
Setelah beberapa saat Pak Roni mulai pergi meninggalkan rumah Zenno, jadi hanya mereka berdua saja yang ada di rumah itu.
"Aku mau keluar dulu. Kamu baik-baik di rumah." Ucap Zenno dengan santai dan Olivia yang masih duduk di ruang tamu setelah Pak Roni barusan pergi.
"Aku sendirian?"
"Iya, disini cuma ada aku sama kamu. Aku pergi, kamu sendirian."
"Lama perginya?"
"Memangnya kenapa? Kamu takut?"
"Bukan begitu, aku nggak terbiasa sendirian. Di rumah biasanya ada Oma, juga ada Tante dan Bibi ."
Zenno tampak mengangguk dan sedikit bingung. Olivia memang tidak pernah sendirian di sebuah rumah. Apalagi ini untuk pertama kalinya dia jauh dari keluarga Amarta. Disana ada Oma dan juga sang Tante.
"Aku cuma sebentar. Kamu di kamar aja kalau takut."
"Emh, iya." Balasnya dan sedikit ragu.
Zenno mendekat dan berkata "Kunci pintunya, disini sepi."
Olivia hanya mengangguk dan Zenno yang sudah menggenggam jaket jeans, lantas pergi meninggalkan Olivia.
Setelah mengunci pintu rumah itu, Olivia bergegas ke kamar. Zenno yang mengeluarkan mobil dan kembali menutup pintu pagar rumah itu.
Area perumahan dan tampak sepi di kala pagi hari, tapi disana penjagaan juga sangat ketat. Bahkan ada post di depan gerbang perumahan itu dengan penjagaan 24 jam.
Perumahan Allencia City dan berada di kawasan kota Jakarta. Walaupun begitu dianggap sederhana oleh Olivia Sada Amarta, tapi rumah itu begitu elegan dan sangat asri. Dengan kesan modern dan masih banyak pepohonan yang rindang. Jalannya pun begitu luas dan beberapa arena ada ditempat itu, ada tempat berenang, taman, tempat ibadah dan mini market.
"Zenno sudah pergi." Lirihnya yang menatap mobil sedan putih itu pergi begitu saja. Olivia yang melihat dari jendela kamarnya dan tampak kesepian.
"Mama, Oliv harus gimana?" Olivia masih saja dalam kebingungan. Meski saat berhubungan melalui ponsel, Zenno terkesan baik. Tapi Olivia baru saat ini berhadapan langsung dengan Zenno.
"Cuma kakak yang bisa melawan Papa."
Setidaknya, dia tetap pada aturan keluarganya. Dinda sangat mirip dengan Julia sang Tante yang menolak aturan perjodohan. Bahkan sampai saat ini, sang Tante tidak mau menikah, karena pria yang dia cintai sudah menikah dan tidak berani memaksakan cinta mereka.
"Tapi Tante Julia masih ada Oma, dan aku hanya sendirian." Lirihnya dan masih menatap jalan depan rumah itu.
"Apa aku harus jujur dengan perasaanku? Seperti Kak Dinda yang membawa pacarnya disaat malam perjodohan."
Pikiran Olivia yang merancu entah kemana. Padahal saat ini, dia sudah tinggal di rumah Zenno.
"Kak Dinda lagi apa?" Olivia dengan segera mengambil ponselnya dan ingin tahu keadaan sang Kakak saat ini.
"Emh, kalau aku telfon nanti ganggu. Tadi dia bilang, Kak Gery mau datang ke apartemen." sambil menggeleng dan kembali meletakkan ponselnya dalam tas slempangnya.
Dinda Nova Amarta adalah Kakak kandung Olivia dan saat ini dia akan segera lulus kuliah. Tinggal satu bulan lagi dia akan melangsungkan wisuda dan lanjut menuju jenjang pernikahan dengan sang pujaan hati Gery Hardika.
__ADS_1
Di sebuah apartemen mewah di kawasan pusat Jakarta. Dinda menatap sebuah video berdurasi 8 menit dan itu sebuah pesan dari seseorang yang dia kenal dekat.
"Marcella." Dengan hati yang berkecambuk dan sangat tidak percaya, tapi video itu bukan editan dan memang benar adanya.
Marcella Hermawan, adalah adik perempuan Monica, sang ibu tiri. Dia juga seusia Dinda, dan saat ini Dinda telah melihat video yang tidak mengenakkan dari Marcella dan Gery.
"Gery, ini maumu?" Air mata itu mengalir lembut dan sangat tidak terbayangkan oleh Dinda yang sedang menanti hari bahagia nantinya. Tapi semua berubah menjadi racun, dan sangat mematikan baginya. Madu itu ternyata membawa kepahitan, dan Dinda sudah menuai apa yang dia pilih.
Ternyata pertemuan makan malam satu bulan yang lalu, membuat Marcella jatuh hati pada Gery dan dia bisa berbuat hal serupa seperti Monica dulu.
"Aku tidak akan memaafkan kalian." Emosi Dinda begitu meledak dan melempar ponselnya begitu dahsyatnya. "Marcella, aku tidak akan tinggal diam."
Dinda dan Gery sudah lama menjalin hubungan, bahkan tanggal pernikahan sudah ditetapkan oleh kedua pihak keluarga.
Dinda mengenal Gery dari SMA dan itu bukan waktu sebentar, walaupun dulu hanya menganggap sebagai senior junior. Tapi, dua tahun lalu Dinda dan Gery membuat pernyataan cinta di hadapan seluruh keluarga Amarta dan saat itu adalah malam perjodohan Dinda dengan seorang putra pengusaha kaya.
Dinda mengambil tas jinjingnya dan mulai beranjak pergi meninggalkan apartemennya.
"Mama, maafin Dinda...." Dalam hati Dinda dan mulai mengendarai mobil merahnya. Mobil sport warna merah dan Dinda begitu cepat mengendarainya.
Dulu sempat melawan orang tuanya dan sekarang Dinda tidak tahu harus bersikap bagaimana.
"Seandainya Mama belum pergi, Dinda menyesal,...." Air matanya kembali luruh membasahi pipinya dan mobil itu melaju dengan cepatnya.
Mobil itu menuju sebuah apartemen yang tidak jauh dari apartemen Dinda. Harapan manis itu sudah sirna, dan hati Dinda merasakan sakitnya. Semua ini, masih seperti mimpi baginya. Ucapan dan perhatian Gery, ternyata sudah menguap bagaikan angin lalu. Tak ada rasa manis yang akan hadir untuknya, melainkan hanya rasa yang pahit.
Sepuluh menit berlalu dan Dinda sudah tiba di apartemen Gery. Lagi-lagi harus menelan pil pahit di hari ini, di tempat parkir dia sudah melihat mobil Marcella yang terparkir di area itu. Hatinya tidak akan kuat, bila saat ini berhadapan dengan Marcella.
"Tapi Oliv,...." Ada keraguan dalam benaknya dan dia saat ini memilih untuk pergi sendiri.
Dinda pergi dengan luka hatinya dan entah kemana dia akan pergi.
Di sebuah supermarket, Zenno sudah mulai berbelanja kebutuhan untuk Olivia. Dia juga belum begitu mengenal Olivia, apa yang disukai dan tidak. Tapi, dia tetap memilih sayuran, daging, buah, serta beberapa makanan ringan dan minuman kaleng.
"Sepertinya ini cukup untuk beberapa hari."
Zenno tampak tersenyum dan kembali mendorong troly, ia pun segera menuju antrian pembayaran.
Seorang wanita muda mendekat dan menepuk pundak Zenno dari belakang.
"Zenno, loe belanja?"
"Iya."
"Nggak nyangka, kita bisa ketemu disini."
Zenno tampak biasa saja, dan wanita muda itu tersenyum manis untuknya.
"Gue duluan." ucap Zenno dan wanita muda itu masih saja menatapnya dengan senyuman madu. Senyuman yang begitu memikat, tapi Zenno tidak terpikat dan tampak biasa saja.
Zenno yang selesai membayar lebih dulu dan dia masih menatap Zenno, lalu berkata "Zenno tungguin gue dulu."
__ADS_1
Zenno dengan tersenyum menggeleng dan mulai mendorong trolynya kembali.
"Iihh... Dia begitu terus." Kesalnya dan seorang kasir menatapnya, dia masih kesal karena sikap Zenno kepadanya.
...Visual dari beberapa tokoh cerita ini...
Olivia
Zenno
Dinda
Erick
Marcella
Gery
Loudy
Bella
Kevin
Sherryl
Bagaimana visualnya, cocok tidak?
Tolong berikan komentar dan saran ya. 🤗
Terima kasih 🙏🥰
__ADS_1