
Malam berteman hujan, dan inilah waktunya Zenno pergi.
Olivia tetap akan tinggal di rumah Mama Virda untuk sementara waktu. Jadi Zenno harus merelakan sang istri berada jauh dari dirinya.
Zenno yang sudah terbiasa tinggal bersama Olivia, ternyata begitu rindu saat beberapa hari di rumah Mama Virda.
"Aku akan merindukanmu, Baby." Ucapnya dan mengecup kening Olivia.
Olivia sudah terlelap dan Zenno masih enggan untuk pergi. Tapi, dia harus pergi. Karena besok pagi, dia harus bekerja di Tech Media.
FGFC telah mendapat kontrak kerja dari Tech Media, tentang pembuatan aplikasi online.
"Baby, aku pergi ya."
"Aku akan merindukanmu."
"Have a nice dream."
"Luv You."
Mungkin ini sedikit norak, tapi dia juga tidak mengerti. Karena memang dirinya sedang jatuh cinta. Biasanya dia yang meledek teman-temannya, saat ada yang berkata seperti itu, tapi saat ini dirinya juga melakukan hal yang sama.
Zenno yang beranjak keluar kamarnya, dan masih menatap Olivia. Perlahan dia menutup pintu kamar itu.
"Sudah malam. Mau kemana?"
"Pulanglah."
"Pulang kemana?"
"Ke rumah." Jawabnya dan berjalan pergi.
"Memangnya ini bukan rumah dia." Deffo tampak menggeleng, sudah punya istri sikapnya ke sang Kakak tidak bisa berubah.
"Makanya, aku tidak mau menikah, jadinya pasti akan seperti Zenno."
Lalu Deffo pergi ke kamarnya, sambil memegang minuman kaleng. Deffo masih saja memikirkan masa lalunya.
Zenno meninggalkan halaman rumah itu dengan perasaan menahan rindu. Baru saja pergi, rasanya begitu berat.
"Olivia, maafkan aku. Aku akan berusaha membuatmu bahagia."
Zenno tampak tersenyum sendiri kalau mengingat hal itu, pernikahan yang apa adanya, romantika yang datang begitu saja, dan merasakan ciuman pertama.
Hujan mulai reda, dan jalanan malam tampak begitu ramai kendaraan. Zenno melihat ada sepasang insan, yang telah memeluk erat sang kekasih, dan tangan kiri pria itu mengelus kedua tangan yang memeluknya.
Pemandangan yang begitu manis di saat lampu merah, dan sudah mulai berjalan lagi.
Zenno lalu berkata "Olivia, aku sayang kamu."
Sekitar hampir satu jam perjalanan, akhirnya Zenno tiba di rumah dan berbaring di sofa. Tampak malas berjalan ke kamar. Merasa sepi bila tidak ada Olivia.
Mulai memejamkan matanya dan tangan kanan menopang pada dahinya. Zenno perlahan tertidur, dan ini sudah larut malam.
Setelah malam dalam kesepian, pagi berembun Zenno membuka pintu, dan menghirup udara segar. Tidur di sofa ruang tamu, begitu bangun membuka pintu rumahnya.
"Ternyata aku tidak bermimpi." Ucapnya saat melihat tangannya, ada cicin yang melingkari jari manisnya.
Zenno yang dimabuk asmara, langsung mengambil ponselnya.
"Baby,..."
"Mmh, apa? Aku masih bobok."
"Aku juga baru bangun."
"Katanya mau ke Tech Media."
"Iya nanti jam 8."
"Jangan sampai terlambat."
"Kamu mau ke kampus?"
"Iya, nanti. Aku mau minta antar Kak Deffo."
"Ya udah, nggak apa-apa. Nanti aku bilang ke Deffo, biar hati-hati nyetirnya."
"Mmh, Bee."
"Bee? Lebah?"
"Iya, kucing nakal udah jadi lebah yang menyengat. Bibirku perih."
__ADS_1
"Maaf, aku terlalu nakal."
"Em, emang. Nakalnya kebangetan."
"Ya udah, aku mau mandi. Mau siap-siap. Soalnya harus mampir ke base camp."
"Iya, nanti jangan lupa kabarin aku."
"Pasti, aku akan sering chat kamu Baby."
"Mmh, Bee Luv you."
"Luv you too Baby. Mmuuach!"
"Mmuacch."
Olivia yang masih memegang ponsel, lalu mencium layar ponselnya. Ada sepasang tangan yang saling menggenggam dan terlihat cincin mereka.
Olivia begitu gemas, sampai memeluk erat gulingnya. "Emh, Zenno. Aku harus gimana ini? Aku kangen kamu."
Satu jam kemudian, sekitar jam 7 pagi. Tepatnya di hari jum'at, base camp FGFC tampak begitu hening.
Vino yang memegang sebuah jepit rambut dengan aksen kupu-kupu, ada sebuah mutiara warna putih yang menghiasi jepit rambut itu.
Mereka berempat mengamati jepit rambut itu.
"Vasya nggak mungkin pakai jepit." Ungkapnya dan Vino masih memegang itu.
Yang lain hanya menatap jepit itu, dan pasti yang memakai sosok perempuan cantik.
"Nona X." Ucap Joy.
"Iya, pasti Nona X. Kemarin dia datang kesini."
"Tapi Vasya, mengatakan tidak tahu."
"Gue yakin, Vasya dan Master bersekongkol."
Zenno yang baru saja tiba tampak bersiul manis dan yang lain masih berdiri di antara sofa lantai atas.
Zenno melihat ke arah mereka dengan senyuman, lalu bertanya "Ada apa? Kenapa menatapku?"
Vino langsung menjulurkan tangannya dan membuka telapak tangannya. Ada sebuat jepit rambut yang cantik.
"Apa maksudnya istri?" Tanya Vino dengan tatapan buas.
Begitu juga dengan yang lain, menatap Zenno dengan tatapan menakutkan.
"Emz..." Zenno menunjukkan tangannya dan ada cicin emas putih yang sudah melingkar di jari manis sebelah kanan.
Semua menatapnya dan Vino memegang tangan Zenno dengan kedua tangannya. Rasanya sangat tidak bisa dipercaya, Zenno menikah dan semua teman dekatnya, tidak ada yang tahu.
Vino melepaskan tangannya dan semua beranjak pergi, seolah-olah mereka telah mengabaikan Zenno dan enggan untuk bertanya-tanya.
"Kalian kemana? Kenapa pada pergi?"
Dengan kompak mereka memakai pakaian rapi dan mengambil ransel. Tampak berkemeja dan begitu tampan.
"Ayo berangkat, sudah siang." Ucap Loudy dan melewati Zenno.
Semua tampak mengikuti Loudy dan Zenno hanya menggeleng.
Setelah berada di dalam mobil dan ketiga orang itu tampak diam saja. Bahkan tidak menghiraukan Zenno.
"Kalian ini." Zenno menggeleng saja. Dia cukup mengerti kenapa semua para temannya, bersikap begitu.
Sesampainya di gedung Hi Tech, Zenno dan Tim FGFC telah disambut Jony.
"Selamat datang di Hi Tech." Jony yang menyambut Tim FGFC.
Mereka di gedung khusus untuk pembuatan aplikasi online itu. Jadi tidak dikantor utama Tech Media.
"Ini ruang kerja kalian."
"Disini masih santai, tidak seperti di kantor utama." Ucap Jody.
"Pak Jony apa yang bekerja disini cuma kita berlima?" Tanya Vino.
"Tidak, nanti ada pimpinan disini. Tapi hari ini belum bisa hadir, ada juga petugas kebersihan khusus dan tim keamanan. Kalian tadi sudah bertemu tim keamanan. Mereka yang akan menjaga privasi kalian berlima."
"Lalu, Pak Erick?" Zenno hanya ingin memastikan.
__ADS_1
"Pak Bos tidak akan memimpin kalian, Bos tetap akan di kantor utama. Mungkin saat tertentu saja, Bos akan datang kemari."
Jony lalu mengajak mereka mengelilingi gedung tiga lantai itu. Tidak terlalu besar, tapi begitu modern dan alatnya begitu canggih. Joy dan Ken masih menatap fasilitas yang ada. Termasuk PC terbaru dan begitu keren menurut mereka berdua.
"Kita ada anggota tambahan, apa boleh sewaktu-waktu dia ikut kita ke kisini?" Tanya Vino.
"Iya silakan saja. Itu urusan kalian. Yang jelas, disini aman, tidak ada orang luar. Jadi, kalau ada kebocoran soal privasi dan tentang pekerjaan kalian. Berarti itu dari kalian sendiri."
"Baik, kita semua mengerti." Ucap Zenno.
Pintu digital dan semua serba remot.
"Ini ruang uji aplikasi, dan ini kode masuknya. Tidak sembarang orang dibiarkan masuk ke dalam ruangan ini."
Semua yang menatapnya tampak terpaku dan merasa kalau ini benar-benar keren.
Jony lalu kembali mengajak mereka ke lantai 3 dan mereka cukup nyaman di tempat itu.
"Ini ruang istirahat kalian semua. Karena kita tahu, kalian bisa saja lembur dan jam kerja kalian sabtu minggu full. Jadi, kalian bisa tidur disini."
"Iya, kita mengerti." Ucap Loudy dan Vino sudah tampak berbaring di tempat tidur itu.
"Semua sama, tidak berbeda. Di ruang lain, juga seperti ini. Kalian bisa bawa barang pribadi kalian. Misalnya, foto kekasih." Jony yang bersedekap tampak tersenyum.
Ken lalu mengatakan, "Kita semua jomblo, kecuali Zenno."
"Iya, anak muda pasti akan punya penyemangatnya. Mungkin foto keluarga juga cocok." Ucap Jony yang bergurau dan semua tampak tertawa.
"Gue mau bawa foto emak." Ucap Vino yang baru bangkit dari tempat tidur.
"Kalian bebas disini. Tapi satu hal. Kalian tidak boleh membawa pasangan kalian kemari." Ucap Jody tersenyum.
"Aah.. Kalau itu sih nggak akan." Joy dan Ken yang kompak.
"Silakan mengenal ruang kerja kalian. Saya masih ada pekerjaan. Kalian hari masih ini bebas dan besok kalian sudah harus bekerja."
"Baik Pak Jony." Ucap Zenno.
Jony lalu pergi meninggalkan mereka semua.
Saat yang lainnya membahas barang pribadi mereka yang hendak dibawa, Zenno keluar menuju rooftop dan akan menghubungi Olivia.
"Dia kemana? Kenapa nggak diangkat teleponnya?"
Zenno mencoba lagi dan akhirnya di angkat Olivia.
"Hallo Bee." Suara gemas Olivia.
"Baby, kamu lagi apa?"
"Aku baru sampai di kampus."
"Emh, aku kangen sama kamu."
"Emmh Bee gitu, baru juga semalam." Olivia tersenyum nakal, padahal dia juga rindu, sambil menggigit ujung tangkai kacamata hitam.
Zenno yang menatap kota ini, begitu cantik di cuaca yang cerah. Lalu berkata "Aku benar-benar akan merindukanmu."
"Iya iya, ya udah kamu kerja."
"Kamu nggak apa-apa kita nggak bisa malam mingguan." Zenno merasa bersalah.
"Masih ada hari-hari lain Bee." Lalu Zenno hanya diam, dan Sherryl datang "Bee udah dulu ya. Ada Sherryl."
"Oke, luv you Baby."
"Luv you too." Olivia menutup panggilan itu dan Zenno mulai menatap layar ponselnya. Untuk melihat foto dirinya dan Olivia yang sedang berciuman itu.
"Kita harus bisa LDR." Gumannya dengan perasaan rindu.
Buat yang mau ngikutin author di akun baru, silakan cari novel dibawah ini.
Terima kasih 🙏😚
__ADS_1