Crazy Rich

Crazy Rich
Niat Jahat


__ADS_3

Crazy Rich Bagian 67


Oleh Sept


Widie Hill Atlanta Hospital


Gadhi yang baru mengetahui bahwa ia akan memiliki bayi kembar, malam itu juga ia membawa Hanum ke rumah sakit. Meskipun semula Hanum menolak, lebih baik besok pagi. Tapi Gadhi tidak sabar. Ia ingin melihat calon bayinya secara langsung lewat pemeriksaan USG 4D.


Karena pria itu memaksa, sangat maksa sekali. Akhirnya mereka berempat sekarang berada di sebuah rumah sakit terbaik di kota itu.


"Bagaimana bayi-bayi saya, Dok?" ucap Gadhi dengan menggunakan bahasa setempat.


Sosok berjas putih dengan stethoscope di lehernya itu kemudian tersenyum ramah pada Gadhi. Ia mengucapkan selamat, dan janin-janin dalam rahim Hanum sangat sehat.


Gadhi kemudian menatap layar, dilihatnya calon bayi-bayi munggil itu bergerak-gerak.


"Hanum ... baby Kita, Sayang."


Pria itu merasa takjub, melihat gambar 4 dimensi anak-anaknya. Dan dokter menjelaskan, bahwa jenis kelaminnyaa masih belum terlihat karena tertutup. Bayi-bayi itu sepertinya malu-malu saat dilakukan USG.


Gadhi sendiri tidak masalah, yang penting mereka semua sehat. Terutama sang ibu, hanya itu harapan Gadhi saat ini.


"Makasi, Sayang!"


Di depan dokter, Gadhi tanpa rasa malu mengecupp kening Hanum dengan hangat. Seolah dunia hanya milik mereka berdua.

__ADS_1


Saat pemeriksaan selesai, Gadhi mendekati dokter.


"Dok ... apa tidak masalah jika kami melakukan HB?" tanya Gadhi dengan wajah tidak enak. Tapi ia harus bertanya, karena malu bertanya akan sesat di jalan.


Dokter mengangguk, dan mengatakan tidak apa-apa. Malah kalau usia kehamilan Sudah masuk trimester akhir, lebih sering lebih bagus. Tapi tetap harus hati-hati.


Bibir Gadhi langsung merekah, setidaknya ia bisa buka kapan saja, tidak perlu khawatir nanti janin dalam rahim Hanum kenapa-kenapa.


"Thank you, Doc. Than you very much!"


Melihat tingkat suaminya, Hanum hanya bisa menahan malu. Pipinya merona karena ulah Gadhi.


***


Selesai dari rumah sakit, mereka langsung balik ke apartment. Sudah malam, Gadhi tidak mau Hanum kecapekan dan masuk angin. Sepanjang malam, pria itu tidak tidur. Menjaga Hanum yang terlelap. Mungkin Gadhi tidak bisa tidur karena masih tidak mengira, ini benar-benar hadiah paling manis yang pernah ia miliki di dunia ini. Lebih berharga dari pada apapun.


"Hallo? Maaf Kek, baru bisa hubungi Kakek," sapa Gadhi di telpon.


Terdengar kakek Mahindra mendesis.


"Kalau sudah dengan Hanum, kau melupakan orang rumah!" sindir kakek Mahindra.


"Bukan itu Kek masalahnya. Kami tadi ke rumah sakit. Dan ... kakek kejam sekali. Kenapa tidak bilang Hanum sedang hamil?" suara Gadhi mulai naik satu oktaf.


"Jika Kakek memberi tahu sejak awal tentang kehamilan Hanum. Kau pasti tidak fokus dengan perusahaan!" sindir kakek Mahindra sekali lagi.

__ADS_1


Gadhi hanya menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal. Benar apa kata kakeknya itu. Kalau tahu Hanum hamil, pasti lautan pun ia sebrangi. Gunung ia daki, rawa ia selami, semua negara ia datangi ... prettt!


"Tapi ... sudahlah." Gadhi tetap mau protes. Tapi saat melihat wajah damai Hanum saat tidur, hatinya pun ikut damai.


"Satu pesan Kakek, jangan bawa pulang Hanum. Tunggu sampai bayi itu lahir."


Kakek Mahindra sepertinya harus waspada, cukup kematian Prakash menjadi pembelajaran baginya.


"Baik, Kek. Mungkin aku yang akan pulang pergi beberapa bulan terakhir."


"Ya, itu lebih baik."


Keduanya pun berbicara hal lain, mengenai perusahaan. Tapi mereka tidak tahu, ada nyona Suha yang menguping pembicaraan kakek.


Nyona Suha ingin menuntut Kakek Mahindra karena diam saja melihat kelakuan Geni yang semakin menjadi.


Suha menemukan jejak digital pembayaran ticket pesawat minggu lalu suaminya. Dan yang membuat ia marah adalah, saat ia mencari informasi ternyata Akas pergi dengan Geni. Marah, ia pun mencari kakek Mahindra.


Ingin meminta mertuanya tegas pada Geni yang tidak tahu malu. Sebab saat ia tanyakan langsung pada Akas, pria itu terus mengelak. Bahkan jika Suha terus saja begini, mereka sebaiknya berpisah.


Jelas Suha tidak mau, karena ia tahu harta kekayaan suaminya itu banyak sekali. Ingin mencari dukungan kakek Mahindra, ia malah shock.


Suha mendengar kakek berbicara tentang kehamilan Hanum. Suha yang licik, ia juga sudah mencari tahu siapa Hanum sebenarnya.


"Akas! Kau mau putramu sendiri mewarisi kekayaan kakek rupanya lewat putri Prakash? Begini cara mainnmu? Akan ku pastikan kau menyusul Prakash!" Wajah Suha mengeras, ada kemarahan yang tergambar jelas di matanya. Bersambung.

__ADS_1


IG Sept_September2020


__ADS_2