Crazy Rich

Crazy Rich
MIMPI


__ADS_3

Crazy Rich Bagian 9


Oleh Sept


Gadhi menatap penuh tanya saat Hanum muncul dengan penampilan yang cukup kacau. Bahkan dua kancing teratas kemeja yang Hanum pakai, terbuka lebar. Sudah lepas dari tempatnya. Rambut yang tadinya rapi pun sedikit acak-acakan. Sepertinya sesuatu terjadi di dalam sana.


'Apa yang terjadi di sini?' tanya Gadhi dalam benaknya. Pria itu masih terpaku di tempat. Masih shock dengan apa yang ia lihat.


Sesaat kemudian, muncul pak Bagas. Atasan Hanum itu keluar dari ruang kerjanya sembari memegang kepalanya yang terasa sakit. Sepertinya sesuatu yang terdengar keras tadi erat kaitannya dengan kepala bos Hanum tersebut.


"Untuk apa kalian berkumpul di depan sini? Semua! Kembali ke tempat masing-masing!" sentak Pak Bagas marah.


Seketika para karyawan langsung bergegas ke meja masing-masing. Sedangkan Gadhi dan sekretaris Jo, mereka diam di tempat.


"Apa yang dia lakukan padamu?" tanya Gadhi penuh selidik. Gadhi berjalan mendekati Hanum yang kini berusaha memasang kancing bajunya. Hanum juga sudah merapikan bajunya. Kemudian melewati Gadhi begitu saja.


Gadis itu pergi ke meja kerjanya, mengambil tas dan memasukkan barang-barang miliknya ke dalam kardus kecil di bawah meja. Hari ini ia keluar dari Samudera group, setelah memukul kepala Pak Bagas dengan sepatu yang ia kenakan.


"Hanum! Aku sedang bicara denganmu!" sentak Gadhi yang merasa Hanum malah tidak peduli akan kehadirannya.


Melihat situasi kurang menguntungkan, Pak Bagas langsung pergi dari sana. Mungkin juga setengah malu atas apa yang terjadi. Ia tidak menyangka, Hanum tidak bisa dipaksa. Gadis itu malah memukul dirinya. Benar-benar jual mahal.


Sementara itu, Gadhi sempat menoleh melihat Pak Bagas pergi begitu saja. Karena Hanum terlihat baik-baik saja, meski penampilan kacau, tapi sepertinya tidak terjadi apa-apa. Sebab Hanum terlihat bukan seperti korban. Gadis itu malah seperti pelakunya, karena Pak Bagas memegangi kepalanya sejak tadi.


Ketika Hanum berkemas dan sang atasan pergi meninggalkan ruangan, Teri datang mendekati meja Hanum.


"Apa yang kau lakukan? Kau menggoda bos? Astaga! Dia bahkan sudah menikah."


Teri terus saja bicara padahal Hanum sibuk merapikan meja dan barang-barang miliknya.


"Minta maaf sana, Bos akan memaafkanmu. Lain Kali kalau melakukan sesuatu pakai ini!" Teri menunjuk kepalanya sendiri dengan tangan.


Hanum tetap diam, sedangkan Gadhi yang sudah membaca situasi lama-lama ikut geram.


"Jonathan!" panggil Gadhi dengan suara lantang.


Sekretaris Jo yang sejak tadi jadi pengamat, ia pun bergegas mendekat.


"Iya, Tuan."


Gadhi berbisik pada sekretarisnya, kemudian menghampiri Hanum.


"Ikut denganku!" Gadhi menarik tangan Hanum dengan paksa.

__ADS_1


"Hey ... siapa kau?" Teri protes. Dalam hati ia juga tidak terima mengapa Hanum terlibat dengan pria-pria keren. Kalau dilihatnya dari fisik, Teri merasa lebih dari Hanum.


Gadhi hanya melotot tajam ke arahnya, membuat Teri seketika diam.


'Astaga!'


Teri buru-buru pergi, aura kemarahan tergambar jelas di wajah Gadhi saat itu.


Sementara itu, Hanum menepis tangan Gadhi. Ia kemudian mengambil tas dan membawa kardus yang berisi barang-barang miliknya.


"Tolong jangan ganggu saya untuk saat ini!" ujar Hanum kemudian pergi.


Hanum berjalan cepat, ia menekan tombol lift dan langsung menutup pintunya ketika Gadhi ingin masuk menyusul dirinya.


Berkali-kali mendapat perlakuan tidak biasa dari calon istrinya membuat Gadhi semakin dendam.


"Kakek! Mahluk apa yang kau kirimkan padaku?" gumam Gadhi di depan lift yang sudah tertutup.


Tap tap tap


Dari belakang sekretaris Jo menyusul.


"Beli perusahaan ini, dan pecat pria tadi!" ujar Gadhi, kemudian masuk dalam lift yang baru terbuka.


***


Panti jompo


"Suster ... suster ... ibuku di mana?" Hanum panik karena ibunya menghilang dari kamar.


Suster yang biasanya merawat ibu Hanum pun memberikan jawaban yang membuat Hanum heran.


"Oh ... tadi ada Tim kesehatan dari rumah sakit datang. Mereka membawa ibu Mbak Hanum. Sebentar ..."


Suster itu mengambil sesuatu dari laci yang ada di samping ranjang.


"Ini alamat rumah sakitnya, dan ini ... katanya Mbak Hanum sudah setuju pemindahan beliau."


Suster menunjukkan banyak surat dengan bubuhan tanda tangan serta nama terang yang sudah familiar.


"Kakek?" gumam Hanum.


Gadis itu kemudian pamit dan bergegas pergi ke sebuah rumah sakit.

__ADS_1


Di dalam sebuah taxi, karena memburu waktu Hanum sudah tidak peduli dengan menghemat uang. Ia hanya ingin menemui ibunya. Ingin membagi beban dan bercerita, hari ini adalah hari yang berat.


Rumah Sakit Tourshine


Hanum menatap logo rumah sakit yang terlihat jelas. Otaknya yang memang cerdas, sudah memulai menangkap sesuatu.


'Bahkan rumah sakit ini milik keluarga mereka? Lalu mengapa aku harus terlibat dengan keluarga itu? Apa kakek Mahindra sedang bermain-main dengan hidupku?' batin Hanum sembari berjalan menyusuri lorong rumah sakit.


Dari jauh ia melihat ibunya di atas kursi roda di depan ruangan yang langsung menghadap taman. Ibunya mendapat fasilitas terbaik di sana. Ini jauh lebih baik dari pada tempat sebelumnya.


'Apa ibu lebih nyaman di sini?' tanya Hanum dengan tatapan sendu.


'Demi ibu ... aku akan menukar kebebasanku.'


'Ibu, maafkan aku.'


Hanum berbalik, ia mengusap pipinya yang tiba-tiba sudah basah. Ia teringat dengan perjanjian kakek Mahindra. Ketika sudah menjadi bagian keluarga Mahindra Prakash, maka Hanum harus melepaskan keluarga lamanya. Kakek sudah menyiapkan keluarga baru, di mana asal usul Hanum yang lama akan disembunyikan.


Menjadi pendamping untuk pewaris global Tourshine Groups, Hanum harus memiliki catatan yang baik. Media dan rival perusahaan pasti akan mencari cela keluarga mereka. Oleh karena itu, jika sudah memutuskan menikah dengan Gadhiata Ratama Prakas nanti, Hanum harus diubah menjadi sosok yang baru. Sosok sempurna tanpa cela.


***


Hanum akhirnya pergi dari rumah sakit tanpa menemui sang ibu, sudah menjadi janjinya pada kakek Mahindra. Jika ia melangar perjanjian, maka dirinya sendiri yang akan dalam masalah.


Esok harinya, ia juga memutuskan keluar dari rumah saat semua lengah. Ketika ayahnya mabukk dan tertidur dan entah Tommy saat itu pergi ke mana. Yang jelas suasana rumah sangat sepi. Di depan rumah sopir pribadi kakek Mahindra bahkan sudah menunggu Hanum sejak tadi.


Sesaat kemudian, Hanum muncul dengan tas besar. Matanya menatap kosong pada rumah masa kecil. Ya, rumah di mana dia besar di sana dengan ibu dan ayah sambungnya. Dulu ayah tidak seperti sekarang, setelah ibunya sakit semuanya jadi berubah.


"Tidak ada yang ketinggalan, Non?" tanya sopir memastikan.


Hanum pun tersadar sejak tadi melamun, asik dengan pikirannya sendiri.


"Tidak, Pak."


Sopir langsung mengangguk kemudian menyalakan mesin mobilnya. Mereka pun pergi ke tempat yang kakek Mahindra perintahkan. Hanum merasa heran ketika dia dibawa ke sebuah tempat yang aneh.


"Di mana ini?" gumam Hanum yang baru tahu ada tempat seperti ini.


D'Rose House


Sepanjang taman dipenuhi mawar yang berduri. Hanum yang melihat keindahan tempat itu tidak henti-hentinya merasa takjub. Dan begitu turun, tiba-tiba banyak pegawai berseragam seperti pelayan istana langsung menyambutnya. Membawa tas Hanum dan memperlakukan gadis itu seperti putri kerjaan.


'Apa aku bermimpi? Jika ini mimpi ... aku berharap aku tidak akan pernah bangun!'

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2