Crazy Rich

Crazy Rich
Skor Sama


__ADS_3

Crazy Rich Bagian 18


Oleh Sept


"Apa masa kecilmu kurang bahagia? Sebesar ini kau masih hujan-hujan?" celetuk Gadhi. Pria itu mencoba tetap fokus, dengan tidak menatap tepat pada tubuh Hanum yang sudah basah kuyup dan tampak jelas lekuknya.


"Apa urusanmu? Dan lagi siapa yang hujan-hujan? Aku kehujanan tuan sombong!" celetuk Hanum sambil memeras rambutnya.


Hujan yang deras dan turun secara tiba-tiba membuat seluruh tubuhnya basah. Dalam sehari, Hanum sudah berurusan dengan air berkali-kali. Air danau dan juga air hujan.


"Memangnya kau bawa baju ganti berapa? Kenapa membiarkan bajumu terus-terusan basah?" sindir Ghadi. Masih tidak mau menatap ke arah Hanum. Ia takut matanya kembali ternoda.


"Siapa yang sengaja? Dan bukan urusanmu aku bawa ganti baju berapa!" celetuk Hanum. Ia mau pergi saja dari pondok itu, tapi Gadhi malah langsung mencengkram lengannya.


"Dasar keras kepala! Siapa coba yang akan betah jadi suamimu!" celetuk Gadhi dengan nada sinis.


"Kalau begitu ... batalkan. Selama bukan aku yang membatalkan, rasanya tidak masalah," jawab Hanum enteng.


Hanum ingat dengan isi perjanjiannya dengan kekak Mahindra. Selama bukan dia yang membatalkan, maka dia tidak akan dituntut apa-apa. Dan lagi, proses pelatihan ini cukup melelahkan. Belum genap seminggu Hanum sudah mendapat tekanan batin.


Apalagi ucapan-ucapan pedas dari calon suaminya. Rasanya wanita manapun tidak akan betah jadi istri Gadhiata Ratama Prakas itu. Biar kaya, sudah pasti akan makan hati sehari-hari.


"Kamu pikir aku tidak mau? Aku sudah menolaknya sejak awal."


"Baguslah, lakukan lebih keras. Biar pernikahan ini benar-benar batal."


"Heiii! Siapa kau? Seenaknya menyuruh-nyuruh?" ketus Gadhi.


"Astaga ... aku takut kamu nanti stroke kalau selalu marah-marah seperti ini!" sindir Hanum dengan wajah mengejek.


"Kauuu!"


"Kenapa? Jangan pikir aku tidak tahu alasanmu menerima pernikahan ini!" Hanum kembali menyindir halus Gadhi.


'Sialannn! Apa dia tahu? Dia hanya aku jadikan alat untuk menerima warisan kakek. Bagaimana jika dia mengadu pada Kakek? Ish .. aku rasa dia benar-benar ular!' gerutu Gadhi dalam benaknya.


"Memangnya apa yang kau tahu?" tanya Gadhi dengan suara tenang. Ia mulai bisa kontrol emosi.


Saat Hanum akan berkata, Tiba-tiba muncul dua pengawal membawa payung, alhasil keduanya berhenti berbicara.


"Ini, Tuan Muda!"


Gadhi mendapat jatah payung besar satu, pas dipakai dengan Hanum.


Hanya saja, Hanum menolak. Ia malah ikut pergi bersama payung pengawal.


"Nona ... jangan begini. Bisa-bisa tuan muda akan memecat saya."


Pengawal pria itu terlihat panik.


"Tidak akan, hanya karena kita berbagi payung mana mungkin kau dipecat," ujar Hanum kemudian terus melangkah bersama sang pengawal.


Masih di gubuk, Gadhi menatap sebal kepergian Hanum. Bisa-bisanya calon istrinya itu malah memilih berbagi payung dengan pengawal dari pada dirinya? Harga diri Gadhiata Ratama Prakas sang pewaris global Tourshine Groups benar-benar seperti jatuh ke dasar jurang.


"Kau sepertinya harus diberitahu, bagaimana caranya bersikap!" gumam Gadhi lalu merebut payung dari tangan pengawal yang satunya.


"Kau pulang sendiri!" titahnya pada pengawal.


Pengawal itu hanya menundukkan wajahnya sambil mengumpat kesal dalam hati.


***


Peternakan kuda


Karena hujan lebat, kakek dan yang lain memilih beristirahat di area lapangan golf. Di sana sudah ada hunian kecil untuk beristirahat. Sedangkan Gadhi, kini ia hanya berdua dengan Hanum. Meskipun tidak benar-benar berdua, karena di mana-mana masih ada pengawal yang siap siaga.


Hujan semakin deras, tidak terasa malam semakin larut. Hanum sejak tadi megintip di jendela, menanti madam Li yang tidak kunjung datang.


"Apa mereka menginap di sana?" tanya Hanum pada air hujan yang terus turun tanpa henti.


Tok tok tok


"Nona ... waktunya makan malam."


Hanum memegangi perutnya, kebetulan ia juga sudah lapar sekali.


"Semoga tuan muda sombong itu tidak ikut makan," doa Hanum lirih.


Hanum terlihat sangat senang, saat menatap hidangan lezat di meja makan.


"Benarkah ini semua boleh dimakan? Mumpung tidak ada madam Li, sepertinya aku bebas makan!" gumam Hanum dengan mata berbinar-binar saat melihat ikan gurami bakar dengan saus madu di atasnya.


"Emmm ... enak banget."


Hanum terus saja makan, tanpa peduli di ambang pintu ada sosok pria yang sejak tadi melihatnya.


"Kau bahkan seperti tidak makan satu bulan!" celetuk Gadhi kemudian duduk di depannya.

__ADS_1


'Ya Tuhan ... kenapa kau kirim mahluk ini di waktu yang salah! Aku bahkan belum menghabiskan udang maduku, kalau begini caranya, makanan ini seperti kemarin. Hanya untuk pajangan!' gerutu Hanum.


"Bisahkan aku makan dulu? Nanti kita lanjutkan," pinta Hanum. Sebab udang berbalut madu lebih menarik dari pada perdebatan mereka yang pasti membuatnya langsung kenyang.


"Hah? Lalu satu piring ikan kau habiskan sendiri apa itu tidak disebut makan?" Gadhi berkacak pinggang, menatap Hanum sinis.


"Kenapa orang kaya sangat perhitungan? Makanan dibuat untuk dimakan, bukan? Bukan untuk pajangan!"


Kesal Hanum langsung saja menyambar kaki kepiting rebus dan langsung mengigit asal. Menimbulkan suara kriuk yang keras. Seolah ia sedang menabuh genderang perang pada calon suaminya yang suka nyinyir tersebut.


"Aku lihat cara makanmu kemarin tidak seperti ini!" ujar Gadhi yang lama-lama ngeri. Hanum benar-benar gadis miskin, pikirnya. Yang tidak pernah makan enak.


"Kenapa, kalau tidak suka ... batalkan saja pernikahan ini!" tantang Hanum dengan nada penuh ancaman. Ia kembali makan dengan asal. Tidak seanggun saat diamati oleh madam Li.


'Astaga! Wanita mengerikan!' batin Gadhi.


***


Selesai makan, kakek malah melakukan panggilan video call di laptop Gadhi. Gadhi yang waktu itu sudah masuk kamar setelah makan malah yang penuh perdebatan dengan Hanum, akhirnya memanggil Hanum.


"Hanum! Bukak pintunya! Kakek mau bicara."


Gadhi berdiri di depan pintu kamar Hanum.


KLEK


Suara pintu terbuka dari dalam.


"Mana?"


Hanum melihat tangan Gadhi yang kosong tidak membawa ponsel.


"Ada di kamarku! Kakek melakukan panggilan video di laptop."


Hanum hanya mengangguk.


"Kenapa diam saja? Cepet jalan!" titah Gadhi.


"Ke mana?"


Gadhi langsung menatap tajam.


"Aku tidak suka mengulang kata berkali-kali!" celetuknya.


'Berapa tensi darahmu? Astaga ... kalau begini aku yakin kau cepat stroke!' batin Hanum menyumpahi calon suaminya.


"Sana! Bicara pada Kakek. Katakan semua baik-baik saja. Dia sama sekali tidak percaya padaku," gerutu Gadhi.


Hanum hanya melirik sekilas, kemudian duduk di sofa dan menatap Kakek.


"Selamat malam, Kek."


Kakek tidak menjawab, ia malah sibuk bicara pada pengawal di belakangnya.


"Kek ...!" panggil Hanum.


Ternyata hujan lebat, membuat sinyal putus-putus.


"Hallo ...!"


Melihat Hanum yang holla-hallo, akhirnya Gadhi pun turun tangan. Pria itu kemudian duduk di depan laptop, memeriksa jaringan.


"Koneksinya lamban, coba kau benarkan kabelnya!" titah Gadhi seperti tuan besar.


Hanum yang sudah terbiasa disuruh-suruh, ia pun langsung beranjak.


"Apa sudah bisa?"


Hanum kemudian duduk di sebelah Gadhi, keduanya tanpa sadar sudah duduk berdekatan.


"Kakek pasti marah, padahal ini murni kendala sinyal. Coba ambilkan ponselku!" perintah Gadhi sekali lagi.


Hanum pun beranjak lagi, kali ini ia mengambil ponsel Gadhi yang ada di bawah lampu tidur. Tanpa sengaja, ia melihat wallpaper smartphone milik calon suaminya.


"Mana?" sentak Gadhi tidak sabaran.


Hanum dengan masam memberikan ponselnya.


"Siapa dia?" tanya Hanum tiba-tiba mulai kepo saat melihat wallpaper ponsel Gadhi. Seorang gadis cantik dengan hidung mancung seperti paru burung. Mereka sepertinya cocok, sama-sama ada keturunan India. Sedangkan Hanum? Ia jadi insecure. Hanum 100 persen mengandung kearifan lokal. Ya, dia adalah bangsa pribumi asli.


"Urus saja urusanmu sendiri!" jawab Gadhi ketus.


Hanum pun langsung masam. Pantas Gadhi memandang dirinya sangat hina, ternyata selera calon suaminya itu setara miss universe. Astaga, bagai langit dan kerak bumi.


"Hallo, Kek. Sinyalnya parah!" ucap Gadhi saat video call kembali tersambung.


"Mana Hanum?" tanya Kakek Mahindra.

__ADS_1


"Ini ... Hanum Kakek ingin bicara!"


Gadhi kemudian menyerahkan ponselnya.


Yang muncul kemudian bukan wajah kakek melainkan wajah madam Li.


"Nona, ada laporan dari koki di peternakan, anda memakan banyak protein, lemak dan kalori berlebihan malam ini. Sebelum tidur, mohon lakukan olahraga seperti yang ada dalam schedule untuk menjaga keseimbangan nutrisi dalam tubuh Nona."


Tanpa sengaja Gadhi terkekeh. Dan Hanum tambah bermuka masam.


"Baik, Madam."


Setelah mengatakan hal-hal penting mengenai peraturan yang harus dipatuhi, madam Li kemudian memutus sambung telpon.


"Sana olahraga! Kau makan seperti tidak pernah makan sebelumnya!"


Hanum keluar kamar dengan gusar. Dan benar saja, Hanum melakukan seperti apa yang diperintah. Sebab ia harus menyertakan foto saat berolah raga malam.


Satu jam kemudian


"Kalau begini ceritanya aku akan merasa lapar lagi!" gumam Hanum yang kini merebahkan tubuhnya di atas matras dalam kamarnya.


Hanum yang kelelahan, tidak sengaja tertidur. Hingga ia terbangun saat hari menjelang pagi.


"Badanku ... kenapa sakit semua?"


Hanum menghela napas panjang, kemudian bersiap untuk mandi. Sesuai jadwal, meksipun tidak ada madam, ia harus jogging.


Pukul 7


Hanum sudah segar, habis olah raga, sudah mandi dan terlihat rapi. Ia mengenak dress bunga cantik di atas lutut. Rupanya semua sudah disiapkan oleh madam Li sebelumnya.


"Nona ... tuan Muda belum bangun. Sudah saya bangunkan sejak tadi. Tapi belum bangun, bisahkan Nona membatu kami?"


"Mungkin dia kelelahan," jawab Hanum sambil minum jus tomat hangat.


"Tidak Nona, tuan muda biasanya mudah sekali untuk dibangunkan."


Hanum menarik napas dengan panjang, setelah menyesap habis jus miliknya yang asam itu, ia kemudian menuju kamar Gadhi.


"Mana kunci cadangannya?"


Asisten pun memberikan kunci itu, kemudian pergi meninggalkan Hanum.


KLEK


Hanum membuka pintu lebar-lebar, setelah itu menutupnya sedikit ketika dilihatnya Gadhi masih terbaring di ranjang empuknya.


"Dasar pemalas! Aku bahkan sudah mandi keringat karena harus mengikuti pelatihan konyol ini. Tapi tuan muda ini dengan enaknya masih tertidur. Ish!"


"Ehem ... ehem ... sudah siang. Bangunlah!" Hanum menyentuh ujung pundak Gadhi yang tertutup selimut.


"Ehem!" ia kembali berdehem. Tapi tidak ada respon.


Hanum pun nekat membuka korden jendela kamar itu lebar-lebar. Membiarkan cahaya masuk dan langsung menyilaukan mata Gadhi karena sinar itu mengarah tepat pada wajahnya yang tampan.


"Tutup!" pinta Gadhi serak.


"Bangunlah, sudah pagi."


"Aku katakan tutup! Apa kau tidak dengar?"


"Ini sudah siang, Tuan!"


"Kau sepertinya mau dipecat!"


Hanum semakin membuka korden tambah lebar, dan hal itu tambah memancing kekesalan dalam diri Gadhi yang baru bangun tersebut.


Dengan jengkel, pria itu menyibak selimut yang menutupi tubuhnya. Kemudian berjalan menuju jendela.


"Ada yang salah dengan telingamu?" tanya Gadhi dengan muka sebal. Sudah disuruh tutup malah tidak dihiraukan.


Sedangkan Hanum, setelah Gadhi bangkit dan kini kembali berbaring di atas ranjang sambil menarik selimut, ia masih terlihat shock.


'Apa itu?'


Jantung Hanum hampir copot, ini adalah pertama kali ia melihat Gadhi hanya pakai segitiga biru. Pria itu tadi berjalan dengan santai melewati dirinya, kemudian berbaring lagi dengan wajah tanpa dosa.


'Kau menodai mataku!'


Merasa ngeri, gadis itu bergegas pergi. Sedangkan Gadhi, ia yang barus tersadar setelah suara pintu dibanting keras, pria itu langsung membetulkan posisi.


'Hanum? Siallll ...!' Gadhi merutuk karena Hanum sudah melihatnya.


Ia mendesis kesal dan menendang selimut. Sambil menatap segitiga biru miliknya.


"Arggg!!!!"

__ADS_1


Jadi dia tadi setengah sadar saat menutup korden jendela sembari melewati Hanum. Kini, ia hanya bisa menahan malu karena Hanum sudah melihatnya. Skor satu sama.


__ADS_2