
"Tuan."
"Tuan kenapa?"
"Tuan."
Manda yang sedang memapahnya. Telah tercium aroma minuman yang sangat asing bagi Manda.
Manda yang berada di apartemen Shaun.
Manda langsung mendekati pintu, saat terdengar suara aneh di depan pintu. Ia bahkan sempat membawa teflon untuk memukul orang yang datang. Ternyata, orang itu adalah Tuan Muda. Hampir saja, wajah tampan itu kena pukulan teflon.
"Freya. Kamu pikir aku takut sama kamu." Ucap Shaun dan tampak mata yang buram.
Manda yang menyandarkannya di atas sofa. Shaun tampak menggerutu dalam pikirannya dan semua tentang Freya.
"Tuan, ini saya."
Manda dengan cepat melepas kedua sepatunya. Shaun yang terpejam dan masih saja menyebut nama Freya.
"Freya? Apa dia kekasihnya?"
Manda lantas melepaskan jas yang masih melekat di badan Shaun. Akan tetapi, Shaun malam mencengkeram kedua lengan tangannya.
"Freya, kamu tidak akan menang melawanku."
"Kamu yang akan hancur. Bukan aku."
"Iya Tuan. Iya."
"Freya, kenapa wajah kamu jadi begitu kucel?"
Sudah mabuk, masih saja merendahkan tampilan seseorang.
"Iya Tuan."
"Freya, kamu sepertinya menyesal. Makanya kamu jadi kucel."
"Iya Tuan. Saya sangat menyesal sekali."
"Freya, apa kamu sudah kalah? Sampai kamu memanggilku Tuan!"
"Iya Tuan. Saya sudah kalah. Tahu begini, saya tidak kembali kesini."
"Freya, kamu ingin segera pulang ke Amrik?"
"Iya Tuan."
"Baguslah."
Tepar sudah Shaun di atas sofa. Manda sampai berkeringat saat melepaskan jas itu. Manda yang duduk di bawahnya dan masih menatap ke wajahnya.
"Apa dia sedang punya masalah?"
"Dari tadi, dia menyebut-nyebut Freya."
"Pasti ini masalah cinta."
Manda lantas pergi dan tangan Shaun kembali meraihnya. Manda yang telah terjatuh diatas dada Shaun.
Kedua wajah yang saling berhadapan. Manda yang menatapnya begitu dekat.
"Amanda Naomi."
"Iya Tuan."
Suara yang terdengar begitu pelan dan Manda merasa begitu aneh akan situasi saat ini. Dirinya susah bergerak, kedua tangan Shaun malah mendekapnya erat.
"Amanda Naomi."
"Iya Tuan."
"Jangan tinggalkan aku lagi."
"Apa maksudnya?"
"Aku."
"Iya."
"Aku ingin tidur."
Manda masih menatapnya "Jangan tinggalkan aku lagi?"
"Dia sedang mabuk. Pasti dia terlibat masalah. Jadi, dia membutuhkan aku untuk menangani masalahnya."
__ADS_1
"Aku harus bekerja lagi."
Manda dengan perlahan bisa lepas dari dekapan sang Tuan Muda. Dia lantas mengangkat kedua kaki Shaun dan membuatnya berbaring di sofa.
Manda juga tampak mengatur suhu ruangan dan mengambilkan selimut dari kamarnya.
Setelah memberikan selimutnya dan masih menatap wajah Tuan Muda.
"Selamat tidur. Semoga mimpi indah."
Manda berjalan dan mamatikan lampu. Ia lantas pergi ke kamar dan kembali tidur dengan nyenyaknya.
Saat Manda sudah tidur pulas, di pagi buta malah mendengar suara aneh. Sampai-sampai, orang yang tinggal di apartemen sebelahnya itu, merasa terganggu.
"Siapa jam segini meraung begitu?" Itu tadi, saat Shaun masih meraung-raung di depan pintu apartemen. Tetangga sebelah ini. Punya ketampanan yang tidak jauh beda. Ya, sebelas dua belas dengan Shaun.
Setelah pagi kembali dengan senyuman cerah sang mentari.
"Selamat pagi Tuan."
Shaun yang telah terbangun dari tidurnya dan menatap Manda.
"Pagi."
Shaun yang masih bingung dengan pagi ini. Lantas melihat ke sekitar ruangan.
"Bener, ini apartemenku. Kenapa dia ada disini?"
"Amanda Naomi."
"Iya Tuan."
Manda yang sudah tampil cantik, tampak memakai celana jeans warna biru dengan kaos putih yang terlihat ketat.
"Kenapa kamu bisa ada disini?"
"Saya tidur disini."
"Kamu tidur disini?"
"Iya."
"Semalam, kamu tidur disini?"
"Iya Tuan. Semalam saya tidur disini. Tepatnya, saya tidur di kamar itu." Jari Manda yang menunjuk ke sebuah pintu. Shaun yang melihat ke arah pintu kamar utama.
Shaun menatap Manda yang mondar mandir, tampak membersihkan ruangan itu. Manda yang sedang mengelap meja dan tampak gesit.
"Untuk apa kamu begitu?"
"Saya sedang bersih-bersih."
"Nanti ada petugas kebersihan."
"Owh begitu. Lalu saya harus gimana?"
"Kamu sudah saya kasih ijin untuk libur kerja. Ya kamu pulang saja. Kamu jalan-jalan atau kumpul sama keluarga kamu."
"Semalam di rumah juga sepi, nggak ada orang. Makanya saya ingin tidur disini."
"Disini lebih sepi. Lebih menyeramkan. Kamu nggak takut sama aku yang nggak sadarkan diri??"
Manda berkata "Tidak takut. Buktinya saya baik-baik saja."
Dia malah menunjukkan semangatnya dan Shaun masih saja menatapnya.
"Apa buktinya kamu baik-baik saja?"
"Buktinya. Emh, kita pernah tidur di hotel."
Shaun yang enggan membahas itu, lantas ia beranjak pergi. Manda yang menatapnya pergi, ia tampak senyum.
"Sial, dia malah bilang begitu. Aku jadi laki-laki yang kehilangan harga diri."
Manda masih menatap Shaun yang pergi ke kamar. Shaun yang masih memakai kemeja putih dan celana bahan hitam. Berjalan dan tampak memasukan kedua tangannya ke dalam saku celana.
"Dia kenapa? Apa aku sudah salah?"
Manda lantas kembali bersih-bersih. Entah, kenapa dirinya juga enggan bermalas-malasan. Mungkin ini sudah jadi rutinitas paginya ketika di hari libur.
1 jam kemudian
Pagi jam 8 dan masih berada di apartemen. Manda yang duduk santai di ruang makan dan menikmati kopi paginya.
"Aroma kopiku ini, sangat nikmat."
__ADS_1
Bak model iklan yang sedang shuting. Tatapan Manda begitu mempesona. Ucapan bibir itu, jadi terkesan sensual, itulah yang ada dalam benak Tuan Muda.
"Amanda Naomi."
Manda menoleh dengan wajah terkaget. Ternyata sang Tuan Muda sudah berada di belakangnya.
"Tuan."
"Aku ingin kopi ini."
Shaun meraih cangkir yang ada dalam tangan Manda. Baru hendak meminum kopi paginya, malah Shaun sudah ambil cangkirnya.
Dengan gaya lebih elegan, Shaun berkata "Aroma kopiku ini, sangat nikmat."
Manda yang menatap Shaun dan tampak menganggumi. Gaya elegan Shaun membuatnya terpesona.
"Kenapa dia nggak jadi aktor saja?" Terbawa perasaan kala melihat Shaun yang sedang berakting di depan Manda.
Setelah sadar dari angannya, Manda menatap Tuan Muda yang duduk di seberangnya. Menatap dengan tajam dan hendak menginterogasi Manda.
"Amanda Naomi."
"Iya Tuan."
"Kamu kenapa disini?"
"Saya hanya ingin bermalam disini."
"Semalam kamu melihat aku yang datang?"
"Iya, saya memapah Tuan ke sofa."
"Jam berapa?"
"Sekitar jam 2, sepertinya begitu."
"Apakah saya mengigau?"
Manda lantas berfikir sejenak, lalu ia berkata "Iya Tuan. Berkali-kali Tuan panggil nama Freya. Freya. Freya."
Shaun yang merasa kesal, tapi melihat Manda yang memperagakan dirinya. Dia jadi salah tingkah. Lalu kembali menatap Manda dengan tegas.
"Amanda Naomi. Apa saya mengatakan yang lain-lain?"
"Dia juga bilang, jangan tinggalkan aku?"
"Aa.. Sudahlah. Orang mabuk mana ingat apa yang ia katakan."
Manda lantas menggeleng dan berkata "Tidak ada yang lain. Hanya Freya. Itu saja."
"Freya." Desisnya kesal dan tampak mengepalkan tangan.
Manda lantas bertanya "Tuan. Freya itu siapa? Apa dia ke kasih Tuan yang tinggal di luar negeri?"
"Apa urusan kamu bertanya begitu?"
"Hanya penasaran."
"Penasaran?"
"Iya Tuan. Saya pernah mendengar tentang kekasih Tuan yang berada di luar negeri."
"Sudah, kamu fokus sama kerjaan kamu. Kalau di kantor. Jangan bergosip."
"Saya tidak bergosip. Saya hanya mendengar dari orang lain."
"Sama saja."
Shaun kembali menikmati kopi buatan Manda. Shaun yang merasa lebih baik dan sudah tampak tenang.
"Nanti. Kamu lebih baik pulang ke rumahmu. Aku juga ingin sendirian."
"Baik Tuan. Saya mengerti."
Manda beranjak dari kursinya. Shaun kembali berkata "Aku tidak mengusirmu. Aku hanya ingin kamu punya hari libur."
"Iya Tuan."
Manda yang tampak santai dan tidak memikirkan hal itu. Shaun mengingat akan perkataannya semalam. Meski dirinya sedang tidak sadar. Tapi, dia masih mengingat jelas. Apa yang telah terjadi.
"Terima kasih, sudah mau menemaniku."
Setelah beberapa menit berlalu, Manda yang keluar dari apartemen itu. Ia telah menatap seseorang yang dikenalnya.
"Edo."
__ADS_1
Sayangnya, Mariska sudah lebih dulu masuk ke apartemen, yang ada di sebelah apartemennya.