
Crazy Rich Bagian 43
Oleh Sept
"Awas kamu Hanum!" rutuk Gadhi kemudian lari ke kamar mandi.
Bukan untuk mandi, tapi mau konser tunggal. Gara-gara Hanum yang jahil membuat Gadhi harus melakukan hal ini. Jika tidak, maka seharian ini sekretaris Jo yang akan menerima getahnya. Gadhi akan marah-marah tidak jelas karena gagal pelepasan.
***
Beberapa saat kemudian.
Di sebuah ruangan dengan meja yang cukup panjang. Seperti acara prasmanan, semua makanan tersedia di atas meja. Hanum duduk di dekat kakek, ia sengaja menjaga jarak dengan Gadhi. Karena tatapan dingin pria itu yang membuatnya jengkel. Ya, Hanum seolah tidak takut. Malah ini semua belum berakhir. Perangg dingin antara mereka masih akan berlanjut.
"Makan yang banyak, Hanum!" ucap kakek Mahindra sembari menyodorkan steak pada Hanum.
Hanum pun menatap makanan yang terlihat lezat tersebut. Belum apa-apa ia sudah menelan ludah. Membayangkan tenderloin steak itu rasanya pasti enak, bagian daging sapi paling empuk dan mahal. Hemm ...
Hanum jadi yakin, koki di rumah itu pasti bukan koki sembarangan. Dilihat dari penyajian makanan, ia seperti makan di hotel bintang lima. Dulu ia sering sekali menemani Pak Bagas untuk jamuan makan malam bersama klien penting.
Tiba-tiba wajahnya menjadi masam, ingat dengan perbuatan mantan bosnya itu. Tidak mau mengingat hal buruk, ia kemudian mengerjap.
'Lupakan Hanum! Ayo makan!' batinnya.
"Makan yang banyak ...!" ucap kakek Mahindra lagi saat Hanum mulai memotong daging steak itu dengan pelan-pelan. Gaya makannya ia tahan. Seperti orang kaya yang sudah kenyang. Padahal aslinya Hanum lapar juga.
"Ini ... Kakek potongkan."
Gadhi langsung cemberut, melihat sikap perhatian sang Kakek pada cucu menantunya itu.
"Tidak, Kek. Terima kasih ... Hanum sudah kenyang." Hanum bohong. Padahal ini karena ia melirik madam Li. Jatahh Hanum makan memang sangat disiplin.
"Jangan menolak, makan ini Hanum. Ini sangat bagus untuk tubuhmu. Kakek lihat kemarin kamu lemas. Sekarang makan daging yang banyak. Kakek mau cicit laki-laki yang kuat."
Uhuk uhuk uhuk ...
Hanum tersedak, Gadhi pun menahan senyum.
'Kamu kena karma! Siapa suruh tadi kau mengerjaiku!' batin Gadhi.
Sedangkan madam Li, dengan cepat ia mengambil air minum.
"Pelan-pelan, Nona."
__ADS_1
Kakek Mahindra terkekeh.
"Jangan canggung pada Kakek, Num. Kakek juga pernah muda!"
Hanum minum sambil mencoba mengatasi rasa tidak nyamannya. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana kalau nanti akan hamil anak Gadhi. Lalu bagaimana perjanjian pra nikah mereka? Mereka harus cerai saat usia pernikahan sudah menginjak satu tahun.
'Jika aku tidak mau menderita setelah perceraian nanti, aku tidak boleh hamil. Sepertinya aku harus cari cara untuk KBe. Pria itu sangat tidak bisa dipercayai!' gumam Hanum dalam diam.
***
Selesai sarapan, kakek Mahindra kemudian meminta Hanum dan Gadhi menunggu di ruang kerja kakek. Sudah tidak seperti ruang kerja, malah seperti sebuah perpustakaan. Terdapat banyak buku tersusun rapi pada lemari yang terbuat dari kayu tua tapi sangat kuat.
Kakek masih di luar, sedangkan Hanum dan Gadhi sudah ada di dalam ruangan itu. Sekretaris Jo serta madam Li menunggu di depan, jadi mereka berdua benar-benar hanya berdua saja.
Gadhi melirik ke atas sudut ruangan, di sana ada CCTV, ia pun merasa seperti sedang diawasi. Sadar ada CCTV, Gadhi pun memainkan ponselnya. Membuat Hanum tidak nyaman.
"Nanti kamu ikut pulang denganku!" ucap Gadhi, tapi matanya masih menatap layar smartphone yang ia pegang.
Hanum hanya melirik.
"Hemm!"
"Dan satu lagi ... mengenai pasal 7."
Hanum langsung menoleh.
Mata Hanum membulat sempurna.
"Jangan melangar perjanjian karena merasa kamu punya kuasa. Lakukan sesuai kesepakatan awal!" ujar Hanum menolak keras penghapusan pasal 7. Ia merasa terancam setiap saat. Apalagi kalau itu dihapus, sudah pasti Gadhi akan memanfaatkan dirinya.
"Kamu tidak dengar kata kakek?" ucap Gadhi lagi.
Hanum menggeleng.
"Laki-laki yang dipegang itu janjinya!" balas Hanum.
Gadhi mendesis. "Hanum, sepertinya kamu salah paham. Aku ingin menghilangkan pasal itu karena aku ingin keturunan. Setelah itu, kamu akan aku bebaskan."
Tangan Hanum seketika mulai menggepal, ia marah karena akan jadi alat bagi Gadhi. Ia hanya akan dijadikan pencetak anak demi mendapat warisan, pasti itu yang diharapkan laki-laki brengsekkk itu, pikir Hanum.
Marah campur benci, Hanum pun berdiri. Ia hendak keluar karena tidak betah lama-lama bersama suaminya itu. Ini apa bedanya dia dengan menjuall harga diri? Bahkan Gadhi sekarang minta anak? Lalu membebaskan dirinya? Benar-benar pria brengsekkk.
"Heiii kenapa kau marah sekali? Apa aku menyinggung perasaanmu? Jangan katakan kamu mau jadi istriku selamanya?" sindir Gadhi.
__ADS_1
Sepertinya Gadhi sengaja memprovokasii Hanum agar dia marah. Gadhi masih dendam akibat kejadian tadi pagi.
"Siapa yang mau jadi istrimu selamanya? Belum seminggu saja rasanya membuatku muakk!" salak Hanum marah.
"Muak? Benarkah? Apa kau yakin? Aku bahkan masih ingat bagaimana kamu mengeliaat di bawahku!" cibir Gadhi dengan nada menyindir.
BUGH
Hanum memukul da da bidang tersebut, marah karena apa yang dikatakan Gadhi ada benaranya. Ia sempat terlena bersama Gadhi malam itu.
"Jujur saja padaku! Kau mulai menyukainya kan?" tanya Gadhi percaya diri sambil mencengkram lengan Hanum agar berhenti memukulnya.
"Siapa yang menyukai pria kasar sepertimu? Hem?"
Gadhi menatap wajah Hanum yang amat dekat tersebut, hembusan napas hangat Hanum bahkan bisa ia rasakan.
"Kamu ... orang itu kamu."
Setttt ....
Gadhi merengkuh pinggang Hanum.
"Lepaskan!" Hanum mencoba melepaskan diri. Tapi Gadhi mendekap tubuh Hanum sangat erat.
"Tadi pagi kamu sudah main main denganku, kini kamu harus mendapat balasan," bisik Gadhi kemudian langsung merampass bibir Hanum yang terus mengumpat marah.
"Ke mana baju yang tadi pagi ... tapi lebih bagus tidak pakai apa apa!"
Hanum melotot sempurna.
"Ish!!!!" Gadhi seketika melepas diri. Kemudian memegang bibirnya. Sedikit berdarah, Hanum yang marah mengigit bibir pria tersebut.
"Awas kamu kalau berani macam-macam!" ancam Hanum.
"Hanumm! Apa-apaan ini! Ish!" Gadhi mengambil tisu di atas meja. Mengusap bibirnya yang berdarah.
'Benar-benar beruang liar!' rutuk Gadhi.
"Ini peringatan. Jangan macam-macam, jika tidak ...!"
Gadhi memotong ucapan Hanum, pria itu kembali mengunci Hanum dengan mulutnya. Tidak takut digigit kembali, Gadhi malah sengaja menyesaap semakin dalam. Membuat Hanum hampir kehabisan napas.
KLEK
__ADS_1
Ada seseorang yang membuka pintu.
BERSAMBUNG