
Crazy Rich Bagian 86
Oleh Sept
Bonus Chapter 1
"Hanum ...!"
"Hemm!"
"Sayang!"
"Hemm!"
"Idih ... Ayo," ucap Gadhi sambil berbisik. Dan hal itu membuat bulu-bulu Hanum meremaang.
"Ya ampun. Tunggu anak-anak tidur dulu!" Hanum memasang muka masam. Baru jam sembilan lewat beberapa menit, tapi suaminya buru-buru memintanya ke kamar utama. Ya, Hanum sedang menidurkan anak ke empatnya, si Kavi.
"Aku besok pergi lama. Pesawatnya pagi pula," Gadhi merajuk seperti anak kecil minta permen.
"Iya ... iyaaa!"
Hanum mengecupp pipi Kavi yang lembut dan cubby. Sudah berusia 2 tahun, tapi Kavi tidak bisa tidur kalau tidak dipuk-puk sama mamanya.
Sementara itu, Gadhi yang melihat istrinya turun dari ranjang, begitu sangat bersemangat. Hitungan tiga, ia langsung membopong Hanum menuju ke kamarnya.
"Eh! Ya ampun!"
Pria itu sepertinya minta bekal dulu, sebab akan ke LN untuk lima hari. Bisa jadi mundur jika urusan bisnisnya belum selesai, dan Gadhi tidak menyukai hal itu. Ia paling tidak suka jauh dari anak-anaknya, apalagi jauh dari Hanum, sangat tidak bisa.
***
Kamar utama
"Bentar, aku konsumsi obat dulu."
"Gak usah, hamil lagi juga gak apa-apa ... papanya malah seneng kok."
Muka Hanum berubah masam, ia menatap suaminya tajam.
"Kavi baru dua tahun."
Gadhi malah terkekeh. "Biasanya juga kan selisih mereka 2 tahun, harusnya Kavi punya adek lagi."
__ADS_1
"Aduh!" Gadhi mengaduh kesakitan ketika Hanum mencubit buah kismisnya.
"Sakit, Sayang!"
"Makanya jangan asal."
Pria itu malah tersenyum, kemudian menarik Hanum agar semakin dekat dengannya.
Keduanya rebahan sambil bersandar di ranjang yang besar, seperti biasa, Gadhi menjadikan lengannya sebagai bantal untuk istrinya itu.
"Aku mau mengajak kalian, kenapa gak ikut saja?"
"Shiv dan Shiva sekolah, begitu juga dengan Arjun. Udah lah, cuma lima hari kan?"
"Semoga gak mundur. Awas kalau mundur, akan aku potong gaji Jonathan yang tidak becus itu."
"Lah, makanya kerja yang fokus biar cepat kelar, malah nyalahin orang."
"Ish ... malah belain papanya Olive."
"Oh ya, aku suka Olive. Lucu paling ya, Sayang. Kalau Olive sama Shiv, Arjun atau Kavi?"
Gadhi hanya mengangguk.
"Bisa-bisa mereka jadi jendral perang," canda Hanum.
"Tapi bagus, mereka orang baik. Orang-orang setia pada keluarga Kita, bagus juga sih ... semoga salah satu anak laki-laki Kita berjodoh dengan anak Jonathan yang sering menjengkelkan itu.
"Ya ... semoga."
"Kok malah bicarain madam sama Jonathan, ini waktunya khusus Kita ... bakal kangen nanti 5 hari gak ketemu."
Hanum menatap geli suaminya, pria tinggi besar, gagah perkasa, dengan bulu-bulu di mana-mana, merajuk. Sangat membuatnya geli.
"Kangen anak-anak bisa VCall!"
"Kalau kangen mamanya?"
"Vcall juga!"
"Mana bisaaa!"
"Lah?"
__ADS_1
"Kangen yang lain!"
"Mesyumm!"
"Tapi sayang suka, kan?"
"Astaga!"
"Ngaku aja ... tuh udah jadi empat. Buat yang kelima yuk."
Hanum hanya geleng-geleng. Kemudian menarik selimut dan berangkat tidur.
Hoammm
"Jangan pura-pura menguap!"
CUP
"Sayangggg!"
"Aduhhhh!!!"
Pukkk ...
Bukkk ....
Hanum memukul lengan suaminya berkali-kali, tiba-tiba dikecupp, kemudian disesap sebentar lalu digigit. Benar-benar super jahil suaminya itu.
"Mode gelap ya? Aku matiin lampunya."
Tanpa menunggu jawaban Hanum, Gadhi langsung mematikan lampu, dan menyalakan lampu tidur. Menyisahkan cahaya remang-remang yang membuat malam makin syahdu.
"Eh ... aku minum obat dulu."
"Nggak usah. Aku bilang gak apa-apa." Gadhi langsung masuk selimut.
Blakkk ...
Cahaya temaram, nggak usah sembunyi di balik selimut. Pria itu lalu membuang selimut ke sembarang arah.
'Ya ampun, kenapa dia jadi sangat bersemangat kalau urusan seperti ini?' batin Hanum saat menyaksikan Hering yang sudah bertengger dengan gagahnya.
.....
__ADS_1
Lanjut besok ya. Hehehe