Crazy Rich

Crazy Rich
Maling


__ADS_3

Crazy Rich Bagian 15


Oleh Sept


Nyonya Suha harus menelan kecewa, sebab setelah sebuah mobil datang membawa Hanum yang sangat baik-baik saja, ia pun hanya bisa menahan kesal.


'Kau punya banyak nyawa rupanya?' batin Suha sambil memindai seluruh tubuh Hanum.


'Hanya lecet kecil? Penjaga kuda itu sepertinya menipuku. Awas kau!' rutuk Suha dalam hati.


Sementara itu, Kakek Mahindra langsung memanggil penjaga kuda. Ia dan beberapa orangnya sedang mengintrogasi pria tersebut.


"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Kakek Mahindra dengan curiga. Sebab selama ini hal fatal barusan tidak pernah terjadi.


"Maaf, Tuan. Ini salah saya karena sudah teledor. Maafkan saya, Tuan."


Penjaga kuda itu menundukkan wajahnya dengan dalam, sepertinya dia menyesal karena hampir mencelakai Hanum. Sebenarnya ia sudah mencampur obat pada makanan kuda, tapi hanya sedikit. Karena jujur, dia bukanlah orang jahat. Tapi takut dengan ancaman Nyonya Suha.


Kakek Mahindra yang sudah hafal dengan semua pegawainya. Apalagi orang itu adalah yang paling rajin dan paling tahu dengan kuda-kudanya. Akhirnya kakek memberikan maaf. Karena Hanum juga tidak kenapa-kenapa.


Berbeda dengan Gadhi, setelah kakeknya pergi melepaskan penjaga kuda itu, Gadhi memaksa pria itu untuk mengaku.


"Apa yang terjadi? Apa kau menyimpan sesuatu?"


Sang penjaga langsung mendongak.

__ADS_1


"Tidak, Tuan Muda ... ini murni keteledoran saya!" ucap pria itu lantang. Sebab di belakang Gadhi ada Nyonya Suha yang melotot tajam ke arah penjaga tersebut.


Gadhi mengeryitkan dahi, ingin ia usut tapi karena sang kakek memanggil, akhirnya ia pun memilih memenuhi panggilan kakek Mahindra.


***


Semua orang berkumpul di aula yang terlihat esthetic. Pilar-pilarnya terbuat dari kayu tua yang sangat kokoh. Disertai ukiran-ukiran yang bernilai seni tinggi. Membuat suasana tradisional terasa kental di dalam sana.


Apalagi di sebelah sisinya, ada kolam ikan kecil dengan air mancur yang indah. Dengan hiasan batu-batu kolam yang cantik. Cukup membuat orang betah berlama-lama di sana. Tapi tidak dengan Nyonya Suha. Tempat seperti ini hanya membuatnya jenuh.


Ia lebih suka menginap di hotel bintang tujuh dari pada di perternakan. Meski sekelas villa, tetap saja, Nyonya Suha tidak menyukainya. Terbiasa hidup glamour membuatnya suka hura-hura. Bukan sepi, tenang dan damai seperti sekarang ini.


Lain cerita dengan Hanum, sejak tadi ia malah asik memperhatikan ikan-ikan besar yang ada di dalam kolam. Kakek Mahindra hanya tersenyum melihat sikap Hanum yang terlihat natural dan polos itu. Benar-benar cucu mantu idaman.


Hingga waktunya makan malam, semua pun bersiap. Rencananya semua akan menginap, kecuali Nyonya Suha. Ia alasan ada urusan mendesak. Padahal tidak mau tidur di sana.


Sepanjang perjamuan makan malam, Hanum sudah sedikit mengikuti cara mereka semua makan. Pelan, tanpa suara dan harus terlihat anggun. Meskipun dalam hati Hanum terus saja merutuk.


Ingin rasanya ia makan apa saja yang terhidang, tapi baru mengambil beberapa, mata madam Li sudah menghujam ke arahnya.


'Apa-apaan ini, ini hanya seperti pencuci mulut bagiku!' batin Hanum yang hanya makan sedikit.


Setelah acara makan malam selesai, Nyonya Suha langsung kabur. Sedangkan Akas masih tinggal di sana. Malam ini mereka bertiga membicarakan keluarga dan rencana pernikahan Gadhi.


Meski sangat malas, Gadhi pun hanya mengangguk saat sang kakek mengatakan ini dan itu. Mereka bertiga berbicara sampai larut. Barulah pukul 11 malam, semuanya kembali ke kamar.

__ADS_1


***


Kamar Hanum


Kruek kruek kruek


"Huuf!"


Hanum memegangi perutnya yang terasa lapar, ini karena madam Li terus saja mengintai bagai CCTV, membuatnya tidak leluasa makan.


Karena perutnya terus berbunyi, Hanum pun nekat keluar kamar malam-malam.


"Dapurnya ada di sana, kan?" gumamnya sambil berjalan.


"Nah itu dia!"


Mata Hanum berbinar-binar ketika melihat kulkas. Sambil menatap sekeliling Hanum pun membuka kulkas. Tanpa pikir panjang gadis itu pun langsung mengambil sepotong kue dan langsung memasukkan ke dalam mulut.


"Maling!"


Sebuah suara terdengar begitu pelan tapi menusuk.


'Sialll!' rutuk Hanum sembari menahan napas karena jengkel.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2