
Crazy Rich Bagian 51
Oleh Sept
Malam mulai menjelang, rembulan sudah menggantung indah di atas sana. Bersama jutaan bintang-bintang yang terlihat selalu setia.
Gadhi sendiri sedang makan melam satu meja dengan sang mama dan Hanum. Sepanjang makan malam, tidak ada suara. Hanya denting sendok dan garbu yang sedikit keras, membuat mata Nyonya Geni melirik ke arah Hanum, menantu di atas kertas tersebut.
"Kalian berangkat jam berapa?" tanya Nyonya Geni basa-basi saat makanan yang ada di depannya. Bukan makanan sih, hanya sayur-sayuran diberi mayonnaise.
Nyonya Geni sedang diet, biarpun usianya tidak muda lagi, jangan ditanya. Kerutan halus di wajah wanita tersebut hampir tersamarkan. Mungkin berkat perawatan mahal laser di luar negri beberapa minggu sekali.
Belum lagi suntik vitamin yang rutin ia lakukan. Ditambah gaya hidup sangat sehat, alhasil Nyonya Geni lebih muda dari pada usianya di KTP. Jika berdiri dekat Hanum, mungkin akan seperti adik kakak. Ya minimal sepertinya tantenya. Karena Nyonya Geni awet muda.
Tapi akhir-akhir ini dahinya sering mengerut, ini karena rencana perjodohan dari sang mertua. Kakek Mahindra mengirim gadis udik pada putranya. Dengan syarat konyol. Mau tidak mau, ia harus paksa putranya menikah.
Begitu Gadhi menikah, ia masih memikirkan langkah selanjutnya. Jangan sampai Hanum dan Gadhi macan-macam. Pokoknya kalau bisa Gadhi harus jaga jarak selama tidak dilihat oleh Kakek Mahindra.
Seperti sekarang, Nyonya Geni memberikan kamar yang berbeda untuk keduanya.
"Dan berapa hari kalian akan pergi?" tanya Nyonya Geni lagi, padahal pertanyaan pertama belum dijawab.
"Sepuluh hati."
"Apa?" wajah Nyonya Geni langsung berubah.
'Kalau begini bisa-bisa rencana kakek tua itu berhasil. Sepertinya papa sengaja!' batin Nyonya Geni kesal.
'Aku harus merusak rencana papa!' tiba-tiba Nyonya Geni memiliki ide.
"Tidak mungkin satu dua hari, Ma. Perjalanannya saja Mama tahu."
"Iya ... iya ... Mama paham!" Nyonya Geni tidak protes lagi. Karena ia sudah memiliki rencana sendiri.
Sementara itu, Hanum masih saja melanjutkan makan. Tidak ambil pusing dengan obrolan dua orang itu. Selesai makan ia langsung ke kamarnya.
Di sana sudah ada madam Li.
"Madam! Malam ini aku mau tidur dengan Madam!"
"Apa AC dalam kamar ini rusak? Mengapa tidur dengan saya, Nona?"
Hanum mondar-mandir, ia kemudian mengusap wajahnya dengan kasar.
"Kalau Madam gak mau, mana kunci kamar Madam. Biar aku saja yang tidur di kamar Madam. Kita tuker kamar."
Madam Li mengerutkan dahi.
"Nanti tuan muda marah."
"Astaga Madam!!!! Malam ini saja!"
"Emm ...!"
"Ayolah, Madam!"
Akhirnya madam memberikan kunci kamarnya. Dan malam ini yang tidur di kamar Hanum adalah madam Li bukan Hanum.
Sudah pukul 10 malam, suasana rumah sangat sepi. Lampu pun beberapa sudah ada yang dimatikan. Gadhi mengendap-endap bagai pencuri. Pria itu berjalan pelan masuk ke dalam kamar Hanum dengan kunci cadangan.
Byur .... byurr ....
Terdengar suara percikan dan guyuran air dari kamar mandi. Gadhi pun tersenyum sumringah. Pria itu langsung saja merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
"Sedang apa kau Hanum malam-malam begini?" gumam Gadhi sambil mengulas senyum.
"Harusnya jangan mandi, kan nanti mandi lagi!"
__ADS_1
Tiba-tiba ia senyum-senyum tidak jelas. Dan wajahnya jadi menghangat. Karena otaknya sudah traveling ke mana-mana.
Di dalam kamar mandi.
Madam Li memegangi perutnya, habis minum minuman yang ada di atas nakas, ia langsung merasakan tidak nyaman. Berkali-kali harus ke kamar mandi.
Di kamar lain, Nyonya Geni tersenyum licik.
"Anak itu pasti sedang bolak-balik kamar mandi. Cihh ... bulan madu apa! Enak sekali dia mau masuk dalam keluarga kami. Ini belum seberapa ... nanti kalau berani menggoda putraku, akan lain cerita," ucapnya sinis pada diri sendiri.
Di kamar madam Li.
Hanum sudah tidur dengan nyenyak, enak sekali malam-malam tidak ada yang mengusik. Ia bisa tidur sampai puas. Tapi yang apes adalah madam Li. Tidak ikut makan nangka, ia malah kena getahnya.
Kini wanita itu harus berlama-lama di kamar mandi karena obat yang sengaja diberikan Nyonya Geni. Maunya sih untuk Hanum, tapi kok malah madam yang kena. Ini semua gara-gara mereka tukar kamar.
"Lama sekali, Hanum!"
Gadhi turun dari ranjang. Kemudian berjalan ke kamar mandi.
Tok tok tok
"Hanum ... Num! Lama sekali, ngapain?"
Madam Li yang sedang duduk di kloset, langsung menutup mulutnya dengan tangan. Di tengah rasa sakit perut yang mendera, wanita itu menahan tawa.
'Astaga tuan ... dia pasti akan malu kalau tahu saya yang ada di sini.'
"Hanum!" panggil Gadhi lagi.
"Num!"
"Aku tahu kamu di dalam. Ayo buka!"
Tok tok tok
"Ini saya, Tuan. Nona ada di kamar saya."
"Ish!"
Gadhi langsung berbalik.
"Hanummmmmm!"
Pria itu pun membuka kamar madam Li, tidak susah baginya membuka kamar itu. Sebab ia memiliki cadangan kunci untuk semua kamar di rumahnya.
Gadhi membuka pintu pelan, ia memutar knop dengan lemah, biar Hanum tidak sadar kalau ia sudah menyelinap masuk.
"Kau sengaja menghindar rupanya?"
Gadhi lantas merambat naik ke ranjang, begitu sudah di atas sana, ia langsung merengkuh pinggang Hanum. Membuat Hanum langsung bangun.
"Kau ... kau ... kenapa di sini?"
"Aku yang tanya, kenapa kamu pindah ke sini?"
"AC-nya rusak!" jawab Hanum gugup karena Gadhi menatapnya sangat dekat.
"Kau tidak pandai berbohong ... jangan teruskan. Ayo pindah kamar! Akan lebih nyaman dengan kamarku sendiri."
Gadhi turun, dan langsung membopong tubuh Hanum.
"Eh!"
Pria berbadan tegap itu tidak mengalami kesulitan saat membawa Hanum ke kamarnya. Apalagi suasana sedikit gelap dan remang-remang. Pasti tidak ada yang lihat.
"Gad! Turunin!" pinta Hanum sambil berbisik.
__ADS_1
"Jangan bergerak, nanti jatuh!"
Hanum mau protes, tapi terlanjur sudah ada dalam gendongan suaminya itu.
"Buka pintunya!" pinta Gadhi pada Hanum karena kedua tangannya tidak bisa membuka pintu.
Dengan setengah hati, Hanum membuka pintu kamar suaminya. Selama ini ia belum pernah masuk ruang pribadi Gadhi.
'Besar juga!' pikir Hanum.
Bukkkk ....
Gadhi meletakkan Hanum tepat di tepi ranjang. Kemudian berbalik dan mengunci pintu.
'Dia mau apa ... aku pikir aku selamat malam ini!' Hanum mengerjap dalam.
"Kamu mau apa, Gad?" tanya Hanum saat suaminya mulai melepaskan baju tidur yang ia kenakan.
"Mau apa lagi."
CUP
Hanum memejamkan mata rapat, Gadhi selalu saja menempelkan bibirnya. Tidak hanya menempel. Lebih dari itu.
"Gad!"
Hanum mau protes lagi, tapi pria itu semakin ahli saja dalam permainan seperti ini. Alhasil Hanum menyerah, karena buaian Gadhi membuatnya lemas.
***
Pagi hari
Nyonya Geni bangun dengan sumringah.
"Pasti bulan madu mereka akan kacau!" gumamnya sambil menuju dapur. Ia mau disiapkan salad buah yang masih segar.
"Biii ...!"
Tidak sengaja ia mendengar 2 ART-nya bisik-bisik.
"Mereka sedang membicarakan apa?" Nyonya Geni kepo.
Art berambut pendek.
"Tuan muda romantis banget ... masa semalam aku lihat tuan muda gendong Nona Hanum ke kamarnya. Aduh ... sweet deh."
"Masa sih? Bukannya mereka tidur beda kamar? Aku bahkan semalam yang disuruh Nyonya memberi minuman ke Nona Hanum di kamarnya. Apa obatnya tidak merasuk?" sela art lebih senior.
"Obat apa?"
"Bukan ... bukan apa-apa. Terus ... gimana semalam?"
"Ya begitu, tuan muda dengan romatisnya seperti pengantin baru. Membawa Nona ke kamar utama. Aduh ... jadi pengen!"
"NGIMPI!" celetuk ART senior dengan nada tegas. Membuat rekan kerjanya langsung masam.
Tidak hanya itu, ada satu lagi yang terlihat masam dan murka.
"GADHIII!"
BERSAMBUNG.
Eh ketahuan juragan mau duduk. Hehehe
sopo iki?
__ADS_1