
Crazy Rich Bagian 73
Oleh Sept
Setelah Hanum meninggalkan para wartawan yang terus menyoroti dirinya, kini mereka semua memasuki ruangan yang luas, mega, dan penuh penerangan dari cahaya lampu yang seperti siang hari.
Hanum dan Gadhi kemudian menggendong anak mereka masing-masing. Dan menghampiri kakek Mahindra yang sudah duduk di meja bundar yang sudah disiapkan untuk keluarga inti.
Ada nyona Geni, wanita itu duduk satu meja dengan kakek, tapi ekspresi sangat dingin. Terlihat rasa kecewa dan marah pada Hanum dan Gadhi.
Tidak jauh dari sana, di meja khusus karena ada Akas yang naik kursi roda, Suha juga menatap sinis pada Hanum serta Gadhi. Ada rasa dendam dan sorot amarah yang belum tersalurkan. Ini karena ketatnya penjagaan. Membuat Suha yang lihai sedikit mengalami kendala.
Ketika kedua menantunya diliputi rasa iri dan dengki, kakek Mahindra terlihat senang. Sebentar lagi beban di pundaknya akan segera hilang. Dia akan mengatakan pada dunia, siapa Hanum sebenarnya.
Tapi nanti, karena sekarang masih akan ada acara jamuan. Mereka akan makan-makan terlebih dahulu, baru setelah acara selesai, kakek akan membuka acara press conference. Kakek akan membuka rahasia yang mungkin akan menjadi headline di setiap berita.
***
Saat jamuan makan malam dimulai, semua menu mewah tersaji di atas meja.
Bermacam-macam hidangan yang tersedia, tinggal memilih sesuai selera. Kalau Hanum, semua makanan hampir cocok dilidah. Tidak ada makanan yang tidak ia sukai. Semua terasa enak, berbeda dengan Gadhi suaminya.
Ketika Hanum menyodorkan banyak makanan, Gadhi terus saja menggeleng. Sesekali mengambil sapu tangan di saku jas miliknya. Indranya jadi sensitive.
"Tidak usah, aku bisa ambil sendiri."
__ADS_1
Hanum memaksa Gadhi untuk makan, karena dari kemarin suaminya itu hanya makan sedikit.
"Jangan pilih-pilih makanan, ayo makan sedikit saja!"
Hanum memaksa, ia mengambil irisan salmon dan hendak menyuapi Gadhi. Pria itu menggeleng pelan, dan wajahnya pucat seperti sedang menahan sesuatu.
"Sayang! Kamu nggak apa-apa, kan?" Hanum panik. Apalagi dahi Gadhi sudah basah karena keringat.
"Aku keluar sembentar!" Gadhi bangkit dan meninggalkan semuanya.
"Madam! Tolong awasi anak-anak!" ucap Hanum kemudian menyusul suaminya.
"Gad!! ... Gad!"
Di balkon hotel yang menghadap pemandangan malam ibu kota, Gadhi menarik napas dalam-dalam.
"Kau kenapa?"
Hanum mendekat, menyentuh pundak suaminya.
"It's okay!" Gadhi mengangkat sedikit wajahnya.
"Apa yang terjadi?"
"Tidak apa-apa, jangan khawatir. Mungkin masuk angin."
"Apa Kita pulang saja?" tanya Hanum.
"Jangan, aku bisa menahannya."
__ADS_1
"Jangan memaksakan diri. Kalau sakit lebih baik Kita pulang saja."
"Tidak, Hanum. Aku baik-baik saja."
"Baik-baik apanya!" gerutu Hanum.
Di belakang mereka kakek Mahindra menyusul.
"Apa yang terjadi?"
"Tidak ada apa-apa, ayo Kek, Kita masuk lagi!" Gadhi mengajak keduanya untuk kembali ke tengah-tengah kerumunan manusia.
***
Serangkaian acara sudah selesai, tinggal satu yang paling penting. Kakek meminta Hanum naik ke podium, di sana sudah ada banyak kursi. Dan juga meminta Gadhi ikut bersama mereka. Sampai di sini, Hanum sana sekali tidak merasa curiga pada rencana kakek Mahindra.
Saat Hanum dan Gadhi sudah duduk di sebelahnya, kakek kemudian memulai press conference.
"Selamat malam semuanya, senang sekali saya bisa menyapa kalian semua."
Kakek Mahindra berhenti sejenak, kemudian menatap cicitnya yang sedang dalam penjagaan madam Li dan sekretaris Jo.
Pria itu kemudian melanjutkan kata-katanya.
"Saya ada di sini malam ini, sekaligus akan menyerahkan dan mengumumkan kedudukan tertinggi Tourshine Groups yang selama ini saya bangun dengan segenap jiwa dan raga. Kalian mungkin akan terkejut mendengar pernyataan saya ini. Tapi mohon untuk para pimpinan direksi, investor dan para kolega, mohon untuk kerjasamanya dalam membangun groups Tourshine dengan pemilik yang baru, lebih berkembang, lebih maju dan lebih dalam segala bidang."
Gadhi sudah percaya diri, bahwa namanya yang akan disebut. Tapi ketika kakek menatap Hanum dan mengulurkan tangan pada istrinya, Gadhi merasa sesuatu yang tidak beres.
"Perkenalkan, Hanum Bramantya. Dia adalah pemilik global Tourshine Groups yang baru!"
'Kakek!' Hanum gelisah, ia kemudian menatap wajah suaminya.
'Bukan ini ... ini bukan mauku ... Gad! Tatap mataku! Ini tidak seperti yang kamu pikirkan!' batin Hanum yang melihat Gadhi memalingkan muka. BERSAMBUNG
__ADS_1