Crazy Rich

Crazy Rich
Tekanan Batin


__ADS_3

Crazy Rich Bagian 26


Oleh Sept


Ekspresi Gadhi sudah seperti mau memakan orang ketika mendapati dia dikunci dari luar. Gadhi lantas mengambil ponsel miliknya. Tanpa pikir panjang, ia langsung menekan panggilan cepat.


'Awas kau, Jo!' gerutunya marah dalam hati sambil menunggu ponselnya diangkat.


"Sialll! Kau tidak mau menjawab telpon dariku?" rutuk Gadhi menahan kesal. Sekretaris Jo sama sekali tidak mengangkat telpon darinya.


Super jengkel, dengan mulut yang tiada henti merutuki sang sekretaris, Gadhi kemudian mengirim banyak rentetan pesan singkat kepada sekretaris Jo.


[Kau mau cari mati? Buka pintunya sekarang!]


[Aku tunggu satu menit!]


[Jo! Aku tahu kau membaca ini! Cepat buka pintunya!]


[Oke! Semua bonusmu aku tarik semua!]


[Jo!!!]


[Buka pintunya sekarang!]


[Kau DIPECAT!]


Semua pesan sudah terkirim, sudah terbaca tapi tidak dibalas. Di sofa ruang tamu, sekretaris Jo kemudian meletakkan ponselnya lagi.


Tidak mungkin dia dipecat, kalau dipecat cukup adukan ke tuan besar Mahindra. Pasti dirinya malah akan mendapat promosi jabatan. Sebab sudah menjaga kesucian sang tuan muda.

__ADS_1


Kapan lagi melihat tuan muda sombong itu menderita. Tiba-tiba bibir sekretaris Jo terangkat sedikit.


"Maaf, Tuan!"


Sekretaris Jo tersenyum tipis kemudian mencoba memejamkan mata. Sudah larut malam, biarkan tuan muda gelenjotan kepanasan di dalam sana. Toh masih ada dua kantong besar es yang tersisa di dalam kamar mandi. Biar malam ini Gadhi meredam panas gejolak tubuhnya dalam kubangan air es yang dingin.


***


Saat hampir semua penghuni D'Rose House terlelap dalam tidur, kecuali penjaga yang memang gantian jaga keamanan. Ada sosok yang menggigil di dalam bathtub.


Ya, untuk meredam panas dalam jiwanya, Gadhi kembali berendam air es. Mungkin itu bisa membuatnya sedikit mengurangi rasa tersiksa akibat efek obat yang tidak kunjung mereda.


Mau keluar pun kamar sudah dikunci, apalagi lewat jendela, semua sudah terpasang teralis. Mana bisa ia keluar dari kamar itu. Mau mendobrak pun sepertinya tidak bisa. Pintu-pintu di tempatnya memiliki ketebalan di atas rata-rata. Jika mau mendobrak yang ada malah tubuh sakit semua.


"Akan ku pecat nanti kau Jonathan!" ancam Gadhi sekali lagi pada uang es yang terus mengepul di sekitar tubuhnya.


BERRR


Gadhi kini hanya memakai bathrobe, ia masih mondar-mandir berjalan dari sana ke sini. Tangannya memeluk tubuhnya sendiri, ada rasa panas ada juga rasa kedinginan. Gadhi merasakan siksaan yang luar biasa.


"Awas kalian!!!"


Ia kemudian teringat dengan sepupunya. Mungkin setelah ini, Gadhi akan membuat perhitungan. Sekarang, sambil menunggu waktu yang berjalan sangat lamban ini, Gadhi pun mencoba melakukan aktifitas yang bisa mengalihkan perhatian. Pria itu push-up masih dengan mengenakan bathrobe.


Mencoba olah raga apapun yang bisa ia kerjakan dalam ruangan tersebut. Sambil mulutnya komat-kamit, mengumpat siapa saja yang membuatnya jengkel.


"Dan kau Hanum ... bisa-bisanya kau menghindar!" rutuknya marah.


ARRRGHH ...

__ADS_1


Gadhi sangat kesal, kenapa malah memikirkan gadis tersebut. Marah, ia semakin mempercepat gerakan push-up. Tapi apa yang terjadi, kepalanya malah dipenuhi dengan bayangan Hanum dengan kacamata kuda hitam dan merah.


"SIALLL!" makinya kasar.


Gadhi kemudian duduk di tepi ranjang, ia minum air mineral yang ada di dalam botol. Tiba-tiba bibirnya menggembang. Sepertinya ia punya ide gila.


[Air putihnya habis! Cepat buka pintu! Kau mau aku mati kehausan?]


Setelah mengirim pesan pada sekretarisnya, Gadhi buru-buru membuang semua air mineral dalam botol.


TING


Sebuah pesan masuk ke ponsel Gadhi.


[Coba Tuan buka kulkas, di sana banyak persediaan]


"Sialll ... kau bisa membalas pesanku ini tapi tidak mau membuka pintunya?" maki Gadhi pada ponsel.


Ia kemudian menoleh, dan benar saja. Di dalam sana ada kulkas kecil di sudut ruangan hampir tertutup tirai jadi tidak terlihat.


Kesal, saat itu juga Gadhi mengetuk pintu keras.


"Jo! Aku tahu kau belum tidur. Aku tahu kau di sana! Buka pintu sekarang!" teriak Gadhi.


"Jo! Apa kau tu li! Buka pintunya!"


"Oke! Kau tidak aku pecat! Bonusmu aku tambah! Tapi sekarang buka pintunya!" teriak Gadhi dengan suara yang semakin serak karena teriak-teriak kencang.


KLEK

__ADS_1


BERSAMBUNG


Hiyaaa ... aroma horor bestie.


__ADS_2