
Senja menamani Olivia yang berjalan sendirian. Setelah tadi dari cafe, Zenno hanya mengantarnya sampai di depan perusahaan Dion Jody Amarta.
Saat ini, Olivia berjalan menuju sebuah taman yang tidak jauh dari kantor sang Papa.
Perusahaan besar dan begitu ketat keamanannya. Tapi, karena penampilan Olivia berbeda dan akhirnya dilarang masuk oleh pengawal.
Olivia tadinya ingin sekali memberi kejutan kepada sang Papa, kalau dia datang ke kantor. Ternyata malah tidak mengenakan perasaannya. Biasanya Pak Roni juga ada di kantor, tapi sepertinya tidak.
"Emh baguslah, mereka bekerja sungguh-sungguh dan itu demi keamanan perusahaan."
Olivia masih memakai baju pemberian Vasya dan menutupinya dengan hoodie milik Zenno.
Olivia yang malas membuka ponsel karena kegilaan berita tentang dirinya dan Zenno.
Olivia yang mengaktifkan ponselnya dan ada panggilan dari Pak Roni serta sang Papa.
"Papa?"
Olivia mencoba menghubungi Papanya.
"Hallo, Papa."
"Olivia, apa tadi kamu ke kantor Papa?"
"Iya, Olivia kesana. Tapi,..." Olivia tidak ingin mengadu kepada sang Papa.
"Tapi kenapa? Kenapa tidak masuk? Roni juga baru kasih tahu Papa. Dia sekarang mencari kamu."
"Olivia di Taman Sandria 2. Dekat kantor Papa."
"Kamu tunggu disitu, biar Roni menjemput kamu."
"Iya Papa."
Olivia duduk di kursi taman dan melihat kalau senja itu akan pergi.
"Aku jadi mengerti. Bintang tetaplah bintang, bulan tetaplah bulan dan matahari tetaplah matahari. Olivia tetaplah Olivia."
"Ternyata tidak mudah hidup seperti ini." Olivia yang mulai menunduk dan meredam dirinya.
Di perusahaan milik Papanya sendiri, dia mendapatkan perlakuan buruk.
Flashback On
Setengah jam yang lalu, Olivia yang berjalan ke arah pintu utama Perusahaan MC Global dengan penuh keceriaan, karena sudah sangat lama dia tidak ke tempat ini.
Sebelum Papanya menikah lagi, setiap Mamanya ke Jakarta, Olivia pasti ikut sang Mama dan mengejutkan Papanya.
Tapi, semenjak pernikahan kedua Papanya, Olivia begitu enggan untuk ke Perusahaan MC Global.
Olivia yang memandangi tulisan MC Global dan begitu bangga dengan sang Mama yang merintis bisnis dari bawah bersama sang Papa.
"Mama, Olivia kembali." Dengan berdebar dan tampak senyuman manis. Ada getaran tersendiri, rasanya begitu dekat dengan sang Mama.
Olivia berjalan untuk masuk dan dari tadi ternyata sudah ada gadis lain yang menatapnya, dia adalah Bella.
Bella ada kontrak iklan dengan MC Global dan saat itu Bella berada di lobby. Dari sinilah awal mulanya, kalau Olivia dilarang masuk ke gedung itu.
Saat Olivia masih memandangi tulisan MC Global, Bella sudah melihatnya dan tampak kesal karena kegagalannya waktu pengaduan ke pihak kampus. Padahal dia sangat berharap, kalau Olivia bisa dihukum berat. Tetapi, ternyata harapan dia keliru, malah dia sendiri yang kena batunya.
Sesaat sebelum Olivia masuk, Bella sudah mengatakan kepada pihak keamanan kalau Olivia gadis garang yang suka berpura-pura.
"Nona, kamu tidak boleh masuk." Ucap Pengawal di depan pintu utama.
Bella tampak memakai kacamata hitam, sambil membuka majalah, dan senyuman racun dia keluarkan.
"Pak, saya mau ketemu Papa saya."
"Papa?" Seolah pengawal itu meledek Olivia. Dari penampilan baju Olivia terlihat gadis biasa.
Padahal dari tadi Olivia sudah memberitahunya, kalau dia putri kedua Direktur Dion.
"Nona, banyak yang berpura-pura, dan mereka juga ingin masuk tanpa membuat janji dulu. Karena mereka ingin menjadi model iklan."
"Pak, bilang sama Papa saya. Saya Olivia datang kemari."
"Direktur kami tidak ada di tempat."
__ADS_1
"Baik, kalau begitu." Olivia memanggil Papanya ternyata panggilan telfon Papanya sibuk.
Olivia tidak menyerah, dia menghubungi Pak Roni, tapi tidak diangkat.
Akhirnya, Olivia berkata "Pak, tolong beri tahu Papa saya kalau saya Olivia Sada Amarta datang kesini. Terima kasih."
Pertugas keamanan itu menggeleng dan tampak menyungingkan bibirnya ke kanan.
Setelah Olivia berjalan pergi, pengawal itu tampak bercerita dengan sesama pengawal, Pak Roni yang melewatinya mendengar hal itu.
"Siapa yang tadi kemari?"
"Ada gadis ngaku-ngaku putrinya Direktur Dion."
"Terus dia kemana?"
"Sudah pergi. Tadi juga ngotot, tolong bilangin sama Papa saya, kalau saya Olivia Sada Amarta datang kemari." Pengawal itu menirukan cara bicara Olivia dan tertawa.
"Itu benar nama Nona. Putrinya Pak Dion." Ucap Pak Roni yang begitu serius.
"Pak Roni serius?"
"Dia bukan?" Pak Roni menunjukan foto Olivia.
"Iya, seperti dia." Pengawal itu lantas bingung.
Beberapa temannya juga merasa tidak enak, sudah tertawa atas kejadian itu.
"Kalian bener-bener. Makanya pada kerja yang bener, jangan pada gosip." Pak Roni terlihat marah dan pergi mencari ke halaman parkir perusahaan MC Global.
Pak Roni juga menghubungi Olivia, lantas ponsel Olivia sudah tidak aktif.
Pak Roni bergegas ke ruangan Direktur Dion.
"Maaf Pak Dion, saya juga tidak tahu kalau Nona Olivia akan kemari."
"Cari tahu di CCTV."
"Baik Pak Dion."
Dion lantas menghubungi Olivia dan merasa menyesal. Tadi dia benar-benar sibuk menerima panggilan penting, saat Olivia menelfonnya.
"Olivia, kamu dimana?" Dion yang resah karena ponsel Olivia dimatikan.
"Ini sudah keterlaluan. Pasti Nona Olivia merasa diusir."
"Tapi dia dimana?"
"Kenapa HPnya tidak aktif."
Lalu Pak Roni menugaskan beberapa pengawal perusahaan, untuk mencari Olivia di jalan dekat perusahaan.
Saat ini, Bella sudah tidak ada di MC Global. Tadi setelah Olivia pergi, dia juga pergi bersama asistennya.
Flashback Off
Pak Roni keluar dari mobil dengan cepat dan menemukan Olivia, "Nona Olivia."
Senyuman tipis Olivia, tapi memang tampak risau, "Iya Pak Roni."
"Nona Olivia, maafkan saya yang lalai."
"Pak Roni tidak perlu cemas. Olivia baik-baik saja." Olivia tampak merasa sedih. Bukan hanya karena tadi, tapi dia mengingat sang Mama. Yang sangat bekerja keras untuk membangun dan mengembangkan perusahaan bersama sang Papa. Tapi, setelah bangunan megah itu tampak nyata di depan Olivia, sang Mama tidak lagi ada di gedung itu.
Olivia menghembuskan nafasnya dengan lembut, lalu dia berdiri dan tampak senyuman manis menghiasi wajah cantiknya.
"Nona Olivia, mari silakan. Pak Dion sudah menunggu."
Olivia bergegas ke mobil dan Pak Roni tidak sendiri, ada pengawal yang menyetir mobilnya.
"Nona Olivia, saya tadi sedang di toilet. Baru saya mau menghubungi Nona, tapi saya mendengar cerita dari pengawal kalau Nona datang ke kantor."
"Emh, iya Pak Roni. Tadinya, Olivia mau mengejutkan Papa. Eh, ada yang salah paham."
"Nona Olivia, saya akan memberi dia sanksi."
"Pak Roni, dia tidak bersalah. Maklumi saja Pak. Dia hanya menjalakan tugas. Lagian, Olivia baik-baik saja." Ulasnya.
Sesampainya di Perusahaan MC Global, Olivia tampak masuk melewati pintu utama dan beberapa pengawal telah menyambutnya.
__ADS_1
"Selamat sore Nona Olivia."
"Iya, selamat sore." Olivia tampak tersenyum.
Pengawal tadi langsung mendekat dan membungkukan badannya.
"Nona Olivia, maafkan saya."
"Iya, tidak apa-apa. Kerja yang bagus."
"Sekali lagi, maafkan saya."
"Sudah berdirilah yang tegap. Saya tidak apa-apa."
"Terima kasih Nona."
Dion datang mendekati Olivia dan menyambut dengan kedua tangannya.
"Olivia..."
"Papa."
Dion memeluk putrinya dan suasana Lobby begitu mengharukan. Beberapa resepsionis juga melihat pemandangan itu. Olivia yang tersenyum dan masih memeluk sang Papa.
"Kamu ini, datang dadakan. Papa nggak. tahu."
"Olivia tadi dari kampus, terus ke cafe sama Zenno dan Olivia diantar kesini."
"Ya sudah, ayo kita ke ruangan Papa." Dion merangkul bahu Olivia dengan perasaan senang.
Olivia masih melingkari perut Papanya dan Dion tampak bahagi bila putrinya begitu manja kepadanya.
Dion juga tidak pernah membedakan kedua putrinya. Hanya saja, dia pernah memberi luka dihati Olivia. Dion juga sangat menyesal akan hal itu. Tapi apa boleh buat, dia juga memiliki putra dengan Monica.
"Emh, ruangan Papa ternyata sudah berubah."
"Olivia..." Dion mengerti, karena sekarang ada dua foto yang tergantung di dinding ruangan itu.
"Iya, Olivia mengerti." Dia meletakan tasnya dan tampak duduk bersandar.
"Kamu kenapa?" Dion yang duduk di depannya.
"Olivia mau menikah. Olivia juga mau mengambil haknya Mama." Ucapnya dan Dion tampak terkaget.
"Olivia, menikah?? Hak Mama?"
"Iya, Kak Dinda sudah menikah. Jadi Olivia akan memenuhi janji Olivia sama Mama. Begitu Olivia menikah, saham atas nama Mama akan menjadi milik Olivia."
"Sayang, kamu masih muda dan masih kuliah. Pernikahan, tidak mudah sayang."
"Bukannya Papa yang menyetujui perjodohan Olivia dengan Zenno."
"Iya, Papa mengerti. Tapi soal saham, kamu masih terlalu muda."
"Tapi, di akta waris Mama. Olivia berhak atas itu setelah Olivia menikah. Bahkan, Mama Virda sudah mengatur pernikahan Olivia dengan Zenno."
"Kalau soal pernikahan, tunggu pendapat Oma dan yang lain."
"Oma sudah setuju, Mama Virda sendiri yang menemui Oma. Tadi pagi Mama Virda ke Bogor. Lalu ke kampus."
"Iya, memang setelah Dinda menikah. Kamu juga harus segera menikah. Tapi, Papa juga harus menyiapkan semuanya."
"Bukannya Papa akan punya acara besar. Papa rela mengorbankan Kak Dinda hanya demi Adiknya Monica." Olivia begitu emosi saat tahu hal itu.
"Olivia, kamu sudah dewasa. Tolong mengerti Papa."
"Cuma itu saja yang mau Olivia katakan sama Papa." Olivia lalu mengambil tasnya dan berdiri.
"Kamu mau kemana? Biar Papa yang mengantar kamu."
"Olivia mau ke rumah Mama Virda. Olivia bisa sendiri."
"Olivia..." Dion beranjak mendekat dan langsung memeluk Olivia.
Air mata bening luruh begitu saja, Olivia tidak kuat kalau dia mengingat sang Mama. Dari semalam berbagai hal sudah dia lalui. Rasanya ingin bercerita dengan Mamanya, tapi sekarang tidak bisa.
"Maafin Papa."
"Emh," Suara tangis Olivia menyayat hati.
__ADS_1
Pak Roni ternyata mendengar itu dibalik pintu, dia ikut menangis. Lalu Pak Roni memberitahu Oma Sellia apa yang sedang terjadi saat ini.
Dion juga tidak bisa menahan dirinya. Pak Roni tadi juga menyuruh sekretaris Dion pergi. Dia paham akan terjadi hal ini, makanya dia berjaga di luar, agar staff lainnya tidak bisa mendengar obrolan Olivia dengan Dion.