Crazy Rich

Crazy Rich
Cekal


__ADS_3

Crazy Rich Bagian 76


Oleh Sept


Di depan ruang operasi, Gadhi masih terduduk lemas. Bajunya masih sama, jas dan kemeja yang ia kenakan masih dipenuhi noda darah. Pria itu terlihat begitu terpukul ketika menghadapi kenyataan pahit seperti ini.


KLEK


Suara pintu terbuka, dan Gadhi bergegas bagun meski kakinya bergetar karena tubuhnya masih gemetar.


"Bagaimana istri saya, Dok? Bagaimana dia? Bagaimana anak kami? bagaimana? Katakan!"


Gadhi terus saja bertanya, sementara itu dokter ingin berbicara.


"Maaf, pasokan darah untuk pasien telah habis. Sedangkan sekarang pasien sedang membutuhkan transfusi darah. Adakah keluarga yang sama golongan darah dengan pasien?" tanya dokter sambil menatap para penjaga di sekitar ruang operasi.


Tim medis saat ini butuh siapa saja yang golongan darahnya sama untuk donor. Karena stok mereka di rumah sakit kebetulan habis. Jenis golongan darah yang cukup langka, membuat mereka susah mendapat golongan darah yang sama seperti milik Hanum.


"Jo ... Mana kakek Jo!" teriak Gadhi panik.


"Tuan besar masih di jalan, Tuan!"


"Cepat panggil kakek, Jo ... panggilkan kakek!"


Gadhi tampak frustasi, ia mengusap wajahnya dengan kasar. Mondar-mandir menunggu kakek Mahindra.


***


Di dalam mobil, kakek Mahindra terlihat gelisah. Saat gedung rumah sakit sudah tampak di depan. Tiba-tiba ponselnya berdering.


"Tuan, kami sudah menemukan mobil yang menabrak nona muda."


"Putar balik!" seru Kakek Mahindra pada sopir.

__ADS_1


Mobil kakek pun balik arah dan menuju kantot polisi.


Sementara di rumah sakit, Gadhi semakin frustasi. Karena kakek Mahindra tidak kunjung datang.


"Jonathan! Hubungi Kakek kembali!"


"Baik, Tuan."


Dan kebetulan ponsel kakek Mahindra malah kehabisan battery. Ponsel kakek Mahindra kini sedang dicas dalam mobil.


"Bagaimana?"


"Tidak ada jawaban, Tuan."


Gadhi semakin tidak bisa menahan diri, ia sampai menendang apa saja yang bisa ia tendang untuk melampiaskan ketidakberdayaannya.


Madam Li yang baru tiba, mendapat kabar bahwa merena butuh donor darah. Ia pun langsung bergegas menemui sekretaris Jo dan Gadhi.


"Tuan ... Tuan muda. Golongan darah saya sama dengan nona Hanum," ucap madam Li begitu tiba.


"Tolong istriku, Madam ... tolong saya!" pinta Gadhi setengah putus asa.


Madam Li hanya mengangguk dan mengikuti ke mana dokter memintanya pergi.


***


Kantor polisi


PLAKKKK


Sebuah cap lima jari langsung membekas pada pipi pria berusia tiga puluhan tersebut. Kakek Mahindra begitu masuk langsung menampar pria yang diduga penabrak Hanum.


"Siapa yang menyuruhmu?" sentak kakek Mahindra marah sambil mengebrak meja.

__ADS_1


BRUAKKK


Pria itu malah tersenyum sinis. Membuat kakek semakin geram.


"Katakan siapa?"


Kakek yang kesal, langsung saja menarik kepalanya dan membenturkan ke atas meja.


"Tenang, Tuan!" cegah para bodyguard.


"Siapa yang membayarmu?" teriak kakek sampai suaranya menggema.


Lagi-lagi pria yang diduga penabrak itu malah terkekeh.


"Akan kusumpal sampai kau tidak bisa bicara!"


Kakek merebut berkas di meja, kemudian meremassnya dan benar-benar melakukan apa yang ia katakan. Ia menyumpal mulut pria itu agar tidak bisa tertawa lagi.


"Tuan ... Tuan."


Penyidik datang dan melerai. Kakek tidak terima, ia menendang meskipun tidak puas. Padahal pria itu wajahnya sudah memar karena sepatu kakek tepat mengenai muka pria tersebut.


"Tuan, serahkan semua pada kami!" bisik para pengawal yang sejak tadi ada di belakang kakek Mahindra.


Bersama penyidik, para bodyguard tersebut masuk ke dalam ruangan.


Sesaat kemudian


Penabrak bayaran itu sudah meringkuk di pojokan. Dan salah satu pengawal kembali mengatakan sesuatu pada Kakek Mahindra sambil berbisik. Seketika tangan kakek Mahindra langsung mengepal.


"Tutup semua aksesnya! Cekal perempuan itu! Cari dia di semua Bandara! Jangan biarkan dia meninggalkan negara ini!" ujar kakek emosional.


Bersambung.

__ADS_1


IG Sept_September2020


Fb Sept September


__ADS_2