
Crazy Rich Bagian 17
Oleh Sept
"Awas!" teriak madam Li.
Sayang, nasib Hanum yang mungkin kali ini agak apess. Gadis itu malah tercebur ke dalam danau yang warnanya terlihat hijau tersebut.
BYURRRR ...
Melihat hal itu Gadhi langsung mendekati bersama para pengawal di belakangnya. Saat semua akan ikut menceburkan diri untuk menolong, baru melepas jacket yang sempat ia kenakan saat turun mobil tadi, Gadhi pun urung. Ia kemudian meminta semua penjaga untuk berbalik.
"Semuanya!! Berbalik! Dan tinggalkan tempat ini!" titah Gadhi.
"Baik, Tuan!" jawab para pengawal serentak.
Sedangkan madam Li, ia hanya bisa memijit pelipisnya. Hanum hampir saja membuat jantungnya copot. Gadis pilihan kakek itu malah menikmati dinginnya air danau. Ya, setelah tercebur ke dalam air yang sangat dingin, gadis tersebut malah berenang.
Sementara itu, Gadhi terlihat kesal. Mungkin tadi ia sempat kaget. Tapi tidak taunya Hanum tidak apa-apa. Hanya saja dress yang dikenakan gadis itu kini basah kuyup. Dan dari atas, dia bisa melihat dengan jelas kacamata kuda yang dipakai Hanum tersebut.
Makanya, dia meminta semua pengawal berbalik dan meninggalkan kawasan danau di mana tadi Hanum tercebur.
Sesaat kemudian
Hanum dibantu madam Li naik ke anjungan yang masih kokoh. Sambil marah-marah madam Li mengomel seperti memarahi putrinya sendiri.
"Nona ... harusnya Nona bersikap hati-hati. Bagaimana jika Nona tenggelam?"
Hanum tersenyum tipis.
"Kan ada Madam?" jawabnya enteng.
"Masa Madam Li membiarkan aku tenggelam? Kalau dia ... aku yakin pasti malah senang jika aku tenggelam!" tambah Hanum pelan. Tidak enak kalau Gadhi mendengar.
"Bicara apa Nona ini, kami tadi sangat panik. Tuan juga sudah bersiap untuk terjun ke danau. Tapi karena Nona malah berenang dengan santainya. Dia urung melakukan."
Hanum tersenyum getir, mana dia percaya. Pria se acuh sekasar itu pasti tidak akan menolong dia kalau terjatuh. Paling juga Gadhi merasa senang, karena tidak jadi menikah dengan gadis seperti dirinya.
"Besok apa lagi?" celetuk Gadhi tiba-tiba menghampiri keduanya.
Melihat Hanum yang duduk di atas anjungan dengan baju basah kuyup, Gadhi akhirnya melepaskan jacket yang ia kenakan. Dia sendiri kini hanya memakai kaos poloo dan bisa merasakan dinginnya udara di sana.
__ADS_1
"Aku tidak peduli padamu, ini hanya aksi sosial!" cetus Gadhi sembari memberikan jaket pada Hanum. Dia tidak mau Hanum salah paham.
Sedangkan madam Li, ia tersenyum senang dalam hati.
'Manis sekali cara tuan, perhatian kecil tapi sangat berarti. Tapi kenapa harus gengsi?' batin madam Li kemudian membantu Hanum mengenal jaket.
"Terima kasih," ucap Hanum lirih. Gadis itu kemudian berjalan bersama madam Li untuk ganti pakaian.
Sedangkan Gadhi, ia hanya diam terpaku. Matanya kemudian menatap permukaan danau hijau yang terlihat teduh tersebut.
***
Di dalam mobil
Hanum sudah ganti pakaian, setelah sudah rapi ia kemudian harus menemui Kakek.
"Maaf Kakek ... tadi Hanum tidak sengaja."
Kakek menatap Hanum dari atas sampai bawah.
"Apa kau terluka? Li! Kau periksa semuanya dengan teliti!" seru Kakek.
Terdengar derap langkah mendekat.
"Dia baik-baik saja Kakek. Kakek hebat, bisa menemukan calon cucu menantu yang seperti Baja!" celetuk Gadhi dengan nada menyindir.
'Siall! Memangnya dia pikir aku apa?' balas Hanum dalam hati.
"Pilihan Kakek pasti yang terbalik, kakek yakin meski terlihat tangguh di luar, Hanum ini lembut. Iya kan, Hanum?" tanya Kakek memancing suasana agar mencair. Sebab wajah Hanum tadi sempat tegang. Mungkin takut dimarahi olehnya.
Hanum hanya menundukkan pandangan.
"Lembut? Kakek tidak tahu saja dia sebenarnya bagaimana!" celetuk Gadhi lirih.
"Kakek mendengarmu, Gadhi!" ucap kakek Mahindra.
Gadhi hanya menatap galak pada Hanum yang pura-pura lembut saat bicara pada Kakek Mahindra. Padahal karena mereka hanya berdua, gadis itu tidak ada lembut-lembutnya. Selalu berkata tidak enak didengar. Begitulah manusia, pandai menilai orang tapi tidak dengan menilai dirinya sendiri, Gadhi contohnya.
"Ya sudah, mari bersiap-siap. Semuanya sudah siap."
"Kakek ... boleh aku di sini saja?" sela Hanum.
__ADS_1
Kakek menatap Hanum kemudian menatap Gadhi.
"Hem ... baiklah. Sepertinya kalian butuh privasi untuk berbicara berdua."
Gadhi langsung mencak-mencak.
"Tidak, Kek. Aku ikut kalian saja main golf."
"Tidak usah, kamu di sini saja temani Hanum," ucap kakek kemudian meninggalkan Gadhi tanpa mau mendengar penolakan.
'Untuk apa aku di sini dengannya?' desis Gadhi kesal dalam hati.
***
Sesaat kemudian
Keduanya malah kini berdiri di tepi danau.
"Kenapa kau mengikuti?" tanya Hanum yang merasa sejak tadi Gadhi melangkah di belakangnya.
"Hei! Kau tidak dengar kakek tadi? Dan lagi madam Li ikut bersama mereka. Jika kau kenapa-kenapa, kakek bisa menyudutkanku!" ujar Gadhi kesal.
"Pergilah, aku tidak akan terjun ke danau lagi!" ujar Hanum kemudian memeluk tubuhnya sendiri. Udara di sana terasa dingin merasuk sampai ke tulang.
Gadhi menghela napas panjang
Pria itu kemudian berbalik, memilih duduk di pondok dari pada makan hati melihat Hanum. Entah mengapa, ia selalu kesal jika menatap calon istrinya itu.
Bosan hanya duduk saja, Gadhi pun memilih memainkan ponselnya. Hingga tidak terasa langit mulai mending. Kabut pun perlahan turun.
"Ke mana gadis itu?" Gadhi menatap sekeliling.
Tiba-tiba saja air hujan turun mendadak dan sangat deras.
"Ke mana dia?" Gadhi mau turun dari pondok dan mencari Hanum. Tapi tiba-tiba gadis itu sudah terlihat berlari ke arahnya.
"Tadi hitam sekarang merah ... astaga!"
Gadhi langsung memalingkan wajah. Bersambung
Hati-hati Hanum, tuan muda mulai kena virus.
__ADS_1