda yang semakin bergemuruh, rasa hidupnya sudah hancur di pagi tadi. Tapi, pekerjaan berat telah menanti.


"Baik, aku harus kerja. Demi ratusan juta itu, aku harus bisa. Semangat!" Batin dia untuk memulihkan semangat dalam dirinya. Tetap saja loyo dan rasanya telah tak bertenaga.


"Kak Benz, aku mau mandi dulu."


"Oke."


"Aku harus bisa lupa."


Menarik resleting samping gaun hitam yang melekat pada tubuh langsingnya.


Manda yang memejamkan kedua mata, dan perlahan rintikan air shower telah menyirami rambutnya. Kedua tangan itu telah memijit lembut rambut panjangnya.


"Aku harus melupakannya."


Kedua tangan itu meraih sabun dengan foam dan mengusapnya lembut. Manda yang tidak berani melihat ke bagian tubuh sensitifnya.


Pasti ada jejak yang akan membuat ia mengingat lagi, akan kejadian malam tadi.


"Aku Manda. Aku pasti bisa lupa."


Setelah 15 menit dalam guyuran air dan rambutnya yang terurai tampak kebasahan.


Handuk ia lilitkan ke bagian dada dan ia mengikat rambutnya dengan handuk kecil. Lantas keluar dari kamar mandi.


Lagi-lagi, Benz ada dihadapannya dan kedua mata bujangan itu, jelas melihat kulit indah dan bagian atas yang cantik menawan. Leher putih nan panjang, dan Benz tetap tidak mengalihkan padangan matanya.


"Ada apa lagi?" Manda lalu meraih sebuah kimono dan memakainya dengan segera.


"Apa kita hanya berdua saja kesana?"


"Maksud Kak Benz?"


"Sebaiknya, kita minta bantuan Tuan Shaun."


Manda dengan cepat berkata "Tidak perlu. Nanti malah merepotkan orang luar."

__ADS_1


"Tapi dia bosku."


"Aku akan capek, bila dia ikut bersama kita."


"Capek?"


"Iya, aku asistennya. Semua keperluannya, harus aku yang menyiapkannya. Aku tidak mau kerja, saat kita ke kampung Paman."


"Manda, ayolah."


"Tidak Kak Benz."


Manda berjalan cepat dan menuju ke kamarnya. Tidak lagi mempedulikan Benz.


Ia yang telah sampai di kamar. Mengunci rapat pintunya. Perasaan menerjang dan ia punya pikiran aneh. Tidak seperti biasanya, meski lama tinggal bersama dua pria. Baru kali ini, Manda merasa risih bila Benz menatap begitu padanya, padahal baru selesai mandi.


Tapi, Manda sudah bertahun-tahun terbiasa begitu. Tidak masalah akan hal itu, dan dia tetap dalam pikirannya yang santai.


"Ada apa denganku? Aku kenapa jadi begini?" Batin Manda.


Manda berjalan ke cermin standing yang ada di kamarnya. Melepaskan kimono handuk yang tadi melungkup di tubuhnya.


Kedua mata ia pejamkan dengan rasa gemetar, melepaskan lilitan handuk dan perlahan ia membuka kedua matanya.


Manda berkata "Tidak ada apapun."


Putih bersih dan mulus. Tidak ada tanda apapun di tubuh indahnya. Manda yang mendekat pada cermin, rambut yang tampak menggulung ke atas dengan lilitan handuk. Leher indahnya itu, juga tidak tampak aneh.


"Emh, tidak ada tanda apapun."


Mengingat akan film dewasa yang pernah ia tonton, orang bergumul pasti akan meninggalkan jejak manis di bagian leher dan dada.


"Kenapa aku jadi kecewa?"


"Manda, kamu sudah gila."


Manda lantas kembali meraih kimono dan memakainya, ia dengan cepat mengambil baju.


"Apa dia tidak memakai aku?"


"Apa kurangnya aku?"


Pikiran kecewa bukan karena malam panjang yang tidak diingatnya. Tapi, tubuhnya biasa saja. Tidak ada yang aneh. Bahkan, tidak ada rasa sakit dibagian sensitifnya.


"Aaa, sialan. Laki-laki tidak berperasaan."


Manda dengan kesal *******-***** gulingnya dan malu akan dirinya sendiri.


"Breengseek!!" Kesalnya.


Manda yang sudah perpakaian rapi dan ia tampak mengikat rambutnya seperti cemol.


"Benz, ayo kita berangkat."


"Tapi, aku belum bersiap."


"Huf!"


Sudah jam 12 siang dan Manda merasa aneh melihat Benz yang tidak menatap dirinya lagi. Manda menarik kerah kaos Benz.


"Kakak, ada apa?"


"Bukan apa-apa."


"Apa yang Kakak lakukan?"


"Aku sudah kirim pesan."

__ADS_1


"Kirim pesan? Untuk?"


"Tuan Shaun."


__ADS_2